
Hendri keluar dari ruang ICU tempat Ameera di rawat dengan berlinang air mata. Di luar beberapa polisi sudah menunggunya untuk kembali ke sel tahanan.
Zarima baru saja tiba di rumah sakit dengan membawa Erzan dan Elmira. Hendri menatap kedua cucu kembarnya dengan tatapan sendu. Ingin rasanya Hendri memeluk kedua bocah gembul itu. Namun, laki-laki paruh baya itu sadar akan posisinya. Terlebih Ozan terlihat masih sangat marah padanya.
Rangga berusaha menenangkan Zarima yang tidak sanggup membendung airmatanya.
"Mama jangan khawatir... Ameera pasti baik-baik saja," kata Rangga.
Sedangkan Erzan dan Elmira menatap Hendri seperti orang asing. Mereka bersembunyi di belakang tubuh Hasan, merasa takut karena Hendri terus memandangi mereka. Sesekali anak-anak itu mengintip. Hingga akhirnya para polisi itu membawa Hendri pergi, barulah kedua bocah itu bernapas lega.
Naura segera menghampiri Erzan dan Elmira. Lalu membawanya ke pangkuannya.
"Ibu sama ayah mana, tante?" tanya Elmira dengan gaya bahasanya yang polos.
"Ibu ada di dalam. El sama Er mau lihat ibu kan?"
Kedua anak itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Naura pun menggandeng mereka memasuki ruangan itu.
Ozan yang masih di dalam ruangan itu terus menggenggam tangan Ameera, memandangi wajahnya yang pucat dan banyak luka.
"Sayang, bangunlah! Aku harus bilang apa sama anak-anak kalau mereka tanya ibunya kenapa..." Suara Ozan terdengar lirih. Erzan dan Elmira lalu masuk ke ruangan itu.
"Ayah..." panggil Erzan.
Ozan melihat kedua anaknya yang baru datang dengan wajah sedih. Erzan dan Elmira lalu mendekat, dan duduk di pangkuan ayah mereka. Elmira menatap ibunya yang di penuhi peralatan medis itu.
"Ibu kenapa, Ayah?" tanya Elmira.
"Ibu lagi istirahat, Nak..."
"Kenapa ibu tidur di sini? Kenapa nggak di rumah aja?" Pertanyaan Elmira yang polos itu membuat Ozan menjatuhkan air matanya.
"Ibu lagi sakit, Nak. Er sama El berdo'a buat ibu ya... Biar ibu cepat sembuh."
Kedua bocah itu lalu berdoa dengan polosnya. Ameera yang sedang terbaring tak sadarkan diri meneteskan setitik cairan bening di sudut matanya.
Elmira lalu mencium pipi sang ibu, lalu berbisik di telinganya, "Ibu cepat sembuh, ya... El janji nggak nakal lagi, nggak pukul kakak lagi,"
Ozan mengusap kepala kedua anak itu bergantian.
"Er sama El tunggu di luar, ya... Anak kecil Nggak boleh lama-lama di dalam sini?" kata Ozan pada kedua anaknya itu.
__ADS_1
"Tapi Ayah, El mau di sini sama ibu..." pinta anak itu dengan manjanya.
"Nggak boleh, Nak. Ibu mau istirahat. El sama Er pulang dulu, ya... Besok kan bisa ke sini lagi sama Oma." Ozan mulai membujuk kedua anaknya yang terus merengek itu dan membawanya keluar.
***
Di dalam sebuah ruangan, seorang pria sedang menangis sejadi-jadinya. Teringat kejahatannya di masa lalu. Mulai dari rencananya melenyapkan Rudi yang mengakibatkan Ratna menjadi korban,
Lalu rencana membunuh Ozan dengan mensabotase mobilnya, kemudian penyerangan besar yang dilakukannya yang menewaskan Rudi.
Rasa sesal dalam hatinya telah menggunung. Terlebih sekarang, setelah mengetahui bahwa anak yang selama bertahun-tahun berusaha ia lenyapkan ternyata adalah anak kandungnya sendiri. Pria itu terus menggumamkan nama Ameera dalam tangisnya.
Tanpa pernah melihat seperti apa wajah Ameera, ia yang di penuhi dendam memerintahkan anak buahnya untuk menghabisinya.
Teringat bagaimana jatuh bangunnya Rangga melindungi Ameera dari setiap rencana jahatnya. Bagaimana Rudi mengorbankan nyawanya untuk melindungi Ameera yang bukan anak kandungnya.
"Anakku, Ameera..."
"""
Waktu terus bergulir. Hampir sebulan lamanya Ameera terbaring di rumah sakit tidak sadarkan diri. Berbagai tindakan medis yang diupayakan untuknya, nyatanya tidak membuahkan hasil.
"Yank, bangunlah! Kamu tidak kasihan sama Erzan dan Elmira? Erzan lagi sakit sekarang, dia butuh kamu," bisik Ozan di telinga Ameera.
"Bagaimana, Mas? Apa kita bawa ke rumah sakit saja? Sudah beberapa hari Er terus menangis minta ke rumah sakit," tanya Zarima yang sedang menggendong anak itu.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama,"
Mereka pun membawa Erzan dan Elmira ke rumah sakit untuk menjenguk sang ibu. Setibanya di rumah sakit, Erzan langsung meminta berbaring di samping Ameera. Dengan suaranya yang terdengar lemah itu, Erzan mencoba membangunkan Ameera.
"Ibu, Er kangen sama Ibu... Bangun, Bu... ayo kita pulang..." kata Erzan sambil menangis.
Ozan mengusap kepala anak lelaki nya itu, "Er jangan nangis, ya... Nanti ibu ikut sedih,"
"Ayah, kenapa ibu tidurnya lama?" tanya Elmira yang sedang berada dalam pangkuan sang ayah.
"Ibu masih butuh waktu untuk istirahat, El mau sabar menunggu kan?" Elmira terlihat begitu sedih, ia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Ayah, Er mau tinggal di sini sama ibu." Entah harus menjawab apa. Ozan hanya terdiam mendengar permintaan sang anak.
Selang beberapa lama di dalam ruangan itu, Zarima masuk ke ruangan itu, hendak membawa kedua anak itu pulang.
__ADS_1
"Erzan, Elmira... Kita pulang dulu ya... Besok kita kesini lagi," bujuk Zarima.
"Nggak mau," Erzan langsung menangis lagi seraya memeluk Ameera.
Ozan dan Zarima pun harus berusaha membujuk kedua anak itu agar mau pulang. Namun, tangisan Erzan semakin menjadi-jadi.
Anak itu berusaha memberontak dalam gendongan ayahnya. Biasanya, jika Erzan sudah menangis seperti itu, hanya Ameera yang sanggup membujuknya.
Elmira pun jadi ikut menangis setelah melihat kakaknya terus menangis.
"El juga nggak mau pulang, mau di sini,"
Ruangan itupun seketika di penuhi oleh tangisan kedua bocah kembar itu.
Sayup-sayup Ameera dapat mendengar tangisan kedua anaknya yang begitu memilukan. Cairan bening mulai mengalir di sudut matanya.
Tiba-tiba...
Keajaiban terjadi, perlahan Ameera mulai menggerakkan tangannya. Dengan mata masih terpejam itu, ia menggumamkan nama anaknya.
Ozan tercengang mendengar suara itu, lalu mendekati Ameera. Ia meraih tangan Ameera yang mulai bergerak.
"Ameera..." panggil Ozan seraya meraih tangan Ameera.
Erzan yang masih berada dalam gendongan Ozan itu kembali memberontak.
"Ayah, Er mau sama ibu..." pinta Erzan.
Perlahan Ameera membuka matanya dengan susah payah. Samar-samar dalam pandangannya, Erzan terus menangis memanggilnya.
"Erzan..." gumam Ameera.
Zarima yang sedang menggendong Elmira ikut mendekat. Tangisnya pun pecah melihat Ameera mulai membuka matanya.
Ameera mengulurkan tangannya seolah meminta Erzan dan Elmira mendekat padanya. Kedua bocah itupun naik ke pembaringan dan memeluk sang ibu.
"Ibu..." panggil kedua anak itu seraya menangis.
"Er-zan... El-mira..." gumam Ameera dengan suara lemahnya.
Zarima tersenyum bahagia seraya menyeka air matanya. Dengan segera keluar dari ruangan itu memanggil dokter.
__ADS_1
***