Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Mabuk


__ADS_3

Ozan sedang berada di club malam dekat kantor. Duduk termenung dengan minuman didepannya. Botol minuman yang isinya sudah habis setengah membuat kesadarannya sedikit berkurang. Laki-laki itu berharap minuman mampu mengurangi rasa sakit dihatinya. Memang benar, untuk sementara ia akan melupakan sekelumit masalah dalam hidupnya. Namun, dengan minuman itu, ia sebenarnya sedang membuka masalah lain sebelum menyelesaikan masalah lainnya.


Ben, seorang bartender yang juga pemilik club melirik Ozan yang sejak tadi terus meminta minumannya di tambah. Setahunya Ozan bukanlah seorang peminum, bahkan selama ini ia tidak pernah menyentuh minuman haram tersebut. Walaupun Naura, yang merupakan mantan kekasihnya adalah seorang peminum berat.


Melihat Ozan yang sudah mulai mabuk, Ben mengirim pesan kepada Naura untuk memberitahukan bahwa Ozan sedang berada di club dalam keadaan mabuk. Naura tersenyum licik membaca pesan dari temannya itu. Tentu saja, wanita itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memperkeruh hubungan Ozan dan Ameera. Dengan raut wajah penuh kemenangan, ia melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil yang terparkir didepan rumahnya.


****


Ameera baru saja sampai di rumah dengan di antar Rangga dan Dina. Ia masuk ke rumah setelah di bukakan pintu oleh seorang pelayan.


"Apa manusia jadi-jadian itu ada dirumah?" tanyanya pada pelayan dan dengan tidak tahu malunya menyebut suaminya manusia jadi-jadian di depan pelayan.


"Tidak ada, Nona. Tuan muda belum pulang." Langsung menjawab, karena sudah tau yang di maksud sudah pasti adalah Ozan.


Baguslah. Aku memang sedang tidak ingin betemu dengannya.


Dengan langkah berat ia menapaki tangga menuju kamar tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Pelayan yang membukakan pintu pun dibuat bertanya-tanya. Pasalnya Ameera tidak biasanya pulang malam dan Ozan membiarkannya keluyuran di malam hari


Ameera membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya yang sembab menatap langit-langit kamar. Tanpa terasa matanya meloloskan setetes air. Teringat kembali pada keadaannya sekarang yang sedang mengandung janin kembar.


Aku harus kuat untuk mereka.


Ameera bangkit dari pembaringan. Tiba-tiba ia merasa ingin makan sesuatu karena perutnya terasa lapar. Wajar saja mengingat sekarang ia makan untuk bertiga. Di ingatnya kembali beberapa minggu kebelakang. Dimana dirinya sering bertingkah aneh. Kadang ia benar-benar ingin makan sesuatu, namun saat mendapatkannya ia malah tidak menyentuhnya sama sekali. Kadang ia mual mencium aroma yang biasanya sangat ia sukai. Dan hal paling aneh baginya adalah, ketika dirinya begitu merindukan pelukan dari suaminya. Namun, saat sudah berada dalam pelukannya, kekesalannya tiba-tiba memuncak dan malah tidak ingin di sentuh. Ameera tersenyum pelik mengingat semua itu.


Ameera melirik jam dinding. Sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia meraih pesawat telepon yang terletak di meja. Di tekannya angka yang langsung menghubungkannya dengan pelayan di lantai satu.


"Mbak, bisa buatkan makanan?" tanya Ameera saat sesorang pelayan menjawab panggilannya.


"Nona mau makan apa?" tanya pelayan itu.


"Apa saja yang tidak merepotkan. Tapi tolong bawa ke kamar, ya...!" pinta Ameera


"Baik, Nona.!"


"Terima kasih sebelumnya." ucap Ameera sembari menutup telepon.


Aku harus makan banyak untuk mereka.


****


Naura sudah sampai di club malam. Dilihatnya Ozan yang sedang duduk dengan beberapa botol minuman didepannya. Naura tersenyum senang. Ia mendekati Ozan dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya kamu minum. Apa kamu ada masalah?" tanyanya kepada Ozan.


"Pergilah...! Ini bukan urusanmu." Suara Ozan sudah terdengar berat.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, ayo kita bersenang-senang. Lupakan masalahmu!" Sambil merangkul bahu Ozan.


Naura melirik ponsel Ozan yang berada di atas meja. Wanita itu akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Naura merangkul bahu Ozan, lalu ia tampak mengajak Ozan berselfie bersama.


Naura mengirimkan gambar dirinya dan Ozan yang di ambilnya melalui ponsel milik Ozan kepada Ameera. Ia cukup kesal dengan Ameera karena telah memblokir nomornya sehingga ia tidak dapat mengganggu Ameera lagi.


Sekarang kau tau sedang berurusan dengan siapa. Aku benar-benar ingin melihat bagaimana ekspresi wajahmu saat ini


Tringg


Nada suara tanda pesan masuk terdengar. Ameera melirik layar ponsel, tampak pemberitahuan pesan baru dari Ozan tapi Ameera mengabaikannya.


Tak lama seorang pelayaan datang membawakan makanan untuk Ameera.


"Terima kasih ya, Mbak...!" ucapnya.


Mata Ameera berbinar melihat beberapa menu makanan yang di bawakan pelayan tadi. Salah satunya ada sup asparagus yang menjadi kesukaannya.


"Tidak, terima kasih." Ameera tersenyum pada pelayan itu.


"Baiklah, saya permisi."


Ameera mulai menyantap makanan dengan lahapnya. Ia tidak tahu saja ada pesan apa di ponselnya. Seandainya ia membukanya dulu, selera makannya pasti akan hilang. Beruntunglah Ameera mengabaikannya.


Setelah makan, Ameera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Posisinya sekarang sudah duduk selonjoran di atas tempat tidur. Ia melirik tempat di sampingnya yang kosong. Biasanya ada Ozan berbaring disana. Wajah Ameera terlihat sedih memikirkan Ozan yang sudah beberapa minggu ini ia hindari bahkan tidak ia izinkan menyentuhnya.


Sudahlah, apa peduliku dia dimana dan sedang apa.


Tiba-tiba Ameera teringat tadi melihat di layar ponselnya ada pemberitahuan pesan baru dari Ozan. Ameera meraih ponselnya yang berada atas meja. Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk lebih dulu. Tiba-tiba matanya terbelalak melihat pesan yang berasal dari nomor Ozan. Sebuah foto kebersamaan Naura dan Ozan duduk bersama di sebuah tempat. Ameera menjatuhkan posel dari tangannya. Matanya tiba-tiba berair. Ia mengira Ozanlah yang sengaja mengirim gambar itu kepadanya.


Kenapa aku jadi cengeng begini? Memangnya kenapa kalau dia sedang bersama kekasihnya. Apa aku cengeng karena bawaan janin di perutku?


****


Ozan sudah tidak sadarkan diri club malam. Ia duduk dengan posisi kepalanya sudah bersandar pada meja. Naura terseyum puas. Ia berencana memanfaatkan keadaan ini untuk menjebak Ozan.


"Ben, bantu gue bawa Ozan ke mobil." Dengan seringai licik.

__ADS_1


"Lu jangan macam-macam. Lu mau di kubur hidup-hidup sama istrinya yang barbar itu?" ancam Ben


"Kenapa juga gue harus takut sama anak keci itu?" Dengan sangat percaya dirinya. Naura tidak tahu saja bagamana jika seorang Ameera murka.


Ben memberi kode pada dua orang pelayan pria untuk memapah Ozan keluar dari club. Sekarang mereka sudah berada di parkiran. Ozan sudah duduk di kursi penumpang depan di mobil Naura. Seringai licik tak pernah lepas dari sudut bibir wanita itu. Ia memberikan tips pada pelayan.


"Mau lu bawa kemana Ozan?"


Naura di kejutkan dengan suara seseorang yang cukup di kenalnya datang dari arah belakang.


"Ramon?" Gumam Naura saat mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba wajah Naura berubah menjadi kesal. Ramon muncul di saat yang tepat. Ia menyusul Ozan ke club malam setelah mendapat laporan dari Pak Diman bahwa Ozan belum pulang ke rumah. Sesuai dugaannya, Ozan benar-benar berada di club itu.


"Kayaknya lu benar-benar lupa posisi lu. Apa perlu gue kasih ingat?" ucap Ramon dengan kalimat sindiran.


"Jangan ikut campur. Ozan yang mau sama gue."


Tanpa mempedulikan Naura, Ramon memapah Ozan keluar dari mobil Naura. Wanita itu mencoba mencegahnya, namun Ramon tidak peduli. Ia tetap membawa Ozan menuju ke mobilnya.


"Gue ingetin, jangan dekati Ozan lagi atau gue akan bikin lu menyesal pernah lahir ke dunia!" ancam Ramon dengan penuh penekanan.


Ramon melajukan mobilnya tanpa mempedulikan Naura yang terus meneriakinya dengan sumpah serapah. Sepanjang jalan Ramon mengumpati kebodohan Ozan. Bukannya mengajak Ameera bicara, ia malah mabuk-mabukan. Ramon sampai geleng-geleng kepala di buatnya.


"Kalau lu begini sih gue jamin bini lu bakalan makin jauh dari lu."


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah Ozan. Sudah ada Pak Diman menunggu di depan pintu.


Ketika mobil berhenti, Pak Diman segera mendekat.


"Nona dimana, Pak?" tanya Ramon.


"Nona berada di kamar."


"Bantu aku membawa Tuan Muda ke kamar tamu. Jangan sampai nona tau dia mabuk."


"Baik"


Mereka membawa Ozan ke kamar tamu. Setelah membaringkan Ozan, Ramon meraba saku celananya dan mengambil kunci mobil dari sana. Ia akan menyuruh seorang pengawal pergi ke club mengambil mobil Ozan yang masih terparkir disana.


💕💕💕💕


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2