
Mobil terus melaju di bawah pengawalan yang super ketat. Ramon yang mengemudikan mobil yang di tumpangi Ameera dan Ozan beberapa kali harus menghela nafas mendengar pembicaraan dua orang yang saling sindir di belakangnya. Tidak terasa mereka telah sampai di depan rumah Ameera. Ameera turun dari mobil di ikuti Ozan.
"Kenapa kamu ikut turun, pulang sana! Aku tidak perlu berterima kasih atas kebaikanmu mengantarku pulang, kan?" kata Ameera denga ketusnya.
"Siapa juga yang butuh ucapan terima kasihmu, Nona kecil. aku mengantarmu pulang sebagai bentuk terima kasihku, karena kamu menyelamatkan nyawaku waktu itu."
Ameera tersenyum tipis, "Itu tidak akan cukup. Kalau mau lunas, bayarlah dengan nyawamu. "
"Aku pasti akan memberikan seluruh sisa hidupku dengan menjadi suamimu, tuan putri. " ucapnya sambil menyentuh dada seraya dengan gerakan membungkuk, sejak tadi Ozan sangat suka menggoda Ameera.
Ameera pun mendekat lalu melayangkan tinjunya ke wajah calon suaminya itu.
"Auuhh... Kamu sudah gila, ya..." bentak Ozan.
"Pergi dari dari sini, wajahmu terlalu menyebalkan dan merusak hariku." ucap Ameera, lalu dengan santainya masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
Berani sekali dia mengusir salon suaminya. Batin Ozan.
Ramon yang duduk di kursi kemudi menahan tawanya melihat ada yang seberani itu kepada seorang Ozan. Dengan wajah kesal Ozan naik ke mobil dan menyandarkan kepalanya seraya memegangi wajahnya yang terkena tinju sang calon istri.
"Mamp*s lu punya calon bini galak bener," ucap Ramon seraya terkekeh.
"Bisa diam nggak lu! " bentak Ozan
Bukannya takut, Ramon malah tertawa lantang membuat Ozan kesal. Ramon pun segera melajukan mobil meninggalkan rumah itu.
"Gue baru tau tadi kalau dia gadis kecil yang tolong gue waktu di serang di basement waktu itu. Pertama kali ketemu di acara makan malam, gue nggak ngenalin karena dia berdandan, jadi keliatan dewasa."
"Salut gue sama dia... Jarang loh ada cewek kayak gitu, tapi waspada lu. Bisa di bantai kalau salah-salah..."
"Lihat saja nanti, siapa yang membantai siapa? Lagian anak di bawah umur kayak Ameera itu bisa apa?" kata Ozan yang seperti ingin meremehkan seorang Ameera.
"Anak kecil sepolos itu bisa menyelamatkan nyawa seorang pemuda yang di keroyok tiga orang pria berbadan besar. " jawab Ramon dengan menekan kata menyelamatkan nyawa, bermaksud menyindir Ozan.
Ozan pun membeku, tidak tau harus berkata apa lagi. Pandangannya lalu beralih keluar jendela mobil. Memandangi jalanan di jalur sebelah yang ramai oleh pengendara lain.
Sejak mengetahui bahwa Ameera adalah orang yang menyelamatkan nyawanya, ia menurunkan kadar sikap dinginnya kepada Ameera. Ozan memutuskan akan berusaha membuka hatinya dan menerima Ameera menjadi istrinya. Berharap Ameera dapat menghapus sakit hatinya atas pengkhianatan Naura.
*****
Sore hari...
__ADS_1
Ozan sedang bersantai ria di pinggiran kolam renang di rumahnya, sambil memberi makan ikan peliharaannya. Seorang pelayan datang menghampirinya.
"Tuan muda, ada seorang pria muda yang ingin bertemu dengan anda. " kata pelayan itu.
"Siapa?" tanya Ozan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Dia tidak menyebutkan namanya, dia hanya bilang membawa pesan dari Nona Ameera." jawab sang pelayan.
"Pesan dari Ameera? Baiklah. Suruh kemari saja, aku malas keluar."
"Baik."
"Tapi mereka sudah memeriksanya kan? Papa bilang aku tidak boleh bertemu dengan sembarang orang." ujar Ozan.
"Sudah, Tuan Muda. Orang itu tidak membawa benda berbahaya."
"Baiklah, suruh kemari!"
Pelayan itupun keluar memanggil orang tersebut. Tidak lama, datanglah seorang pemuda. Ozan melihatnya dengan raut wajah penuh kesombongan, mengamati dari ujung kaki ke ujung kepala.
Tampak seorang pemuda berpostur tubuh tinggi, kulit putih, dengan tatapan dingin menghampiri Ozan yang sedang duduk santai.
Siapa dia. Apa dia pacar bocah tengik itu? Mau apa dia ke sini? Batin Ozan
Cih, tidak sopan sekali. Belum sadar dia berhadapan dengan siapa. Batin Ozan
Beberapa pengawal yang berdiri di tepi kolam renang menghampiri mereka dan berdiri di belakang Rangga. Namun, Rangga tidak bergeming sedikitpun.
Ozan lalu mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar para pengawalnya kembali ke tempatnya. Merekapun menuruti perintah majikannya dan segera kembali ke tempatnya masing-masing. Mengawasi tuan mudanya dari jauh.
"Kita bicara di sana? "Ozan menunjuk sisi lain dari kolam renang dimana terdapat meja bundar dan beberapa kursi. Merekapun duduk berhadapan. Ozan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Gue nggak suka basa basi. gue cuma mau memastikan seperti apa calon suami Ameera,"
Ozan menyeringai, mengangkat kedua tangan nya sejajar dengan dadanya, dengan sombong bermaksud menjelaskan seperti inilah calon suami Ameera.
Cih, sombong sekali dia. batin Rangga.
"Lu pasti tahu tahu seberapa rawannya hidup Ameera, dan gue juga tahu seberapa rawannya hidup lu..." ucap Rangga membuat Ozan terperanjak.
Bagaimana bocah ingusan ini tau tentang hidupku. Dia ini siapa sebenarnya. Ozan membatin.
__ADS_1
"Jadi mau apa lu ke sini? lu siapanya Ameera? " tanya Ozan.
"Lu nggak perlu tahu siapa gue... yang harus lu tahu satu hal, gue nggak mau lu sampai lalai menjaga Ameera. Karena kalau lu sampai nggak bisa jaga Ameera, lu akan tahu berhadapan dengan siapa. " ucap Rangga dengan nada terdengar seperti ancaman.
"Kalau lu sebegitu khawatirnya dengan calon istri gue, kenapa lu lepasin?" tanya Ozan yang mulai menebak siapa sosok di depannya.
"Karena gue nggak seberuntung lu... gue cuma bisa memiliki Ameera sebagai teman."
"Kenapa? lu nggak percaya diri? "
"gue lebih dari mampu untuk memberikan apapun untuk Ameera, kesialan gue hanya satu, dan itu menjadi keberuntungan lu," ucap Rangga
Kesialanku karena terlahir sebagai Rangga Agung Darmawan, anak Hendri Agung Darmawan, yang punya dendam pribadi dengan keluarga Hutomo. Karena kesialanku yang satu itu, aku hanya bisa menggenggam tangan Ameeraku sebagai sahabat. Membungkus seluruh perasaanku dengan persahabatan, agar bisa tetap melindungi Ameera, memastikan agar dia selalu aman. Menjadi perisai bagi Ameera kecilku. Rangga membatin
Pikiran Ozan seketika melayang memikirkan siapa bocah di hadapan nya ini. Apa yang dimaksud dengan kesialan nya yang menjadi keberuntungan Ozan.
"Jangan sampai gue tahu kalau suatu hari lu menyakiti Ameera atau lu lalai menjaganya. Kalau itu sampai terjadi, gue m akan memastikan ameera menghilang dari hidup lu...
"Urusannya apa sama lu? " tanya Ozan mulai kesal.
"Semua hal menyangkut Ameera adalah urusan gue. " sahut Rangga.
"lu tenang saja. Gue lebih dari mampu menjaga sepuluh Ameera sekalipun. " sahut Ozan dengan angkuhnya.
"Benarkah? Jangan terbalik, jangan sampai malah Ameera yang jagain lu... " Seringai tipis hadir di sudut bibir Rangga, ia hendak menyindir ozan.
Rangga ingat Ameera pernah mengatakan bahwa laki-laki yang di jodohkan dengannya adalah orang yang dia tolong di basement mall. Ozan yang merasa tersindir seketika diam seribu bahasa.
"Gue harus pergi. Ingat kata-kata gue!"
Setelah mengucapkan itu, Rangga pun pergi meninggalkan Ozan dengan sejuta pertanyaan di otaknya.
Dasar anak kecil, memangnya dia pikir dia siapa bisa mengancamku?
"Apa benar yang tadi di katakan anak kecil itu, kalau hidup Ameera sama rawannya dengam hidupku. Tapi siapa yang punya dendam dengan keluarga Ayah? Sepertinya harus ku selidiki."
Ozan melambaikan tangannya memanggil salah seorang pengawal.
"Panggil Ramon kemari sekarang. "
perintah ozan kepada seorang pengawalnya.
__ADS_1
"Baik tuan muda. "
****