
"Pak... motornya mana ya? Kenapa nggak ada di garasi?" tanya Ameera pada Bima yang sedang minum kopi di pos penjaga.
Matilah aku. Harus jawab apa sekarang.
"Motor? Saya tidak tahu, Nona. Saya belum melihatnya pagi ini." sangkalnya.
"Mana, ya? kan semalam aku parkir disitu." Ameera menunjuk lokasi tempatnya memarkir motornya.
"Kenapa nona tidak pakai mobil saja. Bukankah kemarin tuan muda membeli mobil baru untuk anda."
"Nggak mau. Mobilnya jelek begitu."
Apa? Jelek. Itu mobil mewah edisi terbatas, Nona.
"Carikan motorku. Pasti ada disekitar rumah ini."
Beberapa orang petugas kemanan pun terpaksa harus ikut dalam drama lempar batu sembunyi tangan yang dibuat oleh Ozan. Ameera sudah mulai merasa kesal karena motornya belum ditemukan juga.
Ozan keluar dari rumah sudah berpakaian rapi. Ia melihat Ameera mondar-mandir didepan pintu.
Haha dia pasti sedang uring-uringan mencari motornya.
Ozanpun menghampiri Ameera dengan wajah polosnya yang dibuat-buat.
"Kenapa sih? Dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan?"
Apa jangan-jangan manusia jadi-jadian ini yang ngumpetin.
"Pasti kamu kan mas, yang ngumpetin motornya."
"Loh... kok aku sih?"
Bima dan beberapa petugas lain datang menghampiri Ameera.
"Nona, motornya tidak ada. Sepertinya ada yang mencurinya."
"Dicuri? Kalian ini bagaimana? Masa ada pencuri masuk ke rumah ini. Kalian kan berjaga 24jam. Aku mau lihat rekaman CCTV."
Ozan tergelak,sudah mulai gusar, bisa bahaya kalau Ameera sampai melihat rekaman cctv. Bima melirik Ozan dan langsung dibalas dengan pelototan tajam mengintimidasi. Tatapannya seolah berkata, kuhabisi kalian kalau sampai ketahuan.
"Yank... mungkin pencurinya pikir motormu terbuat dari berlian. Salah sendiri kamunya terlalu mencolok, gantungan kunci motornya saja kalung berlian. Mau pamer kalau kamu orang kaya?" ucap Ozan asal. Ia sedang berusaha mengaalihkan perhatian Ameera dengan bicara sembarangan. Kesal karena merasa tersindir, Ameera menginjak kaki Ozan dengan keras.
"Aauuhhh kakiku." Ozan meringis pelan. Sementara Bima dan kawan-kawan menahan tawanya. Melihat majikannya dibantai oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
"Nona, CCTV-nya sedang rusak. Belum sempat diperbaiki. Bagaimana kalau Nona naik mobil saja."
"Iya, benar. Naik mobil aja, yank. Nggak kepanasan. Apa mau aku antar?" bujuk Ozan.
"Nggak mau. Mana kunci mobilnya?" pintanya seraya menengadahkan tangan. Ozan merogoh saku celananya mengambil kunci mobil dan memberikannya pada Ameera.
Dengan wajah kesal, ia pun pergi meninggalkan Ozan yang masih mematung disana.
"Bima... jangan sampai Ameera tahu aku menyuruhmu membuang motornya."
Bisa-bisa aku ditumis kecap kalau dia tau ini perbuatanku.
"Baik."
***
Ameera melajukan mobil dengan pelan. Ia masih memikirkan kemana hilangnya motornya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide. Ia menoleh kiri-kanan sepanjang perjalanan sampai menemukan outlet pemasaran sepeda motor. Ia berhenti disana, meminta brosur.
Aku beli saja motor baru. Suamiku kan punya banyak uang. Ada gunanya juga ayah menjodohkanku dengannya. Aku bisa porotin uangnya. Hehe
Ameera masih melihat-lihat beberapa tipe sepeda motor yang ada dibrosur. Matanya terperanjak melihat harga yang tertera. Jiwa matrealistisnya pun meronta-ronta. Ia sedang menebak seberapa kaya suaminya. Ameera yang polos bahkan lupa sedang mengendarai sebuah mobil mewah edisi terbatas.
Haah... jiwa kemiskinanku tidak bisa menebak seberapa kaya dirinya. Apa dia lebih kaya dari Rangga?
"Eh kenapa aku jadi memikirkan Rangga, ya?"gumamnya pelan.
Ameera pun segera melajukan mobilnya menuju kampus. Dan benar saja, saat memasuki kampus, dirinya menjadi pusat perhatian. Penampilannya yang tomboi sangat tidak singkron dengan kendaraannya.
***
Gedung CJG
"Nih... data yang lu minta." ucap Ramon seraya menyerahkan beberapa lembar foto dan biodata beberapa pria.
"Apaan nih." tanya Ozan.
"Kan lu yang minta waktu itu."
"Gue minta apaan?"
"Itu laki-laki brengsek yang gangguin bini lu di clubnya Si Ben..." Ozan pun membaca profil tiga pria tersebut satu-persatu. Tangannya mengepal, sudah keluar aura kemarahan dari wajahnya mengingat pria tersebut berusaha melecehkan istrinya.
"Lu bawa mereka kehadapan gue bentar malam. Gue mau ngasih mereka bonus."
__ADS_1
Ramon bergidik ngeri, sedang menebak apa yang akan di lakukan Ozan pada para pria tersebut.
"Termasuk Si Ben?"
"Siapapun yang terlibat." ucapnya kesal.
"Lu beneran mau? Bini lu udah bikin mereka patah tulang tulang loh. Mau lu apain lagi mereka?"
"Lu bawa aja mereka semua kesini. Atau kumpulin di clubnya Si Ben. Biar sekalian. "
"Ya udah. Nanti gue atur. Mau makan siang nggak lu?"
"Antar kesini ajalah makan siangnya. Gue lagi malas keluar."
Ramonpun segera menelepon seseorang untuk mengantar makan siang ke ruang kerja Ozan.
Malam harinya Ozan dan Ramon benar-benar mengunjungi club malam milik Beni. Sebelumnya Ramon telah menyuruh Beni mengumpulkan tiga temannya yang menggangu Ameera saat itu.
"Ampuni gue, Zan... gue bener-bener nggak tahu kalau dia istri, lu... Naura yang nyuruh gue ngerjain." ujar Ben, seraya memeluk kaki Ozan, memohon agar Ozan berhenti memukulinya. Sementara tiga pria temannya sudah tergeletak tidak berdaya dilantai, setelah Ozan melampiaskan kemarahannya. Sementara Ramon sejak tadi hanya menjadi penonton.
"Jadi kalau bukan istri gue, lu seenaknya gitu, melecehkan wanita."
"Gue janji, gue nggak akan ulangi lagi ke siapapun. Tolong ampuni gue, lagian waktu itu istri lu nggak apa-apa. Malah mereka bertiga yang digebukin sama istri lu sampai masuk rumah sakit." Dia masih meringkuk, berlutut dikaki Ozan. Namun, sepertinya Ozan belum selesai menuntaskan kemarahannya. Ia masih akan menyiksa Ben jika Ramon tidak menghentikannya.
"Bangun lu...!" bentak Ozan.
Ben sudah dibuat gemetaran. Bahkan ia tidak sanggup berdiri lagi.
"Udah cukup, Zan!" ucap Ramon. Ia memegangi lengan Ozan yang sudah siap melayangkan tinjunya kewajah Ben.
"Lepasin. Gue belum kenyang!" Ia menghempaskan tangan Ramon. Namun, Ramon kembali memegangi lengannya. Ramon kehabisan ide bagaimana cara agar ia dapat membuat Ozan menghentikan kegilaannya. Tiba-tiba tercetus ide di benaknya. Ia berbisik di telinga Ozan.
"Ameera telpon. Katanya dia kangen sama lu."
Benar saja, wajah Ozan seketika berbinar mendengar kebohongan Ramon, ia seperti tersihir dan langsung melupakan segala emosinya. Ia pun mendorong tubuh Ben hingga terhuyung kelantai.
"Lu beruntung kali ini!" ucapnya pada Ben. Ozan pun segera keluar dari club meninggalkan Ben dan beberapa pria yang sudah babak belur. Ramon berjongkok dihadapan Ben. Seringai tipis muncul dibibirnya.
"Sorry ya bro. Bos gue memang gila kalau menyangkut bininya. Lu kirimin nomor rekening lu ke gue. Nanti gue transfer biaya rumah sakit dan kerugian lu karena kekacauan ini. Temen lu sekalian." ucapnya seraya meninggalkan Ben.
****
Bersambung
__ADS_1