
Rangga yang mabuk berat masih berada di club. Kepalanya bersandar di atas meja. Dina masih setia menemani di sampingnya.
"A.. meee raaa...! Aku minta maaf. Papa ku yang bejat itu menghancurkan hidupmu." Gumam pelan.
Dina sudah tidak tahan melihatnya. Lalu menelepon ibu Rangga.
"Halo, tante, aku lagi di club. Rangga mabuk lagi! Tolong kirim sopir buat jemput Rangga!"
Setelah selesai menelepon, Dina menatap Rangga dengan raut wajah penuh kesedihan. Dina sedih melihat Rangga di penuhi rasa bersalah karena perbuatan buruk ayahnya. Dan juga kemalangannya karena cintanya pada Ameera yang harus dia lupakan karena Ameera telah menikah.
Dina melingkarkan tangan di bahu Rangga, kemudian bersandar pada tubuh Rangga yang sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh mabuk. Air matanya bercucuran membasahi pipinya. Ia tidak tau mengapa ia begitu mencintai seorang Rangga yang bahkan hanya menganggapnya pelampiasan semata.
***
Dini hari, udara terasa sangat dingin menusuk tulang. Ameera membuka matanya perlahan. Ia tersentak kaget melihat sudut kamar yang berbeda. Ia ingin segera bangun, namun ada tangan yang melingkar diatas perutnya. Ia menoleh dan melihat Ozan tertidur lelap disampingnya sambil memeluknya.
Kenapa aku lupa kalau semalam aku pulang kemari. batin Ameera.
Ozan yang merasakan Ameera bergerak, ikut terbangun dan membuka matanya.
"Kamu kenapa, Ameera?" tanya Ozan dengan suara serak.
"Aku tidak apa-apa." sahut Ameera seraya berbalik membelakangi Ozan.
"Ya sudah, kamu tidur lagi ya." Ozan menarik selimut sampai ke leher Ameera karena udara semakin dingin. Lalu membelai rambut Ameera, dan kembali memeluknya dari belakang. Ameera terlonjak mendapat perlakuan dari Ozan.
"Eh. Tidak usah cari kesempatan. Geser sana!" Ameera mendorong tubuh Ozan agar menjauh darinya.
"Nggak mau!" ucap Ozan sambil mengeratkan pelukannya.
Karena kesal akhirnya Ameera menyikut perut Ozan hingga Ozan kesakitan.
"Aauuwh sakit!" pekik Ozan seraya memegangi perutnya.
"Kan aku sudah bilang geser. Jangan dekat-dekat." ucap Ameera kesal.
"Iya... iy... dasar barbar!"
Mereka pun akhirnya tidur dengan posisi saling membelakangi.
***
Saat menjelang subuh, Ozan bangun lebih dulu. Sudah rapi dengan sarung dan baju koko. Di lihatnya Ameera masih tertidur pulas. Dia segera membangunkan Ameera. Namun, setelah beberapa kali membangunkan, Ameera tidak juga bergerak.
"AMEERA BANGUN!" Ozan berteriak di teling Ameera membuatnya bangun sambil menggerutu.
"Apa sih teriak-teriak. Ngantuk nih..." setelah mengatakan itu, Ameera kembali melanjutkan tidurnya membuat Ozan kesal.
Sabar sabar sabar dia anak kecil. Ozan membatin.
"Shalat subuh, Ameera, ayo bangun!" Karena Ameera tidak juga terbangun, Ozan beranjak ke kamar mandi dan mengambil air. Lalu memercikkan air ke wajah Ameera.
Ameera kaget lalu bangun dengan posisi duduk. "Bocor... bocor... atapnya bocor..." ucap Ameera gelagapan. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya.
"Bocor kepalamu? Sana mandi. Shalat subuh...."
Ameera kesal karena ternyata Ozan lah yang memercikkan air ke wajahnya, akhirnya dengan sangat terpaksa ia bangun dan mandi.
Setelah itu, mereka menjalankan shalat subuh berjamaah dengam Ozan sebagai imam. Dan, saat selesai shalat, Ozan berbalik dan menemukan Ameera masih bersujud. Ia mendekatkan tubuhnya pada Ameera seperti sedang menyelidik. Karena Ameera tak kunjung bergerak, Ia menepuk punggung Ameera. Dan saat itulah Ozan tersadar.
Ya ampun... sejak kapan dia tidur...
"Ameera!" panggil Ozan dengan suaranya yang mulai meninggi.
"Eh, iya..." Ameera gelagapan bangun.
"Enak tidurnya?"
"Enak...."
__ADS_1
"Kamu pikir shalat itu main-main, jadi kamu bisa tidur seenaknya?"
"Habis ngantuk..." ucap Ameera tanpa rasa bersalah.
Aku bisa gila lama-lama menghadapi bocah ini. Ibadahnya saja begini. Batin Ozan.
"Sejak kapan kamu tidur?"
"Sejak kamu berdoa. Karena lama, jadi aku tidur."
Ozan menghela napas kasar. "Benar, kamu tidak tidur di tengah-tengah shalatmu?" Ameera menjawab dengan mengangguk.
"Bohong dosa loh..."
"Nggak bohong."
"Ya sudah," Ozan lalu berdiri dan mengganti pakaiannya. Sementara Ameera melanjutkan tidurnya.
Kebiasaannya sejak dulu, saat selesai shalat, Ozan akan berolahraga kecil dengan lari pagi di taman belakang rumahnya yang luas.
Setelahnya ia masuk ke dalam rumah, lalu ikut sarapan bersama ke dua orangtua nya.
"Ameera belum bangun, ya?" tanya Zarima.
"Si kebo itu, habis shalat tidur lagi..."
"Ya sudah. Biarkan dia tidur. Mungkin dia lelah."
"Lagi shalat saja dia tidur, Mah..."
Zarima terkekeh mendengar ucapan Ozan. "Itu tugas kamu membimbing Ameera. Kamu harus sabar. Ameera masih remaja, dia tumbuh tanpa seorang ibu." ucap Zarima.
"Iya, Mah... aku akan berusaha."
Setelah sarapan, Ozan meminta pelayan menyiapkan sarapan untuk Ameera. Ia pun kembali ke kamar dan menghampiri Ameera yang masih terlelap dibawah selimut. Ozan menatap wajah Ameera lekat.
Ozan menatap dalam wajah polos Ameera, membuat Ozan tidak tahan untuk mengecup keningnya. Iapun segera mendaratkan bibirnya di kening Amera.
Merasakan ada benda kenyal menempel di keningnya, membuat Ameera terbangun. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dilihatnya wajah Ozan yang sangat dekat dari wajahnya.
"Selamat pagi... " ucap Ozan sambil tersenyum manis.
Karena kaget, Ameera berekasi dengan cepat. Ia reflek melayangkan tinjunya dan tepat mengenai pipi kanan Ozan.
"Auwhh..." Ozan meringis kesakitan. Ameera seketika tersadar dengan kelakuannya.
"Ameeraaa... barbar banget sih kamu! " pekik Ozan.
"Hah? Emmm... maaf, aku reflek, gak sengaja, maaf ya... ini tangannya nggak punya mata." ucapnya sambil menunjukkan kepalan tangan kanannya.
Pukulannya sakit juga. Aku baru mencium keningnya, sudah di hadiahi tinju. Bagaimana kalau aku meminta hak ku sebagai suaminya. Bisa-bisa aku dikuliti olehnya. Batin Ozan.
"Nggak apa-apa. Gak sakit juga kok. " sambil tersenyum getir. Padahal pipi kanannya terasa berdenyut.
Mama, aku butuh kesabaran extra menghadapinsi bar-bar ini.
Tok tok tok
Seorang pelayan mengetuk pintu hendak mengantar sarapan Ameera.
"Masuk!" ucap Ozan.
"Permisi, saya membawa sarapan anda." ucap seorang pelayan.
"Letakkan di situ saja. " pinta Ozan seraya menunjuk meja di sudut ruangan.
Setelah meletakkan nampan, pelayan itu segera keluar.
"Habiskan sarapanmu ya!" kata Ozan sambil mengacak rambut Ameera.
__ADS_1
***
Rangga baru saja bangun ketika ibunya masuk ke kamarnya dengan membawa sarapan untuknya. Ia memegangi Kepalanya yang masih terasa berdenyut akibat kebanyakan minum.
"Mama, siapa yang antar aku pulang?" tanya Rangga.
"Dina telepon mama, minta di kirim sopir buat jemput kamu karena kamu mabuk berat." jawab Aliyah lembut.
Rangga menjambak rambutnya. Mencoba mengingat kejadian semalam. Dia hanya ingat saat minum, Dina datang menghampirinya. Tiba-tiba ia teringat pada ayahnya.
"Mah, papa di tangkap polisi." ucap Rangga pada Aliyah.
"Biarlah! Biar papa kamu bisa bertaubat dan merenungi kesalahannya. " wajah Aliyah terlihat sedih, namun ia berusaha kuat di hadapan Rangga.
Apa aku harus beritahu mama kalau kemungkinan papa akan di penjara seumur hidup. Tapi mama pasti sangat sedih kalau tau. Maafkan aku mah, aku tidak bisa terus membiarkan papa melakukan kejahatan. Papa harus di hentikan. Batin Rangga
"Papa membuat ayahnya Ameera meninggal. Aku semakin merasa buruk didepan Ameera. Bahkan aku malu menatap matanya. Bagaimana kalau Ameera tahu aku anak dari orang yang sudah membunuh ayahnya. Dia pasti benci sama aku, Mah."
"Sabar, Nak. Kalaupun Ameera tahu suatu hari nanti, dia tidak akan membencimu. Dia tahu kamu tidak bersalah. Selama ini kamu sudah menjaga Ameera dengan sangat baik." ucap Aliyah menenangkan.
"Aku sakit melihat Ameera serapuh itu tanpa aku bisa berbuat apa-apa. Sekarang dia punya suami. Aku bahkan nggak punya hak untuk sekedar menghapus air matanya lagi." ucapan rangga terdengar begitu sedih.
"Rangga, kamu sudah selesai dengan Ameera. Relakan Ameera bersama suaminya. Yang sekarang harus kamu jaga hatinya, itu Dina. Kamu tidak bisa terus menyakiti Dina seperti ini."
Rangga pun teringat Dina yang selama ini setia disampingnya. Betapa sakit hatinya Dina karena selama ini Rangga tidak pernah memandangnya. Di dalam hati Rangga hanya ada nama Ameera yang tidak akan pernah bisa ia miliki.
***
Ameera sedang sarapan ketika Ozan keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya. Seolah sengaja memamerkan dada bidangnya didepan Ameera. Ameera tersendak ketika mengarahkan pandangannya pada Ozan. Ozan pun segera menghampirinya dan memberikan minum. Ameera meraih gelas yang di berikan Ozan lalu menenggaknya, seketika ia melihat perut sixpack milik Ozan, Air minum yang belum sempat ditelannya, kembali ia semburkan dan tepat mengenai perut Ozan.
"Maaf... Maaf... Aku benar-benar sengaja. " ucap Ameera gelagapan.
Ozan mengernyit, "Sengaja?"
"Ah.. bukan, aku nggak sengaja! "
Pagi-pagi dia sudah menodai mata perawanku. Pemandangan apa ini? Batin Ameera
Ozan mengambil tissue dan memberikannya pada Ameera. Ozan lalu mengelap perutnya yang basah terkena semburan Ameera dengan handuk kecil.
"Makanya kalau mau makan baca doa dulu. Kalau nggak baca doa makannya ditemani setan, makanya pikiran kamu jorok terus. Baru juga lihat beginian sudah nyembur. Gimana kalau..." Ozan menggantung ucapannya melihat wajah Ameera yang sudah tidak bersahabat, "sudahlah." ucapnya kemudian.
Ameera mendengus kesal di tuduh perfikiran jorok oleh Ozan.
Siapa juga yang berpikiran jorok. Kamu kan yang sengaja pamer di depanku.
Ozan langsung beralih ke lemari pakaian. Sambil menahan senyum ia memilih pakaian. Sengaja berlama-lama agar Ameera semakin salah tingkah.
"Stooopp!" Ameera berteriak. " pakai bajunya di kamar mandi aja, jangan di situ!"
"Memang kenapa? Disini gak ada orang kan?"
"Memang aku bukan orang?"
Karena sedang senang menjahili gadis polos seperti Ameera, Ozan mendekat ke arah Ameera. Dan berniat memakai pakaiannya didepan Ameera.
Ameera reflek berdiri menedang kaki Ozan. Ozan meringis memegangi kakinya. Lalu Ameera kembali memukulnya dengan bantal kursi, tiba-tiba handuk yang terlilit dipinggang Ozan jatuh. Hingga terlihat Ozan hanya memakai celana boxer.
"Aaa..." Ameera berteriak kencang membuat telinga Ozan berdengung. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku gak lihat, beneran! Aku gak lihat celana boxer kamu kok. " berkata sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Benarkah? Katanya gak lihat, tapi tau aku pakai apa!" ucap Ozan kemudian.
Ameera yang menyadari kebodohannya merasa sangat malu. Wajahnya bahkan sudah memerah, namun ia terus menutupinya agar tak terlihat.
"Sana cepat pergi dari sini."
****
__ADS_1