
💘 monggo di baca gaes. Mohon dukungannya yaa... 💘
Ramon berdecak melihat ponsel milik Ozan yang sudah hancur berserakan di lantai. Di liriknya wajah Ozan yang tampak menahan kekesalannya.
"Napa lu?" memberanikan diri bertanya.
"Bini." jawabnya.
"Napa bini lu?"
"Kabur sama Rangga. "
Ramon membelalakkan matanya mendengar jawaban Ozan. Namun, tidak langsung menelan mentah-mentah ucapan bosnya itu.
"Eh, jangan sembarangan kalau ngomong. "
"Tadi imel bilang Ameera dibawa pergi sama laki-laki. Siapa lagi yang berani kalau bukan si Rangga." Ozan sudah frustasi sekarang. Pikirannya sangat kalut memikirkan Ameera.
"Lu apain bini lu sampai berani kabur sama Rangga?" Mendengar pertanyaan Ramon, malah membuat Ozan merasa terjebak sendiri. Pria itu menyadari tindakan gilanya yang sangat keterlaluan.
Tanpa merasa malu Ozan menceritakan apa yang di lakukannya pada Ameera. Ramon menganga tidak percaya mendengar pengakuan Ozan. Bagaimana seorang Ozan bisa melakukan tindakan segila itu.
"Gila lu, tega banget jadi laki gituin bini lu, " Ramon malah marah-marah pada Ozan. Tak habis pikir dengan kelakuan barbar Ozan. "Kalau lu cemburu ya ngomong baik-baik. Jangan kayak orang kesetanan gitu. " imbuh Ramon.
"Gue kesel bukan cemburu be*o...!"
"Lu yang beg*. Gengsi lu tuh ketinggian. Ngaku cinta aja susah bener lu. Bini lu di rebut beneran sama Rangga baru tau rasa lu. " terdengar nada ancaman dalam setiap kata yang keluar dari mulut Ramon yang tidak di saring dahulu. Membuat yang mendengarnya semakin tersulut emosi.
"Gue habisin Rangga kalau berani apa-apain Ameera. " kembali tersulut emosi.
"Nah kan? Itu apa namanya kalau bukan cemburu?"
"Brengsek lu. " maki Ozan yang merasa terjebak oleh Ramon.
"Kalau lu nggak rela Ameera di bawa pergi Rangga, kenapa lu diam disini. Cari bini lu!"
"Ga usah lah. Kalau Ameera nggak pulang, artinya dia lebih pilih si Rangga." ucapnya kemudian. Mendengar jawaban Ozan, Ramon hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan tingkah Ozan.
__ADS_1
***
Rangga mondar-mandir di depan sebuah ruangan di rumah sakit. Dina sejak tadi memperhatikan Rangga yang terlihat sangat panik.
"Rangga tenang dulu, duduk coba! " ucap Dina. Rangga duduk disamping Dina lalu menatap pintu ruangan dengan gelisah. Tidak lama kemudian seorang dokter wanita bersama beberapa perawat keluar dari dalam ruangan. Dina dan Rangga langsung berdiri menghampiri dokter.
"Suami pasien? Dokter bertanya pada Rangga. Wajah Dina terlihat berubah seketika.
"Bukan, Dok. Kami temannya."jawab Dina. "Bagaimana Dok keadaannya?"lanjutnya.
"Pasien mengalami pendarahan. Tapi syukurlah janin masih dapat di pertahankan. Saya sarankan agar pasien bedrest dulu."
"Baik, Dok! Terima kasih"
Dokterpun berlalu meninggalkan mereka.
"Bedrest apaan, Din?" tanya Rangga yang bingung dengan maksud dari bedrest.
"Istirahat total. Nggak boleh banyak gerak. Udah yuk masuk!"
"Kalian yang bawa aku kemari?" tanya Ameera begitu melihat Rangga dan Dina masuk ke ruangan.
"Iya."jawab Dina.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa pendarahan?" tanya Rangga sambil membelai rambut Ameera. Melihat betapa perhatiannya Rangga pada Ameera membuat Dina terbakar cemburu. Namun, ia segera menepis perasaannya.
"Aku mau duduk. Aku mual kalau baring terus." ucapnya. Dina lalu menyetel tempat tidurnya agar bisa duduk sambil bersandar. Dengan suara bergetar, Ameera menceritakan apa yang di lakukan Ozan padanya. Rangga dan Dina sampai geram mendengarnya. Ameera terus menangis, Rangga dan Dina memeluknya bersamaan. Rangga dan Dina saling melirik di balik punggung Ameera. Dina bahkan dapat melihat Rangga menahan emosinya. Namun, Dina mengisyaratkan agar Rangga lebih tenang.
***
Ozan duduk termenung di kursi kebesarannya. Tampak berkas sudah menggunung di mejanya yang sejak tadi tidak di sentuhnya. Pikirannya benar-benar kalut memikirkan Ameera yang di kiranya dibawa kabur oleh Rangga.
Ozan membuka laci meja dan mengambil sebuah amplop dari dalam sana. Amplop berisi tiket penerbangan dan paspor miliknya dan Ameera yang telah di persiapkannya beberapa minggu lalu. Rencananya Ozan akan mengajak Ameera mengunjungi orang tuanya di turki karena minggu depan adalah ulang tahun pernikahan orang tuanya. Namun rencana itu sepertinya akan gagal.
Ozan meraih buku telepon yang terletak di atas mejanya dan mencari nomor telepon seseorang. Lalu menghubungi nomor tersebut melalui telepon kantor kantor karena ponselnya telah hancur berkeping-keping.
"Halo..." terdengar suara seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Siapkan keberangkatanku besok pagi. " titah Ozan.
"Besok pagi? Bukannya anda akan berangkat minggu depan?"
"Percepat saja. Aku mau berangkat besok pagi. Siapkan satu tiket untukku saja. "
"Baik, Tuan Muda"
Ozan mengakhiri panggilannya setelah meminta orang suruhannya menyiapkan tiket keberangkatannya.
****
Keesokan harinya...
Ozan berangkat ke bandara diantar oleh Ramon. Sudah beberapa kali Ramon membujuknya agar Ozan mengurungkan niatnya untuk pergi. Namun, Ozan tetap pada pendiriannya untuk pergi. Rasa kecewanya pada Ameera dan Rangga mengalahkan segalanya. Semalam bahkan dihabiskannya dengan minum-minum sampai mabuk,sehingga Ramon memilih membawanya pulang ke apartemennya. Takut jika Ameera pulang dan mendapatinya dalam keadaan mabuk dan pasti akan memperburuk hubungan mereka. Tanpa mereka ketahui bahwa Ameera sedang terbaring di rumah sakit.
***
Sementara Ameera masih di rawat di rumah sakit. Karena kondisinya yang masih sangat lemah, dokter belum mengizinkannya untuk pulang. Sejak kemarin hanya Rangga dan Dina yang bergantian menjaganya. Ameera bersyukur memiliki dua teman seperti Rangga dan Dina yang tak pernah meninggalkannya dalam keadaan terpuruk seperti sekarang.
"Ameera, kamu mau makan apa? Nanti aku belikan." tanya Dina.
"Aku nggak lapar, Din..."
"Tapi kamu belum makan dari pagi."
"Aku mual kalau lihat makanan. Jangan paksa aku makan, ya! Aku lagi nggak mau makan." ucapnya lemah. Namun, bukan Dina namanya jika ia menyerah meminta Ameera untuk makan. Pasalnya Dina punya senjata andalan yang bisa di gunakannya untuk memaksa Ameera makan.
"Kamu nggak kasihan sama anak-anak kamu? Kalau kamu nggak mau makan, gimana dengan mereka? Kamu harus pikirkan mereka kan?" Nah kan, itulah jurus andalannya yang sidah mulai keluar. "Kamu lagi mau makan apa?" tanyanya kembali.
"Sup asparagus aja deh."
"Ya sudah aku carikan dulu, ya. Kamu tunggu disini." Ameera tersenyum pada Dina.
Tiba-tiba kesedihan kembali di rasakan Ameera. Seharusnya sekarang Ozanlah yang menemaninya melalui masa ngidamnya yang kadang menginginkan hal-hal aneh. Namun, kenyataannya Ozan malah lebih memilih bersama wanita lain dibanding dirinya. Ameera tidak tahu saja bahwa semua drama salah paham yang terjadi antara dirinya dan Ozan adalah rencana jahat yang di buat oleh Naura.
Saat ini hati Ameera seperti sedang berperang. Sebagian dari hati nya sangat merindukan suaminya, Namun sebagian merasakan ketakutan jika mengingat betapa kasarnya Ozan memperlakukannya.
__ADS_1