
Karena hari ini akhir pekan, Ameera bangun lebih lama dari biasanya. Sudah pukul delapan pagi ia masih terbuai di bawah selimut tebal. Saat Ozan masuk ke kamar membawa sarapan, ia masih belum mau membuka matanya.
Ozan meletakkan nampan berisi sarapan untuk Ameera di meja. Ia menghampiri Ameera yang masih terlelap.
Ozan tersenyum tipis memandangi wajah Ameera yang polos di pagi hari lalu menghujani wajah itu dengan kecuoan-kecupan hingga akhirnya Ameera terbangun.
Benarkan, si muka bantalku yang satu ini akan terbangun dengan kesal. Batin Ozan
"Selamat pagi sayang." ucapnya seraya tersenyum.
"Hemmmmmm..." Ameera melirik sekilas hendak menarik selimut lagi menutupi kepalanya. Tapi Ozan segera menangkap tangannya sehingga Ameera membuka matanya.
"Ayo bangun! Sarapan dulu," pinta Ozan seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Ameera.
Ameera duduk di ranjang mengumpulkan kesadarannya. Kepalanya masih terasa pusing karena kehujanan semalam.
"Wajahmu sangat pucat, aku panggil dokter ke rumah, ya.." kata Ozan seraya membelai wajah Ameera.
"Tidak mau. Aku kan tidak apa-apa."
"Tapi wajahmu pucat,"
"Nanti juga baikan sendiri," ucap Ameera dengan ketusnya.
"Dasar anak bandel...!" Ozan kemudian menggendong Ameera ke kamar mandi dan membuat Ameera gelagapan, "Cuci muka, gosok gigi terus sarapan. Cepat ya. Aku tunggu di luar."
Ameera segera membasuh wajahnya dengan air lalu sikat gigi. Setelah itu kembali ke kamar dan duduk di sofa bersama Ozan untuk sarapan.
Ozan pun memaksa menyuapi Ameera yang hanya mengaduk makanan di depannya. Dengan sangat terpaksa Ameera membuka mulutnya.
__ADS_1
Setelah drama sarapan di pagi hari, Ozan turun ke ruang kerjanya. Meskipun hari libur, Ozan tetap bekerja di rumah.
Sementara Ameera menghabiskan waktunya dengan duduk di pinggiran kolam renang. Lalu kemudian memberi makan ikan peliharaan suaminya yang berada tidak jauh dari kolam renang.
Ameera mengambil ponsel dari saku celananya. Ia membuka pesan masuk yang sejak semalam belum di baca. Tampak nomor yang sama dengan nomor yang kemarin mengiriminya foto Ozan bersama Naura sedang berdua di sebuah cafe.
Apalagi sih dia. Batin Ameera kesal
Saat membuka pesan, Ameera mengepalkan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang ponsel. Ia memejamkan matanya sejenak. Naura lagi-lagi mengirimkan beberapa foto dirinya bersama Ozan ketika mereka masih berpacaran. Melihat foto-foto Naura dan Ozan yang semesra itu membuat hati Ameera rasanya terbakar.
Ia membuka galery di ponselnya dan mencari beberapa fotonya bersama Ozan. Salah satunya foto pernikahan mereka, dan ada beberapa foto romantis juga. Dan salah satu foto yang pasti akan membuat Naura terbakar adalah foto ciuman mereka saat berada di Turki. Saat itu Ameera mengajak Ozan berselfi saat mereka jalan-jalan, tanpa di duga Ozan menciumnya sehingga dalam foto tersebut mereka tampak berciuman.
"Memang aku tidak punya foto yang lebih mesra dari foto yang kamu kirimkan huh? Lain kali saat Ozan meniduriku, aku akan mengambil gambarnya lalu mengirimkannya padamu. Biar hatimu hangus terbakar sekalian. " gerutu Ameera sambil mengirimkan beberapa foto pada Naura.
Aku tidak cemburu. Aku tidak cemburu. Aku tidak cemburu. Aku tidak cemburu. batin Ameera
Pikiran yang terus ia coba hadirkan dalam benaknya. Tetapi tetap saja hatinya terasa berdenyut.
Naura di sana sudah melempar benda apa saja yang di raihnya saking kesalnya dengan foto yang di kirimkan Ameera. Apalagi melihat foto ciuman mesra Ozan dan Ameera. Selama berpacaran Ozan bahkan tidak pernah mencium Naura. Sekarang ia di suguhkan pemandangan berupa foto ciuman mesra Ozan dan Ameera.
"BRENGSEEEKKKK kamu Ameeraaaa....!" Teriakan Naura memenuhi setiap sudut ruangan.
Naura mengetik pesan sambil tersenyum licik. Ia baru saja mengirimkan pesannya pada Ameera.
Rasakan kau. Batinnya
"Kau tidak lebih dari sekedar pemuas nafsu bagi Ozan. Sebegitu rendahnya dirimu." isi pesan Naura.
Mata Ameera sudah berkaca-kaca membaca pesan dari Naura. Ia mengepalkan tangannya hingga bergetar.
__ADS_1
Memang benarkan? Aku hanya objek untuk memuaskan nafsunya? batin Ameera.
Tiba-tiba ia menyadari kebodohannya mengirimkan foto mesra dirinya dengan Ozan. Bahkan ia sempat berpikir akan mengambil foto saat Ozan tidur dengannya untuk membuat Naura terbakar cemburu. Tapi malah dirinya yang terbakar sekarang.
Apa ini yang di namakan senjata makan tuan? Batin Ameera lagi.
Ameera menggenggam kuat ponselnya. Ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa emosi yang memuncak di hatinya.
Aku harus apa sekarang. Ozanku... suamiku yang tidak mencintaiku... bahkan aku sedang merindukan pelukannya. Hati yang bodoh ini kenapa bisa ada di dalam tubuhku. Batin Ameera mengutuki hatinya.
****
Sore menjelang Ozan masih di ruang kerja. Ia hanya keluar dari ruang kerjanya saat makan siang bersama Ameera dan masuk lagi setelahnya. Pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan benar-benar menumpuk.
Ameera sedang di dapur membantu beberapa pelayan membuat kue. Meskipun sudah di larang oleh pelayan, ia tetap melakukannya untuk mengusir kebosanannya seharian tinggal di rumah. Ia tampak antusias.
Ia baru menyadari melakukan pekerjaan wanita itu menyenangkan. Ia belajar memasak, membuat kue, dan mempercantik diri layaknya wanita, baru setelah menikah dengan Ozan. Karena sebelum menikah, di hidupnya hanya ada ayahnya dan Rangga. Ameera bahkan tidak punya teman wanita.
***
Ozan yangbmasih sibuk di ruang kerjanya harus kembali terganggu dengan deringan ponselnya.
Tampak pemanggil dengan nomor kontak tidak di kenal.
"Siapa lagi ini," batin Ozan.
Ozan mengabaikan panggilan itu dan melanjutkan pekerjaannya, namun pinsel terus berdering hingga beberapa kali. Dengan terpaksa Ozan menjawab oanggilan itu.
***
__ADS_1
Bersambung
💎💎💎💎💎**