Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Kemesraan tanpa cinta ?


__ADS_3

Ozan sedang berada di halaman kampus Ameera. Sejak tadi ia menghubungi Ameera namun Ameera tidak menjawab teleponnya. Ia pun berkeliling mencari Ameera kesana kemari dengan mobilnya menelusuri setiap jalan di dalam kampus.


Cukup lama ia berkeliling sampai akhirnya matanya menangkap sosok Ameera, yang sedang duduk selonjoran sambil bersandar pada sebatang pohon besar di taman. Bersama Dina dan dua orang temannya yang Ozan temui saat Ameera hilang di hutan beberapa bulan lalu.


"Ameera...!" Suara Ozan meneriakkan nama Ameera membuat Ameera terlonjak kaget. Ameera mencari sumber suara dan menemukan sosok Ozan berdiri dari jarak yang tidak begitu jauh.


"Itu suami kamu Ameera." Riri menoleh melihat Ozan ada di sana.


"Aku pulang duluan, ya..." Ameera meraih tas ransel kecilnya lalu berdiri dan berjalan menghampiri Ozan yang menunggunya di sana.


"Hati-hati di jalan!" ucap Dina.


Ozan merangkul bahu Ameera lalu mengecup keningnya ketika Ameera sudah berada tepat di hadapannya. Ia membukakan pintu mobil untuk Ameera.


Ozan pun melajukan mobilnya keluar dari kampus meninggalkan Dina dan dua orang lainnya yang masih mengobrol seru di taman.


Sepanjang jalan Ameera diam saja, ia mengabaikan Ozan yang berada di sampingnya.


"Kamu kenapa sih, dari tadi aku di cuekin terus?" Ozan memulai pembicaraan memecah kesunyian.


"Siapa yang cuekin kamu? Nggak!" ucap Ameera yang mengarahkan pandangannya keluar jendela.


"Telepon tidak di jawab, aku chat di read doang tidak di balas, itu namanya apa coba?" Ozan mulai protes.


"Aku lagi malas."


"Ya, tapi jangan gitu juga, Sayang. Aku keliling-keliling di kampus cari kamu. Untung aku lihat. "


"Kenapa kamu tidak pulang duluan?" tanya Ameera ketus.


"Mau pulang bareng kamu lah. Kalau tidak bersamaku, kamu pulang sama siapa?"


"Bodo amat. " Mendengar jawaban ketus Ameera tidak membuat Ozan kaget. Pasalnya sudah biasa Ameera bersikap judes padanya.


"Kamu mau makan dulu, tidak?"

__ADS_1


"Makannya di rumah saja. Aku sedang tidak ingin makan di luar. "


"Jutek amat bini."


Sesampainya di rumah, Ameera langsung menuju kamar tanpa menghiraukan Ozan. Sementara Ozan baru menyadari gelagat aneh pada Ameera. Ia pun segera menyusul Ameera ke kamar.


Itu bocah kenapa? Dia jadi aneh begitu. Tidak biasanya.


***


Malam hari Ameera tidur lebih cepat dari biasanya untuk menghindari Ozan. Sehabis makan malam, ia langsung menuju kamar, sementara Ozan seperti biasa akan berada di ruang kerja sampai matanya mengantuk.


Ozan melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ozan pun menghentikan aktivitasnya dan beranjak menuju kamar.


Sesampainya di kamar, ia mendapati Ameera sudah terbungkus selimut. Ozan segera masuk ke kamar mandi lalu berganti pakaian dengan piyama. Setelah ritualnya selesai, ia pun berbaring di samping Ameera.


Ia melirik Ameera yang posisinya membelakanginya. Ozan pun memeluk Ameera dari belakang.


"Sayang... sudah tidur, ya? " berbisik manja di telinga Ameera. Tetapi Ameera tidak bergeming.


Ozan mendekap tubuh Ameera dengan penuh kasih sayang. Ameera sebenarnya sudah terbangun, tetapi ia pura-pura tidur untuk menghindari Ozan. Hatinya masih sangat kesal pada kata-kata Naura tadi siang yang berimbas Ameera menghindari Ozan seharian.


Ozan terus menghujani setiap bagian wajah Ameera dengan kecupan lembut sampai akhirnya Ameera menyerah dengan akting pura-pura tidurnya. Ia pun membuka matanya perlahan. Senyum manis penuh arti hadir di wajah Ozan. Tanpa permisi ia mendaratkan ciumam di bibir Ameera. Karena sadar Ameera tidak membalas ciumannya, ia melepaskannya.


"Sayang... kamu kenapa?"


Ameera hanya menjawab dengan menggeleng, mmebuat Ozan bingung.


"Kamu lagi ada masalah ya? Sejak tadi kamu diam."


"Aku tidak apa-apa." jawab Ameera singkat.


"Kamu marah sama aku?"


"Tidak!"

__ADS_1


"Kamu tahu, aku sangat merindukanmu." bisik Ozan di telinga Ameera.


Ia kembali mencium Ameera dan kali ini Ameera membalas ciumannya. Mereka pun larut dalam ciuman mesra yang semakin dalam, sementara tangan Ozan sudah menjelajah kemana-mana.


Saat Ameera mulai kehabisan nafas, barulah Ozan melepaskannya. Ozan pun sudah tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya dan langsung menerkam Ameera. Hingga dini hari, Ozan masih sangat bersemangat walaupun Ameera sudah sangat kelelahan. Tetapi Ozan seakan tidak peduli. Ia hanya memberi Ameera jeda istirahat beberapa menit lalu kembali menyerangnya membuat Ameera tidak kuat lagi.


"Aku capek mas. " berbisik di telinga Ozan saat ia akan memulai aksinya kembali entah untuk yang keberapa kalinya.


"Sekali lagi sayang." Ozan memohon dengan wajah sememelas mungkin.


"Badanku rasanya sudah remuk, aku tidak kuat lagi." Rengekan lirih Ameera menyadarkan Ozan untuk tidak egois. Ia pun turun dari posisinya yang masih berada di atas Ameera.


"Ya sudah, kamu istirahat." Sambil memeluk tubuh mungil Ameera dan mencium keningnya. Sementara Ameera masih dengan nafas tersengal, ia memejamkan matanya saking lelahnya menghadapi Ozan.


"Aku minta maaf, Sayang. Kalau sudah sama kamu rasanya pengen terus. Aku pijitin, ya...!"


Ozan pun memijat tubuh Ameera yang terasa remuk karena kewalahan menghadapinya. Ia memijat dengan lembut seluruh bagian tubuh Ameera hingga Ameera tertidur.


****


Menjelang waktu subuh Ameera terbangun dari tidurnya dengan posisi Ozan memeluknya dari belakang. Masih dengan tubuh polosnya yang hanya tertutupi selimut. Ia memindahkan tangan Ozan yang melingkar di atas perutnya. Ameera meraih jubah mandinya dan berjalan ke kamar mandi. Rasa sakit di tubuhnya pun sudah berkurang karena Ozan memijatnya sampai ia tertidur.


Ameera berdiri di depan sebuah cermin besar di kamar mandi. Ia menyingkap sedikit jubah mandinya. Tampak beberapa jejak merah yang di tinggalkan oleh Ozan di sana. Ameera lalu menyalakan shower dan berdiri di bawahnya, membiarkan air membasahi tubuhnya.


Kembali terngiang di telinganya kata-kata Naura yang memintanya melepaskan Ozan dari pernikahan yang mereka jalani tanpa cinta. Ia kembali teringat pada kata-kata Ozan saat pertama kalinya mereka bertemu.


Ozan mengatakan memiliki seseorang yang sangat ia cintai dan itu adalah Naura, seorang gadis yang sangat cantik dan sempurna yang jika di bandingkan dengannya, Ameera merasa tidak ada apa-apanya.


Dia juga tidur denganku bukan karena cinta, tapi hanya sebagai pemuas nafsunya saja kan? Bagaimana dia bisa menggerayangiku setiap malam dengan seenaknya tanpa cinta. Batin Ameera


Mengingat semua itu membuat Ameera merasa sesak. Kenyataan pahit inilah yang sekarang harus di telan Ameera. Iapun menangis untuk pertama kalinya di bawah guyuran air yang mengalir deras seiring dengan isakannya yang terdengar lirih.


*K*enapa ayah memaksaku menikah dengannya. Ayah lihat kan sekarang. Kekasihnya sudsh kembali dan dia akan meninggalkanku demi wanita itu.


****

__ADS_1


__ADS_2