
"Kenapa kalian tidak membawa papa ke rumah sakit?" tanya Ozan pada Rangga dan Naura.
Mereka sedang duduk di ruang tamu, sedangkan Ameera masih di dalam kamar menemani Hendri.
"Papa menolak, Bang. Aku, Kak Naura dan Mama sudah beberapa kali membujuk papa. Tapi papa tetap menolak," jawab Rangga.
Naura masih menangis hingga sesegukan, Rangga pun merangkul kakaknya itu dan membujuknya agar berhenti menangis.
"Sekarang yang bisa membujuk papa hanya Ameera. Aku harap kehadiran Ameera bisa menguatkan papa."
"Aku akan minta Ameera membujuknya," kata Ozan.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara teriakan Ameera, orang-orang yang berada di luar terlonjak kaget dan langsung berlari memasuki kamar itu.
"Papa, bangun..." panggil Ameera seraya menangis, "Rangga cepat bawa papa ke rumah sakit!" teriaknya kemudian.
Ozan dengan cepat menghubungi rumah sakit dan meminta untuk di kirim ambulan ke rumah itu.
Selang beberapa menit, ambulan datang dan membawa Hendri ke rumah sakit.
"Ayah... El mau ikut..." Elmira merengek meminta ikut.
"Elmira sama kakak tinggal di sini dulu, ya... Ayah sama ibu mau bawa kakek ke rumah sakit." pinta Ozan pada anak perempuannya.
"Tapi nanti jemput, ya..."
"Iya, nanti ayah jemput. Jangan nakal, ya..."
****
Sesampainya di rumah sakit, Hendri langsung ditangani oleh beberapa dokter ahli. Ameera dan Naura duduk bersama bersandar di bahu Rangga, mereka menunggu dengan perasaan was-was.
"Rangga, papa akan baik-baik saja kan? Papa akan sembuh kan?" tanya Ameera.
"Papa pasti akan baik-baik saja. Tenanglah!"
Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan itu dan memberitahukan kondisi Hendri. Ozan pun segera menghubungi Hasan untuk mengabarkan keadaan sahabat ayahnya tersebut.
"Ameera, pulang saja dulu. Kamu kan juga baru sembuh, kamu butuh istirahat," ucap Naura.
"Aku mau menunggu papa, Kak. Kalau aku pulang, bagaimana kalau nanti papa mencariku."
__ADS_1
"Aku akan segera menghubungimu kalau papa mencarimu. Jangan sampai nanti kamu ikut sakit."
"Benar, Ameera... Kamu pulang saja dulu," imbuh Rangga.
"Ayo, Ameera. Kamu harus istirahat. Kita jemput El sama Er dulu." Ozan pun segera mengajak Ameera pulang karena kesehatannya belum pulih sepenuhnya.
****
Malam harinya, Ameera membuka kembali album foto lama yang di ambilnya dari rumahnya. Ia memandangi foto-foto ibunya bersama Hendri.
"Mereka pasangan yang serasi," gumam Ameera.
Ozan kemudian menghampiri Ameera yang masih membuka-buka album foto itu.
"Sayang, ini sudah malam. kamu belum tidur." Ozan datang menghampiri Ameera, mengusap kepalanya dengan sayang.
"Aku belum mengantuk. Aku merasa merindukan ayah dan ibuku."
"Kamu kan butuh istirahat banyak, yank. Kamu tidur ya... Besok aku antar ke makam ayah."
"Janji ya..."
"Aku juga boleh ke rumah sakit menemani papa, kan?"
"Iya... Sekarang tidur, ya! Lihat, Er sama El sudah tidur nyenyak. "
***
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, kondisi kesehatan Hendri semakin membaik. Ia mulai bisa makan. Ameera setiap hari datang dan memaksanya makan.
Lelaki paruh baya itu merasa putri bungsunya itu berhati malaikat. Walaupun dirinya pernah sangat jahat pada Ameera, namun Ameera memaafkannya dengan mudah tanpa syarat.
"Ayolah, Papa. Makan sedikit lagi," Ameera sekali menyuapi lelaki paruh baya itu. Memaksanya menghabiskan makanannya.
"Sudah cukup. Papa kekenyangan. Kamu sangat mirip ibumu dalam hal memaksa,"
Memdengar Hendri menyebut nama ibunya,Ameera menjadi antusias. Ameera tidak tahu apapun tentang ibunya selain kenangan masa kecilnya karena selama hidupnya, Rudi tidak pernah bicara tentang mendiang ibunya.
"Papa, ceritakan padaku tentang ibu," pinta Ameera.
Hendri kemudian teringat pada wanita yang pernah mengisi hidupnya itu. Kenangan tentang Ratna masih membekas jelas di ingatannya.
__ADS_1
"Dia persis sepertimu," kata Hendri. "Wajahnya, senyumnya, tingkahnya... Semuanya ada dalam dirimu."
"Benarkah?"
"Iya. Awal saling mengenal, kami sempat bermusuhan. Papa pikir dia seorang gadis yang aneh. Kamu tahu, dia menguasai ilmu bela diri sama sepertimu. Ayahmu yang mengajarinya."
"Ceritakan semuanya, Papa..." pinta Ameera dengan penuh semangat.
"Ibumu seorang gadis yang penuh semangat, tapi sedikit galak. Dia sering memukuli papa kalau salah bicara sedikit saja."
Ameera senyum-senyum sendiri mendengar cerita itu. Ia teringat awal penikahannya, dia sering memukuli Ozan jika ucapan Ozan membuatnya kesal.
"Benarkah ibu seperti itu?"
"Apa kamu juga begitu?"
Ameera pun hanya nyengir kuda mendengar pertanyaan itu. Ia baru tahu jika ibunya juga seorang gadis yang menguasai ilmu bela diri dan suka seenaknya memukul. Dan sekarang sifat bar-bar itu menurun pada Elmira, yang sering memukuli Erzan jika kesal.
Apa bar-bar itu menurun, ya?
Hasan kemudian menceritakan segalanya. Tentang kebersamaannya dengan Ratna, dan tentang persahabatannya dengan Rudi yang terjalin sejak mereka masih kecil.
Hendri menangis setiap kali teringat pada sahabat terbaiknya itu. Ameera mungkin bisa memaafkannya. Namun, Hendri tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Dia tenggelam dalam penyesalan yang mendalam. Selama hampir enam tahun di penjara. Tidak seharipun ia lewati tanpa mengingat sahabatnya itu.
"Maafkan Papa Ameera. Semua yang terjadi padamu adalah buah dari kejahatan Papa. Papa tidak pernah bisa memberimu apa-apa. Tapi papa mengambil semua yang berharga di hidupmu."
"Jangan bicara begitu, Papa. Rangga benar, aku tidak melihat semuanya dari sudut pandang Papa. " Ameera menggenggam tangan Hendri, " Maafkan aku yang sempat marah pada papa. Aku bahkan pernah mau menembak Papa. Aku tahu Papa juga menjalani hidup yang tidak mudah."
Rudi, aku berhutang padamu seumur hidupku. Kau membentuk anakku menjadi seorang wanita yang kuat.
"Papa... Mari kita mulai semuanya dari awal. Aku akan menghabiskan uang Papa untuk bersenang-senang." ucap Ameera yang mulai mengeluarkan jurus matrenya.
Hendri terkekeh mendengar ucapan Ameera. Tentu saja Ameera tidak akan bisa menghabiskan harta Hendri. Pasalnya, Hendri adalah seseorang yang sangat kaya raya dan memiliki perusahaan dimana-mana.
Bersambung
Ada yang belum lihat tokoh visual babang Ojan dan babang Rangga... Boleh intip di bab pertama. Author baru nemu tokoh visual yang author suka... wkwkwkkw
Gimana menurut kalian tokoh visualnya? cocok nggak?
__ADS_1