Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Rencana pembunuhan.


__ADS_3

"Zal, Perintahkan semua orang yang lu percaya berpencar mencari ke setiap rumah, Villa atau tempat apapun milik keluarga Agung Darmawan. Terserah itu di dalam atau di luar kota. Laporkan semua informasi yang kalian temukan sekecil apapun itu!" titah Rangga.


"Kalau begitu, gue mau minta bantuan orang-orangnya abang lu." ucap Rizal.


"Ya udah, nanti gue bilang sama abang gue."


"Terus mereka gimana?" tanya Rizal seraya menunjuk beberapa pria di sana.


Rangga kemudian menengadahkan tangannya seperti meminta sesuatu, Rizal yang paham betul dengan Rangga segera mengambil sesuatu di saku dalam jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah senjata api dan memberikannya pada Rangga.


"Kalian tahu kan, apa akibatnya kalau berani berkhianat?" ucap Rangga mengancam seraya menodongkan senjata api pada beberapa pria di depannya.


Jika tatapannya saja sudah sangat menakutkan bagi mereka, apalagi sekarang ia sedang menodongkan senjata. Nyali mereka langsung menciut, jika sudah berhadapan dengan orang yang sering mereka sebut sebagai pemuda gila itu.


"Tidak, kami tidak akan berani," kata seorang pria.


"Urus mereka. Bunuh mereka kalau sampai berani berkhianat," ucap Rangga lalu kemudian meninggalkan tempat itu. Ia segera menghampiri kakak dan ayahnya yang sejak tadi memperhatikannya dari jauh.


Rizal kemudian berdiri di hadapan beberapa pria itu ketika Rangga sudah beranjak dari sana.


"Kalian tahu kan, dia lebih menakutkan dari Bos Hendri. Jadi jangan macam-macam." Rizal memberi mereka ancaman mematikan yang membuat tubuh mereka gemetaran, "Rangga bukan seseorang yang memiliki belas kasih pada siapapun yang berniat melukai Ameera. Jadi, kalau kalian masih ingin hidup, jangan macam-macam."


"Baik..." sahut mereka bersamaan.


"Apa di antara kalian ada yang tahu dimana Jack?" tanya Rizal kemudian.


"Jack menghilang sejak kemarin," jawab seorang pria. Mendengar jawaban itu membuat Rizal semakin yakin jika Ameera di culik oleh Naura.


Dengan di bantu pengawal dari Chandra Jaya Grup, mereka kemudian berpencar, mencari ke setiap tempat yang di perintahkan oleh Rangga.


***


Ozan, Rizal dan Rangga pergi mencari Ameera di beberapa tempat yang kemungkinan di datangi Naura untuk menyembunyikan Ameera.


Dari semua tempat yang mereka datangi, tidak ada satupun petunjuk tentang keberadaan Ameera.


Ozan sudah mau gila rasanya memikirkan nasib istrinya itu. Terlebih beberapa hari lagi jadwalnya menjalani Operasi Caesar.


Hingga larut malam mereka masih terus mencari, namun tak membuahkan hasil. Entah kemana Naura membawa Ameera pergi.


"Gimana, Zal?" tanya Ozan ketika melihat Rizal baru saja menerima telepon.


"Mereka bilang belum menemukan tanda-tanda keberadaan Ameera," jawab Rizal yang baru saja menerima laporan dari orang-orangnya membuat Ozan memejamkan matanya frustasi.


"Tenang dulu, masih banyak tempat yang kita belum periksa. Mungkin salah satunya menjadi tempat Naura membawa Ameera."


***


Di suatu tempat yang sangat terpencil...


Dalam sebuah ruangan yang mirip gudang, Ameera yang terbaring dalam keadaan tangan dan kaki terikat beralaskan karpet, belum sadarkan diri. Ada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh kebencian. Ia duduk di sebuah kursi kayu seraya memainkan senjata api di tangannya.


Beberapa saat kemudian, seorang pria datang menghampirinya, Naura menoleh sekilas.

__ADS_1


"Jack, pastikan dia mati perlahan di tempat ini. Aku ingin lihat bagaimana penderitaan mereka kehilangan orang yang mereka cintai," ucap Naura seraya tersenyum sinis.


"Kau jangan bertindak gila, Naura! Kau tahu jika terjadi apa-apa pada Ameera dan mereka sampai menemukanmu, mereka mungkin akan membunuhmu." Jack mencoba memperingatkan Naura, namun Naura tidak bergeming sedikitpun.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin membalas apa yang mereka lakukan padaku. Terutama pada anak kecil itu. Ibunya adalah penyebab kematian mama, dan kematian ayahnya membuat papa di penjara. Dia juga membuatku hampir membunuh adikku sendiri."


Jack terdiam mendengar ucapan Naura. Pria itu tahu, Naura sangat membenci Ameera. Jack mengarahkan pandangannya pada beberapa orang yang berdiri di setiap sudut ruangan itu. Ia menghela napas berat. Menatap Naura dengan ekor matanya.


Tidak lama kemudian...


Perlahan Ameera membuka matanya. Samar-samar ia melihat tempat yang sangat asing baginya. Ia kemudian menyadari sedang dalam keadaan terikat. Dengan tubuhnya yang sangat lemah itu ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri.


Aku dimana? Kenapa tangan dan kakiku di ikat begini. batin Ameera


Naura yang melihat Ameera terbangun, segera menghampirinya.


"Bagaimana kabarmu Ameera? Apa kau merindukanku?" tanya Naura seraya berjongkok di depan Ameera.


Ameera membulatkan matanya melihat Naura ada di sana, ia baru menyadari dirinya sedang di sekap oleh Naura.


"Lepaskan aku..."


Naura tersenyum sinis, kemudian berdiri dan kembali duduk di kursi kayunya.


"Ameera, aku pasti akan melepaskanmu dari sini. Tapi... saat kau tidak lagi bernyawa." ucap Naura dengan santainya membuat Ameera menjadi semakin takut.


Mas Ozan, Papa, Rangga... tolong aku... kalian dimana. Ameera menjerit dalam hati.


Karena telah berjam-jam terbaring hanya beralas karpet, tubuh Ameera terasa pegal, belum lagi perutnya yang terasa kram.


Beberapa pria yang tadi berjaga di dalam ruangan itu kemudian keluar mengikuti Naura.


Begitu Naura pergi, Jack segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Ameera sendirian di sana. Sekuat tenaga Ameera berusaha melepas tali yang mengikat tangannya hingga tangannya menjadi lecet. Namun usahanya sia-sia, ikatan itu begitu kuat melilit tangannya.


Tidak lama kemudian, Pria itu kembali dengan membawa Papper bag, ia segera masuk ke ruangan tempat Ameera di sekap.


Ia menatap iba pada Ameera yang sedang hamil besar dalam keadaan terikat. Ia terpaksa harus mengikuti perintah Naura untuk menyekap Ameera.


"Tolong lepaskan aku," ucap Ameera saat melihat jack mendekat.


"Tenanglah Ameera. Aku akan berusaha menolongmu dari sini. Tapi tidak sekarang, mereka sangat banyak di luar sana. Kalau kita mencoba melarikan diri sekarang, kita akan mati."


"Kenapa kalian menyekapku di sini? Aku mau pulang," Ameera sudah mulai menangis saking takutnya.


"Kau tahu segila apa Naura kan? Kau tenanglah dulu. Aku membawakanmu makanan. Aku akan melepaskan ikatanmu agar kau bisa makan, lalu setelah itu aku akan mengikatmu lagi."


Jack pun segera melepaskan tali yang melilit tangan dan kaki Ameera. Karena kondisinya yang hamil besar, Ameera menjadi sangat lemah. Jack memberikan makanan yang ia sembunyikan di dalam papper bag, lalu meminta Ameera memakannya.


"Makanlah!"


"Aku tidak mau makan. Aku mau pulang."


"Tolonglah Ameera. Cepat makan sebelum Naura kembali. Kalau kau tidak makan, bagaimana kau punya tenaga untuk melarikan diri dari tempat ini. Aku akan berusaha mengeluarkanmu dari sini, tapi tunggu sampai mereka lengah."

__ADS_1


"Kenapa kamu mau menolongku? Kamu tidak berencana membunuhku kan?"


"Aku hanya tidak ingin mati di tangan Rangga kalau sampai terjadi apa-apa padamu. Jadi aku mohon makanlah dulu. Jika mereka semua sudah lengah, aku akan membawamu keluar dari tempat ini."


Ameera pun menuruti ucapan Jack dan segera memakan makanan itu. Sementara Jack berjaga di depan pintu, khawatir jika Naura tiba-tiba datang.


Setelah Ameera menghabiskan makanannya, Jack kembali menghampirinya dan memasukkan sisa bungkusan makanan itu ke dalam papper bag.


"Aku akan mengikatmu lagi. Kau bisa bersabar sebentar lagi kan?"


"Tapi aku mau ke kamar mandi dulu." ucap Ameera.


"Baiklah, cepatlah. Jangan sampai Naura datang, kamar mandinya di sebelah sana." Jack menunjuk ke sudut ruangan dimana ada kamar mandi disana.


Ameera pun segera masuk ke kamar mandi. Bermaksud ingin kabur jika ada celah. Namun, bahkan tidak ada celah di kamar mandi untuk ia bisa kabur dari sana.


Ia keluar dari kamar mandi mendekati Jack.


"Tolong hubungi suamiku atau Rangga, katakan pada mereka aku ada di sini," pinta Ameera memelas.


"Ameera, Naura tidak akan segan-segan membunuhmu kalau sedang merasa terancam. Sekarang yang dia inginkan adalah kau dan suamimu. Dia ingin membunuh kalian berdua di tempat ini."


Ucapan Jack membuat Ameera membeku, pria itu pun kembali mengikat tangan dan kaki Ameera.


"Tunggulah! Begitu ada kesempatan, aku akan membawamu keluar dari sini." Setelah mengikat tangan dan kaki Ameera, Jack segera meninggalkan tempat itu. Mengamati keadaan sekitar, mencari celah untuk bisa menyelamatkan Ameera dari sana.


***


Dini hari saat sebagian pengawal sudah lengah, Jack mengendap-endap masuk ke dalam gudang tempat Ameera berada. Ia membuka ikatan di tangan dan kaki Ameera.


"Dengar, ini sangat berbahaya. Tapi hanya ini cara yang bisa aku lakukan untuk menolongmu. Kita akan pergi lewat pintu belakang."


Mereka kemudian keluar dari pintu dimana seorang penjaga sedang tertidur.


Jack sengaja mematikan sebagian lampu di tempat itu. Agar tidak ada yang melihatnya saat membawa Ameera pergi.


Namun, saat akan melangkah keluar,lampu yang tadinya mati kembali menyala. Mereka terkejut melihat lampu-lampu itu menyala. Mereka kemudian di kepung oleh beberapa pria.


"Jadi kau mau berkhianat, Jack?" Naura muncul dari dalam bangunan itu seraya menodongkan pistolnya.


Pria itu lalu menarik Ameera ke belakang punggungnya.


"Cukup, Naura! Kau terlalu di kuasai dendammu. Ameera tidak bersalah atas semua yang terjadi padamu."


"Haha, jadi kau mau menjadi malaikat dan mencoba menyelamatkannya. Baiklah,aku akan jadi malaikat maut untuk kalian berdua."


Naura sudah mau menembak Jack, namun ia mengurungkannya, mengingat Jack adalah orang kepercayaan Hendri.


"Setidaknya untuk membunuhmu, aku harus minta izin papa dulu," Naura menurunkan pistolnya, "Bawa mereka masuk!" perintah Naura pada para pengawalnya.


****


BERSAMBUNG

__ADS_1


author sangat berterima kasih untuk kalian yang sudah mau bersabar membaca karya yang amatiran ini... semoga terhibur...


Salam sayang...


__ADS_2