Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Gundah


__ADS_3

Ozan sedang duduk di tepi ranjang king size nya. Sorot matanya kosong menatap benda kecil berbentuk kotak di genggamannya. Itu adalah kotak berisi cincin berlian yang di belinya beberapa waktu lalu. Cincin yang akan di gunakannya untuk melamar Naura. Namun belum sempat ia mengutarakan keinginannya pada Naura, rencana yang sudah di susun rapi hancur berantakan karena perjodohan bodoh antara dirinya dengan seorang anak kecil bernama Ameera Malika Hutomo. Yang tak lain adalah anak dari Rudi, orang yang sudah di anggapnya seperti ayahnya sendiri.


Dia memandangi kotak tersebut, pikiran nya bagaikan benang kusut. Bagaimana bisa orang tuanya menjodohkannya dengan seorang remaja yang tidak di kenalnya. Bahkan mereka akan dinikahkan secepat itu.


"Aku harus bilang apa sama Naura." gumam Ozan, yang merasa kepalanya sangat berat memikirkan masalahnya.


Setelah penyerangan di basement beberapa waktu lalu, ia memang sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Naura. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon. Dan Naura dapat mengerti keadaan itu. Sejak awal berpacaran dengan Ozan, Naura telah terbiasa jika berkencan dengan Ozan, mereka akan di ikuti oleh pengawal yang di tugaskan untuk menjaga Ozan.


Ozan sedang memikirkan bagaimana cara membujuk ayahnya agar mau membatalkan perjodohannya dengan Ameera. Ozan keluar dari kamarnya menuruni tangga. Ia hendak menuju ke ruang kerja menemui ayahnya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar.


"Masuk! "


Ozan masuk ke ruangan tersebut dan duduk di sofa. Ia memperhatikan ayahnya yang kelihatan sedang sibuk depan laptopnya.


" Pah...! "


"Hmmmmm..."


"Papa yakin? Mau menjodohkan aku sama gadis remaja itu?" Ozan Duduk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


"Kenapa?"


"Tolong dipikirkan lagi pah...!" pinta Ozan dengan wajah memelas. Gerak-geriknya sudah seperti langit akan runtuh menimpanya.


"Ozan, rencana papa dengan Pak Rudi menjodohkan kamu dan Ameera itu sudah sangat lama. Sejak kalian masih kecil. Maaf, kalau papa baru kasih tau nya sekarang. Ameera itu gadis yang baik. "


"Tapi Pah, aku nggak mau menikah dengan Ameera. Aku nggak punya perasaan apapun ke dia. Coba lihat, dia cuma anak remaja yang masih polos."

__ADS_1


Hasan segera menutup laptopnya dan mengalihkan pandangannya pada Ozan.


"Zan, papa tau kamu belum bisa menerima perjodohan ini. Tapi percayalah, ini yang terbaik buat kamu. Kamu akan segera menikah dengan Ameera. "


"Tapi kenapa harus Ameera, Pah? Dia kan masih remaja. Lagian aku punya Naura. Kalau harus menikah secepatnya, kenapa bukan dengan Naura saja? Yang sudah jelas aku kenal dan aku cintai. Aku harus bilang apa nanti sama Naura? Dia pasti sedih kalau tau aku di jodohkan dengan gadis lain."


" Cukup Ozan! Papa sudah bilang sama kamu, Naura itu bukan gadis baik-baik. Kamu saja yang di butakan oleh cinta. Ingat, jangan coba-coba kabur dari rumah. Keadaan belum sepenuhnya aman buat kamu." berkata panjang lebar penuh penekanan. Ia tahu Ozan akan berusaha sekeras mungkin untuk membatalkan perjodohannya dengan Ameera.


"Papa, aku mohon! Aku benar-benar gak bisa, Pah!" Ozan sudah sangat frustasi dengan keputusan sepihak orang tuanya.


"Kamu harus belajar menerima nya. Waktu akan menumbuhkan cinta antara kamu dan Ameera. "


Hasan segera berdiri, menepuk bahu Ozan dan keluar dari ruang kerja tanpa mempedulikan protes yang di layangkan Ozan.


Ozan duduk mematung, merenungi nasibnya. Entah cara apa lagi yang bisa dia lakukan untuk membujuk orang tuanya agar membatalkan perjodohannya dengan Ameera.


Ozan pun tau Ameera tidak akan memohon pada Ayahnya untuk membatalkan pernikahan mereka. Ozan tahu betul siapa dan bagaimana seorang Rudianto Hutomo. Dia paling tidak suka di bantah. Percuma saja jika Ameera memohon pada ayahnya. Karena seperti kata Ameera, itu tidak ada gunanya.


Disisi lain, Ameera sedang menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang di kamar yang temaram. Hanya lampu tidur yang menyala. Ada guratan kesedihan di wajah Ameera. Ia tidak dapat memejamkan matanya walaupun hanya satu menit saja. Di Pikiran nya saat ini hanya tertuju kepada satu orang, yaitu Rangga. Saat sedang sedih, Rangga satu-satunya orang yang dapat menghiburnya.


Ameera melirik lampu hias yang di belikan Rangga waktu itu. Ia menyalakannya. Seketika tampaklah dinding kamarnya di hiasai cahaya dari lampu hias itu.


Di raihnya ponsel yang berada di atas meja nakas, ia ingin menelepon Rangga, namun di urungkan.


Ameera masih menatap nanar pada sudut ruangan di kamarnya. Lalu ia membuka aplikasi whatsApp di ponselnya.


"Sudah tidur belum?" Isi pesan Ameera kepada Rangga.


Beberapa menit menunggu, akhirnya Rangga membalas pesan nya.


"Belum niih, belum ngantuk. Kenapa?"

__ADS_1


"besok kamu sibuk, gak?"


"enggak juga"


"kamu gak mau ajakin aku ke pantai?"


Mendapat balasan seperti itu dari Ameera, Rangga pun menyadari ada masalah dengan ameera. Rangga segera menelepon Ameera.


"Halo, Rangga... " Suara Ameera terdengar tidak bersemangat seperti biasanya.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Rangga.


"Gak koq, aku cuma lagi pengen ke pantai aja. " sahut Ameera


"Ck, dasar lollypop... kebo' jelek... kamu pikir aku gak kenal kamu"?


Ameera diam beberapa saat. Ia tertawa dalam hati mendengar julukan Rangga untuk dirinya.


"Ya udah besok sore jam 5 aku jemput di rumah kamu, ya. Jangan nangis sendirian. Awas aja kalo besok kita ketemu mata kamu sembab. Kamu cuma boleh nangis di depanku, gak boleh nangis sendirian. Okey." ucap Rangga panjang lebar.


Ameera masih diam, tidak menjawab lagi. Iapun segera mematikan sambungan telepon nya. Ada sedikit rasa lega di hatinya. Setidaknya ia memiliki seorang Rangga yang selalu ada untuknya.


Ameera kembali merenungi pertemuannya dengan pria yang di jodohkan dengannya. Sudah jelas-jelas pria itu menolak di jodohkan dengannya. Bahkan Ozan menolak tepat di hadapan Ameera dan ayahnya. Bagaimana nanti hubungan mereka bisa berjalan dengan baik jika mereka saling menolak. Apalagi Ozan mengatakan pada Ameera ia memiliki seorang kekasih yang di cintainya.


Bagaimana mungkin kemalangan seperti ini akan menghampiri hidupnya. Ia akan hidup dengan seseorang yang bahkan tidak mengharapkan kehadirannya. Jika di paksakan maka itu hanya akan menyakitinya saja. Begitulah pikirnya.


Ameera bahkan masih menunggu pengumuman kelulusan Sekolahnya. Ia memiliki cita-cita yang ingin di raihnya. Tetapi impian itu akan berakhir bahkan sebelum Ameera mulai membangunnya. Dengan menikah, maka semua impian yang sudah di susun rapi di otaknya akan hancur seketika. Dalam kegelapan Ameera tersenyum kecut. Ia membayangkan betapa indahnya jika dirinya dapat melanjutkan impiannya. Kuliah dan bertemu banyak orang. Menjalani hidupnya seperti orang biasa pada umumnya.


Tetapi kenyataanya berbeda karena seseorang bernama Ozan Chandra Jaya yang akan menjadi penyebab hancurnya impiannya.


**Maaf ya para readers kalau ada yang kurang... maklum novel pertama. Mohon dukungan nya yaaa

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏**


__ADS_2