
"Ozan, itu muka kamu kenapa?" tanya Zarima di sela-sela makan siang saat melihat wajah ozan sedikit lebam. Ozan meraba pipi kanannya. Melirik Ameera dengan ekor matanya, membuat Ameera tertunduk malu.
"Gak apa-apa, Mah. Tadi ada kecoa di kamar, aku mau tangkap tapi malah di serang." ucap Ozan seraya menatap tajam Ameera.
Ameera yang mendapat tatapan tajam itupun merasa tubuhnya bagai terbelah menjadi dua bagian.
Ozan yang tidak ingin kelakuan konyolnya ketahuan sang ibu. Saat ia sedang mencium kening Ameera, gadis itu terbangun dan langsung mmberinya hadiah tinju.
"Hah? Masa? Kalau cuma kecoa kenapa pipi kamu jadi lebam begitu?" tanya Zarima menyelidik, ia meraba wajah Ozan yang kebiruan itu.
"Kecoanya bar-bar mah." ucap Ozan hendak menyindir Ameera.
"Uhuk.. uhuk..." Ameera tersendak makanan mendengar ucapan Ozan. Buru-buru ia mengambil minum di depannya.
"Eh, makannya pelan-pelan nak. " kata Zarima seraya menepuk punggung Ameera.
"Makanya kalau mau makan berdoa dulu." ledek Ozan, namun ledekannya terdengar bernada kesal.
Sementara wajah Ameera sudah merah padam. Zarima menatap Ozan dan Ameera secara bergantian. Akhirnya wanita paruh baya itu mengambil kesimpulan sendiri.
"Oh, mama tau sekarang!" ucapnya sambil menganggukkan kepala, "Ozan... kan mama sudah bilang sama kamu jangan memaksa kalau Ameera belum siap. Kamu pasti yang barbar ini, sampai muka kamu jadi seperti itu kan. " tuduh Zarima yang curiga Ozan memaksa Ameera minta jatah lalu berakhir dengan lebam di wajahnya.
Ozan pun tidak terima dengan tuduhan yang di layangkan padanya. Bahkannia tersendak makanan karena terkejut mendengar tuduhan ibunya.
"Mah, bukan begitu!" ucapnya seraya menepuk dadanya yang sakit karena tersendak makanan.
Kalau aku jelaskan ke mama alasannya pasti aku semakin tertawakan. Ini konyol. Padahal yang aku cium kan kening istriku sendiri, kenapa jadi terasa seperti aib begini. Batin Ozan
"Kamu jangan banyak alasan, " bentak Zarima, "Ameera, kamu jangan mau kalau Ozan memaksa. Apalagi kalau sampai dia ngebarbar-in kamu." Perkataan Zarima yang langsung pada intinya membuat wajah Ameera dan Ozan merah padam.
Ameera rasanya ingin menyembunyikan wajahnya di bawah meja.
"Mama... Kok malah aku yang di tuduh barbar?" ucap Ozan tidak terima.
"Iya, pasti kamu kan? Ameera tidak mungkin melakukan itu ke kamu kalau kamunya tidak memaksa. "
Karena kesal, Ozan menyenggol kaki Ameera di bawah meja. Ameera pun tidak mau kalah, gadis itu membalasnya dengan menendang kaki Ozan. Hingga mereka terlibat aksi tendang menendang di bawah meja.
"Itu kamu mulai lagi, Ozan? " tanya Zarima ketika melihat gelagat aneh Ozan.
__ADS_1
"Apa salahnya, aku cuma cium keningnya saja tadi pagi, karena dia gak bangun-bangun. Gini banget cium kening istri sendiri, seperti sudah melakukan tindakan kriminal paling bersejarah sepanjang masa." Ozan berseloroh, berapi-api karena kesal dan merasa terpojokkan.
Bukannya prihatin dengan nasib anaknya, Zarima malah tertawa dengan lantang bahwan suara tawanya memenuhi ruangan itu.
Jangan di tanya wajah Ameera, yang sudah memerah seperti udang rebus.
Benar dugaanku, mama akan menertawakanku. Awas kamu Ameera! Batin Ozan semakin kesal.
Dan makan siang berlanjut dengan perang mata antara Ameera dan Ozan. Sementara senyum menggelikan terus menghiasi wajah Zarima.
***
"Mama, aku mau ke makam Ayah. Apa boleh?" tanya Ameera yang datang menghampiri ibu mertuanya yang sedang menonton tv di ruang keluarga.
"Boleh, tapi harus di antar Ozan, ya." jawab Zarima lembut.
"Gak apa-apa mah. Aku akan pergi sendiri, Kak Ozan lagi tidur..."
"Loh, jangan panggil kakak donk, panggil mas biar romantis, hehe"
Bukannya kedengaran lebih aneh, masa si bule itu aku panggil Mas. Kan nggak cocok. batin Ameera.
"Iya mah. " ucapnya seraya tersenyum paksa. "Mah, makasih ya, sudah menyiapkan semuanya untukku. Mama kasih aku barang yang banyak. Mama pasti repot ya? " kata Ameera mengingat di lemari besarnya penuh baju- baju yang bagus dan branded. Yang sudah pasti harganya sangat mahal.
"Kamu duduk dulu di sini. Sambil tunggu Ozan bangun.
Ozan itu kalau tidur siang tidak lama kok. "
Ameera duduk di samping Zarima, lalu mereka mengobrol panjang lebar sampai Ozan datang mengampiri mereka.
***
Dina sedang berada di ruang tamu di rumah Rangga. Ia dan Aliyah, ibu Rangga sedang menobrol santai sembari minuman dan cemilan di depannya. Rangga keluar dari kamarnya, lalu duduk di samping Dina.
Rangga lalu mengacak rambut Dina, membuat Dina mengerucutkan bibirnya sembari merapihkan kembali rambutnya yang berantakan karena di acak rangga.
"Apaan sih kamu... berantakan kan rambutku." ucap Dina.
"Sorry..."
__ADS_1
Aliyah tersenyum melihat interaksi Rangga dan Dina, ia lalu memutuskan membiarkan mereka bicara berdua.
"Mama tinggal dulu ya." ucap Aliyah lalu pergi meninggalkan Rangga dan Dina di ruang tamu.
"Aku minta maaf ya, Din. Aku pasti bicara yang tidak-tidak semalam." ucap Rangga.
"Gak kok. Aku aku gak apa-apa. Lagian kamu gak banyak bicara."
Rangga meraih tangan Dina dan menggenggamnya. Ia mengembuskan nafas panjang.
"Minggu depan aku berangkat ke luar negeri, mengurus pendaftaran kuliah. Mungkin aku akan lama kembali."
Dina menunduk. Perasaan sedih tergambar jelas di wajahnya.
"Bukannya kemarin-kemarin kamu gak mau kuliah di luar negeri? Papa kamu di penjara kan? Gak ada lagi yang memaksa kamu untuk kuliah di luar negeri."
"Aku mau mulai hidup baru, Din. Mencari suasana baru. Kalau aku di sini terus, aku gak akan bisa melupakan Ameera. Aku bisa pergi dengan lega sekarang. Karena tidak ada lagi yang mengancam keselamatan Ameera." Rangga menyandarkan kepalanya di kursi.
"Terus, kamu gak mikirin aku?"
Rangga memejamkan matanya. Menarik nafas dalam.
"Din, aku hanya menyakiti hati kamu selama ini. Kamu bertahan walaupun kamu tau bagaimana hatiku. Aku merasa menjadi manusia paling jahat sejagat raya."
Dina menunduk, perasaannya sangat hancur. Tapi bagaimanapun ini adalah pilihannya untuk tetap berada di samping Rangga. Walaupun ia tahu, dirinya hanya di jadikan pembatas antara Rangga da Ameera. Rangga berpura-pura mencintai Dina di depan Ameera, agar Ameera tidak menumbuhkan perasaan lebih kepada Rangga.
"Aku gak akan menyerah Rangga. Kamu mau kan berjanji satu hal untukku?" pinta Dina.
"Apa?"
"Suatu hari nanti kalau kamu sudah bisa melupakan cintamu pada Ameera. Jangan cari cinta yang lain. Hanya aku yang boleh ada di sampingmu."
Rangga tersenyum. Masih menggenggam tangan Dina.
"Aku berjanji, Din... walaupun aku nggak bisa janji kapan hari itu akan datang. Tapi jika hari itu benar-benar terjadi, dimana aku bisa melupakan Ameera. Kamu akan jadi satu-satunya temptku kembali."
Setetes airmata Dina jatuh membasahi pipinya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rangga. Selama ini hanya bahu Rangga yang boleh di milikinya. Sehingga bersandar di bahu Rangga menjadi candu baginya.
Di sudut sana ada mata seorang ibu yang sedang meneteskan air mata. Aliyah melihat Rangga dan Dina yang sama-sama terpuruk karena cinta yang berlebihan. Mereka terluka tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka berdua. Walaupun Rangga dan Dina masih remaja, tapi mereka sangat dewasa. Jika dalam kehidupan remaja hanya ada cinta monyet, berbeda dengan Rangga dan Dina, yang cintanya dalam namun penuh pengorbanan.
__ADS_1
Dan yang paling tersakiti adalah Dina. Ia sudah menunggu Rangga selama dua tahun. Tetapi tidak sedikitpun hati Rangga terbuka untuknya.
***