Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Kamar paling ujung


__ADS_3

Malamnya...


"Yank... aku mau jemput mama di bandara, ya." ucap Ozan setelah urusan pentingnya selesai. Ia lalu bangkit dari tempat tidur lalu hendak menuju kamar mandi.


"Sekarang?" tanya Ameera.


"Iya, takutnya mama sampai duluan. Mama ngomel nanti kalau telat jemputnya."


Ozan lalu masuk ke kamar mandi membersihkan diri lalu berganti pakaian.


"Aku ikut ya, Mas..." pinta Ameera.


Ozan melirik jam yang sudah menunjukkan jam 01.15 dini hari. "Kamu mau aku di gorok mama, kalau bawa kamu keluar rumah tengah malam begini? Kamu tidur aja...!"


Ameera mengerucutkan bibirnya, kesal karena tidak boleh ikut. Padahal ia sangat ingin menyambut mertuanya itu.


"Jangan gitu mukanya, yank. Mirip ikan terbang tahu..."


"Ikan terbang... ikan apa lagi itu?" tanya Ameera bingung.


"Kumenangiiissss membayangkan...!! tahu kan, chanel yang ada lagu itu? Yang sering kamu nonton, selain film horor." ucap Ozan seraya memakai jaket.


Ameera berpikir sejenak, memang wanita satu ini sangat lambat dalam berpikir. Apalagi jika Ozan menggunakan bahasa-bahasa yang bermakna ambigu. Ia akan bingung setengah mati.


"Jahat kamu, Mas. Kamu mau bilang aku mirip ikan ind***ar?" Ameera protes dan melempari Ozan dengan bantal.


"Hahah, makanya jangan manyun."


Ozan lalu mendekat pada Ameera yang sedang duduk selonjoran di tempat tidur dan hanya memakai selimut.


"Aku pergi dulu, ya... kamu pakai baju, nanti masuk angin." pamit Ozan seraya mengecup kening Ameera.


"Mau ikut..." wajah Ameera sudah sangat memelas memohon.


"Jangan, yank! Di luar itu dingin. Aku temenin kamu deh sampai tidur, terus aku pergi."


"Ya udah... "


"Pakai dulu bajunya...!" Ozan mengambil baju tidur Ameera yang teronggok di lantai lalu memakaikannya.


Setelah menunggu beberapa saat, Ameera tak kunjung tidur, ia hanya membolak balikkan tubuhnya dengan gelisah karena kesulitan mencari posisi nyaman untuk tidur akibat perutnya yang semakin membesar.


"Nggak bisa tidur, Mas..."


"Aku bacain Al-Mulk buat kamu, ya...?"


"Iya..."

__ADS_1


"Tabarakallazi biyadihil-mulku wa huwa 'ala kulli syai'ing qadir..."


Ozan melantunkan ayat tersebut sampai selesai. Suaranya yang terdengar sangat merdu itu berhasil membuat Ameera tertidur. Setelah itu, barulan ia beranjak dari kamar menuju halaman depan.


Sudah ada Bima, sang sopir yang sudah duduk manis di dalam mobil, menunggu sejak tadi. Ozan datang dan langsung mengambil posisi di sebelahnya.


"Berangkat, Bim..." titah Ozan pada Bima. Mereka segera berangkat menuju bandara.


***


Sudah hampir satu jam Ozan menunggu di depan jalur kedatangan, namun sang ibu tak kunjung muncul. Ia duduk di sebuah kursi panjang seraya memainkan ponselnya.


Dan tak lama kemudian, terdengar suara seorang wanita yang terdengar sangat lembut.


"Assalamu alaikum, çocuğum. " terdengar suara Zarima mengucapkan salam.


"Walaikum salam, Mama...!" ucap Ozan. Ia langsung berdiri dan memeluk sang ibu yang sudah sangat di rindukannya itu.


"Salim dulu, enak aja langsung peluk..."


"Maaf, Mah." Ozan lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut lalu kembali memeluknya untuk menghilangkan kerinduannya.


"Kamu sendirian?"


"Sama Bima, Mah. Tadi Ameera mau ikut. Tapi aku larang."


Ozan lalu mengarahkan pandangannya pada beberapa petugas bandara yang membantu Zarima membawa barang bawaannya. Ia berdecak, heran dengan barang bawaan Zarima yang banyak itu.


"Ini semua barang bawaan mama?" tanya Ozan heran.


"Iya, ini buat Ameera sama cucu Mama. Udah yuk, pulang... nggak sabar mau ketemu mantu kesayangan mama."


Mereka pun segera menuju lobby depan dimana mobil berada. Bahkan barang bawaan Zarima memenuhi bagasi mobil itu.


"Zan, bagaimana keadaan Rangga sekarang?" tanya Zarima di tengah perjalanan pulang.


"Belum ada perkembangan, Mah... masih belum bisa ngapa-ngapain..."


Ada gurat kesedihan di wajah Zarima memikirkan tentang Rangga. "Kasihan anak itu, dia lagi-lagi harus menelan akibat dari dendam bapaknya yang jahat itu."


"Sekarang dia putuh asa, Mah. Sama kayak aku dulu. Waktu aku lumpuh, aku juga frustasi."


"Tapi kamu sering nengokin, kan?" tanya Zarima.


"Iya, Mah... apalagi Ameera, hampir tiap hari pergi ke rumah Rangga. Dia merasa paling bersalah."


"Ameera dan Rangga... Mereka berdua yang paling banyak menderita karena ulah hendri." ucap Zarima pelan,

__ADS_1


Ia bahkan hampir menangis saat mengucapkannya. Entah kenapa sejak mendengar kabar mengenai Rangga, hatinya bagai teriris. Sama seperti yang ia rasakan saat Ozan mengalaminya dulu.


Mama benar, Ameera dan Rangga juga harus terpisah karena dendam masa lalu itu.


Dan perjalanan menuju ke rumah menjadi waktu lebih cepat dati biasanya karena jalanan malam itu cukup sepi.


Zarima memasuki rumahnya dengan wajah berbinar. Hampir setahun dia meninggalkan rumah itu. Ia memperhatikan setiap bagian rumah itu yang posisinya masih sama seperti saat di tinggalkan.


Ozan dan Bima memasukkan barang bawaan Zarima ke dalam kamarnya.


"Zan... kunci kamar yang di ujung mana? Mama mau ke kamar itu..."


"Mama mau apa ke kamar itu...?" tanya Ozan seraya menggaruk kepalanya.


"Sudah, ambilkan saja, cepat!"


"Tapi, Mah... kan Papa bilang kita nggak boleh masuk ke kamar itu."


"Mama tahu loh, Ozan... kamu juga diam-diam sering masuk ke kamar itu kan?"


Ozan terdiam, bagaimana sang ibu bisa mengetahuinya, sedangkan ia masuk ke sana setelah memastikan bahwa, semua penghuni rumah sudah tidur.


"Kuncinya ada kok, di lemari tempat kunci cadangan."


"Mama kesana, ya... mungkin mama tidur di sana malam ini. Kamu ke atas saja temani Ameera."


"Mama yakin mau ke kamar itu?" tanya Ozan.


"Mama nggak apa-apa, Zan..." jawab Zarima lembut.


"Ya udah, aku ke atas, ya... Kalau butuh sesuatu, mama panggil aku saja."


Zarima lalu pergi ke tempat yang di maksud Ozan untuk mengambil kunci sebuah kamar yang terletak di ujung itu. Zarima pun masuk ke dalam sebuah kamar yang penuh kenangan itu. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sangat merindukan pemilik kamar itu.


Walaupun kamar itu tak berpenghuni, namun kamar itu sangat bersih dan rapi karena pelayan selalu membersihkannya.


Ia mengambil sebuah foto yang terletak di atas meja. Dan mulailah ia mengenang segala sesuatu di masa lalu.


"Maafkan mama, Nak... mama tidak menjagamu dengan baik." ucapnya seraya mengusap sebuah foto anak lelaki yang kira-kira berusia 1 tahun.


Orang bilang, kasih sayang seorang ibu itu lebih dalam dari lautan. Sama halnya dengan Zarima, yang selama hidupnya ia habiskan dengan memendam lautan kasih sayang untuk anaknya yang telah pergi meninggalkannya itu.


Kepedihan yang selama ini ia rasakan, di tutupinya dengan sangat baik dengan menjadi seorang ibu yang sempurna untuk satu anaknya yang lain.


Di kamar itu Zarima menangis sejadi-jadinya, hingga ia tertidur memeluk sebuah foto.


****

__ADS_1


**To be Continue


__ADS_2