Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Firasat buruk


__ADS_3

"Ayah berkorban sebanyak ini untukku, walaupun aku bukan anak kandungnya, dan laki-laki jahat itu sudah membunuh ayahku, harusnya saat itu aku menembaknya sampai mati," ucap Ameera dengan kemarahannya.


Hasan berusaha menenangkan Ameera yang sedang dikuasai emosi.


"Anakku, ini bukan sepenuhnya kesalahan Hendri. Kami semua bersalah atas apa yang telah terjadi. Hendri tidak tahu apa tujuan ayahmu menikahi ibumu. Dan sampai sekarang dia tidak pernah tahu bahwa kamu adalah anaknya."


"Kenapa Papa masih membelanya? Mama, aku tidak mau jadi anak orang jahat itu. Dia pembunuh. Dia membunuh ayah dan ibuku. Dia juga mau membunuhku kan? Dan juga pernah berusaha membunuh suamiku beberapa kali,"


"Hendri hanya salah paham, Nak. Dia berpikir kami semua mengkhianatinya. Karena itulah dia jadi gelap mata. Hendri dan ayahmu bersahabat baik. Sekarang Hendri menyesali semua perbuatannya,"


"Apa penyesalannya bisa mengembalikan ayah dan ibuku? Tidak kan?"


Ameera melepaskan pelukannya dari Zarima. Lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Zarima dan Hasan bergegas mengejarnya.


"Ameera, kamu mau kemana, Nak...?" Zarima memegangi tangan Ameera, namun Ameera segera melepasnya.


"Aku mau menemuinya, aku mau membalas semua perbuatannya padaku," Ameera berlari menuju mobilnya dan dengan cepat meninggalkan halaman rumah itu.


"Mas, ayo kita susul Ameera," ucap Zarima dengan paniknya.


"Kau di rumah saja, cepat hubungi Ozan dan Deniz."


Hasan lalu memanggil seorang sopir mengantarnya mengikuti Ameera, sementara Zarima menghubungi Ozan. Namun, setelah beberapa kali mencoba, panggilannya tidak juga terhubung. Rupanya Ozan sedang ada rapat di luar kantor.


Zarima kemudian menghubungi Rangga, namun, tidak juga terhubung.


"Sedang apa mereka, kenapa tidak ada yang menjawab telepon," gumam Zarima.


Sambil menangis, Ameera melajukan mobilnya dengan kencang, tidak peduli pada umpatan pengendara lain. Ia bahkan menerobos lampu merah.


Ayah, maafkan aku, karena melindungi aku dan ibuku, ayah jadi korban. Aku tidak akan bisa memaafkan orang itu sampai kapanpun.


Mobil yang di tumpangi Hasan semakin jauh tertinggal dari Ameera.


Ameera menginjak gas dalam, mobil itupun melaju semakin kencang. Saat melewati sebuah tikungan, sebuah mobil datang dari arah berlawanan. Ameera kehilangan keseimbangan, ia membanting setir ke kiri mengakibatkan mobilnya membentur trotoar dan terguling beberapa kali.


Ameera terjepit bersimbah darah di dalam mobilnya yang ringsek, dengan sisa kesadarannya, ia meringis kesakitan. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan kesadarannya mulai berkurang, samar-samar terdengar ia bergumam memanggil ayahnya. Ameera pun tidak sadarkan diri lagi.


Ozan yang sedang rapat di luar tiba-tiba merasa dadanya sesak. Bagai mendapat firasat buruk, ia duduk terdiam. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada Ameera. Setiap terjadi sesuatu yang buruk pada Ameera, ia seperti mendapat pertanda.


"Lu kenapa?" bisik Ramon.


"Nggak," sahut Ozan seraya mengusap dadanya, "gue ke toilet sebentar,ya..." bisiknya kemudian. Ozan lalu keluar dari ruangan itu, mencoba menetralkan perasaannya.

__ADS_1


Sementara Orang-orang di lokasi kecelakaan itu mulai memadati jalan, terjadilah kemacetan. Hasan baru saja tiba di sana dan terjebak macet.


"Surya, coba lihat di depan ada apa?" titah Hasan yang sudah gelisah karena terhalang macet.


Surya turun dari mobil hendak mengecek ada keributan apa di depan sana. Matanya seketika membulat, wajahnya langsung pucat melihat mobil Ameera dalam keadaan terbalik.


Ambulan pun datang bersamaan dengan mobil polisi, beberapa petugas segera berusaha mengeluarkan Ameera dari mobil itu, memeriksa apakah korban kecelakaan masih hidup atau tidak. Surya berlari menuju mobil yang jauh di belakang sana.


"Tu-tuan di depan sana, Nona Ameera..." ucap Surya terbata-bata.


"Ada apa?" Hasan sudah panik, mulai menebak ada apa di depan sana.


"Nona Ameera kecelakaan,"


Hasan yang terkejut langsung turun dari mobil, berlari menuju tempat dimana kecelakaan terjadi. Ia histeris melihat Ameera terbaring bersimbah darah di atas brankar dengan beberapa petugas kesehatan yang berusaha memberinya pertolongan pertama pada korban kecelakaan.


Pria paruh baya itu berusaha mendekat, namun petugas kepolisian menghalanginya.


"Tolong izinkan aku kesana, itu anakku," teriak Hasan seraya menangis. Petugas itupun memberinya jalan.


Hasan berlari ke arah Ameera. Beberapa petugas kesehatan menahan agar laki-laki itu tidak mendekat.


"Ameera, anakku... " gumam Hasan.


Selang beberapa menit, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Ameera segera dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat untuk mendapat penanganan. Hasan yang masih panik menunggu di depan ruangan itu.


Ia mengeluarkan ponsel di saku celananya, lalu menghubungi Zarima.


****


Ozan yang perasaannya belum tenang itu menyalakan ponselnya. Matanya membulat melihat banyaknya pemberitahuan yang masuk ke ponselnya.


"Telepon dari rumah," gumamnya pelan.


Ozan yang sudah menebak terjadi sesuatu segera menghubungi nomor rumahnya.


"Halo, Ma-Mama?" ucap Ozan yang terbata-bata mendengar Zarima seperti terisak.


"Ozan... Ameera...."


"Ameera kenapa, Mah... "


"Ameera kecelakaan, sekarang di rumah sakit."

__ADS_1


Ozan langsung lemas, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.


"Ma-mama jangan bercanda, Ameera baik-baik saja, kan?" Suara Ozan sudah terdengar bergetar.


"Lebih baik sekarang kamu ke rumah sakit, Mama mau jemput El sama Er di sekolah dulu."


"Rumah sakit mana, Mah...? "


"Rumah sakit xxxx"


Ramon melihat Ozan sedang duduk di kursi segera mendekatinya.


"Kenapa?" tanya Ramon.


"Ameera kecelakaan, Ram. Sekarang di rumah sakit," sahut Ozan seraya menyeka air matanya.


Ramon mematung, terkejut dengan berita yang baru di dengarnya, sementara Ozan langsung berlari menuju parkiran.


***


Hasan dan Surya masih menunggu di depan ruang IGD dengan gelisah. Tidak lama kemudian Ozan datang bersama Ramon.


"Ameera kenapa bisa kecelakaan, Pah...?" tanya Ozan yang baru saja datang.


"Nanti Papa ceritakan. Yang penting sekarang sedang di tangani dokter di dalam, " Ozan sudah fristasi di sana. Rasanya ia akan gila jika sesuatu terjadi pada istrinya itu. Salah satu dokter yang menangani Ameera keluar dari ruangan IGD.


"Pasien kehilangan banyak darah. Kami sudah menghubungi bank darah, namun persediaan untuk golongan darah pasien sedang kosong. Tolong siapkan pendonor dari salah satu anggota keluarga yang memiliki golongan darah sama."


Hasan terduduk di kursi, pikirannya kalut. Tidak ada satupun di antara mereka yang memiki golongan darah yang sama dengan Ameera.


Ozan memejamkan matanya, air mata pun tidak tertahan lagi. Laki-laki itu hanya dapat menangisi istrinya.


"Ram, masukkan iklan di internet pencarian pendonor darah. Gue akan bayar berapapun pada orang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Ameera."


Tidak lama kemudian, Rangga datang dengan wajah yang sudah pucat.


"Ameera kenapa, Bang!!" tanya Rangga dengan teriakan menggelegar, namun Ozan diam saja mendengar teriakan Rangga. Ramon langsung berusaha menenangkannya.


"Lu tenang dulu, jangan teriak. Lu pikir kakak lu nggak syok lihat Ameera dalam keadaan begini?"


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2