
Di Rumah Tahanan...
Hendri tersenyum bahagia seraya menjatuhkan air matanya ketika melihat Rangga sudah bisa berjalan kembali. Walaupun mungkin kini Rangga tidak menganggapnya sebagai orang tuanya lagi, namun ia tetap menyayanginya seperti dulu.
Hendri menyadari jika sesuatu telah terjadi, karena Hasan dan Rangga tiba-tiba datang, bahkan saat jam berkunjung telah habis.
Hasan kemudian mengutarakan tujuannya menemui Hendri di rumah tahanan malam itu.
"Hen, tolong aku! Naura menculik Ameera dua hari yang lalu. Kami sudah mencarinya kemana-mana, tapi belum menemukan petunjuk apapun. Kau pasti tahu kemana anakmu membawa Ameera,"
Hendri begitu terkejut mendengar ucapan sahabat lamanya itu. Ia tidak langsung percaya begitu saja dengan pendengarannya.
"Tidak mungkin, San... Naura sedang menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa," tutur Hendri.
"Dia melarikan diri dari rumah sakit dan menculik Ameera." ucap Rangga yang berdiri di belakang Hasan.
"Tolong beritahu aku, dimana tempat yang hanya kau dan Naura yang tahu, Rangga sudah mendatangi semua tempat yang dia tahu untuk mencari Ameera, tapi bahkan tidak ada jejak sedikitpun."
Hendri memejamkan matanya kasar, rasa sesal dalam hatinya semakin menggunung.
"Ada satu tempat yang hanya Naura dan Maya yang tahu. Tapi tempat itu cukup jauh dari sini."
"Dimana itu?" tanya Hasan penasaran.
"Maafkan aku, San... Sebelum memberitahumu, bolehkah aku memohon satu hal padamu?"
"Katakanlah!!"
"Tolong ampuni Naura. Dia tidak bersalah, akulah yang telah meracuni pikirannya. Aku yang menanamkan kebencian di dalam dirinya." pinta Hendri dengan penuh penyesalan.
Hasan memejamkan matanya sesaat seraya mengangguk pelan, "Baiklah, jika Ameera di temukan dalam keadaan selamat, maka aku akan mengampuni anakmu."
"Tapi, mungkin aku saja tidak akan bisa menghentikan Naura," Hendri kemudian teringat pada satu orang yang pernah dekat dengan Naura, "Dion.., dia satu-satunya orang yang bisa menghentikan Naura."
Hasan mengerutkan alisnya mencoba mengingat nama yang asing baginya itu.
"Siapa Dion?" tanya Hasan.
"Rangga tahu siapa dan dimana Dion berada,"
Hasan kemudian menoleh pada Rangga seperti mencari jawaban, Rangga pun menganggukkan kepalanya, memberitahu sang ayah bahwa dirinya mengenal nama yang baru saja di sebutkan oleh Hendri.
Sesaat kemudian, ponsel milik Rangga berdering. Ia lalu mengeluarkan ponsel itu dari saku celananya dan segera menjauh dari sana untuk menerima paggilan itu.
"Halo..."
"Deniz..." Terdengar suara Zarima seperti sedang menangis.
"Mama kenapa?" tanya Rangga.
"Ozan..., dia dapat telepon dari Naura. Dia minta Ozan pergi ke suatu tempat sendirian. Mama takut terjadi apa-apa pada kakakmu. Cepat beritahu papa!"
Raut wajah Rangga langsung berubah mendengar ucapan sang ibu.
"Iya, Mah... Tapi Mama tenang dulu, ya..." Rangga lalu mendekat pada Hasan dan memberikan ponselnya, "Papa, ini telepon dari mama," bisik Rangga di telinga Hasan seraya menyerahkan ponselnya.Hasan segera meraih ponsel itu,
__ADS_1
"Ada apa, Zar...?" tanya Hasan.
"Mas, cepat susul Ozan, Naura baru saja menghubunginya. Ozan bilang, Naura mengancam akan membunuh Ameera kalau Ozan pergi dengan membawa polisi, jadi Ozan pergi seorang diri." ucap Zarima seraya terisak membuat Hasan ikut panik.
"Apa dia bilang kemana dia akan pergi?"
"Dia tidak bilang, Mas. Dia pergi begitu saja setelah menerima telepon."
"Baiklah, cobalah untuk tenang. Aku dan Rangga akan segera mencarinya." Hasan kemudian memutuskan sambungan telepon itu, mengurut keningnya yang terasa berdenyut.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Hendri.
"Ozan baru saja di telepon oleh Naura dan memintanya datang ke suatu tempat sendirian," jawab Hasan frustasi.
"Ayo, Pah... Jangan buang-buang waktu,"
Rangga menyela pembicaraan dua orang itu, khawatir jika mereka terlambat, Naura akan berbuat lebih jauh. Karena sebelumnya Naura pernah berusaha membunuh Ameera dengan mencoba menabraknya.
Beberapa saat kemudian... dengan langkah cepat, mereka keluar dari gedung itu. Beberapa polisi bersama Hendri terlihat ikut dalam rombongan itu.
***
Ramon dan Rizal baru saja sampai di rumah keluarga Chandra Jaya. Begitu masuk ke dalam rumah, mereka melihat Zarima sedang menangis bersama Aliyah di ruang keluarga. Ramon segera mendekati wanita paruh baya itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Ramon.
Zarima pun menjelaskan apa yang terjadi tadi. Tentang Ozan yang mendapat telepon dari Naura dan bergegas pergi untuk mencari Ameera.
Mendengar penjelasan Zarima membuat Ramon khawatir setengah mati. Pikirannya sudah menjalar kemana-mana.
"Iya, benar. Tapi Ozan pakai mobil yang mana?" tanya Ramon mengingat di rumah itu ada banyak mobil.
Ramon lalu menuju parkiran untuk memastikan mobil mana yang di gunakan Ozan.
"Mobil Ameera tidak ada. Ozan pasti memakai itu. Ayo cepat, Zal," ucap Ramon seraya berlari menuju mobilnya. Pria itu kemudian melacak posisi Ozan melalui ponselnya.
"Gimana?" tanya Rizal yang sedang menyetir.
Ramon membulatkan matanya, seperti terkejut dengan temuannya, "Ozan di daerah bogor?" ucap Ramon ketika melihat titik keberadaan Ozan di layar ponselnya, "Cepat, Zal... ngebut, Ozan dan Ameera dalam bahaya!!"
Ia kemudian menghubungi orang-orangnya untuk menuju ke lokasi yang sama. Sepertinya malam itu akan terjadi perang besar.
***
Atas petunjuk Naura, Ozan baru saja tiba di lokasi penyekapan Ameera. Di gerbang sudah ada beberapa orang yang menodongkan senjata ke arahnya. Tanpa rasa takut, ia mendekati orang-orang itu.
"Dimana kalian menyekap istriku?" tanya Ozan dengan tatapan membunuhnya.
"Jangan bergerak, atau kami tembak!" ucap seorang pria bertubuh tinggi besar, "Periksa dia!"
Mereka kemudian menggeledah tubuh Ozan dan menemukan senjata api yang di selipkan Ozan di saku jaketnya.
"Dia bawa senjata," ucap salah seorang Pria.
Pria itu lalu menyita senjata milik Ozan, kemudian menggiringnya masuk ke dalam bangunan besar itu.
__ADS_1
"Pastikan di luar tidak ada mobil lain yang mengikutinya. Jika ada, cepat beritahu bos." titah pria itu.
Tibalah Ozan di depan sebuah ruangan besar mirip gudang, tempat Naura menyekap Ameera. Ia harus pasrah dengan beberapa pria yang menodongkan pistol padanya, mengingat Ameera dalam bahaya jika ia melawan mereka.
Seorang pria membuka pintu, Ozan lalu di giring masuk ke dalam ruangan itu. Dan, matanya seketika beranak sungai melihat Ameera di sudut ruangan itu dalam keadaan terikat dan tak sadarkan diri.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ISTRIKU?!" teriak Ozan pada orang-orang itu.
Dengan penuh emosi, Ozan memukuli beberapa pria yang mencengkram tubuhnya hingga mereka semua tersungkur di lantai.
Ozan lalu berlari mendekati Ameera. Meraih tubuh yang terlihat lemah dan berwajah pucat itu. Ozan kemudian melepaskan tali yang membelenggu tubuh istrinya.
"Sayang... Bangun!! Maafkan aku, Aku terlambat datang," ucap Ozan seraya memeluk tubuh Ameera yang kini berada dalam pangkuannya, ia lalu mengecup kening Ameera berkali-kali. Ozan lalu menepuk lembut wajah Ameera, "Sayang, bangunlah...! Ayo kita pulang."
Antara sadar dan tidak, sayup-sayup Ameera mendengar suara yang sangat di rindukannya. Merasakan pelukan yang begitu hangat di tubuhnya.
Perlahan ia membuka matanya dan melihat Ozan yang sedang menangis memeluknya.
"Mas..." gumam Ameera dengan suara lemahnya.
Ia meraba wajah suaminya itu, tatapannya sayu, ia mengira dirinya sedang bermimpi bertemu dengan suaminya.
"Iya, Sayang... Ini aku. Kamu jangan takut, ada aku di sini..." ucap Ozan lembut.
"Ini benar-benar kamu, Mas..." Ameera mulai menangis sampai sesegukan.
Tangisannya bukan karena ia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, namun karena takut Naura akan merealisasikan ucapannya pada Ameera, bahwa ia akan membunuh Ozan.
Ameera meringis lemah, memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Perut kamu sakit?" tanya Ozan.
"Cepat pergi dari sini, Mas. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Naura sengaja memanggilmu kemari karena mau membunuhmu di depanku. Mas, cepat pergi dari sini, jangan pedulikan aku." Ameera menangis meminta Ozan segera pergi dari sana.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Yank... Kalaupun harus mati, aku akan mati karena melindungimu."
Ucapan Ozan semakin membuat tangis Ameera pecah, hingga terdengarlah suara tawa puas dengan tepukan tangan yang memecah kesunyian malam itu.
"Wah, kalian benar-benar pasangan Romantis..." ucap Naura ketika baru saja memasuki ruangan itu diikuti beberapa orang pria bersenjata.
"Jangan takut, aku akan menjagamu," bisik Ozan di telinga Ameera. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Ameera.
"Bagaimana Ozan? Kau suka permainanku?" tanya Naura seraya memainkan senjata api di tangannya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Apa yang aku inginkan? Kau ingin tahu?"
Naura berjalan beberapa langkah mendekati Ozan dan Ameera dengan menodongkan senjata. Sementara Ameera membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya itu.
"AKU INGIN KALIAN BERDUA MATI DI TANGANKU MALAM INI!!!" teriak Naura dengan suara menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan itu.
****
BERSAMBUNG
__ADS_1