Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Pulang


__ADS_3

Pagi hari Ameera berangkat ke kampus bersama Dina. Karena tidak betah terus berada di apartemen tanpa melakukan apapun, ia memutuskan untuk pergi kuliah karena sudah beberapa kali tidak masuk sehingga ia tertinggal banyak mata kuliah.


Ramon pun memerintahkan beberapa orang pengawal mengawasi Ameera kemana pun kakinya melangkah.


Ameera yang menyadari sedang berada di bawah pengawasan Ramon, merasa tidak nyaman. Ia pun harus main kucing-kucingan dengan para pengawal itu, sehingga dirinya dapat lolos dari pengawasan mereka. Mendapat laporan dari pengawal membuat Ramon kelabakan sendiri. Ia kembali harus memarahi orang-orang suruhannya yang gagal menjalankan tugas.


***


Ozan baru saja tiba di bandara Indonesia setelah belasan jam menempuh perjalanan. Ia pun menghubungi penghuni rumah melalui telepon umum bandara dan meminta dikirimkan sopir untuk menjemputnya. Perjalanan dari bandara ke rumah memakan waktu satu jam lebih.


Ozan menyandarkan kepalanya, sesekali menatap ramainya jalanan ibu kota.


"Tolong hubungi Ramon melalui ponselmu." ucapnya pada sopir yang tengah mengemudi.


"Baik."


Sopir itupun segera menghubungi Ramon, ia memberikan ponselnya pada Ozan saat panggilannya terhubung dengan Ramon.


Ramon yang tengah dipusingkan dengan urusan kantor di tambah masalah Ameera, mendengus kesal ketika ponselnya berbunyi. Tanpa melihat nama pemanggil ia menjawab telepon dengan bentakan khasnya.


"Halo!" bentak Ramon.


"Napa lu baru jawab telepon udah marah-marah?" tanyanya saat mendengar Ramon menjawab telepon dengan membentak.


"Ozan?" gumam pelan. Ia sangat sengenali suara orang yang meneleponnya. "Sorry. Gue gak tau kalau elu yang telepon. Kalau gue tau, gue tambah satu oktaf suara gue. " ucapnya kesal.


"Sialan lu." umpat Ozan kesal


"Enak ya lu, seenaknya menghilang dari peredaran. Lu nggak mikirin gue?" ujarnya kesal.


"Lu kerumah gue deh sekarang. Jangan kebanyakan drama!"


"Lu kira gue pengangguran? Kurang kerjaan banget gue ke Turki ditengah kerjaan gue yang numpuk kayak gunung kalimanjaro karena ketidakprofesionalan bos gue yang gila." bentak Ramon berapi-api memarahi Ozan panjang lebar. Ia menumpahkan segala kekesalannya yang terasa akan meledak.


"Siapa juga yang suruh lu ke Turki. Gue di jalan pulang. Cepetan lu kerumah gue." titah Ozan yang tanpa permisi mengakhiri panggilannya. Ramon baru saja akan mengucapkan ribuan sumpah serapahnya, namun panggilan telah terputus.


"Brengsek! Bisa gila gue lama-lama."umpat Ramon.


Tanpa pikir panjang Ramon segera beranjak pergi meninggalkan kantor CJG menuju Rumah Ozan.


***


Sesampainya di rumah, Ozan meminta Pak Diman memanggil seorang pelayan menemuinya di ruang keluarga. Ozan menjatuhkan tubuhnya yang lelah di sofa besar dalam ruangan itu.


"Permisi, Tuan Muda. Anda memanggil saya?"


"Ah... iya!" Ozan membetulkan posisi duduknya. "Kamu yang meneleponku waktu itu dan bilang istriku di bawa pergi seorang laki-laki kan?" tanyanya.


"I.. iya, Tuan Muda." jawabnya takut-takut.

__ADS_1


"Apa yang terjadi saat itu?"


"Waktu itu nona tidak keluar dari kamar. Lalu dua orang temannya datang. Saya mengantar teman wanita nona ke kamar. Dan ternyata nona di kamar dalam keadaan pingsan." ungkap pelayan itu.


"Apa? Pingsan?" tanyanya kaget. Raut wajah Ozan sudah berubah pias mendengar Ameera pingsan.


"Maafka saya Tuan Muda." pelayan itu sudah takut setengah mati melihat raut wajah Ozan. Namun ia tetap melanjutkan penjelasannya tentang apa yang terjadi pada Ameera hari itu. "Teman laki-laki nona menggendongnya keluar dari kamar dan membawanya pergi entah kemana. Dan setelah itu nona tidak pernah kembali ke rumah lagi. Saya juga mengubungi anda, tapi..." menggantung ucapannya, tidak berani melanjutkan melihat wajah Ozan yang sudah tidak bersahabat. "Maafkan saya, Tuan Muda. " kembali meminta maaf padahal bukan dirinya yang bersalah.


Ozan mengusap wajahnya kasar. Ia mengutuki kebodohannya yang di kuasai emosi. Waktu itu pelayan menghubunginya, namun belum selesai bicara, Ozan sudah mengakhiri panggilannya lalu melempar ponselnya hingga hancur berkeping-keping.


"Apa mereka tidak bilang mau membawa istriku kemana?"


"Tidak, mereka langsung pergi karena panik." jawabnya.


"Baiklah, kamu boleh pergi." ucap Ozan kemudian. Pelayan itupun pergi meninggalkannya.


Ameera pingsan? Apa yang terjadi padanya. Ya Tuhan, betapa bodohnya aku.


Ozan lalu beranjak menaiki tangga hendak menuju ke kamarnya. Saat tiba di kamar, ia melihat sekeliling kamarnya yang sudah bersih. Terakhir kali meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan.


Ia menghampiri lemari pakaian Ameera dan membukanya. Tampak pakaian Ameera masih tersusun rapi.


Pakaiannya masih ada semua. Kamu dimana Ameera.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tampak Ramon berdiri di depan pintu. Tanpa permisi ia memasuki kamar dan menghampiri Ozan yang mematung didepan lemari.


"Ingat pulang juga lu?" sindir Ramon begitu melihat Ozan sedang termenung di depan lemari.


"Ya jelas pusing lu. Makanya be*o jangan di piara. Lu dikit-dikit emosi." ujarnya kesal. Ramon menjatuhkan tubuhnya di sofa besar disudut kamar.


"Muka lu kenapa? Lu habis berantem?" tanya Ramon ketika melihat wajah Ozan lebam. Ramon mulai khawatir jika Ozan kembali di serang orang tak di kenal.


"Tenang aja. Nggak kayak yang lu pikirin kok." ucapnya menenangkan. Ozan tahu kemana arah pikiran Ramon. "Ameera ternyata nggak kabur sama Rangga, Ram! Imel bilang Ameera pingsan. Jadi Rangga sama Dina bawa Ameera pergi. Gue yakin dia bawa Ameera ke rumah sakit." kata Ozan penuh sesal.


"Kalau itu gue tau." ucap Ramon.


"Lu tau?"


"Iya gue tau mereka bawa Ameera ke rumah sakit. Waktu itu juga Rangga ke kantor cari lu. Tapi lu udah berangkat."


Ozan semakin frustasi. Ia pun menyeret langkahnya dan duduk di samping Ramon.


"Ameera hamil, Ram!" ucapnya dengan suara lemah.


"Lu tau darimana?" tanyanya penasaran.


"Rangga datengin gue ke Turki. Dari pembicaraannya gue bisa tangkap kalau Ameera lagi hamil." terang Ozan.


"Jadi muka lu kayak gini karena di gebukin Rangga?" Ozan menjawab dengan menganggukkan kepala. Ramon memejamkan matanya sesaat. Ia terkejut mendengar Rangga sampai mendatangi Ozan ke Turki.

__ADS_1


"Mereka bawa Ameera ke rumah sakit karena pendarahan bukan kabur kayak yang lu bilang." lanjut Ramon menjelaskan.


"APA? Pendarahan?"tanyanya terkejut, "Terus anak gue?"


"Karena kelakuan gila lu Ameera sampai pendarahan. Untung Dina dan Rangga cepat bawa Ameera ke rumah sakit. Jadi anak-anak lu selamat."


"Anak-anak?" Ozan membulatkan matanya yang sudah mulai menganak sungai.


"Iya. Dina bilang sama gue Ameera hamil anak kembar." ungkap Ramon membuat Ozan semakin frustasi, rasa bersalahnya semakin besar.


"Dimana istri gue sekarang?" tanya kemudian.


"Udah keluar dari rumah sakit sih. Tapi Gue nggak tau sekarang dimana dia." ucapnya berbohong. Ramon dan Dina sepakat memberi Ozan pelajaran dengan menyembunyikan keberadaan Ameera sementara. Mereka ingin melihat sejauh mana Ozan menyesali perbuatannya.


Ramon pun menceritakan pada Ozan tentang Naura yang gencar meneror Ameera, sehingga membuat Ameera salah paham dan menjauhinya. Perasaan bersalahnya pada istrinya semakin besar. Ia teringat awal pertemuannya dengan Ameera. Saat itu Ozan menolak perjodohan mereka dan berkata pada Ameera, tidak ingin menikahinya karena memiliki kekasih yang ia cintai.


Ramon mengeluarkan ponsel milik Ameera yang berada di dalam saku jaketnya dan memberikannya pada Ozan.


"Kenapa ponsel Ameera bisa ada sama lu?" tanya Ozan.


"Dia ninggalin ponselnya di rumah. Malam setelah lu berangkat ke Turki gue kesini buat cari tahu dimana Ameera. Imel bilang, tas sama ponselnya ada di kamar. Karena gue penasaran, akhirnya gue ambil dan periksa pesan-pesan yang masuk. Gue nemuin banyak pesan dari Naura. Jadi gue selidikin semua."


"Pesan dari Naura?" Ozan semakin bingung.


"Iya. Naura sering neror Ameera ternyata. Liat aja pesan masuknya. Malam itu gue langsung ke klub dan tanya Si Ben buat mastiin. Tadinya Ben nggak mau ngomong. Jadi gue sedikit memaksa sampai akhirnya dia ceritain semuanya."


"Si Ben bilang apa?"


"Lu inget waktu Naura mabuk di club dan lu nyamperin dia? Itu sudah di rencanakan sama Naura. Ameera ke klub dan lihat lu berduaan sama Naura malam itu. Kayaknya Ameera jadi salah paham sama lu. Lebih jahatnya lagi Naura sampai nyuruh si Ben sama beberapa orang melecehkan Ameera. Tapi malah mereka yang di kerjain habis-habisan sama Ameera. Mereka di pukuli sama Ameera sampai babak belur. " jelas Ramon panjang lebar.


Ozan mengepalkan tangannya. Emosinya memuncak mendengar ada yang berniat melecehkan istrinya.


"Kenapa nggak sekalian lu bunuh si Ben. Beraninya dia berpikir mau melecehkan istri gue." ucap Ozan penuh emosi.


"Gue udah kasih pelajaran kok." imbuh Ramon.


"Gue ingat sih, waktu keluar dari ruangan, keadaan klub memang berantakan. Kayak habis terjadi keributan. Tapi gue sama sekali nggak kepikiran kalau itu perbuatan Ameera. Lu yakin istri gue nggak di apa-apain sama mereka?"


"Yakin. Gue udah liat rekaman cctv klub. Ada kok rekamamnya di ponsel Ameera. Gue sempet copy. "


Ramon memperlihatkan rekaman cctv yang menunjukkan Ameera berkelahi dengan beberapa pria yang berniat melecehkannya. Ameera bahkan tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk membalas setiap serangannya. Sampai akhirnya mereka semua tumbang di tangan Ameera. Ozan menjatuhkan air matanya melihat rekaman itu. Ponsel yang berada di genggamannya terjatuh ke lantai. Ia merasa telah gagal sebagai suami.


"Setelah Ameera ketemu. Cari orang-orang ini. Gue mau buat perhitungan sama mereka. " ucapnya dengan tatapan membunuh. Ramon bergidik ngeri melihat raut wajah Ozan yang belum pernah di lihatnya.


"Sekarang lu mau cari Ameera kemana?"


"Mungkin di rumah Dina. Gue mandi dulu. Habis itu kita ke rumah Dina. "


Ramon pun beranjak meninggalkan kamar Ozan. Ia bergegas menghubungi Dina untuk memberitahukan bahwa Ozan sudah kembali dan akan mencari Ameera.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2