
Semua orang tampak terkejut bercampur bahagia. Lalu berebut masuk ke dalam ruangan itu. Namun, dokter meminta mereka semua segera keluar karena akan melakukan pemeriksaan. Saat Ameera akan keluar juga, Rangga menahannya.
"Om, bolehkah Ameera menemaniku di sini?" pinta Rangga dengan suara berat, pada pamannya yang merupakan dokter itu.
Ameera menatap Ozan yang juga ada disana, sedang berdiri di sudut ruangan. Ozan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pertanda ia mengizinkan Ameera menemani Rangga.
"Baiklah, tapi satu orang saja." ucap dokter.
Mereka semua keluar dari ruangan itu meninggalkan Ameera dan Rangga. Aliyah dan Dina berpelukan menangis bahagia. Rangga telah sadar dari komanya. Tidak ada sedikitpun rasa cemburu di dalam hati Dina karena Rangga lebih memilih Ameera menemaninya menjalani pemeriksaan. Bagi Dina, Rangga sudah siuman sudah lebih dari segalanya. Ia tidak ingin serakah dengan berharap lebih.
Sementara Ramon menepuk bahu Ozan. Ia tahu Ozan sangat cemburu, namun dia berusaha menepisnya. Baginya sekarang bukanlah saatnya ia mementingkan rasa cemburunya. Rangga sudah sadar saja sudah mengurangi rasa bersalahnya.
"Zan, ada yang mau gue omongin sama lu dari kemarin. " ucap Ramon.
"Apaan?"
"Di depan aja deh. Jangan di sini."
Mereka kemudian menuju sebuah taman tidak jauh dari ruang ICU.
"Zan, lu tahu, siapa pelaku tabrak lari Rangga?" tanya Ramon.
"Mana gue tahu, Ram. Memang gue peramal." sahut Ozan dengan cueknya.
"Lu pasti kaget kalau tahu..."
"Maksud lu?"
"Naura... kemarin gue sama Rizal ngurus laporannya ke kantor polisi." Mendengar nama Naura, Ozan membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka Naura bisa sejahat itu.
"Lu nggak bercanda kan, Ram."
"Apa gue masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini?" Ozan sama sekali tidak menyangka jika Naura bisa berbuat sejauh itu karena sakit hati di tinggal olehnya.
"Gue nggak nyangka dia bisa berbuat sejauh ini. Cuma karena sakit hati sama gue."
"Masalahnya nggak seenteng itu, Zan."
Ramon kemudian menceritakan pada Ozan semua yang di ceritakan Rizal padanya. Sama seperti Ramon, Ozan pun di buat sangat terkejut.
"Lu tau siapa nama lengkapnya Naura?" tanya Ramon kemudian.
Ozan menggeleng, "nggak tahu gue, nggak mikirin nama lengkapnya dia. Lagian selama setahun gue pacaran sama dia sebelum gue kecelakaan, gue ketemuan itu bisa di hitung jari. Pertama kalinya gue jalan berdua doang sama dia, ya di mall sebelum gue kecelakaan. Sisanya kan lu tahu, gue di kawal kemana-mana." ungkap Ozan.
"Lu nggak penasaran? Nggak mau tahu siapa Naura?"
"Kagak. Yang penting lu pastiin dia di perjara."
Akhirnya Ramon dengan sendirinya menyebutkan nama lengkap Naura. Dan kembali membuat Ozan terkejut.
"Apa? Naura Agung Darmawan?" Ozan bergumam, "artinya dia sama Rangga..."
"Yap, benar. Naura itu kakak tirinya Rangga. Gue rasa gue mulai paham kenapa tuan besar nggak pernah setuju hubungan lu sama Naura."
__ADS_1
Ozan pun mulai mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya. Kecelakaan yang terjadi padanya 3tahun lalu, kejadian penyerangan dirinya di basement mall. Semua terjadi setelah pertemuannya dengan Naura. Ozan tidak menyangka jika ternyata Naura selama ini hanya memanfaatkan cintanya untuk memuluskan rencana balas dendam Hendri.
Ozan mengusap wajahnya kasar. "Kenapa semuanya harus serumit ini."
"Rangga tahu Naura berencana mencelakakan Ameera. Makanya dia buru-buru balik dari luar negeri." Mendengar ucapan Ramon, Ozan kembali teringat rasa bersalahnya pada Ameera dan Rangga.
"Gue merasa bersalah sama Ameera dan Rangga, Ram..." ucap Ozan. Nada biacaranya mulai getir.
"Kenapa?"
"Gue yang misahin mereka, kalau saja waktu itu gue nggak egois menikahi Ameera, mungkin mereka sekarang lebih bahagia."
Ramon hanya dapat menghibur Ozan dengan menepuk bahunya.
"Lu jangan mikir aneh-aneh deh. Lu sama Ameera sudah menikah dan sekarang ada anak di antara kalian. Lagian bukan lu yang misahin Rangga sama Ameera. Lu lupa, kalau lu sama Ameera sudah di jodohkan sejak Ameera lahir ke dunia?"
Ramon ingat betul apa yang pernah di katakan oleh Hasan, bahwa Ozan dan Ameera sudah mereka jodohkan di hari kelahiran Ameera. Saat itu Ozan berusia 7tahun.
"Iya, gue tahu itu."
****
Sementara itu, Rangga yang telah menjalani serangkaian pemeriksaan tertidur dengan menggenggam tangan Ameera. Setelah di rasa Rangga sudah tidur nyenyak, Ameera melepaskan genggaman tangannya. Lalu beranjak keluar dari kamar itu. Dina dan Aliyah langsung memeluk Ameera begitu melihatnya, merasa bersyukur keberadaan Ameera memberi Rangga kekuatan untuk terbangun dari komanya.
Ameera memutar bola matanya ke segala arah, namun objek yang di carinya tidak terlihat.
"Dina, Mas Ozan sama Kak Ramon mana, ya?" tanya Ameera pada Dina.
"Sepertinya mereka ke depan." sahut Dina.
Setelah beberapa saat, mereka datang menghampiri ketiga wanita yang sedang asyik mengobrol itu.
"Mas dari mana? Aku tungguin dari tadi." tanya Ameera begitu melihat Ozan mendekat.
"Ada perlu sama Ramon di depan. Rangga bagaimana, yank?"
"Sudah baikan. Sekarang lagi istirahat."
"Alhamdulillah." ucap Ozan penuh syukur.
Karena hari sudah gelap, Ozan dan Ameera berpamitan pulang. Wajah lega jelas tergambar di wajah semua orang yang berada di sana. Selama perjalanan wajah Ameera tampak sangat bahagia. Walaupun ada segurat cemburu di hati Ozan, namun pria itu berusaha membuangnya jauh-jauh. Tidak ingin merusak kebahagiaan Ameera.
***
Ameera sudah berganti pakaian dengan piyamanya. Karena perutnya yang membuncit, dia merasa semua pakaiannya mulai kesempitan. Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin dengan cemberut. Menurutnya tubuhnya sekarang terlihat sangat gendut.
Ozan datang dari belakang dan langsung memeluknya seraya mengusap perut buncit istrinya itu.
"Yank, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu." Wajahnya terlihat sangat serius mengucapkannya. Membuat Ameera bertanya-tanya dalam hati. Ia lalu menggendong tubuh Ameera dan mendudukkannya di tempat tidur.
Di pandanginya wajah Ameera seraya membelai lembut rambutnya. Wajah Ozan seketika berubah sedih mengingat rasa bersalahnya.
"Sayang... aku mau minta maaf sama kamu."
__ADS_1
"Memang, Mas habis melakukan apa?" tanya Ameera.
"Aku sudah memisahkanmu dari Rangga. Aku lah yang egois, padahal waktu itu aku tahu, Rangga mencintaimu. Tapi aku tetap merebutmu darinya. Maafkan aku, yank. Akan ku lakukan apapun untuk menebus kesalahanku." Bahkan ada cairan bening di ekor matanya saat mengucapkan itu.
"Yakin? Kamu mau melakukan apapun?"
"Yakin..." berkata walaupun suaranya getir.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Ameera.
"Mintalah apapun, yank. Aku akan berikan apapun yang kamu mau." Suara Ozan sudah mulai bergetar. Pikirannya menjalar kemana-mana. Takut jika Ameera akan memintanya menceraikannya dan kembali pada Rangga.
"Bayarlah kesalahanmu dengan selamanya bersamaku." ucap Ameera lembut, ia menghapus air mata yang berada di ujung mata suaminya itu.
"Kamu serius, yank?"
"Mas... aku tahu kemana arah pembicaraanmu. Aku juga tahu apa yang kamu pikirkan sekarang. Tapi, Rangga adalah sahabatku, dan kamu suamiku. Kalian punya tempat masing-masing di hatiku. Aku mau menghabiskan seluruh hidupku bersamamu."
Mendengar kalimat itu, ada rasa bahagia yang membuncah di hati Ozan. Ia menarik Ameera ke dalam pelukannya.
"Aku tahu pernikahan kita bukan sesuatu yang kamu inginkan. Waktu itu kamu mencintai Naura, tapi kamu mau mengorbankan perasaanmu dan menikahiku. Itu juga tidak adil untukmu. Lalu kenapa aku harus marah pada seseorang yang mau berkorban untukku."
Mendengar ucapan Ameera, Ozan seperti melayang di udara. Ada rasa bahagia yang tidak terhingga di hatinya.
"Aku mencintaimu, Ameera. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku baru mengatakannya sekarang."
Deg
Ameera seperti tersengat listrik mendengar ungkapan perasaan Ozan. Untuk pertama kalinya sejak setahun menikah, Ozan menyatakan perasaan cintanya pada Ameera.
"Sejak kapan?" tanya Ameera.
"Tidak tahu sejak kapan... aku menyadarinya saat kamu hilang di hutan. Kamu tahu, waktu itu rasanya aku mati."
"Apa semua laki-laki suka menyembunyikan perasaannya?Kamu dan Rangga.... kalian berdua menyebalkan."
"Aku minta maaf yank... aku gengsinya kelamaan." Ozan merapikan rambut Ameera ke belakang telinganya. "Aku akan menunggu, aku tahu kamu masih mencintai Rangga." ucap Ozan.
Mata Ameera kembali di penuhi cairan bening, "Aku mencintaimu, Mas. Rangga adalah cinta pertamaku. Tapi kamu mau kan, menjadi cinta terakhirku?"
Ozan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Ada rasa bahagia di antara keduanya. Mereka pun berpelukan erat, seolah tidak ingin dunia memisahkan mereka.
"Kamu juga akan menjadikan aku cinta terakhirmu kan?" tanya Ameera. Mata mereka sudah saling bertemu.
"Kamu akan jadi satu-satunya dan selamanya, sayang. Aku berjanji kamu akan jadi cinta terakhirku."
Ozan menangkup wajah Ameera dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir yang selalu terasa manis baginya itu. Mereka pun saling mencurahkan perasaan masing-masing dengan kemesraan di tempat tidur.
Malam yang indah bagi keduanya...
**To be continue...
__ADS_1
Maafkan keamatiranku dan kata-kata yang tidak enak di baca. Aku bukan penulis, aku hanya menyalurkan hobbyku. Syukur2 kalau ada yang baca dan menikmati apa yang ku tulis...
Love u all**