Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Hilang


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kalau kau akan berkhianat. Apa yang membuatmu berani melakukannya?" tanya Naura pada Jack. Pria itu sekarang terduduk di kursi dengan tubuh terikat.


"Lepaskan Ameera, Naura... Dia tidak tahu apa-apa tentang dendammu,"


Naura tertawa mendengar Jack memintanya melepaskan Ameera. Padahal dulu jack adalah orang terdepan dalam usaha melenyapkan Ameera.


"Melepaskannya? Untuk bisa mendapatkannya aku harus pura-pura gila dan tinggal di tempat mengerikan itu selama berbulan-bulan, sekarang kau memintaku melepaskannya?"


"Kalau kau lepaskan Ameera sekarang, Ozan dan keluarganya mungkin akan memaafkanmu."


Ucapan Jack malah semakin membakar emosi Naura.


"Kau tahu, Jack... Aku belum membunuhmu karena kau adalah orang terdekat papa. Kalau tidak mengingat itu, kau sudah mati sejak tadi."


"Naura, kau akan menyesal. Hentikan semua ini sebelum semuanya terlambat."


"KALAU KAU MASIH BANYAK BICARA AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU!!"


Setelah mengatakan itu, Naura pergi meninggalkan Jack. Ia lalu menuju ruangan lain tempatnya menyekap Ameera.


Sementara Jack termenung seorang diri. Pria itu teringat terakhir kali pertemuannya dengan bos besarnya. Ia diam-diam sering mengunjungi Hendri di penjara.


Flashback


Hari itu, Jack pergi ke penjara mengunjungi Hendri, sehari setelah Rangga menemuinya setelah keluar dari rumah sakit dan membawakan surat yang di tulis oleh Rudi untuknya.


"Jack, aku ingin minta tolong padamu sekali lagi ," ucap Hendri pada jack.


"Apa itu, Bos?"


"Maafkan aku, selama ini melibatkanmu dalam kejahatanku. Aku baru menyadari semua kekeliruanku. Bisakah kau lakukan sesuatu untukku?"


"Aku siap, Bos! Katakan saja apa yang harus aku kerjakan..."


"Selama ini aku selalu memintamu untuk menghabisi Ameera. Anak malang itu telah menjadi korban kejahatanku. Aku sangat menyesal. Bisakah mulai sekarang kau melindunginya walaupun dari jauh?"


Jack begitu terkejut dengan permintaan bosnya itu.


"Melindunginya? Dari siapa?" tanya Jack.


"Dari Naura. Kau tahu senekat apa Naura. Apalagi setelah aku di penjara, dia pasti semakin menjadi-jadi. Akulah yang telah meracuninya dengan dendam dan kebencianku. Sehingga sekarang dia ikut terbutakan dengan dengan dendam."


"Tapi, Naura kan sekarang di rawat di rumah sakit jiwa..."


"Jika dia di nyatakan sembuh, dan diizinkan pulang, dia pasti akan mencari Ameera dan Ozan untuk membalas dendam. Jadi tolong, pastikan Ameera selalu dalam keadaan aman."


"Boleh aku tanya sesuatu, Bos?" kata Jack seraya menatap dalam pria di depannya, "Kenapa bos tiba-tiba ingin aku melindunginya?"


Untuk pertama kalinya, Jack melihat pria paruh baya itu menangis menyesali perbuatannya. Pria yang selama ini begitu di penuhi ambisi balas dendam, hari itu ia hanyalah seorang tahanan yang menyedihkan.


"Sejak kematian Rudi, aku pikir aku akan puas karena balas dendamku sudah terpenuhi dengan membunuhnya. Tapi ternyata aku salah. Aku malah semakin tidak merasa tenang. Dan imbas balas dendamku bukan hanya pada Rudi dan anaknya. Tapi pada Rangga juga, dan yang paling buruk pada anakku sendiri, Naura. Aku tidak ingin Naura menjadi pembunuh sepertiku."


"Baiklah, Bos. Aku akan mengawasi Naura."


"Terima kasih, Jack. Maaf, aku selalu merepotkanmu."


"Itu sudah tugasku."


Flashback off


Setelah pembicaraan itu, ia tidak pernah lagi mengunjungi Bosnya itu. Jack lebih fokus mengawasi Naura. Hingga dua hari lalu, Naura melarikan diri dari rumah sakit jiwa dan menyusun rencana menculik Ameera. Namun, Jack terlambat, dan baru mengetahuinya setelah Naura berhasil menyekap Ameera sehingga ia harus pura-pura mengikuti rencana Naura.


Maafkan aku, Bos! Sepertinya aku gagal menjalankan perintah.


****


"Kau pikir kau bisa lolos dariku?" tanya Naura dengan tatapan kebencian.


"Apa salahku padamu, lepaskan aku!" ucap Ameera seraya menggeliat mencoba melepas ikatan di tubuhnya.

__ADS_1


"Haha, kau tanya apa salahmu? Apa kau sedang pura-pura bodoh? Semua yang ku alami sekarang adalah karena keluargamu. Terutama ibumu."


"I-ibuku?" Ameera tidak mengerti dengan ucapan Naura yang malah menyalahkan ibunya atas apa yang terjadi padanya. Padahal ibunya meninggal 11 tahun lalu, itupun karena kejahatan Hendri.


Apa hubungannya ibuku dengan semua ini. Kenapa dia bilang ibuku yang membuat hidupnya seperti sekarang? Bukankah seharusnya aku yang marah... Ayah dan ibuku meninggal karena papanya kan?


Naura menarik rambut Ameera dengan kasar sehingga Ameera meringis kesakitan.


"Kau tahu, Ameera. Ibumu adalah seorang wanita rendahan. Dia yang merusak hubungan mama dan papaku, sehingga mamaku hidup seperti di neraka. Dan akhirnya dia memilih mengakhiri hidupnya."


Ameera tersentak mendengar menjelaskan Naura itu seraya menjatuhkan air matanya.


"Kamu bohong kan? Ibuku tidak seperti itu."


"Rupanya kau tidak tahu masa lalu ibumu. Apa mereka menyembunyikannya darimu?"


Ibu... Ayah... apa arti semua ini.


Naura kemudian melepas cengkramannya dari rambut Ameera dan mendorong tubuhnya.


"Apa kau pikir aku dendam padamu karena kau merebut Ozan dariku? Tidak Ameera, aku tidak pernah mencintai suamimu itu, aku hanya memanfaatkannya untuk memuluskan balas dendamku. Aku akan membalas kalian berdua, lebih sakit dari apa yang aku alami selama ini. Aku ingin kalian mati di sini, di tanganku. Ah, bukan... kalian bertiga. Kau, suamimu, dan bayi dalam perutmu itu."


Setelah itu, Naura lalu pergi meninggalkan Ameera sendiri. Ameera terdiam dengan banyak pertanyaan di benaknya. Tentang ibunya yang menjadi penyebab kematian ibu Naura.


***


Dua hari sudah Ameera menghilang. Sejak saat itu, Ozan sama sekali tidak tidur dan makan, ia mencari Ameera kesana-kemari namun tidak membuahkan hasil.


Sementara Zarima setiap harinya hanya dapat menangisi menantu kesayangannya itu. Memikirkan keselamatan Ameera dan cucu kembarnya.


Sedangkan Rangga sudah seperti orang gila. Setiap mencari dan tidak menemukan apapun, ia akan memukuli siapapun yang ada di hadapannya.


Ramon dan Rizal yang bekerja sama mengerahkan orang-orangnya mencari belum membuahkan hasil, bahkan mereka telah di bantu anggota kepolisian.


Sore itu, mereka sedang berada di ruang keluarga, membicarakan sesuatu.


"Maksud papa?" tanya Rangga.


"Hendri, dia pasti tahu kemana Naura membawa Ameera. Ayo Rangga, kita temui dia."


"Aku ikut, Pah..." ucap Ozan.


"Kamu istirahat dulu, Ozan. Dan makanlah, sudah dua hari ini kamu tidak makan dan tidur."


"Papa benar, Bang! Abang butuh tenaga buat cari Ameera. Biar aku sama papa yang kesana, abang istirahat dulu," imbuh Rangga.


Hasan dan Rangga kemudian pergi menemui Hendri di rumah tahanan. Tinggallah Ozan merenung sendiri, memikirkan Ameera dan kedua anaknya membuatnya frustasi.


***


Ameera dengan tubuhnya yang semakin lemah hanya dapat terbaring beralaskan karpet, perutnya beberapa kali terasa kram.


"Aku rasa sekarang waktunya kita memanggil suamimu kemari. Dia pasti akan datang kalau aku memanggilnya."


"Ja-ngan!" ucap Ameera dengan suara lemah, ia tidak ingin Ozan sampai datang kesana, karena Naura hanya akan membunuhnya.


Naura meraih ponselnya yang terletak di atas meja, "Berikan nomor telepon suamimu!"


Ameera menggeleng, ia tidak ingin memberikan nomor telepon Ozan.


"Tidak akan," ucap Ameera seraya menangis.


Naura kemudian menodongkan pistol di perut Ameera, "Kau ingin aku membunuh anakmu lebih dulu, kalau aku menembak di sini, anakmu akan mati lebih dulu."


"Jangan," Ameera semakin terisak mendapat ancaman dari Naura. Namun, ia enggan menyebutkan nomor telepon Ozan.


"CEPAT BERIKAN!" teriak Naura membuat tubuh Ameera gemetar.


Dengan terpaksa Ameera memberikan nomor telepon Ozan. Naura pun tertawa puas, ia lalu menghubungi nomor itu.

__ADS_1


Tepat saat Ozan sedang duduk menyandar di sofa, memejamkan matanya yang lelah, ponselnya berdering. Ia meraih benda pipih itu dan melihat pemanggil di layar, nomor yang tak di kenal. Ozan pun segera menjawab panggilan itu.


"Halo..."


"Apa kabar, sayang..." terdengar suara seorang wanita di seberang sana. Ozan hafal betul dengan suara itu. Seketika tangannya mengepal gemetar, rahangnya mengeras dan matanya memerah.


"Dimana istriku?"


"Kau bahkan tidak menanyakan kabarku lebih dulu, apa kau sudah lupa kenangan manis kita di masa lalu?"


"KATAKAN DIMANA ISTRIKU!" teriak Ozan.


"Tenanglah, sayang. Aku belum membunuhnya."


Ozan menjatuhkan air matanya mendengar ucapan Naura. Kekhawatiran dalam hatinya semakin menjadi-jadi.


"Tolong Naura, akan aku berikan apapun yang kau inginkan. Tapi tolong jangan sakiti istriku."


"Kau ingin bicara dengannya? Dia sedang menunggumu untuk di selamatkan. Bicaralah dengannya."


Naura lalu mendekatkan ponselnya ke telinga Ameera. Namun Ameera diam saja, tidak ingin suaminya mendengar suaranya yang lemah.


"Ameera... sayang..." ucap Ozan ketika tidak mendengar apapun di sana.


Ameera yang sedang terbaring dalam posisi terikat itu hanya menangis mendengar suara yang begitu dia rindukan.


"AYO BICARA, PANGGIL SUAMIMU KEMARI." Naura berteriak ketika Ameera tak kunjung bicara.


"Ma-Mas..." panggil Ameera dengan suaranya yang lemah seraya terisak.


Ozan mendengar suara Ameera terdengar begitu lemah, "Sayang, tunggulah. Aku akan kesana menjemputmu. Jangan takut."


"Jangan kemari, Mas. Aku mohon jangan!" ucapnya dengan isakan lirih.


Naura kemudian kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Bagaimana Ozan... Kau ingin menyelamatkannya?"


"Kau dimana?"


"Dengar, datanglah sendirian! Kalau kau berani datang dengan pengawal atau polisi, akan ku pastikan kau akan menangisi mayat istri kecilmu ini."


"Baiklah, aku akan datang sendiri. Berikan alamatmu."


"Kau tahu kan, apa akibatnya kalau kau berani macam-macam denganku." Sekali lagi, Naura mencoba mengancam.


"Aku tahu, aku akan datang sendiri."


"Bagus. Pergilah ke perbatasan kota. Aku akan memberikan petunjuk lagi jika kau sudah berada di sana," ujar Naura lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Ozan segera mengambil kunci mobil di atas meja lalu mengambil sebuah senjata api di laci paling bawah untuk berjaga-jaga. Zarima yang melihat gerak-gerik Ozan yang terlihat sedang terburu-buru, segera menghampiri anak sulungnya itu.


"Ozan, kamu mau kemana?" tanya Zarima seraya menarik lengan Ozan.


"Ameera, Mah... Aku mau jemput Ameera."


"Ameera dimana?"


"Naura barusan meneleponku, dia minta aku kesana."


"Jangan pergi sendiri Ozan, itu sangat berbahaya. Setidaknya hubungi papa dulu."


"Mah, Naura mengancam. Kalau aku tidak datang sendiri, dia akan membunuh Ameera. Aku tidak mau ambil resiko, Mah. Istri dan anak-anakku taruhannya." Ozan segera berlari menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.


***


**TOLONG JANGAN DIBACA. ALUR DAN PENULISAN BERANTAKAN. BANYAK KATA YANG KURANG TEPAT. INI BELUM DIREVISI


🙏🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2