Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Mengikuti adegan dalam film...


__ADS_3

Ameera sudah duduk manis di dalam mobil, sebelum melajukan mobil ia bercermin di kaca spion.


"Aaa aku merasa dandananku seperti tante-tante." gumam Ameera pelan.


Geli sendiri melihat penampilannya hari ini. Padahal dandanannya terlihat sangat manis dan modis. Tiba-tiba Ozan datang dan duduk di jok penumpang di samping Ameera.


"Mas mau apa?" tanya Ameera.


"Mau berangkat bareng kamu." jawabnya.


"Mobil di rumah ini kan banyak. Kenapa harus di sini?"


"Memangnya nggak boleh. Numpang sampai kantor doank. Kan kampusmu sama kantorku dekat."


"Nggak mau. Turun sana!"


"Pelit banget kamu yank. Aku lagi malas nyetir."


"Sono... minta di antar sama Pak Surya atau Pak Bima."


"Kan maunya sama kamu yank. Jahat banget kamu, numpang aja nggak boleh. Cepet yank, aku buru- buru ini..." ucap Ozan. Ia pura-pura melirik jam tangannya dan mengatakan sudah terlambat ke kantor.


Ameera mendengus kesal karena Ozan tetap tidak mau turun dari mobilnya. Tiba-tiba tercetus ide jahat dalam benaknya. Seringai tipis pun muncul di sudut bibirnya.


Hehe baik... kamu yang minta ya...


Tanpa banyak bicara ia pun melajukan mobil meninggalkan halaman rumah. Ameera menyetel musik, sebuah lagu dari MyChemical Romance berjudul helena.


"Horor banget musiknya." ujar Ozan.


"Perasaan kamu aja." sahut Ameera.


Tanpa pemberitahuan Ameera menginjak gas dalam membuat mobil melaju dengan sangat kencang. Ozan terlonjak kaget, membuatnya berteriak beberapa kali. Bukan dirinya yang ia khawatirkan, melainkan Ameera dan anak-anaknya yang sedang tumbuh dalam rahim Ameera. Sementara Ameera sangat senang mengerjai Ozan. Dia melajukan mobil ugal-ugalan. Tidak peduli dengan umpatan beberapa pengendara lain.


"Yank... pelan dikit..." ucap Ozan seraya berpegangan kuat.


Jantungnya terasa mau lepas, sementara Ameera tersenyum puas.


Kapan lagi punya kesempatan ngerjain manusia jadi-jadian ini.


Ozan beberapa kali memperingatkan Ameera untuk mengurangi kecepatan, namun Ameera tidak peduli. Ia menyalip beberapa kendaraan di depannya. Sekencang- kencangnya Ozan mengemudikan mobil, ia tidak pernah segila Ameera.

__ADS_1


"Pelan-pelan Ameera, kamu pikir kita lagi di sirkuit F1 apa?" teriak Ozan.


Ameera terkekeh, "Kan kamu yang bilang lagi buru-buru. Aku akan jadi sopir tercepat untukmu."


"Ya, tapi nggak gini juga kan?"


"Aku sedang mencoba mempraktekkan adengan di film taxi. Kamu tahu kan mas, gimana Belle Williams mengemudikan taxi-nya? " ujar Ameera dengan santainya.


"Belle Williams?" gumam Ozan,


Ia berusaha mengingat siapa Belle Williams yang di maksud Ameera. Tiba-tiba wajahnya memucat setelah mengingat adegan dalam sebuah film dimana seorang wanita mengemudi ugal-ugalan, persis seperti apa yang Ameera lakukan sekarang.


"Oh, No! jangan, yank. Kamu bukan Queen Latifah loh." pekik Ozan yang masih takut dengan cara mengemudi Ameera.


"Memang bukan. Aku Ameera Malika Hutomo." ucap Ameera, "tapi aku sedang ingin menjadi Belle Williams, haha... " seringai licik muncul di sudut bibirnya. Ia seperti tidak ada puasnya mengerjai suaminya itu.


Jika saja tidak mengingat Ameera sedang hamil, mungkin ia tidak akan setakut sekarang. Namun, pikiran Ozan tertuju pada dua nyawa dalam perut Ameera.


Tidak lama kemudian mereka tiba tepat di depan kantor Ozan. Ameera lagi-lagi mengerem mendadak membuat Ozan terbentur di kaca mobil.


"Kamu sudah gila, ya?" bentak Ozan seraya mengusap keningnya.


"Sana turun, bukannya terima kasih... " ujar Ameera.


Setelah itu Ameera melajukan mobil dengan santai menuju kampusnya. Sepanjang jalan ia tertawa puas. Sepertinya balas dendamnya pada Ozan belum cukup baginya.


***


Ozan baru saja keluar dari kamar mandi di ruangannya, Ramon datang membawa beberapa berkas laporan melihat Ozan yang sedang duduk menyandar sembari mengurut keningnya.


"Napa lu?" tanya Ramon.


"Nggak usah banyak tanya lu. Lagi mual gue." jawab Ozan kesal.


"Mual? Lu hamil?"


"Sembarangan lu kalau ngomong... perbuatannya si Bini ini." jawabnya kemudian.


"Lu di apain lagi sama Ameera?"


Ozan terdiam, jika dia menceritakan pada Ramon apa yang di lakukan Ameera padanya, dia akan jadi bahan tertawaan Ramon.

__ADS_1


"Nggak usah banyak tanya. Pesenin gue kopi hitam aja. Gulanya sesendok. "


"Pake sianid* nggak?" tanya Ramon.


"Brengsek lu!" umpat Ozan pada Ramon, dan di balas kekehan oleh Ramon.


Bisa cepat mati gue, bini ngidam kelakuannya aneh-aneh, di kantor punya asisten macam si Ramon. batin Ozan kesal.


****


Sementara itu di sebuah cafe dua orang sedang terlibat pembicaraan rahasia.


"Kau jangan macam-macam Naura, kalau Rangga tahu kau berencana jahat pada Ameera lagi, kau bisa di habisi olehnya." ucap Jack, yang merupakan orang kepercayaan Hendri.


"Kau jangan khawatir. Aku sedang mencari celah untuk menghabisi gadis bodoh itu tanpa meninggalkan jejak." ujar Naura seraya tersenyum licik.


Setelah semua yang terjadi padanya, ia semakin benci pada Ozan dan Ameera. Terlebih karena Rangga memerintahkan seluruh pengawalnya mengawasi gerak-gerik Naura sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya tinggal Jack seorang, yang masih berpihak padanya. Sementara semua orang yang bekerja pada ayahnya berpihak pada Rangga. Bahkan Rangga juga memerintahkan Rizal untuk mengawasi Jack kemana-mana.


Naura pun semakin sulit menjangkau Ameera, karena Ozan telah memerintahkan pihak kampus mem-black list dirinya, sehingga ia tidak dapat menginjakkan kakinya di kampus itu. Gerbang kampus di jaga dengan ketat sekarang.


"Aku ada tugas untukmu, Jack." kata Naura.


"Aku sudah bilang kau jangan macam-macam Naura. Bos Hendri saja bisa di hancurkan dengan mudah oleh Rangga, apalagi dirimu." ujar Jack kemudian.


Mendengar peringatan dari Jack tidak membuat Naura gentar. Ia malah semakin geram.


"Semua yang terjadi padaku selama ini karena Ameera. Papa di penjara karena dia, Ozan meninggalkanku juga karena dia. Dan sekarang, Rangga melawanku untuk melindunginya."


"Ayolah Naura, kau tidak benar-benar menyukai Ozan kan?" tanya Jack.


"Karena Ozan, Dion meninggalkanku. Aku akan membalas mereka dengan cara paling menyakitkan." sahut Naura. Tatapannya penuh dengan kebencian pada Ameera.


"Naura, aku tidak mau ikut-ikutan dengan rencanamu. Kau lakukanlah sendiri. Aku tidak bisa melawan adikmu itu. Kau tau dia lebih mengerikan daripada Bos Hendri."


Jack tahu betul, seorang Rangga dapat melakukan hal semustahil apapun untuk melindungi Ameera. Laki-laki itu tahu bagaimana Rangga menjaga Ameera selama ini dari rencana jahat hendri.


Senyum sinis terbit di bibir Naura, "Baiklah, bahkan kaupun takut pada adikku yang bodoh itu."


"Aku hanya memperingatkanmu."


Tanpa mereka sadari, ada orang yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka dari jarak yang tidak begitu jauh.

__ADS_1


***


__ADS_2