Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Rangga yang Malang


__ADS_3

Rangga duduk melamun di kamar merenungi nasibnya. Rasa kecewa, sedih, marah, melebur jadi satu. Rasanya tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa perih luka di hatinya.


Cobaan datang bertubi-tubi padanya. Belumlah kering luka yang satu, sudah di tambah luka baru. Ingin melampiaskan kemarahannya, namun entah pada siapa. Takdir benar-benar sedang mempermainkannya. Jika hidup memberinya pilihan, maka hanya satu hal yang paling di inginkannya, melupakan segalanya.


Aliyah masuk ke kamar itu, dengan ragu-ragu, ia mendekat pada Rangga. Ia segera berlutut di hadapan anaknya itu.


"Rangga..." lirih suara Aliyah memanggil Rangga.


Rangga mengalihkan pandangannya keluar, merasa enggan menatap wanita yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.


"Apa salahku, Mama...? Kenapa kalian melakukan ini padaku?"


"Maafkan mama, Rangga..." Hanya itu kalimat yang mampu terucap dari mulut wanita itu.


"Mama tahu...? Seumur hidup aku selalu berharap supaya aku bukan anak seorang Hendri Agung Darmawan. Dan takdir mewujudkannya. Jadi sekarang, aku harus bahagia atau sedih?"


Entah harus menjawab apa, Aliyah hanya mampu menangis. Memohon agar Rangga membuka pintu maaf baginya.


"Mama bangunlah, jangan berlutut! Aku akan merasa berdosa." pinta Rangga.


Akhirnya Aliyah bangun dari posisi berlutut, ia lalu duduk di kursi menatap punggung Rangga yang membelakanginya.


"Mama bersalah, Nak... Kami memisahkanmu dari keluargamu yang sebenarnya." Wanita itu menyeka air matanya, suaranya terdengar lirih. "Kehidupan pernikahan kami hanya sebatas catatan di atas kertas. Kami tidak punya hubungan yang lebih dari sebuah status. Dia hidup dalam obsesi balas dendamnya. Menghancurkan hidupnya sendiri."


Rangga mematung, ia tahu penderitaan Aliyah selama ini yang tidak pernah di anggap oleh suaminya itu. Bahkan Hendri selalu bersikap dingin padanya.


"Kenapa Mama bertahan?" tanya Rangga.


"Mama bertahan karena memilikimu. Dia pernah mengancam Mama, dia akan mengambilmu kalau Mama berani meninggalkan rumah ini." ungkap Aliyah. Wanita itu pasrah jika Rangga akan membencinya.


Rangga mengepalkan tangannya hingga bergetar, berusaha meredam kemarahannya pada Hendri.


"Kenapa dia tidak membunuhku? Bukankah dia ingin balas dendam pada orang tua kandungku? Bahkan dia mau membunuh Ozan."


"Karena dia menyayangimu sama seperti Naura. Dia melupakan jati dirimu, dan menjadikanmu anaknya."


Rangga berdecih dalam hati. Walaupun dia sadar, bahwa Hendri benar-benar menyayanginya. Tapi perbuatan Hendri telah melukainya dengan sangat dalam.


Sampai mati pun aku tidak akan memaafkannya. Dia membuatku terpisah dari keluargaku. Dia pernah mau membunuh kakakku, dan sekarang, aku duduk di kursi roda ini karena akibat kebenciannya.


"Mama, tolong tinggalkan aku! Aku mau sendiri." pinta Rangga.


Aliyah terdiam, hanya isakannya yang terdengar. Dengan derai air mata, ia beranjak meninggalkan Rangga sendirian di kamar itu.


***

__ADS_1


Ozan menceritakan segalanya pada Ameera, tentang Rangga yang ternyata adalah Deniz dan juga tentang perjodohan Ameera dengan Deniz di masa lalu.


Di luar dugaan, Ozan yang mengira Ameera akan kecewa, justru terlihat sangat santai. Bahkan ia sangat bahagia setelah tahu bahwa Rangga adalah adik iparnya.


"Maafkan aku, Ameera. Aku benar-benar memisahkanmu dari Rangga. Aku sangat menyesal." ucap Ozan.


Ameera tiba-tiba kesal, ia mengerucutkan bibirnya, hendak protes.


"Apa? Menyesal? Kamu mau bilang menyesal menikahi aku?"


Ozan terperanjak mendengar ucapan Ameera, "Bu-bukan itu maksudnya, Yank... Aku hanya..."


Ucapan Ozan langsung di potong oleh Ameera, "Hanya apa? Lihat diriku sekarang. Setelah Mas membuat perutku jadi begini, sekarang mau bilang menyesal? Minta di hajar ya? Aku masih sanggup memukuli orang dalam keadaan begini !!"


Ameera sudah menyiapkan jurus persatuan lima jari andalannya, membuat Ozan bergidik ngeri, menatap kepalan tangan yang dahulu sering mendarat di wajahnya.


Ia pun tidak menyangka jika Ameera akan mudah menerima semua kenyataan itu.


"Kamu tidak kecewa?"


"Kenapa harus kecewa? Aku senang ternyata Rangga adalah adik iparku. Sekarang, aku akan punya sekutu di keluarga kita. Kalau Mas macam-macam, akan ku minta Rangga menghajarmu."


Ozan terkekeh mendengar ucapan Ameera yang seperti sedang memberinya ancaman serius. Ia lalu menarik Ameera ke dalam pelukannya. Seluruh perasaan takutnya luntur seketika.


"Tanya apa?"


"Kenapa kamu dan Rangga nggak mirip? Kamu bule seperti mama, sedangkan Rangga... walaupun wajahnya ada kadar bule-nya tapi dia lebih mirip orang Indonesia."


"Menurut kamu Rangga mirip siapa?"


Ameera lalu membayangkan wajah Rangga dan meneliti setiap inci wajah sahabatnya itu dalam ingatannya, ia baru menyadari kemiripan Rangga dengan ayah mertuanya.


"Rangga mirip papa, ya?"


Ozan mengangguk pelan, "Aku juga baru menyadarinya."


"Lalu bagaimana reaksi Rangga setelah tahu semuanya?" tanya Ameera. Ia tahu Rangga tidak akan menerima kenyataan itu dengan mudah.


"Rangga butuh waktu, Yank. Dia pasti belum bisa menerimanya. Dia yang paling terluka sekarang."


"Aku tahu, Mas. Tapi, apa papa sudah tahu?"


"Mungkin sekarang mama sedang menelepon papa." Ozan lalu membelai perut Ameera yang semakin membuncit itu. Rasanya sudah tidak sabar menantikan kelahiran anak kembarnya.


"Sekarang kamu tidur, ya. Sudah larut malam. Aku bisa di marahi mama kalau kamu begadang."

__ADS_1


"Tapi aku belum ngantuk..."


"Aku bilang mama, nih... kalau kamu begadang."


"Iya... iya... " ucap Ameera, ia akhirnya pasrah.


Ozan lalu membaringkannya dan membelai rambutnya dengan sayang sampai akhirnya Ameera tertidur.


***


Di tempat yang jauh di sana, Hasan yang baru saja mendapat telepon dari Zarima, menjadi sangat geram dengan perbuatan Hendri.


Ia memutuskan akan segera berangkat ke negara asalnya dan membuat perhitungan dengan Hendri yang sudah memisahkannya dari anak bungsunya selama belasan tahun. Bahkan ia mengira Denis kecilnya sudah meninggal.


Di kamar itu, ia menangis menerungi nasib anak bungsunya yang malang. Rangga selama ini terus menjadi korban perbuatan jahat Hendri. Dan sekarang ia mengalami apa yang pernah di alami oleh kakaknya. Duduk tak berdaya di kursi roda.


"Kau akan membayar dengan mahal semua perbuatanmu pada anak-anakku." ucapnya seraya mengepalkan tangannya.


Ia lalu menelepon anak buahnya untuk menyiapkan keberangkatannya ke Indonesia. Sudah merasa tidak sabar untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.


Ia memandangi foto anak kecil yang di ambilnya dari laci meja, "Maafkan Papa, Deniz... Papa tidak mengenalimu. Padahal kau sangat dekat dengan kami."


***


Keesokan harinya...


Ozan mendapati sang ibu sedang menangis di kamar yang berisi semua kenangan tentang Deniz di masa kecilnya. Wanita paruh baya itu baru saja berusaha menemui Rangga, namun lagi-lagi Rangga menolak bertemu dengannya.


Ozan teringat dahulu saat Deniz hilang, Zarima begitu terpukul, sama seperti sekarang. Setelah mengetahui segalanya, Rangga malah menolaknya. Ozan lalu mendekat, dan duduk di sebelah ibunya itu.


"Mama... jangan menangis lagi, harusnya kita bahagia kan? Deniz ternyata masih hidup. Itu yang terpenting."


Zarima masih menangis memandangi foto Deniz kecil. "Dia menolak bertemu mama, Ozan. Apa dia membenci mama?"


"Rangga hanya butuh waktu, Mah..."


"Namanya Deniz, Ozan... bukan Rangga."


Ozan merangkul Zarima yang tidak berhenti menangis sejak semalam. Sementara Ameera hanya terdiam di balik pintu.


***


Maaf baru up... πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ


Rangga memang tokoh paling malang ya, di cerita ini... kasihan... tolong, adakah yang mau adopsi Rangga??? biar kemalangannya berkurangπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2