Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Persyaratan Ameera


__ADS_3

Sore itu Ozan dan Ameera sedang berada di sebuah kedai es krim. Ozan tadinya sedang ada rapat penting ketika Ameera menelepon ke ponsel Ramon dan mengatakan mau makan es krim. Takut istrinya pergi sendiri, ia meninggalkan rapat tanpa pemisi, membuat Ramon kesal setengah mati. Terpaksa ia lagi-lagi harus menjadi tumbal kelakuan bos yang seenaknya.


"Sayang... kita pulang kerumah ya!" bujuk Ozan pada Ameera dengan nada lembutnya. Ia sudah ratusan kali mengulang kalimat bujukannya namun Ameera tidak mengindahkannya.


"Kenapa aku harus pulang?"


"Ayolah... aku memang salah. Izinkan aku menebus semua kesalahanku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Dia bahkan beringsut di lantai, bertongkat lutut memohon dengan mengatupkan kedua tangan di dada. Membuat Ameera terlonjak seraya menoleh kiri kanan melihat pengunjung lain yang tiba-tiba mengarahkan pandangannya pada mereka.


"Eh, jangan bikin malu. Cepat berdiri. Semua orang liatin kita." pinta Ameera dengan suara pelan seperti berbisik.


"Aku nggak akan bangun sebelum kamu bilang iya." Mengeraskan suaranya sehingga semua orang dapat mendengarnya. Beberapa orang tampak berbisik. Ada pula yang hanya senyum-senyum menyaksikan seorang pria bule yang sedang memohon pada kekasihnya. Tidak tahu sudah semerah apa wajah Ameera dibuatnya.


"Baiklah... baiklah... aku pulang, cepat bangun dari situ! " Ameera sudah dibuat sangat kesal dengan tingkah Ozan yang seolah sengaja mempermalukan dirinya sendiri.


"Benar?" tanya Ozan ingin memastikan kembali.


"Bangun dulu dari situ..." ucapnya kesal. Ozan sudah bangun dan duduk kembali di kursi. Senyum kemenangan terbit di bibirnya.


"Tapi aku ada beberapa syarat."


"Baiklah, apapun yang tuan putri inginkan." Langsung menyetujui tanpa bertanya syarat yang akan di ajukan istrinya.


Hehe sepertinya balas dendamku sudah di mulai. Lihat saja, aku akan membuatmu hidup seperti di neraka seperti yang kamu lakukan padaku.


"Aku sudah selesai makan es krimnya. Aku mau ke apartemen dulu. Setelah itu ke rumah ayah. Ada beberapa barang yang mau aku ambil." ucap Ameera seraya berdiri dari duduknya.


Ozan pun mengantar sang istri pergi kemana pun yang ia inginkan tanpa bertanya. Mereka juga sempat mengunjungi makam kedua orang tuanya Ameera. Sebelum akhirnya menuju ke rumah lamanya.


Ameera keluar dari kamar lamanya dengan membawa sebuah koper kecil. Ozan membantu membawakan dan memasukkannya ke mobil. Mereka pun pergi setelah berpamintan dengan Bu Yani.


****


Sementara Ramon membantu Dina berkemas untuk pulang kembali ke rumahnya. Padalah Ramon tahu Dina bisa melakukannya sendiri, namun Ramon hanya beralasan agar bisa lebih dekat dengam Dina. Bahkan ia memerintahkan pengawalnya membawa pulang mobil Dina agar ia dapat mengantarnya pulang dengan mobilnya sendiri. Setelah mengetahui kenyataan tentang Dina yang ternyata bukan pacar Rangga, ada perasaan senang dalam hatinya yang ia sendiri sulit artikan.


"Makasih ya, Kak sudah repot-repot." ucap Dina. Mereka sudah sampai di rumah Dina. Ramon membantunya membawa koper dan beberapa barang lain.


"Nggak repot kok. Lagian kamu sudah membantu menjaga istri bosku. Aku sangat berterima kasih untuk itu." Sahut Ramon. Menggunakan nama Ameera sebagai alasan memang sangat masuk akal. Dina sangat membantu Ramon dalam menghadapi tingkah Ameera yang menjadi-jadi sejak kehamilannya.


"Masuk dulu, yuk. Aku buatin minum." sambil melangkah masuk ke rumah.


Dengan senang hati, Din...


****


Malamnya....


Ameera sedang berada di kamarnya, duduk selonjoran di sofa dengan laptop di pangkuannya. Ia terlihat serius mengetik, entah apa. Sesekali seringai muncul di bibir tipisnya.


Sementara Ozan sedang di repotkan dengan permintaan Ameera yang ingin makan asinan betawi.


"Beli asinan betawinya dimana coba. Kenapa sih anak-anakku harus serewel itu. Mereka gak tau apa membujuk ibunya saja sudah bikin repot." gerutu kecil seraya melihat-lihat sisi jalan berharap menemukan pedagang asinan betawi. Ia melajukan mobil sangat pelan. Sudah dua jam lebih ia berkeliling mencari, namun tak kunjung ketemu. Membuatnya uring-uringan di jalan.

__ADS_1


Ozan mengambil ponselnya dan menghubungi Ameera.


"Halo..." terdengar suara Ameera di seberang sana.


"Yank... beli rujaknya dimana sih? Aku udah keliling loh ini dua jam lebih nggak ketemu-ketemu. Nggak mau ganti aja request-nya ?" tawar Ozan.


"Nggak mau! Lagian siapa yang suruh kamu keliling?"


"Kan kamu yang suruh tadi." Ozan mulai gusar. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kan aku nggak suruh kamu keliling. Rujak betawinya ada kok depan kompleks."


"Kok kamu nggak bilang daritadi?" nada bicaranya sudah mulai gemas. Sejak tadi pria itu berkeliling, ternyata yang dicari ada di depan kompleks yang jaraknya kurang dari satu kilo.


"Nah, kamu nggak tanya." dengan entengnya Ameera menjawab.


Sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar


Hanya kata itu yang terus Ozan ucapkan dalam batinnya.


"Ya udah tungguin." ucapnya kemudian.


"Sekalian beliin jus semangka." sepertinya yang ngidam mulai melunjak. Ameera tahu suaminya sudah mulai kesal, namun ia tidak peduli.


"Itu belinya dimana?"


"Mana aku tahu. Di toko buah kali." menjawab asal.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Ozan melajukan mobil menuju toko buah terdekat.


"Can I help you?" tanya seorang pegawai toko berusaha menggunakan bahasa inggris seadanya. Ia melihat pria kebule-an tersebut masuk ke dalam toko dengan wajah agak bingung.


"Ah, iya. Saya mau beli jus semangka." jawab Ozan santai.


"Oh bisa bahasa Indonesia toh. Kirain...hehehe tapi ini toko buah, mas. Nggak ada jus di sini!" ucapnya kemudian.


Iya juga sih ya... Ameera...!


Ozan menggerutu dalam hati.


"Beli buahnya ajalah. Tolong dibungkus semangkanya, ya!" pinta Ozan.


Pelayan itupun dengan sigap membungkus satu buah semangka besar untuk Ozan.


***


Ozan masuk ke kamar dengan membawa pesanan Ameera. Dengan mata berbinar Ameera kembali duduk selonjoran di sofa memakan asinan betawi yang sedang di idamkannya. Ozan tersenyum tipis melihat Ameera bertingkah seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.


"Jus nya mana?" tanyanya sambil mengunyah.


"Lagi di buatin sama imel dibawah. Aku nggak dapat jus yang kamu mau. Jadi aku beli aja buah semangkanya, trus suruh imel buatin." Ozan duduk didepan Ameera, mengernyit melihat istrinya makan asinan yang mungkin rasanya sangat asam itu.

__ADS_1


Rasa bersalah kembali merasuki jiwanya memikirkan Ameera yang selama ini kerepotan sendiri dengan ngidam anehnya.


Beberapa saat kemudian Imel datang membawa jus semangka untuk Ameera.


****


Setelah selesai memenuhi beberapa keinginan Ameera yang lain, kini Ozan sedang duduk bersila di ranjang dengan laptop dihadapannya. Sedang mengerjakan beberapa pekerjaan penting yang di tinggalkannya tadi.


Ameera datang membawa selembar kertas dan menyerahkannya pada Ozan.


"Apa ini?" tanya Ozan sambil meraih kertas di tangan Ameera.


"Baca aja!"


Ozan pun membaca apa yang tertulis dikertas tersebut. Seketika matanya membulat. Bagaimana tidak, Ameera seperti menjatuhkan bom atom di jantung Ozan. Ia menuliskan berbagai persyaratan yang menurut Ozan sangat tidak masuk akal.


"Jadi ini beberapa syarat yang tadi kamu bilang?" tanya Ozan frustasi.


"Iya. Nggak susah kan?


"Apa ini, ayank..." tanyanya gemas.


"Apa kurang jelas bahasanya ya? Aku bisa ulangi kalau kurang jelas." Ozan seperti kehabisan kata-kata. Ia menghela nafas kasar. Lalu kembali melirik kertas di tangannya.


"Poin pertama, jangan urusi urusanku.


Poin ke dua, aku tidak mau di ikuti pengawal kemana-mana.


Poin ke tiga, aku tidak mau di atur.


Poin ke empat, jangan melarang apapun.


Poin ke lima, kamu tidur di kamar tamu. "


Ozan membaca dengan suaranya yang terdengar kesal namun tiba-tiba terdengar getir saat membaca poin ke lima. Ia pun tidak sanggup lagi membaca poin-poin berikutnya yang tertulis di kertas. Ozan menghela nafas kasar, meraba tengkuknya.


"Sekarang tanda tangan dibawah." pinta Ameera dengan senyum kemenangan.


"Ameeraku,, istriku... sayangku... cintaku..." berusaha mengeluarkan jurus rayuan gombalnya namun Ameera malah melempar wajahnya dengan bantal.


"Jangan panggil aku begitu! Aku geli dengernya."


"Baiklah, aku nyerah. Aku akan tanda tangan, tapi coret dulu poin ke lima. Aku nggak bisa." wajahnya sudah sangat memelas.


"Ya sudah, aku saja yang tidur di kamar tamu." ucapnya santai.


"Bukan itu, yank. Aku nggak bisa kalau tidurnya pisah-pisah lagi."


"Aku nggak mau di apa-apain sama kamu." Ameera menyilangkan tangannya di bahu.


"Baiklah, aku nggak akan menyentuhmu sampai kamu mengizinkan. Jadi tolong poin ke lima di coret, ya..."

__ADS_1


Setela berpikir sejenak, akhirnya Ameera setuju mencoret poin ke lima.


Setuju sajalah. Paling tidak, kami tidak tidur terpisah. Ozan membatin.


__ADS_2