
Rangga berada di depan sebuah rumah besar yang di jaga ketat. Begitu ia melewati gerbang, semua pengawal yang berjaga dirumah itu membungkuk hormat padanya.
"Dimana kak Naura?" tanyanya dengan raut wajah penuh kemarahan.
"Nona ada di dalam." jawab seorang pengawal.
Tanpa basa-basi, Rangga memasuki rumah itu dengan tatapannya yang tajam seolah membelah siapapun yang ada didepannya. Ia mengetuk pintu layaknya seorang debt collector yang hendak menagih hutang. Mengagetkan siapapun yang berada di dalam rumah.
Pintu terbuka, seorang pelayan wanita tampak menyambutnya. Rangga pun memasuki rumah itu, matanya berkeliling mencari Naura. Sesaat kemudian matanya menangkap Naura sedang duduk santai di ruang keluarga dengan minuman didepannya seperti biasa. Naura mengalihkan pandangannya setelah mendengar keributan dari arah pintu.
"Rangga?" gumam Naura begitu melihat Rangga memasuki rumah. "Oh... Rupanya adik kesayanganku ini yang membuat keributan di rumahku?" kata Naura diiringi seringai licik.
"Aku datang untuk membicarakan sesuatu denganmu." ucap Rangga.
"Ah... aku sudah tau apa yang mau kamu bicarakan. Bagaimana permainanku? Kamu suka?" imbuhnya.
"Hentikan semua permainanmu! " bentak Rangga.
"Apa yang akan kamu berikan sebagai ganti kalau aku mau berhenti." Naura tersenyum licik.
Rangga berdecih.
"Aku kesini bukan untuk bernegosiasi. Aku mau memperingatkanmu." Naura terkekeh mendengar ancaman dari Rangga.
Naura kemudian menuangkan minuman kedalam gelas.
"Duduklah... Ayo kita minum dulu. Sudah lama kan kita tidak bertemu?" ajaknya dengan suara lembut yang dibuat-buat. .
"Apa yang kau inginkan dari mereka? " tanya Rangga tanpa basa-basi dengan suara menggelegar ke setiap sudut ruangan. Naura tergelak mendengar pertanyaan Rangga. Untuk pertama kalinya Rangga bicara dengan keras padanya.
"Kamu bahkan tidak lagi memanggilku kakak seperti biasanya."
"Aku tidak perlu sopan saat bicara dengan orang sepertimu."
__ADS_1
"Benarkah? Aku akui kehebatan Ameera. Dia bisa membuatmu melakukan apapun tanpa dia minta, dia juga bisa membuat Ozan melupakanku secepat itu. Tapi dia tidak akan seberuntung itu." seringai licik muncul dari bibirnya sambil meneguk minumannya.
"Aku bisa melakukan apapun untuk melindunginya. " kata Rangga penuh keyakinan.
"Kau sangat menyedihkan. Kenapa kau tidak berjuang untuk mendapatkannya dan berikan Ozan padaku. Kita bisa menjadi partner yang baik." ucap Naura. Ia mencoba menghasut Rangga.
Rangga terkekeh, "Kalau kau berani macam-macam lagi pada Ameera, aku akan menghancurkanmu sama seperti aku menghancurkan papa." ancamnya lagi. Raut wajah Naura berubah seketika.
"Papa? Apa maksudmu Rangga? Apa penangkapan papa ada hubungannya denganmu?" tanya Naura. Ia mulai menunjukkan kemarahannya.
"Itulah yang kumaksud. Sudah ku katakan aku bisa melakukan apapun untuknya. Jadi jangan coba sentuh Ameera seujung kukupun. Kalau saja kau bukan kakakku, kau pasti sudah hancur di tanganku." ucap Rangga santai namun terdengar sangat menakutkan. Setelah Rangga mengatakan itu, ia segera beranjak meninggalkan Naura yang masih di selimuti pertanyaan di benaknya.
Apa Rangga ada di balik penangkapan papa? batin Naura penasaran. Ia kembali meneguk minumannya hingga mabuk.
****
"Din, maaf ya. Aku terpaksa membuntutimu karena Rangga nggak mau ngasih tau dimana keberadaan Ameera." ucap Ramon pada Dina. Saat ini mereka sedang berada disebuah cafe yang teletak di rumah sakit. Ramon membuntuti Dina setelah pulang dari kampusnya untuk mencari tahu keberadaan Ameera. Ia terkejut setelah mendapati Ameera yang ternyata sedang di rawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan.
"Nggak. Ozan nggak tau. Dia masih di Turki dan belum bisa dihubungi sampai sekarang. Aku kemari hanya mau memastikan Ameera baik-baik saja." jawabnya sambil menyeruput kopinya. "Jadi benar, Ameera mengalami pendarahan?" lanjutnya.
"Iya, kak. Aku dan Rangga bawa Ameera ke rumah sakit. Tapi Ameera nggak mau kak Ozan tahu. Jadi tolong untuk sementara rahasiakan keberadaan Ameera dari kak Ozan." pinta Dina.
Ramon mengangguk. Ia ikut merasa geram dengan perlakuan Ozan pada Ameera yang hampir membuat Ameera kehilangan janin dalam kandungannya.
"Sekarang bagaimana keadaan Ameera?" tanya Ramon.
"Sudah stabil kok. Besok sudah boleh pulang. Tapi, mungkin Ameera nggak akan pulang ke rumah kak Ozan. Jadi mungkin Ameera akan tinggal di rumahku sementara." ucapnya seraya tersenyum manis.
"Oh, ya... pacar kamu yang galak itu nggak tau aku ke sini. Kalau dia tau aku buntutin kamu, aku bisa di cincang sama dia." ujar Ramon seraya terkekeh geli mengingat begitu posesifnya Rangga pada Ameera dan Dina.
"Gue denger bang, lu ngomong apa." Terdengar suara yang tiba-tiba muncul di balik punggung Ramon. Ia tergelak, lalu mengalihkan pandangannya ke belakang. Tampak Rangga berdiri di belakangnya dengan wajah datar.
"Eh kaget gue. Udah kayak hantu aja lu. Duduk dulu napa, jangan main emosi aja." ucapnya ketika melihat wajah Rangga sudah tidak bersahabat. Rangga lalu ikut duduk disana.
__ADS_1
"Awas aja lu buntutin Dina lagi, gue habisin lu, Bang!" ancam Rangga. Sementara Dina tersenyum sipu mendengar ancaman Rangga pada Ramon.
"Gue cuma mau tau aja keadaan Ameera." ucap Ramon.
Rangga berdecak.
"Udah ada kabar dari Bang Ozan?" tanya Rangga kemudian.
Ramon menggeleng. Ia pun dibuat kelabakan dengan kelakuan Ozan yang suka seenaknya.
"Belum. Beberapa hari ini Ozan belum bisa dihubungi. Gue telepon le nomor rumahnya, tapi pelayan bilang Ozan nggak ada."
Mendengar jawaban Ramon, wajah Rangga kembali berubah kesal. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja.
Awas saja dia kalau aku sampai menemukannya.
****
Setelah beberapa hari di rawat, akhirnya Ameera di izinkan pulang oleh dokter. Rencananya ia akan tinggal sementara di apartemen Rangga bersama Dina. Karena jika tinggal di rumah Dina, terlalu mudah bagi Ozan menemukannya. Ramon pun selalu memantau keadaan Ameera lewat beberapa orang suruhannya.
Setelah mengantar Ameera dan Dina ke apartemennya, Rangga bergegas pulang ke rumahnya karena harus mempersiapkan keberangkatannya kembali ke Inggris. Sebelumnya ia menempatkan banyak pengawal untuk menjaga mereka selama kepergiannya.
"Din aku berangkat ya... jaga diri kalian baik-baik. Sementara jangan biarkan Ameera keluar sendiri." Isi pesan Rangga pada Dina.
"Sip jangan khawatir." Dina membalas pesan dari Rangga.
***
Rangga sudah berada didalam pesawat yang akan membawanya. Ia duduk disisi jendela memperhatikan pemandangan dibawah, namun pikirannya tetap tertuju pada satu arah, Ameera. Satu nama yang selalu terukir indah dihatinya.
Ia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Teringat kembali kenangan masa lalunya tentang Ameera. Tentang dirinya yang selalu berusaha menjaga Ameera selama ini. Bagaimana ia memukuli dan mengancam setiap laki-laki yang mendekati Ameera di sekolah. Dan sekarang, ia harus melihat Ameera sedih karena menikah dengan Ozan. Sungguh, rasanya ia benar-benar ingin menghajar Ozan sampai mati jika mengingat perlakuannya pada Ameera.
Kenapa rasanya pesawat ini sangat Lambat? Aku bahkan sudah tidak sabar untuk segera sampai dan menyelesaikan pekerjaan pentingku.
__ADS_1