Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Pelangi setelah hujan


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya terlihat sedang sibuk membereskan barang-barangnya. Memasukkan beberapa benda ke dalam koper, ada beberapa baju dan sepatu bayi yang lucu, Ia terlihat begitu bersemangat akan kembali ke negara yang pernah lama ia tinggali. Negara yang baginya penuh dengan kenangan.


Dan, aktivitasnya harus terhenti ketika melihat sebuah album foto. Di ambilnya album tersebut, lalu ia duduk di pinggiran kasur empuknya, meletakkan album foto di pangkuannya.


Zarima mulai membuka album foto tersebut satu-persatu. Hingga akhirnya matanya menangkap foto kebersamaannya dengan beberapa sahabatnya di masa lalu. Tidak terasa air matanya kembali berguguran.


Hasan masuk ke kamar dan mendapati Zarima yang menangis memandangi sebuah foto. Ia segera mendekat.


"Sudah... jangan di pandangi terus. Apa kau bisa mengembalikan semuanya dengan menangisinya?" tanya Hasan yang lalu ikut duduk disana.


"Tentu saja tidak. Hanya saja apa yang terjadi belakangan ini membuatku merasa sedih." ucap Zarima.


"Karena kau terlalu memikirkannya. Makanya kau jadi sedih."


Zarima mengusap foto-foto itu dengan ujung jarinya. Memandangi satu persatu wajah yang ada di dalam foto itu.


"Mas bukankah lebih baik kalau kita katakan pada Hendri kebenaran tentang Ameera?"


Hasan terhenyak mendengar ucapan Zarima, "Tidak! Sampai mati pun aku tidak akan memberitahunya. Aku juga tidak mau melukai perasaan Ameera."


Zarima kemudian menutup album itu dan meletakkan kembali di dalam laci paling bawah.


"Aku khawatir Naura akan melakukan sesuatu yang lebih jauh lagi. Dia hampir saja membunuh Ameera dengan menabraknya. Bagaimana kalau nanti Naura di nyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit, dia akan kembali menyerang Ameera, Mas?"


"Zar, ketakutanmu itu terlalu berlebihan."


Zarima kemudian menyeka air matanya yang seperti tidak ada habisnya.


"Bukan ketakutanku yang berlebihan, Mas. Aku hanya seorang ibu. Sudah cukup aku kehilangan Deniz. Aku tidak mau kehilangan Ameera atau Ozan lagi."


Hasan menghela napas kasar, pikirannya saat ini tertuju pada Rudi. Bagaimana Rudi mengorbankan nyawanya untuk melindungi Ozan.


"Kita akan menjaga Ameera seperti Rudi menjaga Ozan."


"Bagaimana cara kita menjaga Ameera, Mas? Kita menjaga yang satu kemudian yang lain yang menjadi korban. Rudi menjadi korban karena melindungi Ozan, dan sekarang, Rangga berkorban demi melindungi Ameera. Hanya Hendri sendiri yang bisa mengakhiri semua ini." ucap Zarima seraya terisak. "Aku sangat menyayangi Ameera, Mas... " ucap Zarima pelan.


"Aku tahu, Zar. Aku juga menyayangi Ameera seperti aku menyayangi Ozan. Lebih baik sekarang kita pikirkan kedepannya seperti apa."


"Baiklah..."


***

__ADS_1


Pagi hari Zarima sudah siap dengan beberapa koper yang akan di bawanya.


"Tidak ada yang ketinggalan lagi kan?" tanya Hasan ketika melihat seluruh barang bawaan istrinya itu sudah naik ke mobil.


"Sepertinya sudah ada semua..." jawabnya seraya menghitung jumlah koper yang ada di bagasi mobil.


"Paspor, Visa, KTP...?" tanya Hasan seraya menyebut semua keperluan wanita itu. Pasalnya Zarima adalah seseorang yang sering ceroboh dan melupakan barang pentingnya.


"Ada, Mas..." jawabnya.


"Baiklah, ayo kita berangkat."


Mereka pun segera menuju ke bandara. Ada gurat kebahagiaan di wajah Zarima. Selain sangat merindukan anak dan menantunya, ia sudah tidak sabar menantikan kehadiran cucu kembarnya yang akan lahir beberapa minggu lagi.


***


Rangga duduk termenung di dalam kamarnya memegang sebuah buku tebal berwarna hitam. Sesekali ia mengarahkan pandangannya ke sebuah taman yang terletak di belakang rumah.


Ia kemudian membuka buku itu, ada senyum tipis menghiasi wajahnya saat menatap sebuah foto yang terselip di dalam buku itu.


Dan tidak lama kemudian Aliyah datang membuyarkan lamunan anaknya itu.


"Rangga... Dina sudah datang. Kamu hari ini ada jadwal terapi kan?" tanya Aliyah.


Dina yang sudah ada di ambang pintu kamar itu segera menghampiri Rangga. Menyadari ada Dina di sana, Rangga langsung menutup buku tebal itu, lalu memasukkannya ke dalam laci.


"Mama tinggal sebentar ya, sepertinya ada tamu di depan." ucap Aliyah sesaat setelah mendengar bel berbunyi.


"Ayo, Rangga... aku temani terapi hari ini." ucap Dina seraya terseyum.


Rangga menghela napas, bahkan ia sama sekali tidak menoleh saat Dina menghampirinya.


"Aku tidak mau terapi lagi, Din... kamu pulang saja."


"Tapi kenapa?"


"Pulanglah, aku mohon!" pinta Rangga. Namun, Dina tidak menyerah, ia tetap berusaha membujuk Rangga.


"Rangga... ayolah... kita bahkan belum maksimal mencobanya."


"Sudahlah, Dina. Apa yang kamu harapkan dari aku? Kamu berharap aku bisa dengan mudah melupakan Ameera dan mengganti tempatnya denganmu? Itu kan yang kamu harapkan?" Ucap Rangga dengan nada sedikit berteriak, "aku beritahu... AKU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENCINTAIMU. JADI PERGILAH DARI SINI!" teriak Rangga.

__ADS_1


Bagai langit runtuh menimpanya, mungkin itulah gambaran perasaan Dina. Bagaimana kalimat menyakitkan itu dengan mudahnya di ucapkan Rangga.


Gadis itu bahkan tidak dapat berkata apa-apa. Hanya butiran air mata yang mewakilkan kepedihan hatinya. Memikirkan apakah penantiannya selama 4tahun berakhir sia-sia. Ia berusaha sekuat mungkin menahan agar tidak menangis, namun pertahanannya luluh lantak oleh ucapan pedas Rangga yang seolah mengiris hatinya.


"Aku tahu, Rangga... Maafkan aku selama ini berharap terlalu banyak. Baiklah, aku akan pergi." ucap Dina dengan isakan lirihnya.


Karena tidak tahan, ia hendak berlari meninggalkan Rangga. Namun saat akan keluar, ternyata ada Ameera di ambang pintu yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


Bahkan pipinya telah basah oleh air mata. Rasa bersalah kembali bersarang dalam diri Ameera. Merasa dirinyalah penyebab semua ini. Dan, Dina seakan tidak peduli lagi. Dengan berurai air mata ia meninggalkan rumah itu.


Rangga yang menyadari kehadiran Ameera di sana menjadi tidak enak sendiri. Ia berbalik membelakangi Ameera dan memilih menyembunyikan kesedihannya.


Maafkan aku, Din... kamu berhak bahagia. Aku hanya akan menjadi bebanmu. Aku akan merepotkanmu dengan tubuh cacatku ini.


Aliyah menghampiri Ameera yang sedang bersandar di dinding dengan air mata yang terus berguguran. Ia menepuk bahu Ameera dengan lembut.


"Ini bukan salahmu, Nak... Sama sekali bukan salahmu. Kalian hanya korban dari keadaan ini. Jadi, jangan salahkan dirimu." ucap Aliyah.


Ameera jatuh dalam pelukan Aliyah, "Maafkan aku, tante..." ucap Ameera di selingi isakan.


"Semua akan baik-baik saja. Percayalah! Mungkin sekarang Rangga butuh waktu sendiri. Kamu, pulang dulu, ya... nanti tante bicara dengan Rangga dan Dina." bujuk Aliyah seraya mengusap punggung Ameera.


Setelah merasa sedikit tenang, Ameera pun berpamitan pada wanita itu. Ia segera keluar menuju halaman depan rumah. Seorang sopir segera membuka pintu mobil ketika melihat Ameera keluar dari rumah itu.


Aliyah kemudian mendekati Rangga dan duduk di kursi berhadapan dengan anak lelakinya itu. Ia membelai lembut rambut dan mengecup keningnya.


Sekeras apapun Rangga, jika sudah berhadapan dengan wanita yang membesarkannya itu, egonya seketika akan runtuh. Seumur hidupnya, ia hanya menunjukkan sisi rapuhnya di depan ibunya itu.


"Maafkan aku, Mah..." ucap Rangga. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.


"Mama tahu, Nak. Kamu terpaksa melakukan semua ini." ucapnya seraya memeluk Rangga.


Rangga pun menangis dalam pelukan wanita terhebatnya itu. "Kenapa, Mah... kenapa semua ini harus terjadi padaku? Di saat aku mulai membuka hatiku untuk Dina, kenapa keadaanku harus menyedihkan begini? Apa aku yang harus di hukum atas semua dosa-dosa papa?"


Aliyah menangkup wajah Rangga, memandangi wajah sedihnya. Ia menggeleng seraya tersenyum seperti hendak berkata jangan khawatir.


"Anakku, setiap ujian pasti ada hikmah di baliknya. Yakinlah, kamu bisa keluar dari masa sulitmu ini. Seperti pelangi setelah hujan, adalah janji alam bahwa setelah ada hujan, maka pelangi akan hadir membawa keindahan. Setiap hujan pasti punya pelangi, hanya mata kita yang tidak mampu melihatnya. Dan, Dina adalah pelangimu. Jangan sia-siakan." ucap Aliyah kemudian.


"Dina pasti akan membenciku setelah apa yang aku ucapkan tadi, Mah..."


"Kamu tahu seperti apa Dina, Rangga. Kamu harus berusaha lebih keras untuknya."

__ADS_1


***


**To be continue


__ADS_2