
Malam itu Ozan meminta Ramon datang kerumahnya. Ramon kesal karena di suruh datang walaupun sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sepanjang jalan Ramon bersungut-sungut dan mengumpati kelakuan Ozan yang seenakanya. Iapun datang masih menggunakan piyama karena Ozan menyuruhnya buru-buru.
Sambil menunggu Ramon, Ozan mengetik pesan lalu mengirimnya pada kontak di ponselnya yang tertulis 'myBarbar wife'
"Besok pagi jangan lupa kita berangkat jam 7. Pakai celana jeans sama kaos lengan panjang aja. Sama sepatu olahraga. Bawa baju hangat sekalian." isi pesan Ozan.
Sesampainya di rumah itu, Ramon langsung masuk ke ruang kerja Ozan dengan kesal.
"Apaan sih lu ganggu tidur gue aja."
"Gue ada tugas penting buat lu.." kata Ozan dengan nada santai.
"Tugas apaan? Kenapa nggak ngomong di telepon aja sih? nggak punya pulsa lu?"
"Lu kalau ngomong sama bos sopan dikit napa? Lu kan asisten pribadi gue. Kalau bukan lu, gue minta tolong siapa donk?"
"Serah lu deh bos. Bisa gila gue lama-lama punya bos model kayak elu..."
"Eh, itu harusnya dialog gue! Kenapa juga harus keluar dari mulut lu? Gue kali yang bisa gila kalau semua karyawan gue kayak elu..."
Benar saja, memang selama ini Ramon satu-satunya bawahan Ozan yang paling berani melunjak dan paling tidak sopan saat berbicara dengan Ozan. Tentunya hanya saat mereka sedang berdua saja.
"Yaudah apaan? Ngomong lu cepet! gue ngantuk!"
"Jadi gini, gue mau memperbaiki hubungan gue sama Ameera. Gue mau mulai dari awal. Jadi besok gue mau ajakin dia kencan seharian..."
"Hah?" Ramon masih belum percaya apa yang di dengarnya. "Jadi lu suruh gue malam-malam kesini cuma mau ngomong itu doang? Ya tinggal lu bawa orangnya. Ngapain bilang sama gue?" Ramon tidak mengerti kenapa Ozan menyuruhnya ke rumahnya hanya untuk mengatakan itu.
"Dengerin dulu orang selesai ngomong..." Ozan pun mulai tersulut emosi.
"Ya udah gue harus apa?"
Ozan pun mengatakan semua rencana nya yang ingin membuat kejutan untuk Ameera.
"Ya udah besok gue siapin semuanya. Sekarang gue mau pulang."
"Sana lu pulang, awas aja kalau besok gak beres kerjaan lu!"
Ramon hanya mencebikkan bibirnya lalu beranjak keluar dari ruang kerja Ozan.
***
Pagi ini Ameera bangun lebih awal. Ia meraih ponselnya dan membuka pesan yang sejak semalam belum di baca. Ada pesan dari nomor kontak yang tertulis nama 'manusia jadijadian'.
Ini mau kemana sih. Kenapa harus pakai begituan. Dalam batin Ameera.
Walaupun di selimuti rasa penasaran, ia tetap melakukan sesuai isi pesan yang di kirim Ozan. Setelah itu ia turun untuk sarapan. Ozan sudah sejak tadi menunggu di meja. Begitu melihat Ameera ia langsung melirik jam tangannya.
"Cepat sarapan, sudah mau jam 7."
Ameera langsung duduk di kursi sebelah Ozan dan mulai sarapan.
__ADS_1
"Kita mau kemana?"
"Puncak."
"Puncak? Kenapa gak bilang dari kemarin?"
"Baru kepikiran tadi malam." jawabnya santai.
Dasar manusia jadi-jadian seenaknya menentukan sendiri.
Batin Ameera
Setelah sarapan, Ameera mengunjungi makam orangtuanya terlebih dahulu. Dengan membawa dua buah buket bunga seperti biasa. Setelah itu Ozan melajukan mobil menuju puncak bogor yang dapat di tempuh dalam waktu dua jam dari ibu kota.
***
Sampailah mereka di puncak. Ramon sudah lebih dulu sampai bersama beberapa orang lainnya yang menyiapkan kejutan untuk Ameera.
Ozan mengajak ameera ke sebuah bukit yang tidak jauh dari villa milik keluarganya.
"Kamu, nggak punya riwayat penyakit jantung kan?" tanya Ozan.
"Kenapa memangnya?" tanya Ameera curiga.
"Kalau phobia ketinggian?"
"Kenapa lagi?"
"Kenapa sih pertanyaannya harus di jawab dengan pertanyaan lagi. Jawab saja apa susahnya?"
Karena kesal Ameera menginjak kaki Ozan dengan keras, membuat Ozan meringis kesakitan.
"Ini weekend Ameera. Semua orang libur. Bisa kan jiwa barbarmu hari ini ikut di liburkan?" pinta Ozan dengan meninggikan suaranya.
Bukannya minta maaf, Ameera malah memukul Ozan dengan tas kecil yang dibawa nya dan tepat mengenai wajahnya. Ozan pun menjadi semakin kesal dengan Ameera.
Sabar sabar sabar sabar sabar. batin Ozan.
"Ampun deh my barbar wife.." ucap Ozan seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kamu nggak berencana mendorongku dari atas bukit kan?"tanya Ameera yang menyangka Ozan akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.
"Astagfirullah, istriku! Jahat sekali pikiranmu. Makanya jangan keseringan nonton film..."
"Apa? Apa salahnya aku bertanya, bisa saja kan?"
Ozan pun mulai mengeluarkan senyum misteriusnya, "Tapi memang sih, aku memang berencana mendorongmu dari atas bukit. Ayo!"
Ozan menggandeng tangan Ameera dan mengajaknya ke tepi bukit. Ameera sudah ngeri membayangkan Ozan benar-benar akan mendorongnya.
Di tepi bukit sudah ada Ramon dan beberapa orang suruhan Ozan. Sedang menyiapkan parasut.
__ADS_1
Eh, itukan kak Ramon. Dia ada di sini? Batin Ameera
"Ram, sudah siap kan?" tanya Ozan.
"Sip.." jawab Ramon seraya mengacungkan jempolnya.
"Sudah pernah terbang dengan paralayang, belum?"Ozan menatap wajah Ameera yang terlihat bingung. Ameera pun menjawab dengan menggeleng.
Ozan lalu memasangkan harness ke tubuh Ameera dan mengaitkan kancing satu persatu. Lalu memakai harness miliknya.
"Kamu jadi penerbangnya gitu?"tanya Ameera
"Iya. Kenapa? Takut?"
"Kamu bisa?"
"Kalau kamu banyak tanya aku akan menjatuhkanmu dari ketinggian."
Apanya yang kencan romantis? Dia bahkan mengancam begitu. batin Ameera.
Setelah selesai memasang parasut mereka siap terbang. Ameera berada di depan, sedangkan Ozan bertugas sebagai pilot berada di belakangnya.
"Aman kan Ram?" Ozan Sekali lagi memastikan peralatan yang di gunakannya aman.
"Aman.. aman..!"
"Kamu siap-siap Ameera."
Ameera pun menutup matanya. Dan ketika kakinya terasa melayang, ia membuka matanya. Tadinya takut, tapi setelah menyaksikan pemandangan indah di bawahnya, ia menjadi sangat senang.
"Haahhh, Aku terbang... aku terbang..." ucapnya seraya sambil mengangkat kedua tangannya.
Jadi seperti ini wujud aslimu saat senang ya. batin Ozan.
"Kamu suka?" bisiknya di telinga Ameera
"Suka sekali," jawab Ameera dengan penuh semangat.
Mata Ameera seperti di manjakan dengan pemandangan hijau di bawahnya. Ia merasa seperti terbebas dari semua beban yang di rasakannya selama ini.
"Bagusnya. Kenapa kamu nggak bilang kita mau terbang dengan paralayang? Aku kan bisa bawa tongsis."
"Ada. Di saku jaketku. Bisa ambil nggak? Di saku depan."
Ameera pun meraba saku jaket Ozan dan mengambil Kamera dan tongsis di sana. Mereka kemudian berselfie di atas sana.
Untuk pertama kalinya Ozan melihat sisi lain dari diri Ameera yang terlihat begitu ceria. Selama ini yang Ozan lihat,Ameera hanya seorang gadis galak dan dingin cenderung barbar.
Ia tidak menyangka Ameera bisa menunjukkan ekspresi semenggemaskan ini. Ameera beberapa kali berteriak menunjukkan rasa senangnya. Mereka terus terbang selama beberapa menit sampai akhirnya mendarat.
Bersambung
__ADS_1