Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Penyesalan Ozan


__ADS_3

"Ozan... kamu kapan balik ke Indo?" tanya Zarima yang menghampiri Ozan yang sedang menonton tv di ruang keluarga.


"Nggak tau, mah. Lagi senang disini."jawabnya santai.


"Lho kamu gimana sih, Kalau kamu masih betah disini, minta Ramon antar Ameera kemari. Masa kamu tinggal istri kamu sendirian disana." protes Zarima


Ameera nggak sendiri mah. Dia pergi dari rumah sama Rangga.


"Nanti lah... lagian Ameera-nya sibuk." Ozan masih memegang teguh egonya padahal kerinduannya pada Ameera sudah menggunung. Sejak kedatangannya ke Turki, ia menutup rapat-rapat akses komunikasinya dengan siapapun, bahkan Ramon pun kesulitan untuk menghubunginya.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu Ozan di taman depan rumah. Ozan penasaran siapa tamu yang hendak menemuinya, pasalnya ia hanya memiliki beberapa teman di Turki karena sejak kecil, ia lebih banyak di Indonesia. Ozan segera beranjak menuju taman untuk menemui tamunya.


Dari kejauhan ia melihat seorang pria yang hampir setinggi dirinya berdiri tegak sambil memasukkan tangan di saku celana.


Siapa sih, mengganggu saja.


Namun ketika mendekat matanya terbelalak kaget melihat siapa yang datang menemuinya. Raut wajahnya pun seketika berubah, ia menatap tajam pada Rangga layaknya binatang buas yang hendak menerkam mangsanya.


"Jadi elu yang datang. Ngapain lu kesini?" tanya-nya ketika sudah dihadapan Rangga.


Karena kemarahannya akan Ozan yang memilih pergi dan menutup semua akses komunikasinya, Rangga memutuskan menyambanginya ke Turki sebelum bertolak ke Inggris. Ia bahkan tidak memberitahu siapapun bahwa ia akan pergi ke Turki.


Tanpa aba-aba, Rangga langsung melayangkan tinjunya ke wajah Ozan. Membuat Ozan tersungkur. Dua orang pengawal yang berjaga dengan cepat memegangi lengan Rangga.


"Gitmesine izin ver... O benim arkadasim!" ucap Ozan pada dua pengawalnya. Ia meminta mereka melepaskan Rangga.


"Bizi birak!" perintahnya kemudian. Dua pengawal itupun pergi meninggalkan Rangga dan Ozan berdua di taman.


Setelah kepergian para pengawal itu, Rangga kembali menghajar Ozan dengan penuh emosi tanpa ampun. Sampai akhirnya Ozan jatuh tak berdaya. Ozan bukan tidak mampu membalas serangan dari Rangga. Ia hanya ingin tahu apa yang di inginkan Rangga sampai jauh-jauh datang dari Indonesia untuk menemuinya. Dan yang pasti kedatangan Rangga ada hubungannya dengan Ameera.


"BANGUN LU, BANGS*T!! AYO LAWAN GUE!!" teriak Rangga seraya menarik kerah kemeja Ozan. Pria itu seperti pasrah saja di pukuli oleh Rangga.

__ADS_1


Setelah puas memukuli Ozan, tanpa rasa berdosa, Rangga beranjak meninggalkan Ozan yang masih tersungkur disana dengan luka lebam di wajahnya. .


"Jadi lu jauh-jauh datang dari Indonesia cuma buat gebukin gue?" tanya Ozan ketika melihat Rangga beranjak pergi. Mendengar pertanyaan Ozan, Rangga menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh sekilas. Menatap tajam Ozan dengan ekor matanya.


"Gue sebenarnya mau bunuh lu sekalian. Tapi sayangnya, gue nggak mau Ameera jadi janda." jawabnya datar.


"Bukannya bagus buat lu? Dengan begitu lu bisa bebas merebut Ameera dari gue." ucap Ozan yang masih belum bangun dari duduknya.


Rangga memejamkan mata kasar dan mengepalkan tangannya. Kekesalannya akan kebodohan Ozan telah menembus ubun-ubunnya.


"Gue udah bilang, gue nggak mau Ameera jadi janda dan anaknya menjadi anak yatim." ujarnya seraya pergi meninggalkan halaman mansion besar itu.


Deg!


Bagai tersengat listrik tegangan tinggi, Ozan mematung.


Masih dengan posisi terduduk mencoba menguraikan kalimat terakhir yang di ucapkan Rangga. Ozan terdiam, wajahnya menjadi pucat pasih. Ucapan Rangga terus terngiang di telinganya.


"Anak Ameera? Apa artinya... Ameera... Ameera hamil?" gumam Ozan terbata dengan air matanya yang mengalir di pipi. Sekelumit ingatannya tentang Ameera terbayang di benaknya. Ia segera tersadar dari lamunannya.


"Mama... Mama..." teriaknya memanggil sang ibu.


"Ada apa sih teriak-teriak?" tanya Zarima yang baru saja keluar dari kamar.


"Mah, aku harus pulang sekarang." kata Ozan dengan panik. Perasaannya campur aduk. Antara kemarahannya pada kebodohannya sendiri dan rasa penyesalan yang besar telah mengabaikan Ameera.


"Ozan, kamu kenapa? Dan kenapa kamu berdarah?" Zarima sudah panik melihat anaknya mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.


"Nggak apa-apa... Mah aku harus pulang ke Indonesia sekarang." ucapnya dengan panik.


"Tapi kenapa mendadak? Siapa yang barusan datang?" tanya Zarima lagi. Namun, Ozan tidak menjawab. Ia segera masuk ke kamarnya untuk berganti baju, karena baju yang di gunakannya terkena noda darah.

__ADS_1


Ozan pun membasuh wajahnya dengan air di kamar mandi untuk menghilangkan bekas darah di wajahnya. Setelah itu ia mengambil sehelai kemeja di lemari lalu menyambar dompet dan paspornya yang terletak di atas meja, kemudian berjalan dengan tergesa- gesa keluar kamar.


Zarima yang merasa aneh mengikuti langkah Ozan. Ada banyak tanda tanya di pikirannya. Baru tadi pagi Ozan mengatakan masih betah berada di Turki, namun selang beberapa saat ia sudah berubah pikiran.


"Mah aku berangkat ya, aku langsung ke bandara." ucapnya seraya mencium punggung tangan ibunya.


"Tapi Zan, ini ada apa sebenarnya? Mama nggak ngerti." ujar Zarima. Ia mengikuti Ozan yang melangkahkan kakinya ke garasi mobil.


"Nanti aku jelasin, Mah. Sekarang aku harus cepat pulang." ucapnya kemudian.


Ozan pun meminta seorang sopir mengantarkannya ke bandara. Zarima berdiri di depan pintu masuk menatap mobil yang di tumpangi Ozan yang semakin menjauh.


"Ada apa dengan anak itu. Dia bahkan tidak membawa apapun kecuali pakaian di tubuhnya. Apa terjadi sesuatu pada Ameera? " gumam Zarima.


Ia jadi tidak tenang memikirkan Ameera yang sendirian disana. Ia harus segera menelepon ke rumahnya di Indonesia untuk menanyakan keadaan Ameera.


Sesampainya di bandara, Ozan langsung menuju loket pembelian tiket. Namun, karena penerbangan keluar negeri jadi harus rela menunggu lama, karena jadwal keberangkatan yang langsung ke Indonesia pada hari itu hanya ada di malam hari.


Ozanpun duduk di ruang tunggu dengan perasaan tak sabar menanti sambil menatap boarding pass di tangannya.


"Sial. Jadwal keberangkatannya masih sangat lama." umpatnya kemudian. Ia menghela nafas kasar sambil memejamkan matanya.


Bodoh kau Ozan. Istrimu hamil dan kau memperlakukannya dengan sangat kasar. Sekarang Ameera pasti sangat membencimu.


Waktu berlalu terasa sangat lambat bagi Ozan. Saat ini pria itu sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya ke Indonesia. Jika biasanya saat naik pesawat Ozan akan tertidur selama perjalanan, namun kali ini matanya terasa tidak ingin terpejam. Perasaan takut, rindu, dan penyesalan mendalam merasuki jiwanya. Ia berkali-kali mengumpati dirinya sendiri.


Ameeraku....istriku... maafkan aku.


Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, teringat kembali pada ayah Ameera saat meregang nyawa untuk menyelamatkan hidupnya.


Ayah maafkn aku. Aku tidak menjaga amanahmu dengan baik. Aku mengabaikannya padahal di dalam rahimnya ada anakku.

__ADS_1


****


Bersambung


__ADS_2