
Ameera terbangun dari tidurnya karena merasa tenggorokannya kering. Saat membuka mata, ia terkejut.
K**enapa aku di kamar? Tadi kan aku masih di jalan. batin Ameera.
Saat itu Ozan masuk ke kamar dan mendapati Ameera sedang duduk selonjoran di tempat tidur.
"Sayang, Kamu bangun?"
"Haus. "
"Aku ambilkan minum, ya... Tunggu di sini. " Ozan turun ke dapur mengambil air putih untuk Ameera. Lalu kembali ke kamar dengan membawa sebotol air dan gelas.
Ozan lalu menuangkan air ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Ameera. Ameera langsung menenggak air hingga gelasnya kosong.
"Makasih, Mas. " ucap Ameera.
Ozan duduk di sisi pembaringan dan kemudian tersenyum menatap Ameera membuat Ameera salah tingkah.
"Apa? Kenapa melihatku begitu?" Ameera yang salah tingkah merapikan rambutnya yang berantakan.
Ozan pun meraih tangan Ameera dan menggenggamnya, "Ameera, boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Apa?"
"Aku tau kamu pasti belum siap untuk ini. Tapi, kita sudah tiga bulan menikah. Aku tidak mau berdosa dengan mengabaikanmu."
"Em? " Ameera melirik Ozan dengan tatapan bingung.
"Maksudku... bisakah kita memulai semuanya sekarang?"
Memulai apa? Apa jangan-jangan dia mau... aduh, bagaimana ini.
Ameera menelan ludah kasar. Tiba-tiba tubuhnya gemetar. Gadis itu hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Ameera?" panggil Ozan.
"Ah.. ii.. iya..." jawabnya takut-takut.
Ozan menatap wajah Ameera lekat-lekat, membuat Ameera gemetaran, "Bolehkah aku menjadikanmu sebagai istriku yang sesungguhnya mulai malam ini?"
Ameera menghela napas panjang lalu menganggukkan kepala. Ia sadar posisinya sebagai seorang istri yang harus menjalankan kewajibannya.
"Ya sudah. Kamu bersih-bersih dulu. " ucapnya kemudian.
"Kamu?"
"Aku sudah tadi. "
Dia bahkan sudah siap-siap sebelum meminta izinku. Batin Ameera.
Ameera masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Bahkan saat mandipun tubuhnya masih gemetaran membayangkan apa yang akan terjadi.
Beberapa saat kemudian...
Ameera sudah selesai dengan ritualnya. Sedangkan Ozan duduk menyandar di tempat tidur sedang memainkan ponselnya. Saat melihat Ameera, ia menghampirinya dan mendudukkanya di tempat tidur. Ozan memandangi Ameera tanpa berkedip membuat Ameera semakin salah tingkah.
"Kamu sudah siap, kan?" tanya Ozan.
"Iii.. iiya..." jawab Ameera gugup.
Ozan lalu membaca doa dan meniupkan di ubun-ubun Ameera.
Setelah itu, tanpa aba-aba, Ozan mencium bibir Ameera dengan lembut. Ia merasakan Ameera tidak menolak ciumannya. Ozan melepaskan ciumannya sejenak, menatap dalam wajah Ameera. Ozan tersenyum mendapati wajah Ameera yang sudah semerah tomat.
__ADS_1
Kenapa dia jadi sangat menggemaskan? Dan tubuhnya sampai gemetaran begitu. Lucu sekali. batin Ozan.
Ozan pun tidak tahan untuk segera menciumnya lagi. Makin lama makin dalam. Ameera hanya mampu memejamkan matanya menahan perlakuan Ozan padanya.
Saat tangan laki-laki itu mulai menjelajah ke area leher dan dada, Ameera tiba-tiba tersentak kaget.
Ia teringat di saat Ozan memaksanya beberapa waktu lalu. Ameera pun reflek melayangkan tinjunya ke wajah Ozan. Lalu dengan paniknya, Ameera mendorong tubuh Ozan dan memukulinya.
Ozan yang terkejut dengan sikap Ameera berusaha menahan serangan demi serangan yang di lakukan Ameera. Sampai akhirnya Ozan kesal.
"AMEERAA... Apa yang kamu lakukan??" teriak Ozan dengan kesalnya.
"Ups.... " Ameera tersadar kemudian, "Ma-maaf..." kata Ameera seraya menunduk.
Karena kesal, Ozan keluar dari kamar dan masuk ke kamar tamu. Membanting pintu dengan keras.
Sementara Ameera di kamar sedang menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya.
"Hah... Apa yang ku lakukan tadi? Apa aku benar-benar memukulnya? Ah... dia pasti sangat kesal sekarang. "
Ameera duduk di sisi ranjang dengan tubuh bergetar, mengambil botol air dan menuangnya ke dalam gelas, lalu meneguk hingga gelas kosong.
"Hufftt... Kenapa aku jadi gemetaran begini?" gumam Ameera.
Ameera lalu keluar dari kamar hendak menyusul sang suami yang memilih pergi ke kamar tamu karena kesal di tolak. Begitu di depan pintu kamar tamu, ia malah mondar-mandir di depan pintu sambil mulutnya komat-kamit sendiri.
Sekarang aku harus apa? Kalau aku masuk, dia akan memarahiku, kalau aku tidak masuk dia akan lebih marah besok. Ya ampuuun... aku harus apa...
Ameera pun memberanikan diri mengetuk pintu itu. Namun selang beberapa kali mengetuk, tak juga ada jawaban.
Gadisnitupun memilih masuk ke kamar itu. Tampak Ozan sedang duduk menyandar di tempat tidur dengan wajah kesal. Ameera segera mendekatinya lalu duduk di sisi tempat tidur.
"Aku minta maaf ... aku tidak tahu apa yang aku lakukan, aku reflek. " ucap Ameera seraya menunduk malu.
"Mas..." panggil Ameera seraya menarik lengan Ozan.
Mendengar panggilan Mas yang terasa mesra di telinganya membuat Ozan senang bukan kepalang. Panggilan itu bahkan mampu meleburkan kekesalannya pada gadis kecil itu.
"Tidak apa-apa, Yank... Kamu pasti belum siap. Aku yang minta maaf. Sepertinya aku yang terlalu terburu-buru. Kamu pasti ketakutan."
"Kamu mau mencoba sekali lagi? Aku tidak akan macam-macam. " bujuk Ameera sembari menaikkan dua jarinya.
"Jangan. Nanti saja kalau kamu sudah siap. Aku tidak mau memaksamu melakukannya," ucap Ozan seraya membelai puncak kepala Ameera.
"Kan kamu yang bilang, kita harus meruntuhkan tembok penghalang di antara kita,"
"Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap..."
"Aku sudah siap,"
"Yakin?" tanya Ozan.
Ameera hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Ozan pun tersenyum senang, "Baiklah, kalau kamu memaksa, tapi di kamar kita saja ya. Aku tidak suka kamar ini."
Apa? Aku memaksanya? apa tidak salah? batin Ameera.
Karena sudah tidak sabar, Ozan menggendong Ameera menuju kamarnya.
"Kenapa kamu seringan ini? Aku merasa seperti menggendong tumpukan kapas? Makanlah yang banyak!" ucap Ozan membuat Ameera tersipu malu.
Setibanya di kamar, Ozan membaringkan tubuh Ameera di tempat tidur lalu ikut berbaring di sampingnya. Ia kemudian memeluk Ameera dengan sayang.
__ADS_1
Ozan menatap wajah cantik Ameera lekat-lekat, lalubtersenyum penuh arti. Ia memulai dengan mencium bibir Ameera.
Karena Ameera masih sangat kaku, ia mengajarinya beberapa kali hingga membuat Ozan gemas dengan kepolosan istrinya.
"Sayang, cobalah untuk lebih santai. Jangan terlalu tegang," ucap Ozan setelah melihat Ameera yang sejak tadi mencengkr*m seprai karena terlalu gugup padahal dirinya pun sama gugupnya.
Ozan pun kembali memulai dengan memberi kecupan-kecupan hingga membuat Ameera terbuai. Tidak butuh waktu lama, keduanya telah berada di bawah selimut dengan tubuh polos.
Ozan menatap wajah Ameera yang berada di bawah kungkungannya. Nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun membuatnya tidak tahan untuk mengambil mahkota milik Ameera.
"Eeuuunggghhh..." erangan lirih Ameera terdengar ketika Ozan berhasil merobek selaput daranya.
"Sakit, Mas..." lirih Ameera di selingi isakan.
"Maaf, Yank..." Ozan pun terdiam sejenak, memberi Ameera kecupan-kecupan lembut di wajahnya. Saat Ameera sudah mulai hanyut dalam sentuhannya, barulah Ozan memulai gerakannya.
pria itupun menuntaskan hasrat yang dia tahan sejak tadi. Menjadikan Ameera miliknya seutuhnya. Hingga dini hari rintihan terus terdengar di kamar yang temaram itu.
***
Pagi hari...
Ameera terbangun dengan wajah sembab dan rambut acak-acakan. Masih dalam pelukan suaminya, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Ameera berusaha melepaskan pelukan Ozan yang erat, membuatnya terbangun.
"Sayang... kamu sudah bangun, ya..." Karena merasakan sakit bercampur malu, Ameera menutup wajahnya dengan selimut. Ozan pun mencoba membuka selimut yang menutupi wajah istrinya itu.
"Jangan di buka aku malu!" terdengar suara teriakan dari bawah selimut.
"Malu kenapa, Yank? Aku kan sudah melihat semuanya. Apa lagi yang mau ditutupi?" ucapan Ozan malah membuat Ameera semakin malu. Ia lalu menarik Ameera ke dalam pelukannya.
"Aku minta maaf, ya... Jangan menangis lagi. Semalam kamu sudah banyak menangis. Lihat, wajahmu jadi sembab begitu."
"Badanku rasanya sakit," lirih Ameera.
"Iya kan pertama. Besok-besok tidak akan sakit lagi, Yank..." senyum kemenangan hadir di wajah laki-laki itu.
Ozan mengecup kening Ameera berkali-kali sambil meminta maaf atas kelakuannya semalam yang seakan memonopoli Ameera.
Bagaimana tidak, Ozan melakukannya berkali-kali sampai Ameera kelelahan dan tidak kuat lagi. Ia baru melepaskannya setelah Ameera menangis minta berhenti.
***
Pagi itu, Ozan sudah duduk di ruang kerja. Ia terlihat serius membalas email yang di kirim sekretarisnya.
"Rajin banget lu pagi-pagi sudah di ruang kerja. " Ramon muncul dari balik pintu membuyarkan konsentrasinya.
"Ngapain lu pagi-pagi di mari? Bukannya ngantor. " ucap Ozan tanpa menoleh.
"Gue bawa berkas buat lu tanda tangan. Gue tau hari ini lu gak ngantor. Gimana, lu pake jurus Oreo gak?"
"Maksudnya?"
"Pake pura-pura gak tahu lagi. Diputer dijilat, dicelupin!"
"Brengsekkk lu yaaa!" Ozan melempar berkas yang dibawa Ramon tepat di dadanya.
Tidak lama, seorang pelayan datang membawa nampan berisi sarapan untuk Ameera.
"Lu tunggu disini, gue mau bawa sarapan buat Ameera dulu." ucap Ozan.
Sukses kayaknya tuh bocah semalam. Batin Ramon.
__ADS_1
💎💎💎💎