Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Air mata penyesalan


__ADS_3

Sejak tiba di rumah Ameera lebih banyak diam. Malam itu ia sedang melamun di balkon rumah. Menatap langit yang bertabur bintang.


Sekelumit bayang-bayang masa lalu menari-nari di benaknya.


Tidak lama kemudian, Rangga datang menghampirinya. Ia duduk di sebelah Ameera, menatap wajah sahabatnya yang terlihat sedih.


"Kalau kamu kesini untuk meminta aku memaafkannya, lupakan saja. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkannya," kata Ameera seraya terisak.


"Tidak. Aku kesini bukan untuk memintamu memaafkannya. Aku kesini supaya tidak ada penyesalan lagi." Rangga meraih tangan Ameera dan menggenggamnya erat.


"Tidak ada yang perlu aku sesali, Rangga."


Rangga menghapus air mata Ameera yang berguguran, "Kamu tahu, Ameera... Aku juga pernah sangat membencinya. Dia orang pertama yang memisahkan kita. Dia juga memisahkan aku dari orang tuaku selama 18tahun. Bahkan akulah yang telah mengirimnya ke penjara."


"Ajari aku, Rangga! Ajari aku bagaimana supaya aku bisa memaafkannya sepertimu," Ameera semakin terisak.


Mengingat semua perbuatan Hendri membuat jiwanya seolah terbakar. Bahkan darahnya seolah mendidih mengingat hari dimana ayahnya tertembak.


"Aku bisa mengerti dirinya karena aku mengalami apa yang dia alami. Tidak bisa memiliki orang yang kita cintai itu menyakitkan. "


"Tapi kamu dan dia beda, Rangga. Kamu tidak mengorbankan siapa pun Sedangkan dia? Dia telah membunuh ayahku,"


"Apa bedanya Ameera? Sama saja. Hanya saja cara melampiaskannya yang berbeda."


"Kamu mau membelanya?"


"Tidak juga... Saat itu aku tidak bisa melupakanmu. Aku terus hidup dalam bayanganmu, sampai aku lupa ada seseorang yang sudah menungguku selama bertahun-tahun dengan sabar. Karena keegoisanku, tanpa sadar aku menyakitinya dengan sangat dalam. Sekarang dia pergi, dan aku menyesal. Aku memang tidak membunuh fisiknya, tapi aku membunuh perasaannya dengan sangat kejam."


"Kamu masih punya kesempatan untuk merubahnya,"


"Itulah yang ingin aku katakan, Ameera... Papa sekarang sedang sakit. Sejak mengetahui semuanya, Papa tidak bisa makan dengan benar. Papa banyak diam dan mengurung diri di kamar. makanya aku sering bawa Elmira dan Erzan kesana. Maaf kalau aku bawa mereka tanpa izinmu. Aku sudah minta izin abang."


"Aku tidak punya perasaan apapun pada orang itu selain kebencian," ucap Ameera dengan suara bergetar.


"Ameera... Kamu hanya melihat dari satu sisi. Kamu tidak melihat segalanya dari sisi papa. Kalau kamu melihatnya dari sudut pandang papa, aku yakin kemarahanmu akan menghilang."


"Aku hanya tahu dia orang jahat."


"Kalau ada orang yang mengambil milikmu yang paling berharga, apa yang kamu rasakan?" tanya Rangga.


"Apa maksudmu?" Ameera balik bertanya,


"Kamu pasti marah, kan? Itulah yang di alami papa. Dia marah karena merasa miliknya diambil. Ameera, cobalah melihatnya lebih dekat. Kamu pasti akan mengerti. Aku tahu, kesalahan papa sangat besar. Tapi, dia sudah menebus semuanya dengan penderitaannya selama ini,"


"Kalau kamu di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ameera.


"Kalau aku ada di posisimu, aku akan melihat papa dari kacamata Kak Naura. Dia juga sama denganmu, Ameera. Ibunya banyak menderita karena di abaikan oleh papa. Tapi dia memilih melihat papa dari sudut pandang yang berbeda. Karena itulah sekarang dia bisa memaafkannya."


Setelah pembicaraan itu, Rangga pergi meninggalkan Ameera. Tinggallah Ameera merenungi nasibnya seorang diri, dalam kesedihan yang mendalam.


***


Siang itu, Ameera mendatangi Hasan dan Zarima yang sedang bermain bersama Erzan dan Elmira di taman belakang rumah. Mereka sedang main piknik bersama, duduk di atas karpet dengan berbagai makanan ringan.


Keseharian dua orang itu hanya di sibukkan dengan bermain bersama cucu kesayangannya.

__ADS_1


"Papa, bisakah kita bicara sebentar?" kata Ameera.


"Tentu saja anakku. Ada apa?"


"Tapi berdua saja," pinta Ameera.


"Baiklah."


Hasan kemudian merangkul Ameera menuju sebuah kursi di sudut taman itu.


"Ada apa, Nak?" tanya Hasan.


"Papa, bisakah Papa ceritakan padaku tentang persahabatan Papa, ayahku dan Om Hendri?"


Hasan tersenyum mengingat kedua sahabatnya itu. Sahabat yang sudah dianggapnya lebih dari saudara.


"Ayahmu, Hendri dan Papa... Kami bersahabat sejak kecil. Hendri terlahir dari keluarga kaya raya. Tapi dia tidak malu berteman dengan papa dan ayahmu yang saat itu hanya orang biasa."


Mata Ameera mulai berkaca-kaca mendengar cerita itu.


"Kami tumbuh bersama, merasakan kerasnya hidup bersama-sama. Hendri dan ayahmu sangat dekat. Mereka berbagi apapun yang mereka miliki."


"Bagaimana ibu bisa mengenalnya?"


"Ibu dan ayahmu bersahabat sejak kecil. Seperti kamu dan Rangga. Saat beranjak remaja, Hendri mengenal Ratna. Lalu mereka berpacaran lama. Rudilah yang mengenalkan mereka berdua."


Ameera bersandar di bahu ayah mertuanya itu, Hasan lalu merangkul Ameera.


"Ayah menjaga ibu seperti Rangga menjagaku, kan?" tanya Ameera.


"Ya, seperti itulah, Nak. Ayahmu persis seperti Rangga. Mereka sama-sama keras. Karena itulah, mereka menjagamu dengan cara yang sama."


"Ya... Seumur hidupnya, dia hanya bisa mencintai satu orang, yaitu ibumu. Mereka saling mencintai. Sayangnya, takdir hanya menyatukan mereka sesaat, lalu memisahkannya."


"Tapi kenapa dia berbuat jahat?"


"Itu karena hatinya lemah, anakku... Orang jahat adalah orang baik yang merasa tersakiti. Hendri tidak sekuat Rangga. Rangga masih bisa hidup dengan baik setelah kehilanganmu. Tapi Hendri tidak. "


"Tapi kenapa dia tega membunuh ayahku? Bukankah mereka sahabat baik?"


"Anakku, dia sedang menghancurkan dirinya sendiri, bukan orang lain. Kau tahu, setelah kematian ayahmu, dialah orang yang paling menyesal. Dia telah kehilangan semuanya. Wanita yang dia cintai, sahabat terbaiknya, dan... " Hasan menggantung ucapannya, Ameera menjatuhkan air matanya semakin deras.


"Sekarang dia kehilangan anaknya..." lanjut Hasan. Ameera menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ayah mertuanya itu.


Sekarang aku mengerti, Papa... Inilah yang ingin Rangga katakan padaku. Aku benar-benar egois.... Aku hanya melihatnya dari sudut pandangku...


***


Sementara itu, kondisi kesehatan Hendri semakin memburuk. Namun, laki-laki paruh baya itu tetap menolak untuk dirawat di rumah sakit. Ia lebih memilih menghabiskan sisa waktunya di rumah bersama istri dan anaknya.


Naura dan Aliyah hanya dapat menangisinya. Dalam tidurnya, Hendri terus menggumamkan nama Ameera. Ia tenggelam dalam penyesalan yang dalam.


"Papa, makanlah sedikit saja," bujuk Naura.


Hendri yang sudah sangat lemah itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ayolah, Papa. Kalau tidak aku akan memaksa membawa Papa ke rumah sakit," kata Rangga.


"Ba-gaima-na ke-adaan A-meera?" tanya Hendri.


"Ameera baik-baik saja, Papa. Dia sudah pulang ke rumah. Sekarang Papa makan, ya..."


"Rangga... Naura... Kalau Papa pergi, tolong jaga adik kalian. Ameera... Dia banyak menderita karena kesalahan Papa," kata Hendri dengan suara terputus-putus.


Tangis Naura semakin pecah, "Jangan bicara begitu, Papa... Papa akan sembuh. Aku mencarikan dokter terbaik untuk merawat Papa."


"Papa, sekarang Ameera hanya sedang marah. Dia pasti akan menerima Papa suatu hari nanti," kata Rangga yang terus berusaha menumbuhkan semangat di hati pria itu.


Hendri sudah pasrah. Kerinduannya pada Ameera tertahan di hatinya. Rasa bersalah yang besar pelan-pelan sedang membunuhnya.


Aliyah pun hanya mampu menangis, melihat kondisi suaminya yang semakin hari semakin memburuk.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Aliya segera menyeka air matanya dan membuka pintu kamar itu.


Alangkah terkejutnya Aliyah melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Ameera datang bersama suami dan kedua anaknya.


"Ameera..." gumam Aliyah.


"Tante, bolehkah aku masuk?" tanya Ameera.


"Tentu saja, Nak... Masuklah..." kata Aliyah.


Rangga dan Naura saling melirik ketika menyadari kehadiran Ameera. Sementara Ameera berdiri di depan pintu dengan tubuh bergetar.


"Ayo, Kak... kita keluar dulu. Ameera pasti butuh ruang untuk bicara berdua dengan papa," bisik Rangga di telinga Naura.


Rangga pun merangkul Naura meninggalkan kamar itu. Tinggallah Ameera berdua dengan Hendri.


Ragu-ragu, Ameera mendekati pembaringan Hendri. Sementara Hendri yang belum menyadari kehadiran anak bungsunya itu, masih menutup matanya.


Ameera kemudian duduk di sisi pembaringan ayah kandungnya itu. Menatap wajahnya yang pucat. Air mata pun kembali berguguran.


"Papa..." panggil Ameera.


Sayup-sayup Hendri mendengar suara memanggilnya, dengan sisa tenaganya, pria itu membuka matanya. Seketika matanya berair menyadari Ameera sedang berada di sisinya.


"Ameera..." gumam Hendri dengan suara lemah.


Ameera meraih tangan Hendri dan menggenggamnya.


"Papa..."


"Ameera, jangan maafkan Papa... Papa merasa tidak pantas menerimanya. Hukumlah Papa dengan seberat-beratnya. Papa berharap kau selalu bahagia," Hendri berusaha menyelesaikan kalimat itu dengan susah payah.


"Jangan tinggalkan aku, Papa... Aku sudah kehilangan ayah dan ibuku. Apa aku harus kehilangan Papa juga?" Ameera bersandar di bahu Hendri dengan air mata yang tak terbendung.


Semntara Hendri terlihat tersenyum dalam tangisannya.


Anakku, Ameera... Hiduplah dengan bahagia. Maafkan kesalahan Papa yang sudah banyak menyakitimu dan membuatmu kehilangan banyak hal...


****

__ADS_1


BERSAMBUNG*.


KALIAN SETUJU KALAU OM HENDRI DI MATIKAN DALAM KISAH INI???"


__ADS_2