Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Sepenggal kisah manis


__ADS_3

"Yank... kamu lagi ngidam apa? Lagi mau makan sesuatu nggak?" tanya Ozan pada Ameera. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Aku mau kebab yang waktu itu Mas..." jawab Ameera. Wajahnya bahkan sudah berbinar hanya dengan mengingat rasa kebab yang menurutnya sangat enak itu.


"Ya udah, kita kesana, ya..."


Ozan pun melajukan mobil menuju outlet kebab yang menjadi favorit Ameera. Sepanjang perjalanan Ameera bergelayut manja di lengan Ozan. Ia tak lagi menyembunyikan perasaannya. Tidak lama kemudian mereka telah sampai tujuan.


"Belinya berapa yank?"


"Tiga." jawab Ameera singkat.


"Tiga... puluh?" ucap Ozan. Ia ingin meledek Ameera yang pernah membeli kebab tengah malam sebanyak tiga puluh buah.


"Kamu ledekin aku lagi ya? Mau bilang aku rakus."


Ozan terkekeh, sangat gemas dengan tingkah Ameera.


"Nggak yank. Kamu kan nggak makan sendiri, tapi bertiga." Ozan mencoba membujuk Ameera yang mulai merajuk lagi.


"Nah, itu tau. Nggak usah heran kalau aku makan banyak." ucap Ameera kemudian.


Selamat gue, bisa kacau kalau dia ngambek lagi.


Ozan dan Ameera pun turun dari mobil dan memesan kebab kesukaan Ameera. Ia banyak mengobrol dengan pembuat kebab itu. Karena sesama orang Turki, mereka mengobrol menggunakan bahasa Turki, membuat Ameera melongo karena tidak mengerti apa mereka bicarakan. Matanya hanya bergerak bergantian memandangi Ozan dan pembuat kebab itu.


"Yank kamu kenapa?" tanya Ozan.


"Aku nggak ngerti kalian ngomong apa... " jawab Ameera.


"Hehe, nanti aku ajarin bahasa Turki."


Setelah beberapa saat menunggu, kebab pesanan Ameera pun jadi. Ozan membelikan banyak kebab rasa daging dan ayam. Setelah itu mereka pun beranjak pulang. Selama perjalanan Ameera sudah memakan empat buah kebab sampai ia merasa kekenyangan.


Itu lapar apa doyan yank?


****


Di tempat lain Ramon dan Dina sedang makan malam di sebuah restoran. Sejak mengetahui status hubungan antara Dina dan Rangga, Ramon dengan gencar mendekati Dina. Setelah selesai makan, mereka pun mengobrol panjang lebar.


"Din, Rangga marah nggak kalau tahu aku sering ajak kamu keluar?" tanya Ramon.


"Kenapa harus marah, Kak... Aku kan bukan siapa-siapanya Rangga." jawab Dina.


Ramon dapat melihat gurat kesedihan di wajah Dina. Ia tahu betul Dina sangat mengharapkan cinta dari seorang Rangga.


"Apa boleh aku tanya sesuatu?" ucap Ramon.


"Tanyakan saja..."


"Tapi kamu jangan marah, ya?"


"Tergantung kak Ramon tanya apa." Ramon pun terkekeh mendengar ucapan Dina.

__ADS_1


"Memang, Rangga secinta itu ya, sama Ameera?" tanya Ramon kemudian.


Ramon sangat penasaran dengan Rangga yang bahkan sanggup berbuat apapun untuk Ameera. Bahkan sampai sekarang Rangga masih mengirim orang untuk menjaga Ameera.


"Ameera itu segalanya buat Rangga. Bahkan Rangga sanggup melakukan hal semustahil apapun untuk Ameera. Aku nggak ada apa-apanya di banding Ameera di hati Rangga."


Ramon menggenggam tangan Dina erat, dia merasa Rangga sudah tidak adil pada Dina. Ada perasaan sedih melihat Dina yang selalu terlihat murung.


"Apa yang membuatmu bertahan menunggu Rangga?"


Dina tersenyum mendengar pertanyaan Ramon.


"Karena aku melihat caranya menjaga Ameera. Tidak banyak orang seperti Rangga dalam mencintai seseorang. Saat Ameera di jodohkan dengan Kak Ozan, Rangga bisa saja membawa Ameera pergi yang jauh. Tapi dia tidak melakukannya. Dia tidak mau egois. Rangga merelakan Ameera bersama Kak Ozan, walaupun itu menyakitinya. Dia bahkan sangat pandai menyembunyikan perasaannya di depan Ameera dan pura-pura menyukaiku. Karena itulah aku memutuskan menunggu Rangga membuka hatinya untukku." ungkap Dina panjang lebar seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Ramon pun ikut terharu mendengar penjelasan Dina. Ia merasa kalah jauh dari Rangga yang menurutnya hanya seorang anak kecil.


"Tapi bukankah itu nggak adil buat kamu, Din?"


"Itu juga nggak adil buat Rangga kan?"


Ramon tertegun mendengar ucapan Dina. Ia merasa mulai mengerti segalanya.


"Karena kesalahan Om Hendri, Rangga cuma bisa menjadi teman untuk Ameera. Om Hendri membuat jurang pemisah antara Rangga dan Ameera. Itu nggak adil buat Rangga."


"Kamu benar, Din."


Setelah pembicaraan panjang itu, Ramon mengajak Dina jalan-jalan ke pasar malam. Mereka pun mencoba beberapa permainan di sana. Saat itulah Ramon melihat sisi lain dalam diri seorang Dina. Selama ini ia melihat Dina sebagai seorang gadis remaja dengan sifat dewasanya. Namun, malam itu Dina menjelma menjadi sosok anak kecil yang manja.


Dina beberapa kali tertawa terbahak-bahak, berteriak saat menaiki wahana kincir angin kemudian mati lampu, sehingga mereka bergantung di atas sana. Dina pun merasa berbeda saat bersama Ramon. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakannya selama bersama Rangga.


"Takut, Kak. Serem tahu..." tolak Dina.


"Udah, ayo!" Ramon menarik tangan Dina menuju sebuah rumah hantu, sebelumnya ia membeli tiket untuk dapat memasuki rumah tersebut.


Saat memasuki rumah itu, mereka di sambut beberapa hantu yang berusaha menakuti mereka. Dina pun beberapa kali harus menyembunyikan wajahnya di dada Ramon, membuat Ramon gemas.


"Itu orang, Din... bukan hantu beneran kok." kata Ramon.


"Serem tahu, itu poci nya ngapain lagi situ..."


"Poci? Pocong maksudnya?"


"Ih nggak usah di sebutin nama lengkapnya." tutur Dina yang semakin menempel pada tubuh Ramon saking takutnya.


"Hahaha... kamu lucu tahu."


Setelah puas mengelilingi rumah hantu itu, mereka pun keluar dari sana. Walaupun merasa takut, namun Dina sangat menikmati jalan-jalannya bersama Ramon malam itu.


"Makasih, ya kak. Aku benar-benar senang hari ini." ucap Dina saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Sama-sama, Din. Aku ikut senang kalau kamu senang." sahut Ramon.


***

__ADS_1


Ozan sedang duduk selonjoran di tempat tidur dengan laptop di pangkuannya. Ia masih saja sibuk bekerja walaupun sudah pukul 10 malam.


Ameera baru saja keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba perutnya terasa mual, ia pun kembali berlari memasuki kamar mandi. Ozan yang melihatnya segera menutup laptop lalu menghampiri Ameera.


"Huueeekkkk..."


Ameera memuntahkan makanan yang baru saja di makannya. Ozan segera memijat tengkuknya.


"Kamu kenapa muntah yank? Perutnya sakit, ya?" tanya Ozan yang mulai panik melihat Ameera muntah.


"Nggak sakit kok... Obat mual yang dari dokter habis. Makanya aku muntah-muntah lagi."


"Aku panggil dokter ke rumah, ya?"


"Nggak usah, Mas. Aku ngantuk, mau tidur."


"Kalau gitu besok kita check up ke dokter, ya. Kamu kan belum pernah ke dokter lagi." ucap Ozan kemudian.


"Iya, Mas... Aku mau ganti baju. Bau kena muntahan."


Ameera pun berganti pakaian, sedangkan Ozan turun ke dapur membuatkannya susu hangat. Setelah selesai membuat susu, ia kembali ke kamar dan duduk di tempat tidur menunggu Ameera.


"Sini yank..." Ozan merentangkan tangannya memanggil Ameera yang baru saja selesai berganti pakaian. Ameera pun segera naik ketempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di pelukan suaminya itu.


"Minum susunya dulu..." ucapnya seraya menyerahkan susu coklat buatannya. Ameera meminumnya dengan sekali teguk.


"Makasih, Mas..."


"Enakan perutnya?" tanya Ozan.


"Lumayan."


Ozan pun kembali memeluk Ameera lalu melakukan kegiatan favoritnya, mengecupi setiap bagian wajah Ameera. Entah mengapa, Ozan begitu suka melakukannya, wajah Ameera yang polos telah menjadi candu baginya.


"Mas... maafin aku ya..."


"Kamu kenapa, yank. Sepanjang malam minta maaf terus. Kan aku nggak marah sama kamu."


Ameera kembali menangis mengingat apa yang di lakukannya pada suaminya selama ini. Terlebih karena Ozan begitu sabar menghadapi tingkahnya yang aneh. Ozan menghapus air mata Ameera dengan menjilatnya.


"Asin tahu..." ucap Ozan di selingi kekehan.


"Kamu jorok, Mas."


"Apanya yang jorok, sayang? nggak tuh."


Ozan pun membaringkan Ameera dan memeluknya di bawah selimut.


"Aku kangen kamu..." lirih Ameera.


Hadeehhh kemana aja bocah ini. Sekian lama baru pertama kalinya ngaku rindu.


"Aku juga kangen sama kamu, Yank." sahut Ozan yang semakin mengeratkan pelukannya. Mereka pun berciuman dengan mesra. Untuk pertama kalinya sejak menikah Ameera menunjukkan perasaannya pada Ozan tanpa malu-malu dan gengsi.

__ADS_1


Mereka pun kembali melakukan apa yang telah jarang mereka lakukan karena drama salah paham yang terjadi di antara mereka. Dini hari, karena kelelahan Ameera tertidur lelap dengan tubuh polos di dalam pelukan Ozan.


****


__ADS_2