Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Rangga yang sesungguhnya


__ADS_3

Suasana semakin panik di lokasi penculikan, ketika Rangga baru saja tiba. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri sang ibu yang sejak tadi terus menangisi Ameera.


"Mama..." panggil Rangga pada Zarima. Ia lalu memeluk ibunya itu, mencoba menenangkannya.


"Ameera... Cepat cari Ameera, Deniz... Mama takut terjadi apa-apa dengannya." ucap Zarima seraya terisak.


"Iya, Mah... Aku akan cari dimana pun itu, Mama tenang, ya... " ucap Rangga seraya memeluk Zarima. "Tapi papa sama abang mana?" tanya Rangga ketika tidak melihat kakak dan ayahnya di sana.


"Mereka sedang bicara dengan penjaga makam." jawab Zarima seraya menyeka air matanya.


"Rangga menurut kamu siapa yang melakukan ini?" tanya Aliyah.


"Nggak tahu mah... Papa di penjara, Kak Naura di rumah sakit. Sepertinya nggak mungkin mereka..."


"Tapi siapa lagi yang mau mencelakai Ameera kalau bukan mereka?" tanya Zarima.


Rangga bingung harus menjawab apa. Ia tidak memikirkan siapapun yang mungkin menculik Ameera kecuali jika ada seseorang yang ingin memeras keluarganya mengingat keluarga Chandra Jaya yang kaya raya. Karena Hendri dan Naura tidak mungkin bisa melakukannya mengingat posisi mereka sekarang.


Tidak lama kemudian Ozan dan Hasan datang menghampiri mereka.


"Bagaimana, Bang?" tanya Rangga pada Ozan.


"Nggak ada petunjuk. Kita ke rumah sakit saja menunggu Bima. Hanya dia petunjuk satu-satunya. Biar urusan di sini di kerjakan Ramon."


Mereka kemudian menuju rumah sakit tempat Bima di rawat, namun saat sampai di rumah sakit tersebut, Bima belum juga tersadar.


Mereka kemudian menunggu di sebuah ruangan. Ozan sejak tadi sudah sangat gelisah, mondar-mandir di depan kamar perawatan tempat Bima berada, berharap pria itu cepat sadar.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan itu memberitahu bahwa Bima telah sadar. Ozan segera masuk ke ruangan itu di susul ayahnya.


Pria yang baru saja sadar dengan banyak luka di tubuhnya, terlihat masih sangat lemah.


"Bima, apa yang terjadi?" tanya Hasan pelan,


"Tuan..." ucap Bima ketika melihat Hasan berdiri di dekatnya.


"Siapa yang melakukan ini padamu?"


"Saya tidak tahu, Tuan... Tiba-tiba saja beberapa orang pria mendatangi saya dan menyerang, hanya itu yang saya ingat."


"Apa kau pernah melihat orang itu?" tanya Hasan lagi.


"Tidak, Tuan... Saya tidak mengenal mereka," jawab Bima. Seketika ia teringat pada Ameera yang tadi masih berada di dalam pemakaman. "Bagaimana dengan Nona Ameera, tadi Nona masih di dalam ketika saya di serang." ucap Bima mulai khawatir.


"Ameera hilang." sahut Ozan, membuat Bima terkejut.

__ADS_1


"Nona hilang?" Bima sudah mulai gelisah, namun Ozan segera menenangkannya.


"Tenanglah, Bima... ini bukan salahmu. " ucap Ozan seraya menepuk bahu pria itu.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak menjaga Nona dengan baik," ucap Bima penuh sesal.


"Tenanglah, Bima... itu bukan salahmu." ucap Hasan mencoba menenangkan pria itu.


Tidak lama kemudian, mereka keluar dari ruangan itu dengan wajah hampa. Sekarang tidak ada satupun petunjuk tentang keberadaan Ameera. Ozan yang sudah sangat frustasi itu menjatuhkan tubuhnya di kursi.


Beberapa saat kemudian, ponsel milik Rangga berdering. Ia lalu mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya. Tampak nama Rizal tertera di layar ponselnya.


"Halo, Zal..."


"Rangga, gawat... Gue barusan dapat laporan dari rumah sakit, Naura kabur..." tutur Rizal membuat Rangga terlonjak.


Mendengar laporan itu tubuh Rangga langsung bergetar.


"Kapan?"


"Kemarin pagi. Tapi mereka baru tahu kalau Naura nggak ada di kamarnya."


"Zal, Ameera hilang.." ucap Rangga,


"Hilang gimana maksud lu?" tanya Rizal.


"Ya udah.."


Dugaan Rangga tidak salah lagi, sudah pasti Naura yang melakukan semua ini. Dengan wajah memucat, ia mengakhiri panggilan itu.


Ozan yang menyadari perubahan wajah Rangga langsung mendekati adiknya itu.


"Bang, Kak Naura kabur dari rumah sakit. Pasti dia yang bawa Ameera pergi." ucap Rangga dengan suara bergetar.


Bagai tersambar petir di siang bolong, mereka yang berada di ruangan itu seketika terbelalak. Naura adalah seseorang yang nekat. Bahkan gadis itu sempat berusaha membunuh Ameera dengan menabraknya jika saja Rangga tidak datang tepat waktu.


Zarima menjadi histeris, ia menangis sejadi-jadinya. Aliyah berusaha menenangkannya dengan menggenggam tangannya. Sedangkan Ozan sudah merasa kakinya lemas bagai tak bertulang, ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada istri dan anak-anaknya.


Ozan bahkan tidak dapat menyembunyikan ketakutannya, matanya sudah mulai berair. Sedangkan wajah Hasan tergambar jelas raut kemarahan, seolah ingin menelan hidup-hidup siapapun yang ada di sana sore itu.


"Kemana kira-kira Naura membawa Ameera?" tanya Hasan dengan tatapan membunuh.


"Aku akan cari tahu, Pah. Naura nggak mungkin melakukannya sendiri, dia pasti melibatkan beberapa orang suruhannya untuk membantunya. Dan aku tahu semua anak buah mereka." ucap Rangga penuh keyakinan.


Setelah itu, datang lah Rizal, sahabat sekaligus orang kepercayaan Rangga. Pria itu datang bersamaan dengan Ramon.

__ADS_1


"Sorry, gue baru tahu kalau Naura kabur dari rumah sakit jiwa." ucap Rizal pada Rangga.


"Ya sudah, yang penting sekarang mencari kemana dia bawa Ameera. Zal, kumpulkan semua anak buah Hendri. Pastikan tidak ada yang lolos. Gue mau mereka ada di rumah malam ini juga. Tidak terkecuali, termasuk Jack." perintah Rangga pada Rizal.


"Rumah lu, yang mana nih...?" tanya Rizal seraya menggaruk kepalanya. Pasalnya ia bingung rumah mana yang di maksud Rangga. Apakah rumah baru atau rumah lamanya.


"Yang jelas bukan rumah Hendri Agung Darmawan." ucap Rangga dengan kemarahan yang meluap.


"Ram... lu ikut, gue, ya.." pinta Rizal pada Ramon.


"Ya udah, ayo cepat." sahut Ramon.


Setelah mendapat perintah dari Rangga, mereka pun segera meninggalkan rumah sakit itu menuju ke rumah Hendri. Rumah yang dulu ia tempati bersama mendiang Maya dan Naura untuk mengumpulkan semua pengawalnya.


"Ayo, kita tunggu kabar selanjutnya di rumah." ucap Rangga pada orang-orang yang ada di ruangan itu.


Mereka segera bergegas pulang, sebelumnya Ozan telah menyiapkan dua orang untuk menjaga Bima yang masih di rawat intensif di rumah sakit.


****


Dengan langkah kaki yang belum sempurna, Rangga mondar-mandir di ruang tamu menunggu kehadiran para pengawal Hendri yang jumlahnya puluhan itu.


Sedangkan Hasan dan Ozan masih duduk menunggu apa yang akan di lakukan Rangga selanjutnya. Sementara Zarima, sedang beristirahat di kamar karena syok dengan apa yang terjadi belakangan ini.


Tidak lama kemudian, Rizal dan Ramon datang bersama beberapa orang yang tersisa di rumah Hendri.


Rangga segera keluar menuju halaman rumah tempat para pengawal itu di kumpulkan. Pria itu terlihat begitu menakutkan, seolah dapat membunuh seseorang hanya dengan menatapnya.


"Kenapa cuma segini?" tanya Rangga pada Rizal ketika melihat hanya ada sedikit pengawal yang ikut dengan mereka.


"Sepertinya lu benar, Naura yang menculik Ameera. Sebagian dari mereka ikut membantu Naura. " sahut Rizal.


"BRENGS*KKK!!" Rangga mengumpat dengan keras.


Ia kemudian menarik kerah baju salah satu pria berbadan besar yang berdiri di hadapannya. "Kemana mereka pergi membawa Ameera?" tanya Rangga dengan nada penuh kemarahan.


"Saya tidak tahu, Tuan Muda..." ucap pria itu terbata-bata.


Karena tidak dapat lagi menahan emosinya yang meluap-luap itu, Rangga melayankan tinjunya pada pria itu beberapa kali. Membuat Ozan dan Hasan yang berdiri di belakang sana bergidik ngeri. Mereka baru tahu jika Rangga bisa semengerikan itu jika dalam keadaan marah.


Tentu saja, Rangga bahkan sanggup melawan seluruh dunia jika itu untuk melindungi Ameera. Ia mampu melakukan hal semustahil apapun untuk sahabat kecilnya itu. Sepertinya seorang Omar Deniz Chandra Jaya memang terlahir untuk menjadi malaikat pelindung bagi Ameera.


Rangga kemudian menanyai satu-persatu pria di hadapannya, namun tidak ada yang mengetahui kemana Naura membawa Ameera.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


jangan lupa gaes terus dukung author dengan meninggalkan like dan komen... heheheheh


__ADS_2