Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Honeymoon


__ADS_3

4 Tahun Kemudian...


Hari demi hari bergulir begitu cepat. Banyak hal yang telah berubah menjadi lebih baik. Rangga telah menjadi seorang pengusaha muda yang merintis perusahaan miliknya sendiri, sementara Dina masih di sibukkan dengan kuliah kedokterannya.


Sementara Hendri masih menjalani sisa hukumannya setelah melalui sidang putusan 4 tahun lalu.


Tidak terasa usia Erzan dan Elmira sudah memasuki 4 tahun. Dua bocah kembar itu semakin menggemaskan.


"Erzan, Elmira... Cepat turun, sarapan..." panggil Zarima yang menunggu cucu-cucunya untuk sarapan pagi.


Tidak lama kemudian, terdengarlah suara tangisan Erzan. Dengan langkah cepat, Elmira berlari menuruni tangga, membuat jantung Zarima seolah akan melompat keluar.


"Jangan lari-lari nanti jatuh, El," ucap Zarima.


"Nggak jatuh, Oma," jawab Elmira dengan suara lucunya.


"Itu kakak kenapa nangis?" Gadis kecil itupun terdiam mendengar pertanyaan sang oma. Jika Erzan sudah menangis, sudah pasti pelakunya adalah Elmira. Bocah itu sama barbarnya dengan sang ibu, bahkan lebih. Gadis kecil itu baru saja menghamburkan mainan lego yang baru saja di rakit oleh kakaknya dengan susah payah.


"Kakak nggak mau ganti baju, Oma, makanya nangis..." jawab Elmira.


"Benar... bukan Elmira yang bikin kakak nangis?"


"Bukan, tadi El nggak sengaja berantakin mainan lego-nya. Jadi kakak nangis," Setelah menyadari jawabannya, gadis kecil itu segera membekap mulutnya sendiri karena keceplosan.


"Ya sudah... Ayo, ikut Oma sarapan?" Zarima menggandeng cucu kesayangannya itu menuju ruang makan dengan tawanya yang tertahan melihat tingkah Elmira.


"Oma... Ayah sama ibu kapan pulang?" tanya Elmira yang sudah di tinggal Ayah dan ibunya selama 3 minggu.


Untuk pertama kalinya sejak pernikahannya, Ozan dan Ameera pergi berbulan madu. Mereka sedang merayakan bulan madu pertamanya dengan berkeliling dunia.


"Minggu depan, sayang... El kangen ya?" tanya Zarima seraya meletakkan sandwich di piring bocah itu.


Anak balita itu hanya menjawab dengan mengganggukkan kepalanga. Ia sudah sangat rindu dengan sang ibu.


"Bentar lagi ayah sama ibunya El pulang. Jangan sedih, ya... Nanti Om Rangga ajak jalan-jalan ke taman safari," ucap Rangga seraya mengusap kepala bocah itu.


Tidak lama kemudian Erzan datang sambil menangis dalam gendongan Imel.


"Lho Erzan kenapa?" Hasan langsung menggendong cucu lelakinya itu.


Bocah laki-laki itu baru saja akan mengadukan perbuatan adik kembarnya yang merusak beberapa mainan kesukaannya. Namun, saat melirik adiknya sekilas, Elmira seperti memberi sebuah ancaman, membuat Erzan tidak berkutik.


"Erzan mau pergi ke tempat ayah sama ibu... hiks hiks," ucap Erzan dengan isakannya.


Zarima yang hilang ide untuk membujuk cucunya itu langsung mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Video call sama ibu aja ya... Mau nggak?" tawar Zarima.


"Mau Oma..." jawab Erzan.


Zarima langsung melakukan panggilan video ke ponsel Ozan. Wanita paruh baya itu lupa jika Ozan dan Ameera saat ini sedang berada di kota Venice, Italia, yang memiliki perbedaan waktu 5 jam lebih dari kota tempatnya tinggal. Artinya, disana masih dini hari. Di jam seperti itu sudah pasti Ozan sedang melakukan pekerjaan pentingnya bersama Ameera.


***


Di dalam sebuah kamar hotel yang sedang penuh dengan desahan itu, dua orang manusia sedang di mabuk cinta. Aktivitas mereka harus terganggu oleh deringan ponsel milik Ozan.


"Mas, ponselnya bunyi loh," kata Ameera yang sedang berada di bawah kungkungan Ozan.


"Biarin aja, tanggung, Yank." Ozan mengabaikan panggilan itu dan kembali melancarkan aksinya. Menikmati indahnya surga dunia-nya. Ponsel pun berdering kembali.


"Jawab dulu. Kalau penting gimana? Mungkin itu dari rumah,"


Ozan sudah mulai frustasi mendengar ponsel yang terus berdering itu, sementara hasratnya belum terpuaskan.


"Nanti aja, Yank. Kamu tega sama aku..." Wajah Ozan sudah sangat memelas, memohon agar Ameera mengabaikan panggilan itu.


"Bentar aja, Mas. Kali itu dari anak-anak..." Ameera langsung mendorong Ozan agar turun dari tubuhnya. Lalu mengambil jubahnya. Ia segera meraihl ponsel yang terletak di atas meja itu. Sementara Ozan terlihat sangat kesal karena aktivitasnya harus terganggu.


"Mama video call, Mas. Ini pasti Er sama El," Ameera lalu menyalakan lampu kamar, merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Ozan kemudian menjawab panggilan itu.


Di layar ponsel sudah ada wajah Erzan yang sedang menangis.


"Er kenapa, Nak?" tanya Ameera.


"Ibu sama Ayah kapan pulang?"


"Nggak lama lagi, kok. Jangan nangis lagi, ya?" Ameera berusaha membujuk anak lelakinya itu.


Ozan yang sudah bisa menebak apa yang terjadi jika anak lelakinya menangis langsung mengambil ponsel itu.


"Elmira mana? Kasih dulu, coba!" ucap Ozan pada Erzan.


Zarima lalu memberikan ponsel itu pada Rangga agar di dekatkan pada Elmira. Sontak bocah itu membulatkan matanya. Ia tahu, ayahnya akan memarahinya karena ulahnya.


"Assalamu alaikum, Ayah..." Elmira berusaha menunjukkan senyum semanis madunya. Tidak biasanya bocah bar-bar itu bersikap manis seperti ini, membuat Ozan terlonjak saking terkejutnya.


"Wa'alaikum salam anak Ayah... Elmira habis ngapain? Kenapa kakak nangis?" tanya Ozan dengan suara lembut.


"Nggak di apa-apain?" jawab Elmira polos.


"Benar?" wajah Ozan sudah terlihat mengintimidasi membuat nyali Elmira menciut.

__ADS_1


Dengan terpaksa Elmira mengakui perbuatannya barusan.


"El nggak sengaja rusakin mainan lego-nya kakak,"


"Terus di apain lagi?"


"Pukul," jawab bocah itu dengan suara nyaris tak terdengar seraya menunduk. Rangga yang berada di sampingnya menahan tawanya melihat keponakannya itu. Ia merasa Elmira benar-benar jelmaan Ameera dalam bentuk kecil.


"Jadi kakak di pukul lagi?" Ozan mulai akan memarahi anak gadisnya, namun Rangga langsung mendekatkan ponsel ke wajahnya.


"Halo, Bang... Wuih seksi amat," Rangga meledek Ozan yang sudah menebak apa yang sedang di lakukan kakaknya itu sebelum mendapat panggilan video.


"Minggir lu, mana bocah bar-bar itu?"


"Gitu aja emosi, Bang."


Rangga yang selalu melindungi Elmira ketika akan kena semprot sang ayah, harus menggantikan keponakannya itu menerima omelan Ozan.


"Udah ah, lanjutin aja pekerjaan penting abang," tanpa aba-aba Rangga langsung memutuskan sambungan panggilan video itu. Elmira menghela napas lega.


"Dimatiin... Dasar," ucap Ozan saat melihat panggilan videonya berakhir.


Ozan kemudian melirik Ameera yang sudah terlelap di bawah selimut.


"Malah tidur," Ia mendekati Ameera, mencoba membangunkannya, "Yank, bangun...! kok kamu tidur sih, kan belum selesai..."


Ozan terus berusaha membangunkan Ameera, hingga Ameera terbangun dengan kesal.


"Aku ngantuk, Mas..." ucap Ameera dengan suara seraknya.


"Kamu beneran tega sama aku, Yank. Orang urusannya belum selesai, kamu tinggal tidur,"


"Mas ini manusia bukan sih, nggak ada puasnya, soal begituan," Ameera lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Ya udah... Kamu mau, aku jajan di luar?" Ameera membulatkan matanya mendengar ucapan suaminya yang terdengar seperti mengancam. Ia langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Coba saja, aku potong-potong sosisnya, terus aku jadikan makanan untuk ikan arwana peliharaan Mas di rumah." Ameera mengancam tak kalah sengit.


"Lanjut donk kalau nggak rela aku jajan di luar, biar kamu dapat pahala juga." Ozan kembali merayu hingga akhirnya Ameera pasrah. Ozan pun kembali menerkam Ameera dengan buasnya.


Bulan madu keliling dunia itu hanya di jadikan topeng oleh laki-laki itu. Yang sebenarnya, ia hanya ingin lebih banyak menghabiskan waktunya berdua di kamar dengan sang istri tanpa gangguan anak-anaknya.


****


Bersambung.

__ADS_1


Modus ternyata babang Ojan.


__ADS_2