Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Bukti kejahatan


__ADS_3

Ozan sedang mondar-mandir di depan ruang operasi. Sudah beberapa jam Rudi menjalani operasi untuk mengeluarkan beberapa peluru yang bersarang di tubuhnya. Tampak Pakaian Ozan penuh dengan noda darah milik Rudi. Ia kemudian duduk di kursi panjang didepan ruang operasi.


Beberapa kali menghela nafas panjang. Dapat di lihat gurat kecemasan di wajahnya. Sementara di ruangan perawatan lain, ada Ramon yang sedang mendapatkan penanganan karena terdapat banyak luka sobekan di tubuhnya.


Di sudut kursi panjang satunya ada Ameera yang duduk dengan tatapan kosong. Rangga berjongkok di depan Ameera. Sedang berusaha menguatkannya. Di genggamnya tangan Ameera dengan erat, tapi Ameera tidak bergeming sedikitpun. Ia masih diam membisu dengan tatapan hampanya. Ada sejuta pertanyaan hinggap di benaknya.


"Menangislah, Ameera," kata Rangga yang masih menatap wajah Ameera, ia tahu Ameera sedang berusaha menahan agar tidak menangis.


"Air mataku tidak mau keluar, Rangga." sahut Ameera dengan suara lemah.


"Kenapa?"


"Ayah bilang, aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku di depan orang lain, aku tidak boleh menangis."


"Kamu butuh kita ke tempat lain? Supaya kamu bisa menangis?" tanya Rangga.


Ameera menggeleng pelan, "Aku mau tunggu ayah di sini."


Rangga beranjak dari posisi berjongkoknya, kemudian duduk di kursi disamping Ameera. Ia merangkul bahu Ameera dan menyandarkan kepala Ameera di bahunya.


Ia membelai rambut Ameera. Rangga pun mulai menceritakan hal-hal lucu tentangnya dan ayah Ameera, yang dulu selalu berdebat untuk hal-hal sepele di depan Ameera.


"Kamu tahu, Ameera... Ayahmu adalah orang yang kuat. Aku sangat kagum padanya. Dia juga menjagamu dengan nyawanya. Kamu adalah hartanya yang paling berharga."


Mendengar cerita Rangga, Ameera mulai menangis, hanya isakan demi isakan yang terdengar sampai sesegukan.


Ozan melirik Ameera dan Rangga. Entah kenapa ada rasa tidak suka melihat calon istrinya mendapat perhatian dari laki-laki lain. Akan tetapi ia segera membuang jauh perasaan tidak sukanya.


Laki-laki itu sadar, Ameera lebih membutuhkan Rangga, karena hanya dirinya yang mampu menguatkan Ameera.


Pintu ruang operasi pun terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan. Ozan langsung menghampiri dokter pria tersebut. Sementara Ameera masih duduk, karena kakinya terasa lemas, ia masih bersandar di bahu Rangga, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rangga. Ameera seperti tidak ingin mendengar berita buruk yang akan di sampaikan dokter.


"Bagaimana dokter"? tanya Ozan dengan cemas.


"Kita bisa bicara di ruangan? Mari ikut saya. " jawab dokter itu.


"Rangga, titip Ameera sebentar ya." ucap Ozan.


Rangga mengangguk pelan. Dokter dan Ozan pun masuk ke sebuah ruangan tak jauh dari Rangga dan Ameera berada.


Rangga mengeratkan pelukannya, mencoba menguatkan Ameera. Mengecup puncak kepala Ameera dengan sayang.


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ucap Rangga.


Setelah bicara dengan dokter, Ozan keluar dari ruangan dengan wajah sedih. Ia berjalan dengan langkah gontai. Tidak ingin Ameera melihat kecemasannya, Ozan berusaha bersikap senormal mungkin.


Rangga mampu melihat ada yang lain di wajah Ozan setelah keluar dari ruangan dokter. Ia perlahan melepaskan pelukannya dari Ameera dan menghampiri Ozan.


"Bagaimana?" bisik Rangga.


"Kita bicara disana, gue gak mau Ameera dengar. " Ozan menunjuk kursi yang agak jauh dari Ameera.

__ADS_1


Ameera melihat Rangga dan Ozan memilih bicara di kursi yang agak jauh darinya sudah bisa menebak, ada yang tidak beres dengan ayahnya. Tapi ia diam saja, yang memang tidak sanggup mendengar berita buruk tentang ayahnya.


"Ayahnya Ameera kritis, sebentar lagi di pindahkan ke ruang ICU. " ucap Ozan seraya menahan tangisnya. Bahkan suaranya terdengar begitu lirih.


Rangga menghela nafasnya kasar. Ada raut emosi yang tertahan di wajahnya.


"Dokter bilang, kecil kemungkinan untuk bertahan. Beberapa organ vitalnya rusak akibat peluru." imbuh Ozan yang membuat Rangga tidak dapat menahan air matanya.


"Ameera..." Rangga menggumamkan nama Ameera dengan pelan.


Aku tidak akan pernah memaafkannya. Dia sudah membuat Ameera kehilangan ibunya, sekarang ayahnya. Aku sangat malu mengakuinya sebagai orang tuaku. Tunggulah Hendri! Nikmati dulu kepuasanmu, lihat apa yang akan aku lakukan pada mu nanti. Kau tidak tau kan apa yang aku punya untuk bisa menghancurkanmu. "batin Rangga yang penuh emosi.


"Tolong jaga Ameera.... gue ada urusan sebentar." ucap Rangga.


"Nggak lu suruh juga gue pasti jagain dia. Lu lupa dia calon istri gue?" sahut Ozan.


"Ya sudah gue pergi dulu. Nanti gue kembali." Rangga menepuk bahu Ozan lalu pergi tanpa berpamitan pada Ameera.


Rangga mengambil ponsel dari saku celananya. Kemudian menelepon seseorang.


"Hallo." terdengar suara seorang pria di seberang sana.


"Temui gue di apartemen gue, sekalian lu bawa semua data dan bukti-bukti yang kuat. Gue mau sekarang. Gak ada bantahan. " perintah Rangga penuh penekanan.


Rangga berlari kecil menuju parkiran rumah sakit lalu segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju apartemennya.


****


Hasan dan Zarima berlari di lorong rumah sakit menuju ruang ICU tempat Rudi di rawat. Saat mendapat berita, Hasan yang sedang berada di luar kota, memutuskan segera kembali walaupun pekerjaannya belum selesai.


"Ozan. Bagaimana keadaannya?" tanya Zarima cemas


"Ini salahku Mah... Harusnya aku yang tertembak. Ayah lagi-lagi mengorbankan nyawanya untuk melindungiku. Bagaimana aku akan menghadapi Ameera nanti. " ucap Ozan penuh sesal.


Zarima memeluk Ozan yang sedang menangis.


"Dimana Ameera, Nak?" tanya Zarima kemudian.


"Di dalam... "


Hasan masuk ke ruangan ICU lebih dulu.


Saat memasuki ruangan, dilihatnya Ameera duduk di kursi sebelah ranjang pasien, menatap dalam wajah ayahnya. Tampak wajah sedih dan terpukul melihat ayahnya selemah ini dan hanya bertahan karena bantuan alat-alat medis.


Hasan mengusap kepala Ameera.


"Ayahmu orang yang kuat, Nak. Jadi kamu juga harus kuat." ucap Hasan.


Ameera hanya menjawab dengan anggukan.


Ameera lalu keluar dari ruangan, karena hanya satu orang yang boleh masuk di ruangan itu.

__ADS_1


Hasan menggenggam tangan Rudi. "Rud, lagi-lagi aku berhutang nyawa padamu. Bagaimana aku bisa membayarnya? Berjuanglah, Rud. Kau mau melihat anak-anak kita menikah kan? Lusa resepsi pernikahan mereka, kau tidak boleh menyerah. Aku tidak mau menikahkan mereka tanpamu."


Sesaat kemudian, jari Rudi bergerak. Memberi isyarat bahwa dia dapat mendengarkan apa yang di katakan Hasan.


Dokterpun masuk ke ruangan itu memberikan beberapa suntikan melalui selang infus.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Hasan


Dokter yang sebenarnya merupakan sahabat Hasan itupun menjelaskan kondisi Rudi yang sebenar-benarnya. Membuat Hasan memejamkan matanya sejenak. Hatinya terasa sakit mendengar kondisi sahabatnya yang mungkin tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Hasan pun membisikkan sesuatu ke telinga sahabatnya yang sedang koma tersebut.


"Baiklah, Rud. Kita akan menikahkan mereka besok pagi di ruangan ini. Kau harus kuat, setidaknya kau ada di pernikahan mereka." bisik Hasan seraya menggenggam erat tangan Rudi.


***


Sementara itu di apartemen Rangga, seorang pria datang menemui Rangga.


"Ini gue bawa yang lu minta. " ucap seorang pria.


Rangga yang sedang duduk di sofa ruang tamu apartemennya mendongakkan kepalanya. Tampak Rizal, sahabatnya yang menyerahkan beberapa amplop coklat.


"Ini udah semua?" tanya Rangga seraya meraih amplop itu.


"Ini saja sudah bisa memenjarakan bokap lu puluhan tahun." Kata Rizal.


Braaakkkk


Rangga menggebrak meja dengan keras.


"Gue mau yang bisa penjarain dia seumur hidup! " bentak Rangga pada Rizal.


Rizal berdecak, "Yakin lu?Jangan memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi."


Rangga berdiri lalu menarik kerah baju Rizal dengan penuh emosi.


"Oke... oke... " Rizal mengangkat tangan tanda menyerah. Lalu mengambil sebuah benda di saku celana nya.


"Ini rekaman percakapan bokap lu sama orang kepercayaannya, si Jack. Lu bisa dengerin sendiri nanti. Bukti itu bisa bikin bokap lu di penjara seumur hidup." ungkap Rizal kemudian.


"Bagus!!".


Rangga kemudian masuk ke kamarnya, mengambil sebuah koper kecil. Lalu menghapiri Rizal yang duduk di ruang tamu. Ia menyerahkan koper kecil itu pada Rizal. Pria dewasa yang kira-kira seumuran Ozan itu pun membuka koper itu. Tampak setumpukan uang di dalamnya. Rizal menatap datar pada tas berisi uang tersebut.


"Lu pikir gue bantuin lu karena ngarep di bayar ?" tanya Rizal yang kesal dengan Rangga.


"Gue bukan lagi nyogok lu b*go', gue mau lu kabur keluar negeri dulu sampai keadaan aman. Kalau lu ketahuan sama Hendri, lu bisa di bunuh. Gue akan urus ini dulu sampai Hendri masuk penjara." sahut Rangga penuh penekanan.


Rizal yang sebenarnya adalah sahabat Rangga adalah salah satu pengawal Hendri, ia adalah mata-mata yang di kirim Rangga untuk mengawasi gerak-gerik Hendri. Melalui Rizal inilah, Rangga tau semua rencana Hendri. Bahkan penyerangan hari ini Rangga ketahui setelah mendapat info dari Rizal. Sehingga dengan cepat Rangga menuju ke lokasi penyerangan. Melalui Rizal pula, Rangga mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Hendri. Dan kabar baiknya, Hendri sama sekali tidak curiga bahwa Rizal adalah orang suruhan Rangga.


"Thank's banget ya bro! Kalau ada apa-apa lu hubungi gue." kata Rangga seraya menepuk bahu Rizal.


"Sip lah. Gue jalan dulu." sahut Rizal.

__ADS_1


Pria itupun meninggalkan apartemen Rangga. Sementara Rangga masih membaca beberapa data dan fotoyang di berikan Rizal padanya. Rangga menghela napas kasar. Pikirannya hanya tertuju pada Ameera.


****


__ADS_2