Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Happy Ending


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari bahagia yang tidak akan pernah terlupakan bagi Dina.


Dengan balutan gaun indah berwarna putih tulang, yang semakin memancarkan kecantikannya. Ia sedang di rias oleh Naura yang merupakan seorang perias handal.


"Kakak, setelah Dina, rias aku, ya..." pinta Ameera dengan manjanya.


"Tunggulah, setelah Dina aku masih harus merias beberapa orang lagi."


Ameera mendekat pada Dina, meneliti dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Kamu seperti seorang bidadari sungguhan. Calon suamimu pasti tidak akan berkedip saat melihatmu," ucap Ameera dengan senyum bahagianya.


"Kak Naura benar-benar seorang perias yang handal. Aku hampir tidak percaya kalau yang di dalam cermin itu aku."


"Bisa saja..."ucap Naura seraya terkekeh, "Dina sudah selesai. Sekarang giliranmu ibu-ibu cerewet," kata Naura seraya menarik lengan Ameera. Naura pun mulai memoles wajah Ameera dengan make up.


"Kakak tahu, aku harus kabur dari rumah pagi-pagi sekali hanya untuk di rias olehmu. Jadi buatlah aku secantik mungkin," pinta Ameera.


"Ah, ibu hamil itu memang merepotkan. Keinginannya aneh-aneh... Bukankah tante Zarima sudah menyewa seorang perias lagi untuk merias kalian?"


"Aku maunya sama Kakak." jawab Ameera tanpa bisa di tawar lagi.


Selang beberapa menit, Ameera telah selesai di rias oleh kakanya itu. Ameera pun bergegas pulang.


"Aku pulang dulu, ya... Aku mau melihat pengantin pria yang galau itu sudah siap atau belum," ucap Ameera lalu menyambar tasnya yang berada di atas meja.


Dengan segera, Ameera mengambil langkah seribu membuat Naura berteriak.


"AMEERAA!! Jangan lari-lari!"


"Iya," sahut Ameera yang sedang menuruni tangga.


"Hah, adik kecilku itu sangat berapi-api menyiapkan segalanya."


Ameera pun segera pulang ke rumah dengan di antar seorang sopir.


****


Sementara itu di rumah keluarga Chandra Jaya, semua orang sudah rapi dengan setelan jas masing-masing dengan warna yang sama. Ramon terlihat sangat tampan dalam balutan jasnya.


Sedangkan Rangga masih duduk di kursi dengan wajah kusutnya.


"Deniz, ayo cepat siap-siap! Rambutmu kenapa berantakan begitu?" ucap Zarima. Ia lalu menarik lengan anaknya itu dan membawanya ke kamarnya.


Zarima pun mulai merapikan penampilan Rangga sehingga terlihat sangat tampan.


"Mama, kenapa warna jas ku berbeda dengan yang lain? Kalian sangat kompak mengenakan warna jas yang sama. Sedangkan aku menggunakan jas berbeda. Aku merasa seperti anak tiri. Lihat, Bang Ramon saja pakai jas yang sama dengan Papa dan Abang," protes Rangga panjang lebar.


Ameera yang baru saja masuk ke kamar itu langsung menyela," Siapa suruh jual mahal. Kamu bilang tidak mau datang. Makanya kami tidak pesan jas untukmu. Jadi pakailah jas yang ada, iya kan, Mah...?"


Zarima hanya menyahut dengan tawanya yang khas, "Bagaimana, Nak... Kamu tidak mual lagi, kan?"


"Sudah tidak lagi Mama..." jawab Ameera seraya memegangi perutnya yang masih rata. Kehamilan keduanya membuat Zarima sangat berhati-hati menjaganya.


"Yank, kenapa kamu pakai heels? Ganti ah! Kalau kamu terpeleset bagaimana?" ucap Ozan yang ikut masuk ke dalam kamar itu.


"Untuk hari ini saja, Mas... Kan tidak apa-apa..."


"Aku tidak mau tahu, ganti dengan sepatu yang rata."


Rangga pun tertawa puas melihat Ozan yang sangat over protective pada Ameera.


"Memang enak kena omelan..." kata Rangga seraya terkekeh membuat Ameera meraih bantal dan menimpuk wajahnya.


"Syukurin!" kata Ameera lalu keluar dari kamar itu mengikuti Ozan yang sudah keluar lebih dulu.


***


Ramon dan Ozan sedang mengobrol di ruang keluarga ketika Rangga datang menghampiri mereka dan ikut duduk di sofa. Ozan yang jahil itupun menggoda adiknya itu.


"Wow, kalau saja ini bukan hari pernikahan Ramon, aku pasti akan mengira ini hari pernikahanmu. Kamu terlihat lebih sempurna dari pengantin prianya," ucap Ozan, membuat Rangga membulatkan matanya.


"Bang, selamat ya... Semoga kalian selalu bahagia," ucap Rangga pada Ramon.


"Terima kasih, dengan ucapan yang sama," jawab ramon.


Zarima dan Hasan pun datang menghentikan obrolan mereka, "Ayo cepat kita berangkat. Nanti terlambat," ucap Zarima.


Mereka pun menuju halaman rumah tempat mobil yang akan membawa mereka ke hotel terparkir.


Hendri menggandeng Erzan dan Elmira menuju mobil bersama Hasan dan Ramon. Sementara Ozan dan Rangga naik ke mobil yang sama dengan Zarima dan Ameera.


"Suram amat itu muka," kata Rizal yang sedang menyetir.

__ADS_1


"Diam lu!" ucap Rangga.


Sepanjang jalan memasuki halaman hotel itu, di penuhi ucapan selamat dan karangan bunga dengan simbol D dan D.


Rangga menatap semua karangan bunga itu dengan wajah sedih. Sementara Ameera terus berceloteh berusaha menghiburnya.


Mobil berhenti tepat di lobby. Hasan dan Hendri yang sudah tiba lebih dulu sudah menunggu di depan lobby. Saat Rangga keluar dari mobil itu, Zarima dan Hasan menggandengnya memasuki ballroom hotel mewah itu, membuat Rangga kebingungan.


"Mama sama Papa kenapa?" tanya Rangga heran.


"Sudah diam!" ucap Hasan.


Sedangkan Ameera menggandeng lengan suaminya, senyum pun tak lepas dari wajah cantiknya.


Saat memasuki ruangan itu, Rangga membulatkan matanya melihat seluruh keluarganya berkumpul di dalam ruangan itu, di tambah keluarga dari Turki yang hadir di acara itu.


Kenapa mereka semua ada di sini?


Tiba-tiba matanya berair saat melihat di layar proyektor tertera tulisan nama Dina dan Deniz. Diikuti foto-foto mereka berdua.


Rangga pun teringat beberapa bulan lalu, saat Naura meminta tolong dirinya dan Dina menjadi model untuk pembukaan salon cabang terbarunya.


Ternyata itu semua adalah kerja sama keluarga mereka untuk membuat kejutan untuknya.


Hasan dan Zarima menggandeng Rangga menuju sebuah tempat yang sudah di siapkan. Seorang pria yang merupakan wali Dina sudah menunggu di sana.


"Mama, Papa ini apa?" tanya Rangga.


"Jangan banyak tanya, ikuti saja prosesnya," jawab Hasan.


"Awas saja kalau kamu ijab qabulnya tidak benar, Mama coret nama kamu dari kartu keluarga!" Zarima seperti memberi sebuah ultimatum untuk anak bungsunya itu.


Jadi mereka semua sengaja melakukan ini? Kenapa aku sama sekali tidak curiga dengan keanehan mereka.


Rangga pun duduk berhadapan dengan pria yang menjadi wali nikah Dina. Suasana haru pun terlihat di dalam ruangan itu.


Sebelum mengucapkan janji sucinya, Rangga terlebih dahulu di beri wejangan oleh pria tersebut.


"Ananda Omar Deniz Chandra Jaya bin Hasan Chandra Jaya, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan ananda Dina Aulia Anjani Binti Gunawan Adikusuma dengan mahar seperangkat alat shalat tunai karena Allah," kata sang wali nikah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dina Aulia Anjani Binti Gunawan Adikusuma dengan mahar tersebut tunai karena Allah," Suara Rangga mengucapkan ijab qabul menggema di setiap sudut ruangan itu.


Semua orang yang hadir dalam acara itu menyerukan kata sah di ikuti dengan do'a. Rangga pun menyalami kedua orang tuanya dengan perasaan haru.


Dina yang sedang berada di ruangan lain meneteskan air matanya mendengar suara Rangga yang lantang mengucapkan ijab qabul dengan menyebut namanya.


"Selamat ya, Din... Sekarang kamu sudah resmi jadi seorang istri," ucap Naura lalu memeluk Dina.


"Terima kasih, Kak... Ini semua karena dukungan kalian semua. sehingga aku bisa meyakinkan hatiku untuk menerimanya kembali."


"Jangan menangis, nanti make up nya luntur. Kamu mau Ameera marah-marah," kata Naura seraya terkekeh.


"Dina, Mama ikut bahagia untuk kamu. Benar kan yang Mama pernah bilang, kesabaranmu tidak akan sia-sia, Nak..." kata Aliyah. Wanita paruh baya itu lalu mengecup kening Dina dengan sayang.


"Terima kasih, Mama... Sekarang aku tidak merasa sebagai anak yatim piatu lagi. Aku punya kalian semua." Dina lalu memeluk Aliyah.


Ramon kemudian masuk ke dalam ruangan itu, "Ayo, Din... Sudah siap?" tanya Ramon.


"Sudah," jawab Dina.


"Erzan, Elmira kalian mau pengangin ekor gaunnya tante Dina, kan? Seperti yang di film-film," tanya Ramon.


"Mau, Om..." jawab mereka bersamaan.


Mereka pun keluar dari ruangan itu menuju tempat resepsi berlangsung.


Rangga dengan segala kesempurnaannya sudah berdiri di atas karpet merah. Ameera datang dan menggandeng tangannya, ia mendampingi sahabatnya itu menuju panggung.


"Aku akan membalasmu, lollypopku yang nakal...!! Kamu sudah bekerja sama dengan Dina mengerjai aku selama bertahun-tahun," ucap Rangga dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menangis!! Jelek, tahu...!" jawab Ameera.


"Terima kasih, ya. Kejutanmu ini luar biasa. Luar biasa membuat jantungku seperti di pasangi bom waktu." Ameera pun hanya menjawab dengan kekehan.


"Selamat, ya...! Aku akan selalu berdo'a semoga kamu dan Dina bahagia untuk selama-lamanya sampai maut memisahkan kalian," ucap Ameera membuat Rangga menjatuhkan air mata bahagianya.


"Peluk aku," pinta Rangga.


Ameera pun memeluk dengan sayang adik iparnya itu, kemudian mereka saling menghapus air mata satu sama lain.


Persahabatan mereka yang terjalin sejak kecil membuat mereka memiliki ikatan yang kuat.


"Terima kasih karena selama ini kamu sudah melindungiku dengan nyawamu sendiri. Sekarang waktunya kamu untuk bahagia. Janjimu pada ayahku sudah lunas," ucap Ameera.

__ADS_1


"Kita akan bahagia bersama," kata Rangga lalu kembali memeluk Ameera, "Kamu akan selamanya punya tempat yang istimewa di hatiku."


"Aku tahu," sahut Ameera.


Perjuangan Rangga melindungi Ameera adalah bukti betapa berharganya Ameera baginya. Dan kini, Rangga menemukan cintanya yang sudah setia menunggunya selama delapan tahun lamanya.


Ameera pun turun dari panggung setelah memberikan sebuah kotak berisi cincin yang sudah di pesan khusus untuk Dina dan Rangga.


Alunan suara biola begitu terdengar indah saat Dina memasuki ruangan itu. Ramon menggandeng Dina melewati karpet merah menuju panggung, dengan Erzan dan Elmira yang terlihat begitu menggemaskan berada di belakang memegangi ekor gaun yang di pakai Dina.


Semua orang yang hadir berdecak kagum melihat kecantikan sang pengantin wanita, tak terkecuali Rangga yang terpaku melihat kecantikan Dina yang bagai bidadari.


Ramon pun menyerahkan tangan Dina pada Rangga, yang di sambut haru oleh lelaki yang selama bertahun-tahun itu begitu galau.


Rangga akhirnya memakaikan cincin berlian di jari manis Dina lalu mengecup keningnya dengan lembut.


"Aku akan menghukummu karena sudah berani mempermainkan aku selama ini," kata Rangga.


"Aku akan menerima hukuman itu dengan senang hati, suamiku," kata Dina seraya tersenyum.


Rangga pun memeluk Dina, melepaskan semua kerinduannya selama ini.


"Aku mencintaimu, Dina... Sangat mencintaimu," bisik Rangga dalam pelukannya.


"Aku juga. Maafkan aku, ya... Sudah membuatmu menunggu selama empat tahun," kata Dina yang lalu melepaskan pelukannya.


"Aku yang minta maaf, sudah banyak menyakitimu. Mulai sekarang aku berjanji akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Sampai kamu akan lupa dengan semua kesedihan yang aku buat."


Acara pernikahan itupun berlangsung sangat meriah. Para tamu bergantian memberi selamat pada pasangan itu.


Ozan menghampiri Rangga dan memeluk adik kesayangannya itu dengan erat hingga Rangga kesulitan bernafas.


"Selamat, ya Mister Galau... Akhirnya lepas masa lajang juga lu," kata Ozan yang ingin meledek adiknya itu.


"Abang jahat, ah... Eh, Bang Ramon mana tadi?" tanya Rangga.


"Ape lu nyari gue?" Ramon tiba-tiba datang dengan seorang wanita cantik, yang merupakan sekretaris Ozan. Rangga pun terkejut melihat Ramon dan wanita itu yang terlihat bergandengan mesra.


"Tanggung jawab lu, demi full acting ngerjain lu gue harus tahan amukan dari dia," ucap Ramon seraya menunjuk wanita di sebelahnya dengan ekor matanya.


"Pantas aja setiap hari aku lihat mereka berdua makan bersama di kantin kantor. Ternyata mereka ada hubungan terlarang," kata Rangga yang ingin meledek Ramon.


Pasalnya peraturan di perusahaan CJG memang melarang sesama karyawan berpacaran.


"Tenang, bulan depan salah satu dari mereka gue pecat!" kata Ozan, " bulan depan giliran mereka nikah,"


Akhirnya, setelah membalas menunggu selama empat tahun, Rangga memperoleh kebahagiaannya. Kesabaran Dina yang rela menunggu Rangga akhirnya berbuah manis.


Acara itu pun di tutup dengan sesi foto keluarga. Dua keluarga yang telah bermusuhan selama puluhan tahun, hari itu menyatu menjadi sebuah keluarga. Kebahagiaan hari itu pun menjadi sangat sempurna.


Tiba-tiba...


"Huwaaaaaa Ayah... Ibu......" terdengar suara tangisan Erzan memecah suasana bahagia di ruangan itu...


Ozan pun sudah menebak, jika Erzan sudah menangis, makan penyebabnya hanya satu. Ozan pun kembali dibuat gemas,


"ELMIRAAAA!!!" teriak Ozan, membuat mereka yang ada di panggung tertawa lantang.


****


TAMAT


Eng ing eenggg.... tamat ya gaes... unch unch....


Sedih aku tuh udah tamat... Mau tau gimana malam pertama Rangga dan Dina??? Anda penasaran? Apakah akan seperti malam pertama babang Ojan dan Ameera yang harus di pukuli dulu?? wkwkwkwk


PIKIR SENDIRI.... wkwkwkw


sampai jumpa.. terima kasih dukungannya.


Kalian ikhlas ridhho kan kalau ceritanya sampai sini ajeh.... Udah happy ending.


Bye bye


Yang baca Karya author yang judulnya MYSTERIOUS HUSBAND maaf ya... author ganti judul, karena ternyata banyak karya dengan judul yang sama. Jadi author ganti menjadi


"PENJARA CINTA SANG MAFIA" yang suka baca novel sambil nangis bombay silakan merapat.


Zian dan Kanaya menunggu


NoTe:


Jangan lupa, besok pagi ada quiz....

__ADS_1


__ADS_2