Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Bayi kembar


__ADS_3

Hari demi hari begitu cepat berlalu. Tak terasa kehamilan Ameera sudah memasuki usia 6 bulan. Karena hamil anak kembar, perutnya pun sudah mulai membuncit. Tubuh Ameera yang tadinya kurus menjadi semakin berisi, karena Ozan selalu memaksanya makan banyak.


Selama beberapa bulan ini Ozan banyak mengajarinya hal-hal yang jarang di lakukan Ameera. Mulai dari bangun tidur mengerjakan shalat subuh, berolahraga pagi, Ozan pun mengajarkan Ameera mengaji. Ozan dengan sabar membimbing Ameera, sehingga Ameera menjadi lebih dewasa. Bahkan kelakuan barbarnya selama ini seperti hilang di telan bumi.


Jika di awal pernikahan Ameera sangat cuek dengan Ozan, maka sekarang ia berubah total. Ameera menjadi perhatian namun terkadang sangat manja pada suaminya itu. Bahkan kadang ia memasak sendiri untuk Ozan. Walaupun masakannya tidak seenak masakan para pelayan di rumahnya, namun karena istrinya yang memasak khusus untuknya, maka bagi Ozan itu adalah masakan terenak di dunia.


"Nggak enak ya, Mas?" tanya Ameera di sela-sela sarapannya.


"Enak, yank. Aku suka rasa masakan kamu."


"Benar?"


"Kalau nggak enak, nggak aku makan, yank." ucapnya seraya membelai wajah Ameera.


"Maaf mas. Kamu harus menderita makan masakan aku yang nggak enak. Masakan mbak Imel jauh lebih enak dari buatanku."


Mendengar ucapan Ameera, Ozan tertawa. Bagaimana mungkin dia berpikir Ozan menderita memakan masakannya. Ozan melihat wajah Ameera yang mendadak sedih. Ia pun segera menghabiskan nasi goreng buatan istrinya itu, lalu mengajaknya kembali ke kamar. Ozan mendudukkan Ameera di sofa sedangkan ia berjongkok di hadapannya. Ia kemudian mencium tangan Ameera.


"Sayangku... kamu mau masak buat aku saja, aku sudah sangat senang. Buat aku masakan kamu adalah masakan terenak di dunia. Aku tahu beberapa bulan ini kamu sangat berusaha menjadi istri yang baik. Dan itu luar biasa. Kamu tumbuh tanpa seorang ibu, ayah mendidik kamu dengan keras seperti mendidik anak laki-laki. Kalau kamu nggak bisa melakukan apa yang wanita di luar sana lakukan, itu bukan kesalahanmu. Dan aku tahu, mempelajari itu semua nggak mudah buat kamu. Walaupun begitu, kamu tetap berusaha, itu nilai plus buat kamu." ucap Ozan panjang lebar.


Ameera tersentuh mendengar ucapan suaminya. Matanya kembali di penuhi cairan bening.


"Aku sayang kamu, Mas..." ucap Ameera seraya menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Ozan.


"Aku juga sayang sama kamu, yank." sahut Ozan seraya menghapus air mata yang menetes di pipi Ameera. Mereka pun saling berpelukan.


"Kamu siap-siap, ya... kita kan mau check up hari ini." Ozan membelai perut buncit Ameera kemudian menempelkan telinganya disana. Beberapa saat kemudian, ia merasakan gerakan dari dalam perut Ameera. Wajahnya pun berbinar karena pertama kalinya merasakan gerakan anaknya.


"Mereka bergerak, yank..." ucap Ozan yang masih menempelkan telinganya disana. "Mereka ngapain di dalam?"


"Main bola kali..." jawab Ameera asal.


"Lucu banget, yank. Kamu berasa nggak mereka gerak-gerak?"


"Berasa lah, orang tinggalnya di perut aku..."


Mereka pun segera berangkat ke rumah sakit tempat Ameera akan melakukan pemeriksaan.


****


Mereka sedang duduk mengantri di depan ruangan dokter.


"Yank... mau makan sesuatu nggak sambil nunggu. Nomor antrian kamu kan masih lama?" tanya Ozan yang sedang duduk bersedakep di samping Ameera.


"Nggak mau. Aku masih kenyang, ini perut bukan karung, Mas..." Merasa heran karena setiap ada waktu luang, suaminya itu akan menawarinya makan sesuatu.


Ameera memutar matanya kesana-kemari memperhatikan beberapa wanita lain yang mengantri bersamanya. Tidak lama kemudian ia menyadari beberapa wanita sedang menatap suaminya. Ia pun berbalik menatap Ozan, meneliti setiap inci wajah pria kebulean itu.


Pertanyaan pun muncul dalam benak Ameera, mengapa wanita di luar sana begitu senang memandangi wajah suaminya. Ia menelan ludah kasar, menyadari betapa tampannya wajah Ozan.


Kulitnya putih, Hidungnya mancung, matanya biru, rambutnya cokelat, dan bibirnya... oh tidaakkk...


Ozan yang sedang asyik memainkan ponselnya tidak menyadari perubahan wajah Ameera.

__ADS_1


Tiba-tiba...


"Mas aku lapar." ucapnya dengan suara manja.


Ozan yang kaget lalu mengerutkan alisnya.


"Bukannya tadi kamu bilang masih kenyang?"


"Sekarang aku lapar."


Perasaan belum ada lima menit kamu bilang itu perut bukan karung. Sekarang sudah minta makan lagi. Aneh kamu yank. Batin Ozan.


"Ya udah yuk, kita ke cafe aja ya?" ajaknya pada Ameera.


Mereka pun berjalan meninggalkan beberapa wanita yang mengantri di sana. Ameera meraih tangan Ozan dan memintanya merangkulnya. Sesuatu yang aneh bagi Ozan, karena selama ini Ameera tidak pernah mau di perlakukan seperti itu di depan umum.


Mereka pun duduk berdua di cafe yang berada di dalam rumah sakit. Ameera memesan spaghetti keju dan jus orange sedangkan Ozan hanya memesan dalgona coffee. Karena masih kenyang Ameera hanya mengaduk makanannya dengan garpu.


"Kok nggak di makan, yank? Katanya lapar... kamu nggak suka?" tanya Ozan saat melihat Ameera tidak memakan spaghetti pesanannya.


"Suka kok."


Aku masih kenyang. Aku ajak kamu kesini biar nggak di liatin sama beberapa wanita tadi. Aku kan cemburu. Cuma aku yang boleh memandangi wajahmu lama-lama. Ameera membatin.


"Terus kenapa di aduk-aduk doang." tanyanya heran.


"Aku masih kenyang. Mas." Ameera yang keceplosan mengatakan dirinya masih kenyang langsung mengulum bibirnya sendiri. Membuat Ozan semakin merasa heran dengan kelakuan istrinya itu. Ingin tertawa namun di tahannya.


Setelah hampir dua jam duduk di cafe, mereka pun kembali mengantri di depan ruangan dokter. Tersisa beberapa orang lagi yang mengantri. Ameera dan Ozan pun duduk di kursi tunggu.


Ameera pun segera memasuki ruangan dokter di temani Ozan.


"Ibu Ameera, usia nya 19tahun, ya?" tanya dokter itu dengan ramah.


"Iya dok." jawab Ameera.


"Usia kehamilan 26 minggu, kita USG dulu, ya. Silakan naik ke tempat tidur." pinta dokter.


Seorang perawat membantu Ameera berbaring dan memakaikan gel di perutnya. Dokter wanita itupun menggeser alat diatas perut Ameera. Tampak di monitor dua bayi yang aktif bergerak.


USG 4D memungkinkan mereka melihat wajah bayi dengan lebih jelas, Ozan berbinar melihat gambar anak-anaknya di monitor. Pria itu semakin bahagia saat dokter memberitahu bahwa anaknya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Saking bahagianya, ia sampai mau menangis.


Namun kebahagiaan itu berubah menjadi kepanikan saat dokter mengatakan akan memberikan suntikan vaksin ** untuk Ameera.


Ameera yang sangat takut dengan jarum suntik itupun menjadi panik.


"Aku nggak mau di suntik, Mas. Pulang aja." Ameera merengek pada suaminya.


"Nggak sakit, yank di suntik itu. Jarumnya kecil, kok." ucap Ozan yang sedang berusaha membujuk Ameera.


"Nggak mau!" Ameera memberontak, berusaha turun dari tempat tidur, namun Ozan menahannya.


Ozan pun memberi kode pada dokter agar memberikan suntikan pada Ameera dengan berbaring. Sementara Ozan akan mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


Ozan memposisikan wajahnya berhadapan dengan Ameera yang sedang berbaring, sementara dirinya berdiri di samping tempat tidur pasien, ia membelai lembut rambut Ameera. Lalu membisikkan sesuatu.


"Yank.. kamu tau nggak, Ramon sama Dina sering ketemuan berdua?" bisik Ozan.


Mendengar ucapan Ozan membuat Ameera terkejut. Ozan tahu Ameera akan menjadi kepo jika itu berhubungan dengan sahabatnya itu. Pasalnya setahu Ameera, Dina adalah kekasih Rangga.


"Hah, Ngapain ketemuan berdua?" tanya Ameera


"Mana aku tahu, yank. Ramon bilang mereka jalan-jalan hampir tiap malam lho."


"Kamu yakin, Mas?" Ameera mengerutkan alisnya karena tidak yakin dengan ucapan suaminya.


"Orang Ramon sendiri yang bilang." sahut Ozan.


"Rangga tahu nggak?"


"Mana aku tahu. Nggak tahu kali si Rangga."


Ozan malah mengalihkan pikiran Ameera dari jarum suntik dengan mengajaknya bergosip ria. Dokter dan perawat itu menahan tawanya melihat tingkah pasangan suami-istri itu. Tanpa Ameera sadari, dokter telah selesai memberikan suntikan di lengan kirinya.


Dokter kemudian memberi kode pada Ozan bahwa Ameera sudah di suntik. Ozan pun membetulkan posisinya dan membangunkan Ameera, lalu mereka kembali duduk di kursi. Sedetik kemudian Ameera kembali teringat pada jarum suntik. Wajahnya kembali berubah pucat.


"Aku mau pulang, Mas. Aku nggak mau di suntik." Ameera kembali merengek manja pada Ozan agar cepat pulang. Sementara Ozan dan dokter itu menahan tawanya.


"Iya, nggak usah di suntik... Dok, istri saya nggak usah suntik, ya... " ucap Ozan pada dokter.


Dokter itupun tersenyum. Lalu membuat resep untuk Ameera yang harus di tebus di apotek.


****


Sepanjang perjalanan pulang Ameera terus bertanya pada Ozan mengenai hubungan Ramon dan Dina, membuat Ozan pusing sendiri. Pasalnya tadi ia hanya asal bicara untuk mengalihkan perhatian Ameera.


"Mas... dari tadi aku tanya nggak di jawab."


"Apanya, sayang?" tanya Ozan sambil menyetir.


"Kak Ramon sama Dina hubungannya gimana sih?"


"Mana aku tahu... Aku nggak mau ikut campur. Itu kan bukan urusan kita." jawab Ozan.


"Nah, tadi kamu yang ajakin aku gosipin mereka. Sekarang kamu bilang bukan urusan kita."


"Ya memang mereka sering ketemuan, yank. Tapi kalau soal ketemuannya ngapain, aku nggak tahu." ucap Ozan kemudian.


"Bisa di gorok Kak Ramon sama Rangga kalau dia tahu, Mas."


"Biarin. Biar tahu rasa si Ramon." ucap Ozan.


Mereka pun telah sampai di rumah dengan sejuta pertanyaan di benak Ameera.


**BERSAMBUNG


**TOLONG JANGAN DIBACA. ALUR DAN PENULISAN BERANTAKAN. BANYAK KATA YANG KURANG TEPAT. INI BELUM DIREVISI

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏**


__ADS_2