Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Laporan Rizal


__ADS_3

Sementara itu di kota London...


Rangga sedang di sibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Sejak menggantikan Hendri memimpin perusahaan, ia menjadi sangat sibuk. Di tambah dengan jadwal kuliahnya yang padat membuatnya kerepotan membagi waktu.


Halbert Murray, seorang pria paruh baya yang merupakan orang kepercayaan Hendri. Setelah tertangkapnya Hendri, pria Inggris tersebutlah yang banyak membantu dan mengajari Rangga menjalankan perusahaan yang di tinggalkan Hendri. Rangga yang memang sangat cerdas dengan cepat menangkap apapun yang di ajarkan Halbert.


Ponsel milik Rangga pun berdering. Tampak nama Rizal tertera di layar ponsel.


"Halo, Zal..."


"Gue ada laporan penting." ucap Rizal di seberang sana.


"Ameera baik-baik aja kan?" Rangga langsung menanyakan Ameera. Karena baginya hanya Ameera orang paling penting di muka bumi ini.


"Ameera baik-baik aja kok." jawab Rizal.


"Terus ngapain lu telepon gue kalau Ameera baik-baik aja. Ganggu aja lu, gue sibuk tahu..." sahut Rangga kesal. Ia seperti tidak tertarik mendengar apapun, jika itu bukan tentang Ameera.


"Kakak lu, si Naura. Sepertinya dia punya rencana jahat buat Ameera dan Ozan." tutur Rizal.


Wajah Rangga langsung berubah serius mendengar perkataan Rizal.


"Maksud lu, rencana apa?"


"Gue belum tahu. Gue dapat laporan ini dari orang yang gue suruh ngawasin si Jack. Naura nyuruh Jack melakukan sesuatu, tapi untungnya si Jack masih takut sama lu. Makanya dia nolak."


Rangga menghela napas kasar lalu berdiri di depan jendela besar di ruangannya.


"Tolong lu awasin mereka. Jangan sampai kecolongan. Gue nggak mau Ameera atau Ozan sampai kenapa-kenapa." perintah Rangga.


"Iya... lu tenang aja. Lu nggak ada rencana balik ke Indo dalam waktu dekat?" tanya Rizal kemudian.


"Belum. Jadwal gue masih padat. Antara kuliah sama urusan kantor. " jawab Rangga.


"Oh ya... Gue juga mau laporan tentang Dina. Gue dapat info dia sering ketemuan berdua sama asistennya Ozan." Mendengar itu, Rangga mengerutkan alisnya. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


Dina sering ketemu sama asistennya Bang Ozan? Apa jangan-jangan, Bang Ramon ya?


"Ramon maksud lu?" tanya Rangga.


"Iya. Si Ramon... "


Ngapain mereka ketemuan. Rangga membatin.


"Ya udah, biarin ajalah. Yang penting Dina baik-baik aja udah cukup buat gue. Lu awasin aja Dina, jangan sampai kenapa-kenapa." ucap Rangga kemudian.


"Ya udah... itu aja. Gue tutup ya..."


"Hmmm..."


Panggilan pun terputus. Rangga kembali harus menebak kira-kira rencana jahat apa yang akan di lakukan Naura pada Ameera. Tiba-tiba hatinya tidak tenang memikirkan Ameera yang jauh di sana. Ingin rasanya pulang ke Indonesia, namun dia tidak bisa mengabaikan kantor dan kuliahmya begitu saja.


****


Sore harinya Ameera baru saja meninggalkan halaman kampus, ia berniat akan menjemput Ozan di kantornya. Ia pun melajukan mobil dengan santai menuju kantor Chandra Jaya Group.


Tak lama kemudian, Ameera sudah sampai di gedung tinggi menjulang tersebut.

__ADS_1


"Mbak, Mas Ozan ada kan?" tanya Ameera pada resepsionis.


"Pak Ozan sedang ada meeting di luar, apakah anda sudah membuat janji?" sahut sang resepsionis.


"Harus buat janji lagi, ya?" tanya Ameera kemudian.


Rupanya sang resepsionis tidak mengenali Ameera, sebab hari ini ia datang dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dari saat pertama kali mengunjungi kantor itu.


Tidak lama kemudian, Ozan datang bersama Ramon. Mereka yang sedang asyik mengobrol tidak melihat Ameera di sana. Resepsionis itupun hanya membungkuk tanda hormat saat melihat Ozan datang. Ameera menoleh dan melihat Ozan melewatinya begitu saja


"Mas..." panggil Ameera.


Ozan pun menoleh mencari sumber suara. Ia terkejut melihat Ameera berdiri di depan meja resepsionis. Ia pun menghampiri Ameera.


"Sayang... kamu nggak bilang mau datang." ucapnya seraya mengecup lembut kening Ameera.


Resepsionis itupun terkejut melihat Ozan memeluk Ameera. Ia memperhatikan wajah Ameera dan baru menyadari kekeliruannya.


Mati aku. Batinnya.


"Harus laporan dulu, ya...?"


"Ya nggak juga, yank. Aku kan nggak tau kamu mau datang. Untung meetingnya cepat selesai." ucapnya kemudian.


Ozan pun mengajak Ameera masuk ke lift tanpa mempedulikan resepsionis yang sudah berwajah pucat. Takut jika istri bos mengadukannya. Dia sudah dua kali bersikap ketus pada Ameera.


Ramon yang baru saja mau memasuki lift di usir oleh Ozan.


"Lu naik lift lain aja." pintanya pada Ramon.


"Eh gila, tujuan kita sama. Ngapain pakai pisah segala. Bos jahan*m lu." Ramon berapi-api memaki Ozan yang seenaknya menyuruhnya naik lift lain.


"Brengs*k."


Ramon pun terpaksa menaiki lift lain dengan wajahnya yang kesal.


"Gue harus cepetan nikah ini, biar nggak jadi penonton melulu. Kalau saja si Paula nggak brengs*k, udah gue." gerutu Ramon di dalam lift, "kenapa gue jadi mikirin Dina ya..." gumamnya pelan.


Ramon pun teringat pertemuannya dengan Dina belakangan ini. Sejak kembalinya Ameera dan Ozan, ia sering mengajak Dina bertemu berdua dengan berbagai alasan. Sejenak melupakan Rangga yang mungkin akan marah besar jika ia mendekatinya. Ramon mulai tertarik pada Dina ketika mereka satu pesawat saat perjalanan pulang dari Turki menuju Indonesia beberapa bulan lalu, saat menghadiri resepsi pernikahan Ozan dan Ameera.


Tak lama kemudian, Ramon telah sampai di lantai teratas gedung itu. Ia pun egera masuk ke dalam ruangannya yang berada di sebelah ruangan Ozan.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ozan sedang mendatangani beberapa berkas sebelum akhirnya Ameera merengek minta pulang. Ia merasa bosan karena sejak tadi Ozan sibuk dengan pekerjaannya.


"Bentar yank. Dikit lagi." ucap Ozan.


Beberapa saat kemudian, Ozan telah selesai dengan pekerjaannya. Ia pun mengajak Ameera pulang.


"Sini kunci mobilnya." ucap Ozan seraya menengadahkan tangan.


"Kamu nggak mau di sopirin sama aku?" tanya Ameera dengan wajah polos yang di buat-buat.


"Kamu pikir aku bodoh? Kamu mau ngerjain aku kayak tadi pagi lagi kan... " sahut Ozan.


"Kamu nuduhnya parah, Mas."

__ADS_1


"Ya udah sini kuncinya cepat! " Ozan pun mulai menunjukkan sisi galaknya, membuat nyali Ameera menciut. Dengan terpaksa ia memberikan kunci mobilnya ke tangan Ozan.


Ozan mendudukkan Ameera di sofa dan ia berjongkok di depannya. Mata mereka pun saling bertemu.


"Yank... kamu masih dendam sama aku karena perbuatanku sama kamu?" tanyanya seraya membelai lembut wajah Ameera.


"Dikit..."


"Kamu belum puas ngerjain aku?" tanyanya lembut.


Mendapat pertanyaan itu, Ameera tertunduk, tidak berani menatap mata Ozan. Ia menyadari kelakuannya yang selalu mengerjai Ozan sudah melebihi batas normal. Sementara Ozan selalu mengalah dan sabar menghadapinya.


"Kamu marah?" tanya Ameera.


Ozan tersenyum lembut seraya menggeleng, membelai rambut Ameera dengan sayang.


"Aku minta maaf, yank. Aku yang jahat sama kamu. Kamu boleh menghukumku apapun. Aku janji nggak akan marah."


Mata Ameera pun mulai di penuhi cairan bening. Menyadari dosa-dosanya pada suaminya.


"Aku sayang sama kamu." ucap Ozan lembut. Mendapat kelembutan dari Ozan membuat Ameera semakin merasa bersalah. Ia pun menangis merenungi kesalahannya.


"Maafin aku, mas... aku keterlaluan ngerjain kamu." ucapnya di barengi isakan.


"Kamu nggak salah, yank."


Ozan menarik Ameera ke dalam pelukannya, sesekali mengusap punggungnya.


"Kita mulai dari awal lagi, ya..." ucap Ozan. Ameera menjawab dengan mengangguk pelan.


Akhirnya mereka pun berbaikan. Ameera yang selama ini memegang teguh egonya untuk balas dendam, runtuh seketika.


Ramon yang masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu lagi-lagi harus menjadi penonton kemesraan sepasang suami istri itu. Jiwa jomblonya pun meronta-ronta. Merasa dunia sangat tidak adil padanya. Pernah terlibat cinta dengan wanita pengkhianat, dan sekarang dirinya menyukai Dina yang merupakan teman dekat Rangga.


Sial banget sih gue.


"Kantor woii... kantor!!" ucap Ramon. Membuat Ozan yang sedang mencium Ameera tergelak kaget. Ozan mendengus kesal menatap Ramon.


"Nggak usah peduliin dia, yank... " ucap Ozan dan langsung kembali mencium bibir Ameera.


Nggak punya belas kasih sama gue lu, Zan...


Ramon pun memilih keluar dari ruangan itu.


"Apes gue." gumamnya.


Sekretaris yang melihat Ramon keluar dari ruangan dengan wajah kesal pun sudah bisa menebak apa yang di lihat Ramon di dalam sana. Setelah kemarin dirinya juga sempat menjadi penonton adegan mesra bos mereka. Sambil menunduk, ia mengulum senyum, menahan tawanya agar tidak keluar.


"Ape lu?" tanya Ramon pada sekretaris itu.


"Jadi penonton lagi, Pak?" sahutnya.


"Jangan ketawa lu! Gue potong juga gaji lu..."


Bukannya takut dengan ancaman mengerikan dari Ramon, wanita itu malah tertawa terbahak-bahak, membuat Ramon semakin kesal. Ramon pun masuk kembali ke ruang kerjanya dengan ribuan sumpah serapahnya.


****

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2