
Ozan yang sedang melamun di kantor tanpa sengaja menjatuhkan foto Ameera yang terletak di atas meja. Tiba-tiba perasaannya semakin tidak enak.
Diraihnya foto yang bingkai kacanya telah pecah akibat terjatuh itu. Ia mengusap foto Ameera yang sedang tersenyum dengan perut yang membesar. Dan tanpa terasa pecahan kaca mengiris jari Ozan sehingga mengeluarkan darah.
Firasat apa ini... Kenapa aku merasa sakit?
Ozan lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Ameera, namun setelah beberapa kali mencoba, tetap tidak ada jawaban. Ponsel dan tas Ameera tertinggal di mobil, sementara Bima yang terikat di dalam mobil masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan beberapa luka di tubuhnya.
Akhirnya Ozan memilih menghubungi nomor Rangga.
"Halo, Bang!" terdengar suara Rangga di seberang sana.
"Rangga... lu dimana? Lu masih sama Ameera kan?" tanya Ozan.
"Di rumah Mama Aliyah, kalau Ameera... Dia pergi beberapa jam lalu. Katanya mau ketemu Dina, habis itu ke makam orang tuanya, Bang! Kenapa sih?"
"Dari tadi gue telepon nggak di jawab." ucap Ozan yang mulai gelisah.
"Hubungi Pak Bima coba..."
"Sudah, tapi nggak di jawab juga."
"Lagi di jalan mungkin, makanya nggak di jawab. Katanya habis dari makam mau kesini lagi kok."
"Ya udah, lu kabari gue ya kalau Ameera datang."
"Iya, Bang!"
Sambungan terputus. Sedangkan pikiran Ozan mulai menjalar kemana-mana, teringat mimpinya semalam. Naluri sebagai seorang suami dan calon ayah seolah berbisik, mengatakan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di luar sana.
Ia segera membuka sebuah aplikasi di ponselnya untuk melacak keberadaan Ameera melalui GPS yang terpasang di mobil milik istrinya itu.
"Masih di kompleks pemakaman." Gumam Ozan ketika melihat ponsel menunjukkan titik lokasi dimana mobil itu berada.
Ozan menghela napas panjang, namun kegelisahannya tak kunjung berkurang. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, memijat pangkal hidungnya.
kenapa perasaanku masih tidak tenang begini.
Ia kembali mencoba menghubungi ponsel Ameera dan Bima, namun mereka lagi-lagi tidak menjawab. Akhirnya Ozan memutuskan pergi kesana menyusul Ameera.
Saat keluar dari ruangannya, Ramon mencegatnya.
"Mau kemana lu?" tanya Ramon.
"Gue mau keluar sebentar," jawab Ozan.
"Kita masih ada rapat. Jangan seenaknya lu!"
Ozan lalu memperlihatkan jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17:00, artinya sudah jam pulang kantor.
"Lihat, jam berapa sekarang? Lu mau gue kerja rodi gitu?" Ozan bersungut-sungut karena Ramon menahannya agar tidak pergi.
"Kan elu bos-nya begooo'...!!! Harusnya itu dialog gue. Karena kelakuan lu hari ini, gue yang harus malu. Tadi pagi rapat, lu ngelamun aja. Sekarang ada rapat sore ini tinggal beberapa menit lagi, lu mau kabur seenaknya... Lu mau gue yang nanggung semua kerjaan lu? Minta di hajar lu?" Ramon malah balik memarahi Ozan saking kesalnya.
__ADS_1
Akhirnya dengan sangat terpaksa Ozan kembali ke ruanganmya menunggu rapat yang sebentar lagi akan di mulai. Namun, pikirannya terus tertuju pada istrinya.
"Ram, kirim orang ke pemakaman, suruh lihat Ameera di sana, perasaan gue nggak enak dari tadi." titah Ozan pada Ramon saat ikut masuk ke ruangannya.
"Pemakaman siapa?" tanya Ramon yang bingung dengan perintah Ozan.
"Ya makam orang tuanya Ameera lah, Ram...!" jawabnya kesal.
"Oh, kirain ada yang meninggal." Ramon pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi orang-orangnya untuk segera menuju ke kompleks pemakaman. "Ayo ke ruang rapat, semuanya sudah ada di ruangan. Jangan ngelamun lu kayak tadi...!!"
"Iya, bawel lu..."
Rapat itu pun di mulai, Ozan berusaha memimpin rapat itu dengan baik, walaupun pikirannya tidak tenang.
Tidak lama kemudian, ponsel milik Ramon bergetar, ia pun segera keluar dari ruangan itu untuk menjawab teleponnya.
"Halo, bagaimana?" tanya Ramon pada seseorang yang meneleponnya.
"Kami sudah ada di pemakaman, Pak. Tapi..." terdengar orang suruhannya menggantung ucapannya, seperti ragu mau melaporkan temuannya di sana.
"Cepat katakan apa yang terjadi!!" Bentak Ramon yang sudah menduga sesuatu terjadi dengan mendengar suara orang itu.
"Nona Ameera tidak ada di sini. Kami sudah mencarinya kemana-mana. Dan Bima... Ada di dalam mobil dalam keadaan terikat, di tubuhnya ada banyak luka, sepertinya mereka telah di serang." tutur sang penelepon.
Tiba-tiba ponsel yang di genggaman Ramon terjatuh ke lantai begitu saja, kakinya menjadi terasa lemas, tubuhnya bergetar. Entah akan semarah apa Ozan nanti jika mendengar laporan itu. Ramon kemudian mengambil kembali ponselnya di lantai.
"Apa Bima masih hidup?" tanya Ramon kemudian.
"Masih, tapi dia tidak sadar. Dan sepertinya kejadiannya sudah satu atau dua jam lalu, karena darah di tubuh bima sudah mulai mengering."
"Baik..."
Sambungan telepon terputus. Entah bagaimana Ramon menyampaikan apa yang terjadi pada Ozan yang sedang berada di dalam sana.
Akhirnya pria itu memberanikan diri masuk dan menghentikan rapat itu.
"Permisi sebentar, maaf mengganggu..." kata Ramon pada semua orang yang berada di ruangan itu. Ia lalu mendekati Ozan dan membisikkan sesuatu.
Terlihat jelas bagaimana raut wajah Ozan berubah mendengar laporan Ramon. Dan tanpa permisi, ia meninggalkan ruang rapat begitu saja. Ramon pun menyampaikan permintaan maafnya karena rapat harus di tunda. Setelah itu, ia lalu menyusul Ozan yang sudah keluar duluan.
Di dalam lift...
"Kapan kejadiannya." tanya Ozan dengan suara bergetar.
"Aldi bilang, mungkin sudah satu atau dua jam lalu, darah di badannya Bima sudah mulai kering."
"Darah? Lalu Ameera...?" gumam Ozan yang menjadi semakin takut terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak-anaknya.
Lift berhenti di lantai dasar, mereka langsung berlari ke parkiran dan langsung menuju ke pemakaman.
"Cepat, Ram!! " pinta Ozan pada Ramon.
"Ini gue udah ngebut, Zan."
__ADS_1
Apa ini arti mimpiku semalam? Siapa lagi yang melakukan semua ini? batin Ozan.
Tidak lama, mereka sudah sampai di pemakaman itu. Sudah ada banyak polisi di sana. Sedangkan bima sudah di larikan ke rumah sakit. Beberapa polisi terlihat sedang memintai keterangan pada petugas penjaga makam yang tadi sedang piket.
Tidak tahu sudah segelisah apa Ozan di sana. Bahkan matanya sudah memerah menahan amarah dan air matanya.
"Zan, polisi bilang sepertinya Ameera di culik, tas dan ponselnya ada di dalam mobil, jadi nggak mungkin ini perampokan." ucap Ramon yang baru saja bicara dengan polisi, membuat Ozan semakin frustasi.
"Siapa lagi yang melakukan ini... Apa ini perbuatan Hendri?" tanya Ozan yang saat ini hanya curiga pada Hendri.
"Pak Hendri kan di penjara, jadi nggak mungkin, sedangkan Naura di rawat di rumah sakit jiwa... Petunjuk satu-satunya hanya Bima."
Beberapa saat kemudian, Hasan dan Zarima tiba di sana, mereka begitu panik setelah mendapat laporan hilangnya Ameera.
"Ozan, Ameera dimana?" tanya Zarima seraya terisak.
"Aku juga nggak tahu, Mah... " jawab Ozan, ia lalu memeluk sang ibu yang begitu syok mendengar berita itu. "Mama tenang, ya... Kita akan menemukan Ameera." ucap Ozan kemudian.
"Ameera kan sedang hamil, Zan... Beberapa hari lagi jadwal operasinya. Kemana mereka membawa Ameera?"
Ozan bingung harus menjawab apa. Ia pun merasakan ketakutan yang sama. Terlebih kondisi Ameera yang sedang hamil tua.
Sementara di tempat lain, Rangga sudah beberapa kali melirik jam dinding, hari sudah mulai gelap, namun Bima dan Ameera belum datang juga. Tidak lama kemudian ponselnya berdering, tampak nama Abang tertera di layar ponselnya.
"Halo, Bang..." ucap Rangga.
Terdengar di seberang sana suara Ozan yang penuh kepanikan mengatakan pada Rangga apa yang terjadi di sana, membuat tubuh Rangga seperti tersengat listrik. Kakinya kembali terasa sangat lemas, ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Bang, jangan bercanda..." kata Rangga dengan suara gemetar.
"Lu pikir gue bisa bercanda dalam keadaan begini?"
"Ya udah, gue ke sana sekarang,"
Aliyah yang melihat wajah Rangga memucat, langsung mendekat.
"Ada apa, Rangga?" tanya Aliyah seraya mengusap bahu anaknya itu.
"Ameera, Mah... Ameera di culik..." ucap Rangga dengan suara lirihnya.
"Apa?" tanya Aliyah seolah tak percaya dengan pendengarannya.
"Aku mau ke sana, mah..." Rangga langsung berdiri, tanpa menggunakan tongkat, setiap mendengar sesuatu terjadi pada Ameera, ia seakan lupa dengan seisi dunia, termasuk pada kondisi tubuhnya sendiri.
"Mama ikut, ya... " pinta Aliyah. Ia ikut merasa khawatir dengan Ameera.
"Ayo, Mah..." Rangga lalu berjalan dengan cepat keluar dari rumah itu, tidak peduli pada kakinya yang masih terasa ngilu itu.
Mereka pun segera berangkat ke lokasi penculikan Ameera dengan di antar sopir.
****
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Tebak-tebakan gaes, siapa yang menculik Ameera?