Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Pulang


__ADS_3

Hampir seminggu lamanya Ameera dan bayi-bayinya menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Bogor. Semakin hari kondisi Elmira semakin membaik. Sedangkan Erzan sudah stabil beberapa hari sebelumnya. Bahkan bayi lelaki itu sudah keluar dari ruang perawatan bayi sejak beberapa hari lalu.


Sembari mempersiapkan kepulangannya hari ini, Ameera dan keluarganya sedang mengobrol santai di kamar ketika seorang dokter dan perawat datang dengan mendorong sebuah box bayi.


Mereka pun tidak dapat menyembunyikan raut kebahagiaannya. Sambil menangis haru, Zarima menggendong cucu perempuannya itu untuk pertama kalinya.


"Cantiknya cucu Oma," kata Zarima seraya mengecup wajah Elmira, "Wajahnya Ozan banget, tidak ada yang di buang," Zarima menatap wajah Elmira yang sangat mirip dengan wajah Ozan.


Ozan yang baru sekali menggendong anaknya itu pun harus berebut dengan Rangga untuk menggendong Elmira. Hasan yang sedang menggendong Erzan berdecak seraya menggeleng melihat kelakuan kedua anak lelakinya itu.


"Eh, bapaknya duluan, Om-Om belakangan," ucap Ozan seraya menarik baju kemeja yang di pakai Rangga.


"Kan abang punya banyak waktu di rumah buat gendong."


"Bodo..."


"Mama, Abang belum cuci tangan, tahu..."

__ADS_1


"Ozan..." Zarima membulatkan matanya menatap Ozan, tatapannya seolah memerintahkannya untuk segera mencuci tangannya. Ozan pun terpaksa harus masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Rangga tersenyum puas lalu mengambil alih Elmira dan menggendongnya. Ia mengecupi wajah bayi mungil itu beberapa kali, sampai ada setitik cairan bening di sudut matanya.


"Bandel kamu ya... Bikin kita semua takut beberapa hari, Om cubit nih...!" ucapnya pada bayi itu seraya menempelkan hidung mancungnya di pipi bayi itu.


Ameera tidak kuasa lagi membendung kerinduannya pada anaknya itu. Setiap harinya, ia hanya dapat melihat Elmira dari balik kaca. Hari ini, ia dapat menggendong bayi cantik itu sebanyak yang ia mau.


"Berikan padaku..." pinta Ameera seraya merentangkan tangannya. Rangga lalu memberikan bayi itu pada Ameera.


Dipeluknya bayi itu dengan sayang. Melepaskan segala kerinduannya selama beberapa hari ini.


"Dua-duanya mirip aku, ya..."


"Iya, Bang... Bagai pinang di belah kapak..." sahut Rangga seraya terkekeh.


***

__ADS_1


Tibalah mereka di rumah. Untuk pertama kalinya Erzan dan Elmira akan memasuki rumah yang akan menjadi tempat mereka tumbuh. Akan ada tangis mereka setiap hari yang akan meramaikan rumah besar itu.


Zarima yang begitu antusias menyambut kepulangan cucu-cucunya sudah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk dua malaikat kecilnya itu. Bahkan wanita paruh baya itu merubah kamar tamu yang berada di sebelah kamar Ozan menjadi kamar bayi dengan nuansa pink dan biru.


Ameera dan Ozan begitu takjub saat memasuki kamar itu. Selama kehamilannya, Ameera dan Ozan sama sekali tidak terpikir untuk membuat sebuah kamar bayi. Bahkan, mereka baru memikirkan nama anak mereka setelah lahir.


"Kalian ini jadi orang tua ngaco. Biasanya orang tua di luar sana membuat kamar bayi dari jauh-jauh hari sebelum anak mereka lahir. Sedangkan kalian malah tidak memikirkannya." ucap Zarima pada Ozan dan Ameera.


Ozan dan Ameera hanya tersenyum mendengar omelan sang ibu.


"Aku kan nggak tahu soal begituan, Mah," sahut Ozan.


"Lalu kamu tahunya apa? Tahu bikinnya saja?" ucap Zarima seraya terkekeh.


Wajah Ameera menjadi merona malu mendengar ucapan frontal dari ibu mertuanya itu.


****

__ADS_1


SORRY GAES. UP NYA DIKIT.


__ADS_2