
"Ameeraaaa... kita kangen...! " kata Riri yang berlari memeluk Ameera yang baru saja memasuki kelas.
"Sama." Tutur Ameera. Mereka duduk bersama dan mengobrol tentang hal-hal seru selama Ameera pergi ke Turki.
"Ameera, aku nonton resepsi pernikahan kamu di tv" ucap Riri
"Iya, aku juga" imbuh Indah
"Oh, itu..." Ameera belum selesai bicara, Riri sudah memotong lagi.
"Kamu cantik banget di tv. Keren banget lagi acaranya." Kata Riri yang kagum dengan mewahnya resepsi pernikahan sahabatnya.
"Kamu seperti menikah dengan sultan dari Turki, aku jadi iri" ucap Indah.
"Hehe, biasa aja." Kata Ameera merendah.
"Gimana caranya dapat suami ganteng kayak bule Turki punya kamu Ra?" Pertanyaan dari Indah membuat Ameera bingung.
"Gimana jawabnya yah...?" Sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Pernikahannya dengan Ozan yang sebenarnya bukan karena cinta, tapi karena di jodohkan.
"Kamu beruntung banget Ra, punya suami kayak gitu" puji Indah.
Beruntung gimana? Di sayang juga enggak. Batin Ameera
"Aku jadi ingat waktu kamu hilang di dalam hutan waktu itu. Dia panik banget cari kamu. Sampai marah-marah sama semua pengawal yang katanya di suruh jaga kamu. Dia pasti sayang banget sama kamu. " Riri berkata panjang lebar sambil membayangkan aksi heroik Ozan yang menggendong Ameera tanpa rasa lelah dari dasar jurang.
Ameera tidak menjawab lagi celetukan temannya. Ia hanya sesekali tersenyum. Beberapa saat kemudian dosen memasuki ruangan kelas menghentikan pembicaraan mereka.
***
Naura sedang berada di depan sebuah kampus yang merupakan kampus Ameera. Setelah menonton di tv acara resepsi penikahan Ozan dan Ameera yang sangat meriah dan mewah, hatinya tidak terima. Ia bertekad akan merebut Ozan kembali dari Ameera. Menurutnya Ozan tidak mungkin secepat itu melupakan dirinya. Ia bertekad akan menghancurkan hubungan Ozan dan Ameera.
Naura sudah menyusun rencana untuk memisahkan Ameera dari Ozan.
__ADS_1
Setelah kandasnya hubungannya dengan Dion, hatinya di penuhi dengan kebencian. Ia melajukan mobilnya memasuki kampus, berkeliling mencari-cari sosok Ameera. Namun tidak di temukannya. Ia pun duduk menunggu di dalam mobil hingga beberapa saat. Sampai akhirnya Naura memutuskan akan pergi, barulah ia melihat sosok Ameera sedang berjalan beriringan dengan beberapa temannya. Mereka terlihat berjalan menuju kantin kampus.
Tatapan penuh kebencian tergambar jelas dari raut wajahnya. Ia bersumpah akan membuat Ameera menyesal telah menikah dengan Ozan. Naura turun dari mobilnya. Ia memasuki kantin di mana Ameera berada.
Ameera yang sedang bersama teman-temannya tidak menyadari keberadaan Naura di cafe tersebut. Akhirnya Naura menghampiri dan mengajaknya bicara berdua di tempat lain. Tidak ingin terjadi keributan di kantin, akhirnya Ameera menuruti keinginan Naura untik bicara berdua.
"Kamu pasti bisa menebak kenapa aku kemari menemuimu kan?" Naura memulai pembicaraan. Mereka sedang duduk di sebuah taman yang berada di dalam kampus.
"Aku sedang tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal tidak penting" ujar Ameera yang duduk berhadapan dengan Naura.
"Sepertinya kamu percaya diri sekali. Apa kamu benar-benar berpikir kamu punya tempat di hati Ozan?"
Ameera merasa kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Naura. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Jika saja Naura bukan seorang wanita, dia pasti sudah menghadiahinya kepalan tinju andalannya.
"Kayaknya kamu gak bisa terima kenyataan. " ucap Ameera yang tidak kalah judes dari Naura.
"Aku ke sini untuk menyatakan perang denganmu. Aku akan rebut kembali Ozan darimu." Ancam Naura
"Aku dan Ozan saling mencintai. Dia menikahimu karena rasa bersalahnya pada ayahmu. Bisakah kamu membebaskan dia dari ikatan pernikahan kalian yang palsu itu?" Kata Naura setengah berteriak ketika Ameera beranjak pergi.
Deg
Jantung Ameera rasanya akan berhenti berdetak. Ada perasaan sakit di hati Ameera mendengar ucapan Naura. Ia menyadari apa yang di latakan Naura memang benar. Ozan memang menikahinya karena terpaksa. Meskipun Ozan pernah mengatakan akan berusaha membuka hatinya untuk Ameera, tapi pada kenyataannya selama pernikahan mereka, Ozan belum pernah sekalipun menyatakan perasaannya pada Ameera.
"Bodo amat. " kata angker yang selalu di ucapkan Ameera itupun keluar dari bibirnya. Ia berlalu tanpa menghiraukan Naura yang belum selesai bicara.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, ada Dina yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka. Dina sedang duduk di taman seorang diri tiba-tiba di kagetkan dengan kedatangan Ameera dan Naura. Dina yang memang mengenal Naura merasa khawatir dengan Ameera. Ia pun meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
Setelah kepergian Ameera, Naura tersenyum licik. Sepertinya ia baru saja berhasil membuat Ameera kesal. Ia akan menjalankan rencana selanjutnya untuk merebut Ozan kembali. Ia pun melajukan mobilnya meninggalkan halaman kampus menuju ke suatu tempat.
Sementara Ameera sedang berada di toilet memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia menghela napas kasar. Mengingat kata-kata yang di lontarkan Naura membuatnya kesal setengah mati. Ia membasuh wajahnya dengan air untuk meminimalisir rasa kesalnya berharap dinginnya air dapat mengurangi panas di hatinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering tetapi ia tidak menghiraukannya. Ia sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya. Sampai ponselnya berdering beberapa kali, ia tetap mengabaikannya. Ozan yang masih berada di kantor bertanya-tanya kenapa Ameera tidak menjawab teleponnya. Ozan pun memilih mengirimkan pesan pada Ameera
__ADS_1
"Kok di cuekin 😢?" Isi pesan yang di kirimkan Ozan pada Ameera.
Ozan menunggu beberapa menit, namun Ameera tidak juga membaca pesannya. Hal itu berhasil membuat Ozan uring-uringan di kantor.
Ini bocah kemana ya? Di telepon tidak di jawab, pesan tidak di baca. Apa dia sedang sibuk di kampus? Batin Ozan.
Ia duduk bersandar pada kursi kebesarannya.
Ramon masuk membawa beberapa berkas di tangannya.
"Kenapa lu?" Tanya Ramon.
"Bini" jawab Ozan singkat
"Kenapa lagi bini lu?" Sambil meletakkan beberapa map di meja Ozan.
"Telepon gue gak di jawab. Gak biasanya" kata Ozan.
"Sibuk kali di kampus."
"Ya kan bisa balas pesan aja gitu" ucapnya kesal
" Dasar bucin lu! Baru juga telepon yang gak di jawab udah uring-uringan gitu." Ledek Ramon yang langsung mendapat pelototan dari bosnya.
Ozan kesal tidak terima Ramon mengatakan dirinya bucin. Ia melemparkan map yang tadi di bawa Ramon dan lagi-lagi mengenai wajahnya.
"Sama bos yang sopan lu! " ucap Ozan yang langsung di balas kekehan oleh Ramon.
"Ya udah lu cepat tanda tanganin nih. Gue sibuk, banyak kerjaan. Gak ada waktu gue ngurusin kebucinan lu" sentak Ramon yang langsung memberikan berkas itu kembali pada Ozan. Dengan raut wajah kesal Ozan menanda tangani beberapa berkas yang di serahkan Ramon.
Sementara Ameera yang masih berada di halaman kampus baru membaca pesan yang Ozan kirimkan beberapa jam lalu. Karena kesal ia tidak membalas pesan itu.
💄💄💄💄
__ADS_1