Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Album Foto


__ADS_3

Pesawat yang di tumpangi Ozan dan Ameera baru saja mendarat di bandara Jakarta. Di luar sana Rangga bersama Zarima dan anak-anak sudah menunggu sejak tadi.


"Oma, kenapa ayah sam ibu lama?" tanya Erzan yang merasa sudah bosan menunggu.


"Sebentar lagi sayang..."jawab sang Oma seraya mengusap kepala cucunya itu.


"Ikut El sana, lari-lari biar nggak bosan!" imbuh Rangga ketika melihat Elmira berlarian kesana-kemari dengan bahagia.


"Nggak mau. El suka mukul," Bocah berwajah bule itu mengerucutkan bibirnya melihat adik kembarnya yang begitu aktif di kejauhan sana.


"Elmira... larinya jangan jauh-jauh. Nanti kesasar," teriak Zarima.


Bocah perempuan itu lalu mendekat dan ikut duduk disana. Ia melihat sang kakak begitu senang dengan mainan robot-robotan di tangannya. Elmira si bocah bar-bar itu merebut mainan itu dari tangan kakaknya dan langsung mengambil langkah seribu.


"Huwaaaa.... "


Terdengarlah suara tangisan Erzan. Rangga dan Zarima pun berusaha menghibur anak lelaki yang menangis itu.


"El... Balikin mainan kakak!!" pinta Rangga.


"Cuma pinjam,"


"Pinjam sama rebut beda, Elmira..." ucap Rangga gemas.


"Bentar, pinjam doang..."


"Om Rangga bilangin sama ayah nih..."


Nyali bocah itu langsung menciut jika sudah diancam di laporkan pada sang ayah. Dengan segera ia mengembalikan mainan itu pada kakaknya.


"Gitu aja nangis," kata Elmira.


"Elmira, nggak boleh rebut punya orang. Kalau mau pinjam, minta dulu..." ucap Zarima.


"Maaf, Oma."


"Minta maaf itu sama kakak, bukan sama Oma..." bisik Rangga. Namun, bocah itu terlihat sangat gengsi untuk minta maaf pada kakaknya.


Ya ampun, ini bocah mukanya mirip bapaknya, kelakuannya persis ibunya. batin Rangga.


Tidak lama kemudian Ozan dan Ameera terlihat keluar dari bandara. Erzan dan Elmira langsung berlari menyambut kedua orang tuanya.


Ameera merentangkan tangannya ketika melihat dua anaknya berlari ke arahnya.


"Ibu... Kenapa perginya lama?" tanya Elmira yang manja pada ibunya.


"Nggak lama, kok..." ucapnya seraya mengecupi wajah anaknya itu bergantian.


"El nggak nakal kan, ditinggal ayah sama ibu?"


"Nggak..."


Dua Bocah itu lalu beralih memeluk ayahnya bersamaan.


"Anak Ayah kenapa ini matanya merah? Habis nangis ya?"


"Biasa, Abang kayak nggak tau aja kalau Erzan nangis, hanya satu alasannya," ucap Rangga yang datang menghampiri mereka.


"Oh gitu... "


Elmira yang sedang merasa terancam itupun hanya mampu nyengir kuda ketika mendapat tatapan mengintimidasi dari sang ayah.


Setelah drama peluk-pelukan rindu itu, mereka bergegas pulang ke rumah.


***


Setibanya di rumah...


Erzan dan Elmira terlihat sangat bahagia mendapat banyak oleh-oleh yang di bawakan orang tuanya. Sesekali mereka kembali berebut mainan membuat Ozan berdecak heran.


Sementara di sudut sana, ada Rangga yang sedang menceritakan kegalauannya pada Ameera.


"Kamu serius Kak Ramon melamar Dina?" tanya Ameera.

__ADS_1


"Orang aku lihat Bang Ramon memberikan sepasang cincin pernikahan pada Dina." Terlihat wajah Rangga sangat sedih. Penantiannya 4 tahun sia-sia.


"Benarkah?"


"Aku harus bagaimana?" Rangga mulai frustasi lagi.


Ameera menahan tawanya, untuk pertama kalinya ia melihat Rangga begitu sedih. Bahkan saat Ameera menikah, Rangga masih dapat mengendalikan perasaannya.


"Nanti aku bicara dengan Dina. "


"Nggak usahlah... Aku akan coba menerima kalau dia lebih memilih Bang Ramon.


"Yakin?" tanya Ameera sekali lagi.


"Mau gimana lagi?"


Rangga sudah pasrah, ia tidak tahu kalau di dalam otak kakak iparnya yang jahil itu sudah tersusun ribuan rencana. Ameera hanya senyum-senyum penuh arti, seperti menertawakan Rangga yang sedang patah hati.


***


Malam harinya...


"Yank... tadi kamu ngobrol apa sama Rangga?" tanya Ozan yang sedang bersandar di tempat tidur.


"Banyak, Mas." jawab Ameera seraya terkekeh.


"Banyak apaan?"


"Rangga bilang Kak Ramon melamar Dina."


Mendengar ucapan Ameera itu, Ozan ikut terkekeh. Pasangan suami istri itu terlihat jahat menertawakan nasib adiknya yang sedang dirundung patah hati.


Tidak lama kemudian, Erzan dan Elmira masuk ke kamar itu meminta tidur disana. Sebulan lamanya ditinggal membuat mereka begitu merindukan kedua orang tuanya.


Hingga fajar menjelang, bocah-bocah itu masih tertidur dengan lelapnya. Selama ditinggal kemarin, Erzan memilih tidur dengan kakek dan neneknya, sementara Elmira tidur di kamar Rangga.


***


"Mas, aku yang antar anak-anak sekolah, ya... Setelah itu aku mau ke rumah ayah dulu," ucap Ameera di tengah-tengah sarapan paginya.


"Mau ambil sesuatu,"


"Baiklah, aku juga buru-buru pagi ini. Sebulan nggak ngantor kerjaan pasti numpuk,"


Setelah sarapan, Ameera mengantar El dan Er berangkat ke sekolah. Setelah itu, ia menyempatkan diri mengunjungi makam kedua orang tuanya. Baru setelah itu, menuju rumah lamanya.


Setelah sekian lama, akhirnya Ameera mengunjungi rumah itu lagi. Rumah yang berisi kenangannya bersama kedua orang tuanya. Air mata selalu membanjiri pipinya ketika memasuki rumah itu.


Ameera memasuki kamar mendiang ayahnya. Menatap setiap bagian kamar itu dengan berlinang air mata. Diambilnya sebuah foto yang terletak diatas meja. Ia memluk foto itu, membayangkan masa kecilnya bersama dua orang dalam foto itu.


"Ayah, ibu... Aku sangat merindukan kalian," ucapnya dengan suara lirih.


Ameera kemudian membuka laci dan mengambil beberapa album foto yang berada di dalam sana. Ia membuka album foto itu lembar demi lembar. Senyum menghiasi wajahnya manakala melihat foto masa muda ibunya.


"Aku baru tahu tentang foto ini... Ibu cantik sekali saat masih muda," Ia terus membuka foto-foto itu dan menemukan foto mertuanya saat masih kuliah.


"Ini mama sama papa kan?" Ameera kembali tersenyum bahagia, ia merasa seperti masuk ke masa lalu. Di lembar berikutnya ada foto kebersamaan kedua orang tuanya, bersama mertuanya dan Hendri. Lalu ada beberapa foto Rudi dan Hendri yang terlihat sangat dekat.


"Ini kan papanya Kak Naura." gumam Ameera lagi.


Semakin penasaran, Ameera membuka lagi lembar demi lembar, album itu. Rasa penasaran kembali bersarang di hatinya melihat foto berdua ibunya bersama Hendri yang terlihat sangat dekat.


"Kenapa ada foto ibu sama Om hendri sedekat ini? Apa mereka pernah berpacaran?" Terlihat dalam foto itu Hendri merangkul Ratna dengan mesra. Ia lalu ingat, saat Naura menculiknya 4 tahun lalu, Naura berkata bahwa ibu Ameera adalah orang ketiga dalam rumah tangga orang tuanya.


Apa jangan-jangan itu benar.... Apa aku tanya mama sama papa saja, ya... Mereka pasti tahu sesuatu. batin Ameera.


Ia membuka album foto lainnya dan menemukan sebuah foto yang membuatnya seperti tersambar petir, nafasnya berat, jantungnya berdetak lebih cepat. Air matanya kembali berguguran menatap foto itu.


"I-ibu pernah menikah dengan Om Hendri?" gumam Ameera saat menemukan foto ibunya dalam balutan kebaya duduk bersama Hendri berhadapan dengan seorang penghulu.


"Berarti benar, yang di katakan Kak Naura. Ibuku orang ketiga di antara orang tuanya? Lalu bagaimana ibu menikah dengan ayah?" Ameera berusaha menguasai emosinya. Ia mengambil beberapa album itu dan segera keluar dari rumah.


Sambil menangis, Ameera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Hanya mertuanya yang dapat menjelaskan tentang foto itu pada Ameera.

__ADS_1


Kenapa mereka merahasiakan semuanya dariku? Apa karena itu Om Hendri mendendam pada ayah.


Tidak butuh waktu lama, Ameera telah sampai di rumah keluarga Chandra Jaya. Ia mempercepat langkahnya memasuki rumah itu, mencari kedua mertuanya.


"Bu Yani, mama sama papa mana?" tanya Ameera.


"Ada di ruang kerja, kamu kenapa menangis?" Bu Yani menghapus air mata yang berjatuhan di wajah Ameera.


"Ada yang harus aku tanyakan pada mama dan papa, Bu... Aku mau masuk ke ruang kerja dulu,"


"Ada apa dengan anak itu," gumam Bu Yani.


Zarima dan Hasan sedang mengobrol santai saat Ameera memasuki ruangan itu dengan membawa beberapa album foto.


"Ameera, kamu sudah pulang, Nak..." ucap Zarima.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Hasan yang langsung mendekati menantu kesayangannya itu. Zarima pun langsung berdiri menghampiri Ameera.


Ameera menyerahkan album foto itu pada mertuanya.


"Mama sama Papa pasti tahu kan, apa maksud foto ini..." tanya Ameera seraya terisak. Zarima mengambil album itu dari tangan Ameera.


"Kita duduk dulu ya, Nak... Tenang dulu..." Zarima dan Hasan membawa Ameera duduk di sofa. Lalu membuka album foto itu satu-persatu. Zarima pun mulai menangis melihat foto-foto itu.


"Ameera, ini..."


"Mama, kenapa kalian merahasiakan ini dari aku? Bagaimana ibuku pernah menikah dengan Om Hendri?"


Hasan dan Zarima menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin inilah saatnya mereka menceritakan pada Ameera, rahasia yang selama ini mereka simpan.


"Jawab aku, Mama, Papa... Apa arti semua ini?" Air mata pun semakin deras jatuh membasahi pipinya. Sedangkan Zarima dan Hasan masih terdiam.


"Ameera, maafkan Papa, kami merahasiakannya darimu atas permintaan ayah dan ibumu?"


"Tapi kenapa?"


"Mereka tidak ingin kamu terluka kalau kamu tahu kebenaran ini, Nak. Karena itulah, kami semua sepakat untuk merahasiakannya darimu," ungkap Hasan.


Dengan berat hati, Hasan akan menceritakan kisah masa lalu tentang Hendri, Ratna dan Rudi.


"Aku mohon, Papa. Ceritakan semuanya padaku. Jangan sembunyikan apapun lagi," Ameera menyeka air matanya yang seperti enggan berhenti menetes.


"Ini sangat rumit Ameera, kamu akan terluka kalau tahu kebenarannya, Nak.." imbuh Zarima.


"Aku siap mendengarkannya, Mah! Aku akan lebih sakit kalau kalian merahasiakan semuanya dariku,"


Hasan menghela napas panjang sebelum mulai menceritakan masa lalu orang tua Ameera.


"Kami semua dulu bersahabat baik. Ibumu dan Hendri saling mencintai sejak masa sekolah. Mereka berpacaran lama, tapi orang tua Hendri tidak menyetujui hubungan Ratna dan Hendri karena status sosial. Mereka kemudian menikahkan Hendri dengan Maya, ibunya Naura. Tapi pernikahan mereka tidak berjalan mulus karena Hendri tidak bisa melupakan Ratna. Suatu hari, Hendri menceraikan ibunya Naura dan menikahi ibumu dengan diam-diam. Saat Maya dan orang tua Hendri mengetahuinya, mereka berencana membunuh ibumu, mereka mengancam, jika Hendri tidak menceraikan ibumu, mereka akan membunuhnya. Saat itulah Hendri terpaksa menceraikan ibumu dan kembali pada Maya."


Ameera mematung, ia berusaha tidak mempercayai ucapan mertuanya itu. Hanya air mata yang dapat menjelaskan betapa sakit perasaannya saat itu.


Hasan melanjutkan, "Hendri menitipkan ibumu pada Rudi. Dia berjanji suatu hari akan kembali pada Ratna setelah semua urusannya dengan keluarganya selesai. Tapi Maya dan orang tua Hendri terus berusaha melenyapkan Ratna setelah tahu bahwa Ratna sedang mengandung. Demi melindungi ibumu, Rudi terpaksa menikahinya. Hendri tidak tahu kalau saat itu ibumu sedang hamil. Hendri sangat marah pada ayahmu dan dibutakan oleh dendam dan akhirnya tega berbuat jahat."


Ameera menangis sejadi-jadinya, Zarima berusaha menguatkan Ameera dengan memeluknya.


"Cukup, Mas... Jangan lanjutkan!" Zarima menyela ucapan suaminya itu, "Ameera, dengarkan Mama, kita sekarang sudah bahagia. Kita punya Erzan dan Elmira. Kita tidak perlu sedih untuk masa lalu,"


Ragu-ragu, Ameera menanyakan sesuatu yang terasa akan membuat jantungnya meledak.


"Papa, jadi... aku bukan anak kandung ayahku?" tanya Ameera dengan suara bergetar.


Hasan berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk menjawab pertanyaan Ameera.


"Iya, Ameera. Kamu adalah anak hasil pernikahan Hendri dan Ratna."


Ameera kembali menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Zarima. Rasa sakit di hatinya tidak tertahan lagi.


****


BERSAMBUNG


Kok ceritanya jadi berkelok-kelok kayak labirin. Maaf kalau ada yang pusing. wkwkwkw....

__ADS_1


tamat aja deh... awokawokkk


__ADS_2