Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Pulang ke rumah


__ADS_3

Rangga sedang berada di sebuah kelab malam dengan minuman di depannya. Ia tampak sedang frustasi. Ia sudah menenggak beberapa gelas minuman sampai kepalanya terasa berat. Tiba-tiba seseorang datang dan melingkarkan tangannya di lengannya.


"Rangga, minumnya sudah, yuk kita pulang." ajak Dina yang datang menghampiri Rangga.


"Aku lagi mau minum, Din. Kamu pulang aja. Aku gak apa-apa di sini." ucap Rangga dengan suara berat.


"Tapi kamu mulai mabuk, Rangga."


Rangga tersenyum tipis, mendongakkan kepalanya.


"Memang itu kan yang aku inginkan. Aku memang sengaja minum biar mabuk." Rangga kembali menuang minuman di gelas.


"Tapi sampai kapan kamu mau begini? tanya Dina.


"Sampai aku bisa melupakan semuanya," jawab Rangga singkat.


Wajah Dina tiba-tiba berubah sedih melihat Rangga seperti ini. Padahal Rangga bukanlah seorang peminum.


"Ya sudah, aku temenin kamu aja di sini." Dina duduk di samping Rangga. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rangga sambil menitikkan air mata.


Rangga masih menenggak minumannya. Ia melirik Dina yang sedang menyandar di bahunya. Rangga kemudian memiringkan kepalanya, sehingga kepalanya terlihat bersandar di kepala Dina.


"Din, aku minta maaf ya. Aku jahat sama kamu." ucapnya seraya menggenggam tangan Dina.


"Kamu gak jahat, Rangga. Aku yang mau bertahan di sisimu, jadi aku harus terima resiko." Air mata dina kembali menetes.


"Aku jahat, Din. Aku sudah memanfaatkanmu untuk melupakan Ameera."


Mereka pun larut dalam kesedihannya masing-masing.


***


Ameera dan Ozan sampai di kediaman Chandra Jaya. Tampak beberapa pelayan berseragam hitam putih menyambut mereka. Zarima dan Hasan sudah menunggu mereka sejak tadi.


Begitu Ameera masuk, Zarima langsung memeluknya. Sementara Hasan mengusap punggung Ameera. Ameera kemudian menyalami dengan mencium punggung tangan mertuanya.


"Ameera, selamat datang di rumah. Kamu jangan sungkan ya, rumah ini rumah kamu juga, Nak." ucap Zarima lembut.


"Iya mah. " ucap Ameera seraya tersenyum paksa.


"Kita makan malam dulu, papa sama mama sudah menunggu kalian dari tadi untuk makan malam bersama. " kata Hasan kemudian.


Mereka pun menuju ruang makan. Seperti biasa, Ameera hanya makan sekenanya. Setelah kepergian ayahnya, ia tidak bisa makan dengan benar. Makan malam pun berlalu tanpa sepatah katapun dari Ameera. Ia larut dalam lamunannya.


"Ozan, antar Ameera ke kamar. Ameera butuh istirahat." pinta Hasan.


"Iya, Pah! Ayo Ameera." ajak Ozan.


Ozan mengantar Ameera ke kamar. Saat sampai di lantai atas, Ameera hendak kekamar tamu. Tempatnya pertama kali menginap di rumah itu. Ozan yang melihatnya langsung menarik tangan Ameera.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Ozan.


"Aku mau ke kamar yang itu. " Ameera menunjuk sebuah kamar yang tidak jauh dari kamar Ozan.


"Kamar kita disini. " Ozan menunjuk kamar didepannya,


"mulai malam ini kamu tidur dikamar ini sama aku. " ucap Ozan membuat Ameera terlonjak.


Ozan lalu membuka pintu kamarnya. Dan saat memasuki kamar itu, Ameera takjub melihat betapa besar dan mewahnya kamar Ozan.


"Di lemari itu ada pakaian buat kamu. Mama yang menyiapkan semuanya. Kamar mandinya disana." Ozan menunjukkan beberapa bagian kamarnya. "Mama juga bilang semua barang yang disana buat kamu. " seraya menunjuk meja rias yang sudah penuh dengan kosmetik dan perawatan tubuh.


"Aku mau mandi. " ucap Ameera kemudian.


"Ya sudah, mandi sana. " sahut Ozan santai.


Ozan tidak tau jika maksud Ameera ingin mandi, supaya Ozan keluar dulu dari kamar.


Ameera diam saja, belum beranjak ke kamar mandi. Ozan yang melihatnya menjadi sedikit bingung.


"Katanya mau mandi. Kenapa malah bengong di situ?" ujar Ozan.


"Ya kamu keluar dari sini!"


"Oh, begitu... bilang dari tadi! Baiklah, aku keluar dulu."


Ozan meninggalkan Ameera dan keluar dari kamar. Ia turun ke dapur dan meminta seorang pelayan membuatkan susu untuk Ameera.


"Lagi mandi, Mah."


Tidak lama kemudian Hasan datang.


"Zan, kalau kamu sudah baikan, kamu sudah bisa kembali bekerja kan? Papa butuh kamu di kantor." pinta Hasan. Sejak kematian Rudi, ia kerepotan mengurus perusahaan.


Mendengar perkataan Hasan, Zarima langsung menyela.


"Pah, Ozan baru menikah. Dia pasti mau menikmati masa pengantin barunya kan?"


"Aku bisa mulai bekerja besok, Pah."


"Eh, jangan. Kasian Ameera, dia baru di rumah ini. Pasti ada rasa tidak enak. Kamu temani Ameera dulu beberapa hari, sampai dia terbiasa di rumah ini." ucap Hasan kemudian.


Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawa nampan berisi susu hangat yang di pesan Ozan untuk Ameera. Ozan pun segera mengambil nampan tersebut.


"Mah, Pah, aku ke kamar dulu ya. "


Namun, belum juga Ozan melangkah, Zarima kembali berucap.


"Ozan, kamu jangan paksa Ameera ya, kasihan!"

__ADS_1


"Memaksa?" gumam Ozan pelan seraya menatap nampan berisi segelas susu di tangannya.


"Ini kan cuma susu, Mah. Kenapa harus memaksa segala." ucap Ozan bingung.


Mendengar jawaban polos Ozan, Zarima menepuk jidatnya, sementara Hasan tersendak kopi yang baru saja di minumnya, ia mengutuki kebodohan anaknya itu. Tentu saja yang di maksud Zarima bukan susu, tapi hal lain.


"Maksud mama bukan susu, Ozan!" bentak Zarima membuat Ozan mengerutkan alisnya.


"Kamu jangan paksa istrimu untuk minta hakmu sebagai suami." ucap Zarima yang langsung pada inti perkataannya.


Ozan tergelak mendengar kalimat ibunya, wajahnya langsung merona merah, tanpa menjawab, ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


Siapa juga yang mau melakukannya pada anak kecil seperti Ameera? Batin Ozan.


"Anak kamu itu usianya sudah 25 tahun tapi masih belum mengerti soal begituan." ucap Hasan membuat Zarima tertawa terbahak-bahak.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu.


"Ameera, kamu sudah selesai mandinya, apa aku boleh masuk?"


tanya Ozan dari balik pintu.


Ameera yang sedang duduk di meja rias terlonjak mendengar suara ketukan pintu. Ia pun segera membuka pintu.


Ozan masuk dengan membawa nampan berisi susu lalu menyerahkannya kepada Ameera.


"Nih, kamu minum susunya mumpung masih hangat."


Ameera langsung meminumnya sampai gelasnya kosong. Ozan menatap Ameera meminum susunya, menelan ludah kasar.


Kenapa dia jadi kelihatan sangat menggoda hanya dengan minum susu? Batin Ozan.


Ia menatap Ameera tanpa berkedip, lalu meraih gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di meja.


"Kamu pasti lelah. Tidurlah!" kata Ozan.


Ameera mengangguk lalu hendak pergi ketempat tidur, tapi Ozan mencekal nya. Lalu menarik tangannya dan memposisikan Ameera tepat di hadapannya. Lalu memberi kecupan di keningnya membuat jantung Ameera berdetak kencang seolah sedang berperang.


Ozan kemudian masuk ke kamar mandi. Ia ingin menghilangkan rasa lelah di tubuhnya dengan berendam di air hangat.


Sementara Ameera masih belum dapat memejamkan matanya. Keningnya terasa panas setelah mendapat kecupan lembut dari suaminya. Ia beberapa kali mengusap keningnya dengan bantal guling di pelukannya untuk menghilangkan rasa panas itu.


Kenapa benda kenyal itu terasa menempel terus di keningku?


Saat Ozan selesai dengan ritual mandi air hangatnya, ia kembali ke kamar. Ia mendapati Ameera sudah tertidur lelap. Lalu berjalan ke arah ranjang dan duduk disisi Ameera. Ia menatap lekat wajah Ameera. Ozan melihat sisa air mata di ekor mata Ameera.


Kamu pasti habis menangis. Kamu sudah kehilangan banyak hal dalam hidupmu, di usiamu yang masih remaja. Aku sudah berjanji pada ayah akan menjagamu dan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Maafkan aku kalau aku belum bisa membuka hatiku untukmu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk bisa mencintaimu. Ozan membatin.

__ADS_1


****


__ADS_2