
Pesta berakhir. Satu persatu tamu undangan meninggalkan ballroom hotel tempat berjalannya resepsi pernikahan Ozan dan Ameera. Kini tersisa Ozan dan beberapa keluarga yang lain. Karena terlalu lama berdiri menggunakan sepatu high heels, kaki ameera jadi terasa sakit. ia mengganti sepatu dengan sandal teplek yang tadi sengaja ia siapkan.
"Mas, kita nginap di hotel, ya? "tanya Ameera.
"tidak, pulang saja. Aku tidak suka tidur di tempat lain yang bukan kamarku." jawab Ozan.
Ozan memang tidak suka tidur di tempat yang bukan kamarnya. pertama kalinya tidur di tempat lain, adalah di kamar ayah Ameera. Mereka pun pulang ke mansion megah tempat tinggal orang tuanya Ozan. Malam panjang bagi sebagian orang mungkin telah berakhir. Namun tidak bagi Ozan dan Ameera.
****
"Kakimu sakit ya?" Tanya Ozan saat melihat Ameera duduk di tempat tidur sambil memijat kakinya. Posisi mereka sekarang sudah berada di dalam kamar.
"iya. Kelamaan berdiri. " Jawab Ameera. Ozan kemudian membantu memijat kaki Ameera sampai tidak terasa sakit lagi.
"Bagaimana? Sudah enakan?" Tanya Ozan yang masih terus memijat.
"Iya, mas. Terima kasih."
Ameera mengedarkan pandangannya mengelilingi kamar. Kamar besar ini sudah di hias seindah mungkin seperti kamar pengantin baru. Dengan kelopak bunga dimana-mana dan lilin-lilin kecil yang menjadi penerang. Menjadikan suasana kamar temaram dan romantis.
Ozan memandangi wajah Ameera dengan senyum menawannya membuat Ameera salah tingkah. Wajah Ozan yang setengah bule memang sangat tampan menjadi paket lengkap yang menyatu dalam dirinya.
Ozan menarik Ameera kedalam pelukan hangatnya.
"Mulai hari ini kamu benar-benar sudah menjadi milikku."Ucap Ozan seraya mengecup kening Ameera.
"Memang kemarin-kemarin tidak?"
"Kemarin kan orang-orang tidak tau. Mulai hari ini semua orang tau Ameera hanya milik Ozan seorang." Imbuh Ozan.
Tatapan mereka saling beradu. Entah siapa yang memulai duluan, bibir mereka telah menyatu dalam ciuman yang mesra. Makin lama makin dalam sampai mereka terbuai dalam indahnya kebersamaan mereka.
Ozan membaringkan tubuh Ameera, ia memposisikan tubuhnya diatas Ameera. Di belainya puncak kepala Ameera dengan penuh sayang. Lalu kembali mengecup kening,mata dan seluruh bagian wajah lainnya tidak luput dari kecupannya. Ozan kembali mencium bibir Ameera dengan mesra membuat Ameera terbuai. Tanpa terasa keduanya berada di bawah selimut dengan tubuh polos.
"Sen çok seksisin" Bisik Ozan dengan mesra ke telinga Ameera. Ameera mengerutkan alisnya menatap Ozan.
"Kamu bilang apa?" Tanya Ameera
Ozan tersenyum nakal dan kembali mencumbu Ameera. Mereka pun larut dalam kegiatan panasnya. Sudah bisa di pastikan suara rintihan lirih Ameera akan menghiasi kamar temaram ini.
__ADS_1
****
Pagi hari Ameera dan Ozan masih bergelung di bawah selimut yan sama. Masih dalam tubuh polosnya. Ameera sudah beberapa kali merengek agar Ozan melepaskannya, tetapi Ozan tetap mengurung Ameera dalam kungkungannya.
"Aku mau ke kamar mandi" Ucap Ameera yang sudah mulai kesal dengan kelakuan suaminya.
"Tidak boleh. Kamu pasti mau kabur kan?" tuduh Ozan sambil terus memeluk erat Ameera.
"Aku mau mandi. Badanku rasa nya lengket. Lepasin, mas!" Rengek Ameera lagi.
"Tidak mau! Hari ini kita akan seharian di kamar" kekeh Ozan.
Ameera mendengus kesal dengan tingkah Ozan yang seakan ingin memonopolinya.
"Jangan salahkan aku kalau aku main kasar,ya!" Ancam Ameera.
Mendengar Ameera menyebutkan kata main kasar malah membuat Ozan bersemangat.
"Mau dong di kasarin sama kamu. " ledek Ozan yang langsung memposisikan Ameera di atas tubuhnya. Sambil tangannya melingkar di pinggang Ameera.
Ozan tersenyum nakal pada Ameera.
"Kasarin aku dong!" pintanya dengan wajah menggoda dan suara seraknya.
"Iya, sayang. Cepetan ah...! Aku gak tahan lagi. " kata Ozan sambil memejamkan kedua matanya.
PLLAAAKKK PLAAAKKKK....
Aaaauuuwwwwhhhhhhh....! Ozan mengaduh kesakitan.
"Pendaratan yang sempurna." ucap Ameera yang melakukan gerakan seperti meniup kepalan tinjunya yang baru saja mendarat sempurna di kedua pipi Ozan.
Tidak di sangka Ameera benar-benar bermain kasar dalam versinya. Ozan yang mengartikan kata main kasar dengan maksud lebih nakal di ranjang, tetapi tentu saja bukan itu yang ada didalam otak polos Ameera.
Ozan memegangi wajahnya yang kembali menjadi korban persatuan lima jari milik Ameera.
"Jangan salahkan aku, kamu yang minta di kasarin. "ucap Ameera sembari menuruni ranjang dan mengambil jubah mandinya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"AMEERRRAAAAAAA.......! Awas kamu yaaa.....! " Teriak Ozan dengan kekesalahnya.
__ADS_1
"Bodo amat. " Suara Ameera terdengar dari dalam kamar mandi.
****
Ameera ikut bergabung dengan keluarga besar Ozan yang sedang sarapan di taman belakang rumah. Masih ada beberapa anggota keluarga yang semalam masih menginap di rumah itu. Dan sudah menjadi kebiasaan keluarga Ozan untuk menikmati pagi dengan sarapan di taman.
"Selamat pagi, nak! Ayo sarapan?" ajak Zarima yang sedang mengoles roti dengan selai. Ameera duduk di samping ibu mertuanya.
"Ameera, Ozan nerede?" Tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan bibi Ozan. Ameera melirik ibu mertuanya karena tidak mengerti apa yang di katakan bibinya. Ia hanya membalas dengan senyuman manis sambil menuang jus ke dalam gelas.
"hala uyuyor olmalı."Zarima menjawab mewakili Ameera.
"Ameera, nanti kamu kursus bahasa Turki, jadi kalau ke sini lagi gak bingung" Saran Hasan.
"Iya, pah!" sahut Ameera
Tidak lama kemudian Ozan datang bersamaan dengan Ramon dan bergabung untuk sarapan. Untung saja Ameera meninju nya tidak sekeras biasanya, sehingga bekasnya tidak begitu terlihat. Hampir saja ia menjadi bahan ledekan ibunya yang usil.
"Ozan, lusa kan kalian sudah kembali ke Indonesia. Kamu harus ajak Ameera jalan-jalan hari ini" titah Hasan.
"Iya, pah. " Sahut Ozan sambil tersenyum kepada ayahnya kemudian melirik Ameera dengan tatapan kesal.
Ameera yang menyadari raut kekesalan di wajah Ozan, menelelan ludah kasar. Ameera mengangkat tangan dengan dua jari ke atas, yang kata orang simbol peace atau damai.
Ozan tersenyum penuh arti dalam lirikannya pada Ameera. Seolah Ameera sudah paham dengan maksud senyuman Ozan yang sudah pasti menjurus ke arah sana. Ameera hampir tidak percaya dengan Ozan yang seolah tidak ada puasnya di ranjang.
"Eheeemmmmmm" Hasan berdehem membuat Ameera terlonjak kaget.
"memang semalaman tidak cukup, sampai harus di lanjut tatap-tatapan di sini, coba lihat pipi Ozan jadi merah begitu? "Tanya Hasan yang pengucapannya bermuatan ledekan. Hasan tidak tau saja bahwa pipi Ozan memerah bukan karena merona malu,tapi karena perbuatan Ameera.
Mendengar ledekan ayah mertuanya Ameera tersendak makanan yang membuatnya terbatuk-batuk. Ozan memberi nya minum lalu menepuk lembut tengkuknya. Sementara Ramon mengulum senyum, karena tau perbuatan Ozan kepada Ameera yang membuat Ameera kesal dan memberinya hadiah tinju.
Sepanjang jalan menuju taman tadi, Ozan bersungut-sungut menceritakan kepada Ramon kelakuan barbar Ameera yang meninjunya dua kali. Tanpa Ozan sadari bahwa dirinya jauh lebih barbar dalam urusan kegiatan di atas kasur.
Zarima yang begitu cepat tanggap dengan situasi tidak bisa menahan tawanya. Membuat pipi Ameera merona merah karena malu. Sementara Ozan tampak biasa-biasa saja, bahkan sesekali ikut menggoda Ameera.
***
Hari itu Ozan mengajak Ameera berkeliling kota Istanbul untuk kedua kalinya dengan mengunjungi beberapa tempat yang berbeda. Dua hari lagi mereka akan kembali ke Indonesia. Ia ingin Ameera menikmati liburan singkatnya dengan mengajaknya berkeliling kota Istanbul.
__ADS_1
*****
bersambung