
Setelah mendapat izin dari dokter untuk bisa melihat anaknya, Ameera di temani Ozan memasuki ruangan bayi.
"Kenapa dia sekecil itu, Mas... Bagaimana cara menggendongnya coba?" tanya Ameera yang bingung kenapa tubuh bayinya begitu kecil. Dia juga belum tahu sama sekali cara menggendong bayi baru lahir.
"Bayi baru lahir kan memang kecil, Yank... Kamu pikir mereka sebesar apa?"
"Aku tahu bayi baru lahir itu kecil. Tapi aku nggak tahu kalau ternyata bentuknya sekecil ini."
Ozan hanya mampu menahan tawanya melihat kepolosan istrinya itu. Walaupun sudah menjadi seorang ibu, namun tingkahnya masih layaknya gadis remaja yang tidak tahu apa-apa.
Dokter yang bertugas disana meletakkan bayi itu kedalam pangkuan sang ibu. Ameera yang baru pertama kali menggendong bayi itupun merasa takut.
"Mas, kenapa badannya lembek begini. Kayak nggak punya tulang belakang..." ucap Ameera dengan polosnya.
"Kamu pikir bayi kita spesies invertebrata apa... Dia manusia, Yank... Pasti punya tulang belakang..."
Tiba-tiba bayi laki-laki itu menangis kencang membuat Ameera panik.
"Mas, dia kenapa menangis? Apa dia sakit?"
"Namanya bayi pasti nangis, Ameera..." Ozan mulai gemas dengan ucapan Ameera yang tidak tahu apa-apa tentang dunia bayi.
Ya ampun, apa semua ibu muda di dunia ini seperti kamu?
Masih duduk di kursi roda, dengan mata berbinar, Ameera memeluk bayi laki-lakinya yang sedang menangis itu. Ameera menatap wajah bayi itu lekat-lekat seraya mengecupi wajahnya berkali-kali.
"Uhh... cup... cup... lucunya! Mas, dia mirip kamu ya..." ucap Ameera yang menyadari wajah anaknya itu sangat mirip dengan ayahnya.
"Kan aku ayahnya, ya mirip aku pasti..."
Seketika bayi kecil itu berhenti menangis manakala Ameera memeluknya seraya membelai kepalanya dengan lembut. Hingga bayi mungil itu tertidur dalam gendongan sang ibu.
"Sepertinya dia kangen sama ibunya, makanya pas kamu peluk, dia berhenti menangis,"
"Kapan kita bisa bawa mereka pulang, Mas?"
"Nanti kalau mereka sudah lebih kuat. Mereka masih butuh perawatan. Apalagi yang perempuan itu, dia masih sangat lemah."
Ameera kemudian menoleh pada bayi perempuannya yang terbaring di dalam inkubator, air matanya meleleh begitu saja. Ozan lalu mengambil bayi yang ada dalam gendongan Ameera.
Ameera mendekati bayi perempuan itu, meletakkan telapak tangannya di dinding kaca tempat bayinya terbaring.
"Kamu yang kuat ya, Nak... Ibu juga mau gendong kamu, tapi sekarang belum bisa. Cepat sehat, biar kita bisa pulang ke rumah..." ucapnya pada bayi yang sedang tertidur itu.
Selama beberapa saat, Ameera terus memandangi wajah bayi dalam inkubator itu. Ozan memberikan bayi yang di gendongnya pada dokter agar di baringkan lagi ke dalam inkubator kemudian mendekat pada Ameera, membelai rambutnya.
"Sudah ya... Ayo kita kembali ke kamar,"
"Aku masih mau di sini, Mas..."
__ADS_1
"Nanti kita ke sini lagi, Yank. Kamu makan dulu, terus minum obat."
Ozan lalu mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan bayi. Ada rasa bahagia bercampur sedih dalam hatinya. Bahagia karena dirinya dan anak-anaknya selamat dari ancaman kejahatan, dan sedih karena harus terpisah sementara dari kedua bayi itu.
Sesampainya di kamar, Ozan langsung menggendong Ameera naik ke tempat tidur, lalu mengambilkan makanan. Ia menyuapi Ameera yang makan bagai orang kelaparan.
"Pelan-pelan makannya... nanti tersendak,"
"Habis aku lapar, kemarin aku nggak makan,"
Ozan kembali teringat saat Ameera di culik kemarin. Wajahnya tiba-tiba berubah kesal. Menemukan istrinya dalam keadaan terikat dan tidur hanya beralas karpet membuat hatinya bagai tercubit. Ozan tidak akan memaafkan Naura semudah itu karena telah membuat istri dan anak-anaknya dalam bahaya.
Rangga kemudian masuk ke dalam kamar itu dengan wajah kusut dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofabed yang ada di sudut kamar. Sekilas Ameera melirik Rangga yang sedang berbaring tengkurap seraya memainkan ponselnya. Sejak melihat Dina bersama Ramon, dia lebih banyak diam.
"Mama sama Papa mana?" tanya Ozan.
"Di cafe..." jawab Rangga singkat.
Ameera kemudian memberi kode pada Ozan seperti bertanya ada apa dengan adik iparnya itu. Namun, Ozan hanya menggeleng seraya mengedikkan bahunya.
Ozan lalu berbisik di telinga Ameera, "Dia lagi patah hati, Dina sedang bersama Ramon, makanya dia uring-uringan dari tadi."
Ameera pun merasa sangat kasihan pada Rangga yang sedang patah hati untuk yang kedua kalinya.
"Mas bilang Dina dan Kak Ramon nggak pacaran,"
"Memang nggak, tapi lebih tepatnya lagi pendekatan. Aku juga nggak mengerti sebenarnya, ada apa di antara mereka,"
"Mana aku tahu, itu urusan mereka,"
"Aku dengar looh, kalian berdua ngomongin apa..." Rangga menyela adegan bisik-bisik itu membuat pasangan suami istri itu terlonjak.
"Yeee memang kedengaran sampai ke situ? Sensitif banget bocah," sahut Ozan tak kalah sengit.
"Kalau bukan ngomongin aku, ngapain kalian bisik-bisik coba?" tutur Rangga kesal.
"Obatin tuh hati! Biar nggak sensitif melulu,"
"Jangan mulai, Bang. Lagi panas nih cuacanya..." Rangga kemudian membetulkan posisi berbaringnya menjadi terlentang. Meletakkan tangan kanannya menutup kedua matanya.
Tidak lama kemudian terlihat nafas Rangga sudah mulai teratur yang menandakan dirinya sudah tertidur.
"Malah tidur,"
"Biarkan saja, Yank. sejak kemarin dia belum tidur. Dia cari kamu seperti orang gila," ucap Ozan yang masih terus menyuapi Ameera.
"Mas juga sepertinya kurang tidur. Itu kantong matanya sudah seperti kantong ajaibnya doraemon,"
"Masa sih? Keliahatan banget ya?"
__ADS_1
"Hmmm...."
Tiba-tiba Ameera teringat sosok Jack yang sempat tertangkap basah oleh Naura saat ingin menyelamatkannya dari penculikan itu.
"Mas, laki-laki yang kemarin mau tolong aku dimana? Dia masih hidup, kan?" tanya Ameera dengan nada khawatir.
"Oh, dia namanya Jack. Orang kepercayaan Om Hendri. Dia dirawat di lantai bawah, soalnya kena tembakan kemarin. Tapi dia nggak apa-apa kok,"
"Terus, Naura bagaimana?"
"Sekarang masih di tahan, Yank... Kamu jangan takut. Aku nggak akan biarkan dia lolos dari hukuman,"
"Bukan itu, Mas. Aku hanya kasihan sama dia. Aku rasa dia nggak jahat. Hanya selama ini dia salah paham sama kita."
"Apapun alasannya, aku akan pastikan dia mendekam lama di penjara. Dia pernah mengadu domba kita, lalu berusaha mau membunuh kamu dengan menabrakmu, sekarang lihat apa yang dia lakukan... Aku nggak bisa memaafkannya," ujar Ozan panjang lebar.
Walaupun Naura pernah menjadi wanita spesial dalam hidupnya, namun kini rasa itu telah hilang tanpa bekas. Ozan hanya merasakan kemarahan yang meluap-luap pada mantan kekasihnya itu.
Ameera yang menyadari wajah suaminya yang sudah di penuhi kemarahan itu, mencoba mengalihkan pikirannya dengan membicarakan hal lain.
"Mas, Si Kembar belum punya nama kan?" tanya Ameera.
Raut wajah Ozan kemudian berubah menjadi antusias saat membicarakan nama untuk anak-anaknya.
"Belum... kamu sudah pikirkan nama untuk mereka?"
"Belum, Mas. Aku nggak tahu mau memberi nama apa untuk mereka."
Ozan kemudian terdiam, berpikir beberapa saat hingga ia menemukan ide.
"Aku suka namamu, Yank... Ameera."
"Masa iya, mau di kasih nama Ameera juga,"
"Nggak juga... Aku akan memberi mereka nama Erzan dan Elmira. Erzan dari namaku, dan Elmira dari namamu."
"Bagus sih..."
"Tapi awas saja kalau kelakuan Elmira nanti seperti ibunya yang bar-bar..."
Ameera langsung kesal mendengar ucapan Ozan yang sering meledek dengan menyebutnya bar-bar. Ia reflek melayangkan pukulan ke dada Ozan.
"Auuwwhh sakit tahu, baru juga aku bilang begitu sudah kumat," Ozan meringis memegangi dadanya yang baru saja mendapat hadiah jurus persatuan lima jari milik Ameera.
"Syukurin!!"
Rangga yang sedang berbaring di sudut sana melirik Ozan dan Ameera dengan ekor matanya, ia menyunggingkan senyum mendengar perdebatan dua orang itu.
Ameera, kamu tidak berubah sama sekali... Batin Rangga.
__ADS_1
****
BERSAMBUNG