
"Maafkan aku, Zar. Aku telah menyembunyikan kenyataan ini selama bertahun-tahun." ucap Aliyah.
Mereka sedang duduk bersama setelah Zarima menumpahkan segala kerinduannya pada anaknya yang terpendam selama ini.
"Ceritakan semuanya Al...!"
Aliyah pun mulai menceritakan awal pertemuannya dengan bocah kecil yang di bawa Hendri di tengah malam itu.
"Malam itu, Mas Hendri datang ke rumah ini membawa seorang anak kecil berusia 1tahunan. Saat itu aku tidak tahu dia anak siapa dan dari mana. Dia bahkan masih belajar berjalan. Pertama kali melihatnya, aku langsung jatuh cinta pada anak itu. Mas Hendri mengizinkanku merawatnya dengan satu syarat. Aku boleh menganggapnya anakku sendiri, tapi layaknya Naura, anak Hendri dengan Maya, yang di sembunyikan keberadaannya, aku pun harus menyembunyikan keberadaan anak itu."
Aliyah menyeka air matanya. Menghela napas panjang. teringat kenangan masa lalunya.
"Saat aku akan memandikannya, aku menemukan liontin itu, lalu aku menyimpannya, Dan mulai saat itu, aku merawat Rangga seperti anakku sendiri. Suatu hari Rangga kecelakaan, saat itu usianya 14 tahun. Dia kehilangan banyak darah. Saat itulah mas Hendri mengatakan padaku bahwa Rangga adalah anak kalian. Aku putus asa saat itu melihat kondisi Rangga. Mas Hendri pergi ke setiap bank darah mencari darah yang cocok dengan Rangga. Sampai seseorang menawarkan memasukkan iklan di internet pencarian pendonor darah."
Ozan lalu teringat beberapa tahun lalu, ia diam-diam menyelinap keluar dari rumah, dan membuat seisi rumah itu panik mencarinya. Ia menuju sebuah rumah sakit setelah membaca iklan di internet bahwa seorang anak membutuhkan golongan darah yang sama dengan darahnya. Saat itu ia meminta dokter menyembunyikan identitas dirinya yang menjadi pendonor.
Aliyah melanjutkan ceritanya, "Dan sebuah keajaiban terjadi, seseorang datang menawarkan diri menjadi pendonor untuk Rangga. Saat itu aku melihat seseorang memasuki ruangan dokter dengan diam-diam. Dia meminta dokter menyembunyikan identitasnya. Dan saat melihatnya, aku tahu dia adalah Ozan."
"Aku ingat saat itu... Mama ingat, aku pernah menghilang malam-malam dan baru kembali di pagi hari?" tanya Ozan pada Zarima.
"Iya, Kami panik saat itu." Zarima ingat saat itu suaminya marah besar pada semua petugas keamanan di rumahnya yang tidak bekerja dengan baik sehingga Ozan pergi tanpa mereka tahu.
"Setelah Rangga pulih, saat itulah aku memberikan liontin itu padanya."
"Tapi bagaimana liontin itu bisa ada di tangan Ameera?" tanya Zarima.
Rangga kemudian teringat saat mereka ada kegiatan sekolah. "Suatu hari aku dan Ameera mengikuti kegiatan sekolah di alam terbuka, aku mau ikut arung jeram. Aku meminta Ameera menyimpan liontin itu. Tapi saat itu, entah bagaimana Ameera menghilangkan potongannya. Aku bilang padanya dia hanya boleh mengembalikan liontin itu kalau sudah dalam keadaan utuh."
Ozan teringat hari dimana ia kecelakaan, mobilnya masuk ke jurang. Beruntung mobilnya tersangkut di batang pohon besar, saat itulah seorang gadis remaja datang dan menyelamatkannya. Ia ingat betul bagaimana jatuh bangunnya Ameera menyeret tubuhnya menjauh dari mobil.
"Dan di hari yang sama, aku kecelakaan dan ternyata orang yang menolongku adalah Ameera. Entah bagaimana potongan liontin itu ada di tanganku. Ramon memberikannya padaku setelah aku sadar. Aku menyimpan potongan liontin itu selama beberapa tahun, sampai beberapa minggu lalu, aku melihat Ameera menangis memandangi liontin di tangannya. Saat itulah aku baru tahu kalau Ameera lah yang menolongku dalam kecelakaan itu. "
"Kau lihat sendiri Al, bagaimana takdir punya cara sendiri mengembalikan semua pada tempatnya. Jika bukan karena liontin itu, mungkin aku akan tetap mengira anakku Deniz benar-benar sudah meninggal."
Akhirnya semuanya terungkap malam itu. Aliyah menyadari kesalahannya, ia egois ingin memiliki Rangga sendirian.
"Deniz, ayo Nak, kita pulang ke rumah kita. Mama akan cari dokter terbaik untuk menyembuhkanmu." ucap Zarima.
Rangga sekilas menoleh pada Aliyah. Wanita itu hanya dapat menangis. Pasrah jika Rangga memilih meninggalkannya.
__ADS_1
"Maaf, Tante... Aku nggak bisa ikut sama Tante. Aku masih harus tinggal di sini."
Zarima menangis mendengar Rangga yang tetap memanggilnya tante.
"Deniz.... " gumam Zarima.
"Rangga, Tante... namaku Rangga." Rangga melepaskan tangan Zarima yang berada di bahunya, "Bang... tolong bawa tante pulang!!" pinta Rangga pada Ozan.
"Tapi, Nak...." ucap Zarima pelan,
"BANG!!" Rangga mengeraskan suaranya memanggil Ozan. Ia lalu memutar kursi rodanya dan memilih masuk ke sebuah kamar.
Ozan lalu mendekati Zarima, "Ayo, Mah... kita pulang dulu, Deniz butuh istirahat, Mama juga..."
"Tapi bagaimana Deniz, Ozan...?" tanya Zarima, ia mulai menangis lagi.
"Mah, Deniz mungkin butuh waktu untuk bisa menerima semua ini. Mungkin Deniz butuh waktu untuk bicara dengan Tante Aliyah. Ayo kita pulang dulu. Besok kan kita bisa ke sini lagi menemui Deniz." ucap Ozan berusaha menenangkan ibunya itu.
"Tante, maaf sudah mengganggu, kami akan pulang. Titip Deniz..." ucap Ozan.
Ozan lalu merangkul ibunya, meninggalkan rumah itu. Ada rasa bahagia sekaligus rasa sedih dalam hati wanita paruh baya itu. Rasa bahagia karena ternyata anak bungsunya masih hidup, dan rasa sedih karena anaknya menolak ikut dengannya.
Zarima berusaha menguatkan hatinya, "Iya, Zan, Mama tahu... Papa harus di beritahu soal ini."
"Mah, boleh aku tanya sesuatu? "
"Apa?"
"Kenapa Deniz punya liontin dan aku nggak punya?" tanya Ozan.
Zarima terkejut mendengar pertanyaan Ozan. Ia ragu apakah harus memberitahu kebenaran mengenai liontin itu atau tidak. Karena jika anak sulungnya itu mengetahui sejarah liontin itu, mungkin ia akan merasa sangat bersalah. Namun, ia tidak ingin menyimpan rahasia apapun lagi.
"Mama...!" panggi Ozan, ia seperti sedang menunggu jawaban dari Zarima.
"Zan, ayo kita cari tempat bicara dulu..." pinta Zarima.
Ozan lalu mencari sebuah cafe untuk mereka bicara karena Zarima tidak ingin membicarakan masalah itu di rumah.
"Ozan, maafkan mama, berat untuk menceritakan semua ini. Tapi kamu perlu tahu soal ini. Liontin itu... pemberian ibunya Ameera untuk Deniz. Sebenarnya yang di jodohkan dengan Ameera itu bukan kamu, tapi Deniz. Ameera dan Deniz lahir di waktu yang berdekatan." ungkap Zarima.
__ADS_1
Ozan membeku mendengar ucapan sang ibu. Rasa bersalahnya semakin besar di hatinya.
"Jadi benar, Mah... Aku benar-benar sudah memisahkan Rangga dan Ameera." ucap Ozan.
"Karena kita semua mengira Deniz meninggal, jadi sejak saat itu, kamu menggantikan Deniz sebagai calon suami Ameera. Maafkan kami Ozan, sudah memaksa kalian menikah."
"Aku harus bilang apa sama Ameera dan Deniz, Mah. Kalau mereka tahu kenyataannya, mereka pasti sedih. Apa mama tahu perasaan antara Ameera dan Deniz? Ameera bahkan pernah mencoba kabur dan berlutut memohon supaya aku mau menceraikannya." ucap Ozan.
"Semuanya sudah terjadi, Ozan. Dan bukankah sekarang kamu dan Ameera sudah saling menerima?"
"Meskipun begitu, aku akan tetap merasa bersalah, Mah... Deniz hilang karena aku nggak menjaganya dengan baik."
"Itu bukan salahmu, Nak... Kita nggak tahu bagaimana Hendri membawa Deniz pergi."
Mereka larut dalam pembicaraan itu, dan tanpa terasa hari mulai larut. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah. Ameera yang mendengar suara mobil langsung berdiri dan membuka pintu.
"Sayang, kok kamu belum tidur?" tanya Ozan seraya mengecup kening Ameera.
"Apa aku bisa tidur dalam keadaan begini?"
"Ya sudah, ayo masuk," ajak Ozan.
Mereka lalu mengantar Zarima masuk ke kamarnya, Ameera melihat Zarima begitu lelah, lalu mengambilkan segelas air putih.
"Mama, aku temani tidur, di sini, ya..."
"Nggak usah, Nak... Kamu di atas saja sama Ozan. Mama nggak apa-apa." ucap Zarima.
Ameera melihat wajah ibu mertuanya yang terlihat memucat itu, "Tapi mama kelihatan pucat."
Zarima tersenyum pada Ameera, "Mama nggak apa-apa, kamu istirahat, ya..."
"Ayo, Yank... Kita ke kamar, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu." ajak Ozan.
"Beneran, mama nggak apa-apa di tinggal sendiri?" Ameera bertanya sekali lagi berusaha meyakinkan dirinya.
"Nggak apa-apa, yank... Mama baik-baik aja kok."sahut Ozan.
Akhirnya mereka kembali ke kamar. Ada banyak hal yang ingin di bicarakan Ozan dengan istrinya itu. Sementara Zarima meraih ponselnya dan menghubungi Hasan.
__ADS_1
**to be continue