
"Boleh tidak sekali lagi? " Ameera yang belum puas itu merengek manja pada Ozan.
Ozan melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 12 siang.
"Tidak, kita mau ke tempat lain lagi, Ayo!" Ozan pun mengajak Ameera meninggalkan area bukit paralayang itu.
"Memang kita mau kemana lagi?" tanya Ameera penasaran.
"Makan siang dulu. Terus istirahat".
Mereka pun menuju ke suatu tempat untuk makan siang. Suasana restoran sangat indah dengan pemandangan bukit di depannya. Ozan memesan beberapa menu makanan kesukaannya.
"Kamu suka makan apa?" tanya Ozan sambil membolak balik buku menu, tapi yang di tanya diam saja, menatap dengan takjub pemandangan di depannya. "Eh, aku bertanya!" ucapnya sambil mengetuk-ngetuk meja.
"Maaf aku melamun. Kenapa tadi?" tanya Ameera gelagapan.
"Belum pernah ke puncak ya?" tanya Ozan.
"Belum," Ameera seraya menggeleng.
"Kamu suka makan apa?"
"Apa saja aku suka." jawabnya singkat.
"Ya kan ada makanan kesukaan. Nggak mau pilih sendiri?" Ameera kembali menggeleng. Selama ini Ameera memang tidak pilih-pilih makanan.
Akhirnya Ozan memesan makanan yang dia rasa Ameera akan suka. Saat makanan yang di pesan datang, mereka makan dengan lahap, apalagi dengan suguhan pemandangan indah di depan yang memanjakan mata. Setelah makan mereka menuju villa mewah milik keluarga Chandra Jaya. Villa dengan berbagai fasilitas di dalamnya.
"Ini kamarmu, kamarku di ujung sana. Kalau butuh sesuatu bilang saja, kamu istirahat dulu."
" Tapi aku masih mau jalan-jalan." Ameera merengwk seraya menarik ujung kemeja Ozan seperti anak kecil. Sesuatu dari Ameera yang belum pernah dilihat Ozan.
"Kuda-kudaan mau?" tanya Ozan songkat membuat Ameera membelalakkan matanya.
"Apaaaaa?" Ameera tersentak kaget dan reflek melempar tas kecilnya ke wajah Ozan.
Ozan pun menjadi kesal, "Aku bilang liburkan jiwa barbarmu hari ini. Aku mau mengajakmu berkuda di kebun teh."
"Oh, habis kamu bilangnya aneh." ucap Ameera seraya menunduk malu.
"Memang apa yang kamu pikirkan?" Seketika wajah Ameera menjadi merah mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
Siang itu Ozan mengajak Ameera berkuda mengelilingi kebun teh yang lokasinya tidak jauh dari villa nya. Pemandangan indah membuat Ameera tidak mengedipkan mata.
Beberapa kali Ameera meminta Ozan mengambil gambar dengan kameranya. Kadang mereka berselfie ria.
Setelah puas dengan berkuda, Ozan mengajak Ameera kembali ke villa untuk istirahat. Karena masih ada kejutan lain yang akan di berikan Ozan untuk Ameera. Ia tidak mau Ameera kelelahan.
***
Hari sudah beranjak sore. Waktu menunjukkan sudah pukul 5 sore. Ameera masih bergelung di bawah selimut. Udara yang dingin membuatnya ingin berlama-lama di tempat tidur yang empuk. Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Matanya masih mengantuk, dengan langkah gontai Ameera membuka pintu. Ada Ramon di sana.
"Eh kak Ramon. Kenapa?" Ameera melirik kesana kemari mencari sesuatu tapi tidak di temukan yang di cari. Hanya ada dua orang wanita di belakang Ramon yang Ameera tidak kenal.
"Pak bos suruh kasih ini." Ramon menyerahkan sebuah papper bag kepada Ameera.
"Apa ini?
"Nggak tahu, katanya di suruh siap-siap, dua orang ini akan membantumu. Kalau selesai cepat turun ya. Aku tunggu di bawah."
Dia mau apa sih. Kirim orang segala.
Tiba-tiba Ameera teringat ayahnya, saat mengajaknya ke rumah keluarga Ozan untuk pertama kalinya, ayahnya juga mengirim dua orang pegawai salon untuk membantunya.
Ameera mengajak dua orang tersebut masuk ke kamarnya. Lalu ia membuka paper bag yang di berikan Ramon. Ada gaun indah warna krem di dalam kotak.
Setelah mandi, Ameera memakai gaun tersebut. Lalu dua orang pegawai salon membantu meriasnya. Sehingga Ameera terlihat sangat cantik. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Ramon sudah menunggu di depan villa, berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di mobil.
Saat melihat sosok Ameera datang dengan penampilan yang sangat berbeda, Ramon memandangnya tanpa berkedip. Ameera terlihat sangat cantik dan kelihatan dewasa. Berbeda dari kesehariannya. Ramon Segera menyadarkan diri dari lamunannya.
Bini bos bini bos bini bos. Kalimat ini beberapa kali di ucapkan dalam hati. Menyadarkannya bahwa gadis cantik di depannya adalah istri bosnya.
B*go lu Zan. Bini bening begini di anggurin berbulan-bulan. Ramon mengumpati Ozan di dalam hatinya kemudian segera mengantar Ameera ke suatu tempat dimana Ozan sudah menunggu.
Sampailah mereka pada suatu tempat dimana Ozan telah menunggu Ameera.
"Mas Ozan mana?" tanya Ameera sambil matanya melihat kesana kemari mencari sosok Ozan.
"Bos sudah menunggu di dalam. Masuk saja! "
Seorang pelayan wanita muncul dari dalam, dan mengantar Ameera ke tempat dimana Ozan sedang menunggunya. Saat masuk, ameera sudah di suguhkan pemandangan indah. Cahaya lilin kecil seolah menemaninya sepanjang jalan menuju tangga.
Kenapa jantungku tidak karuan begini?
__ADS_1
Ameera sampai pada bagian rooftop villa, ia berjalan melewati lilin-lilin kecil yang berbaris rapi di lantai bersama dengan kelopak bunga warna merah yang bertebaran dimana-mana. Seolah menyambut kedatangannya, sampai ia melihat sosok Ozan di ujung sana sedang tersenyum ke arahnya.
"Kamu kelihatan sangat cantik dengan dandanan begini." Ozan meraih pergelangan tangan Ameera, lalu mengecup keningnya.
Di depannya sudah ada meja yang telah di hias seindah mungkin, diatasnya ada beberapa lilin, dan di bawah meja bertaburan kelopak bunga merah membentuk hati. Ameera merasa seperti ada kupu-kupu beterbangan di hatinya.
"Ini tempat apa?"
"Ini villa papa yang lain. Papa punya beberapa villa di puncak."
"Kenapa nggak di villa tempat kita istirihat tadi."
"Kalau di sana, namanya bukan kejutan donk. Kan ada kamu di sana." Ozan tidak habis pikir dengan kepolosan Ameera.
Ah, semanis itu ya manusia jadi-jadian ini. Batin Ameera
Ameera tersipu malu. Ia melihat sekeliling. Hanya ada cahaya lilin yang menyinari tempat tersebut. Suasana sangat romantis. Seorang pelayan pria datang membawa nampan makanan. Rupanya Ozan juga menyewa private chef untuk membuatkan menu makanan favoritnya, agar kejutan candle light dinner untuk Ameera berjalan sempurna.
Ozan mencoba mengobrol santai dengan Ameera untuk memecah kecanggungan di antara mereka sambil menimati hidangan di depannya. Akhirnya sampailah pada inti dari kejutan ini.
Ozan menggenggam tangan Ameera.
"Ameera, sebenarnya aku mengajak kamu kesini mau bilang sesuatu"
"Apa?" jantung Ameera mulai berdetak kencang, sedang menerka apa yang akan di katakan Ozan.
"Aku minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan padamu, aku sangat menyesal pernah melakukannya"
Seketika Ameera teringat beberapa bulan lalu saat Ozan marah dan memaksanya.
"Soal itu, aku sudah maafkan"
"Aku ingin kita membuat kenangan indah di sini dan melupakan kejadian yang lalu."
Ozan lalu mencium punggung tangan Ameera. Sejenak muncul keheningan diantara mereka.
"Ameera aku tau kita menikah karena terpaksa, kita juga tidak saling mencintai di awal pernikahan kita. Tapi kita juga tidak bisa terus menggantung hubungan kita kan?" Ameera terdiam dengan kalimat yang di lontarkan Ozan. "Kalau dinding pembatas di antara kita tidak di robohkan, bagaimana hubungan kita akan membaik?"Ozan melanjutkan.
"Maaf..."
"Kenapa minta maaf, aku yang salah karena aku bukan suami yang baik. Ameera, maukah kamu memulai segalanya dari awal bersamaku? Aku ingin kita menjadi sepasang suami istri yang sebenarnya. Dan kita sama-sama membuka hati untuk belajar saling mencintai."
__ADS_1
💎💎💎💎
Bersambung