Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
berjuang bersama


__ADS_3

"Dokter, kita kehilangan dia," ucap seorang asisten dokter.


"Siapkan alat pacu jantung." pinta dokter itu.


Tim dokter yang menangani Ameera segera melakukan upaya untuk menyelamatkan nyawanya. Sementara seorang dokter anak sedang melakukan penanganan pada bayi perempuan yang kondisinya sangat lemah itu.


"Sus, bawa segera bayi ini ke ruang perawatan bayi," pinta dokter pada seorang perawat.


Salah seorang dokter keluar dari ruang operasi hendak memberitahu kondisi Ameera dan bayi perempuannya. Zarima yang mendengar itu menangis sejadi-jadinya.


Seketika seluruh tubuh Ozan bergetar. Ia terduduk di kursi panjang dengan wajah pucat. Rangga kemudian mendekat dan duduk di sampingnya seraya menepuk bahunya.


"Tenang Bang! Ameera itu orang yang kuat. Dia akan baik-baik saja," ucap Rangga mencoba menenangkan kekhawatiran kakaknya.


Beberapa saat kemudian, dua orang perawat keluar dari ruang operasi dengan mendorong dua buah kotak kaca. Mereka yang berada di tempat itu segera berdiri, hendak melihat bayi-bayi itu.


Air mata Zarima dan Hasan meleleh, begitu melihat cucu yang telah mereka nantikan selama ini. Perasaan bahagia dan takut menyatu mengingat cucu perempuan mereka dalam keadaan mengkhawatirkan.


Dokter anak itu pun meminta agar Ozan ikut menuju ruang perawatan bayi. Sementara yang lain tetap menunggu di depan ruang operasi.


Di dalam ruangan bayi, dokter melakukan observasi ekstra untuk bayi perempuan itu karena kondisinya yang melemah. Sementara Ozan menggendong anak lelakinya dan segera mengumandangkan adzan di telinganya. Tidak terasa, air matanya berguguran begitu saja, melihat wajah bayinya itu.


***


Rangga terlihat lebih tenang di banding yang lain, ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun Dina dapat melihat raut wajah Rangga yang sedang di landa kecemasan itu. Dina duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya erat.


"Ameera akan baik-baik saja, Rangga. Jangan khawatir, harapan selalu ada,"


Iya, Din... Terima kasih ya, kamu sudah mau datang,"


Dina tersenyum manis, membuat jantung laki-laki di sampingnya seakan mau meledak. Benar kata para pujangga, cinta memang menyakitkan, kadang ia baru terasa saat telah kehilangan. Perasaan sakit itulah yang kini harus di pendam oleh Rangga. Dia harus dua kali merasakan patah hati karena cintanya yang tidak kesampaian.


Setelah hampir dua jam menunggu, dokter keluar dari ruang operasi.


Semua orang yang ada di sana sudah menyiapkan hatinya untuk menerima kenyataan terburuk.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Zarima dengan suara bergetar.


"Kondisinya sudah stabil, tapi pasien masih belum sadarkan diri karena masih di bawah pengaruh obat bius. Selanjutnya pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan nifas," tutur dokter itu.

__ADS_1


Zarima dan Hasan bernafas lega. Ada rasa bahagia yang tak terhingga mendengar menantu kesayangan mereka selamat. Mereka kemudian saling berpelukan, melepaskan semua rasa khawatir yang sempat menghinggapi hatinya.


Rangga menangis bahagia mendengar wanita yang menjadi cinta pertamanya itu selamat dari maut. Saking bahagianya, ia sampai memeluk Dina dengan erat, membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang.


***


Ameera terbaring lemah di dalam sebuah kamar. Sejak tadi Ozan tidak beranjak sedikitpun dari sisinya istrinya itu. Ozan meraih tangan Ameera dan meletakkannya di pipinya.


"Sayang, bangunlah... Aku dan anak-anak butuh kamu. Kamu tahu, mereka sangat lucu, anak perempuan kita sangat cantik seperti kamu. Dia juga sedang berjuang sekarang. Masih banyak yang harus kita lakukan, Yank... Kita belum membuatkan kamar untuk mereka, kita bahkan belum memberi mereka nama. Aku tidak akan bisa merawat mereka tanpamu," ucapnya seraya menjatuhkan air matanya.


Hasan, Zarima dan Rangga masih setia menunggu di depan. Mereka duduk bersama di kursi dengan Zarima yang bersandar di bahu Rangga. Sedangkan Aliyah sedang menemani Rizal yang menjalani perawatan di ruangan lain.


"Mama sama Papa pulang saja, ya... Biar aku yang tunggu di sini," kata Rangga pada kedua orang tuanya.


"Mama mau tunggu Ameera. Mama akan pulang setelah dia bangun."


"Ini kan sudah hampir pagi, Mah... Mama kan juga butuh istirahat. Atau mama tidur di dalam saja," Rangga lalu menuntun ibunya itu memasuki kamar Ameera dan memintanya berbaring di sofabed yang berada di kamar itu.


"Papa, aku mau lihat Bang Ramon dulu, ya. Siapa tahu dia butuh sesuatu,"


"Iya, Papa juga mau ke mushola."


Mereka Lalu beranjak menuju lantai bawah. Rangga menuju ke kamar tempat Ramon di rawat. Namun, saat pintu baru terbuka setengah, matanya menangkap pemandangan yang membuat hatinya memanas. Dina sedang menemani Ramon di dalam sana.


"Makasih, ya Din... Kamu sudah mau datang jauh-jauh kemari," ucap Ramon seraya menggenggam tangan pujaan hatinya itu.


"Iya, Kak... Aku sekalian mau lihat Ameera."


Rangga yang melihat adegan yang menurutnya mesra itu mengepalkan tangannya sampai gemetaran. Kecemburuannya seolah melambung tinggi ke angkasa. Karena tidak tahan, ia lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Ameera baik-baik saja kan?" tanya Ram9n kemudian.


"Dia belum sadar. Anak perempuannya juga masih dalam tahap observasi. Keadaannya tidak begitu baik,"


"Semoga mereka cepat melewati masa sulit ini... Ngomong-ngomong, kamu sudah bertemu dengan Rangga?"


Dina menjawab dengan mengangguk, namun terlihat gurat kesedihan di wajahnya.


"Aku ikut senang dia sudah bisa berjalan kembali,"

__ADS_1


***


Pagi menjelang, perlahan matahari mulai menampakkan sinarnya menerangi seluruh alam semesta. Ozan tertidur dengan posisi duduk di kursi dan kepalanya menelungkup di sisi tempat pembaringan Ameera. Hampir 3 hari Ameera tak sadarkan diri setelah menjalani operasi.


Hingga laki-laki itu merasakan usapan tangan lembut membelai rambutnya. Perlahan ia membuka matanya. Dan rasa hangat tiba-tiba merasuki jiwanya manakala ia melihat istri tercintanya telah terbangun.


"Sayang... Alhamdulillah, kamu sudah bangun," ucap Ozan seraya memeluk Ameera.


Ameera kemudian meraba perutnya dan merasakan perutnya telah rata.


"Mas, anak-anak... Dimana mereka? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Ameera dengan suara seraknya.


"Tenang dulu, Yank. Mereka ada di ruang perawatan bayi."


"Aku mau lihat mereka, Mas..." Ameera berusaha membangunkan tubuhnya, namun Ozan menahannya.


"Sebentar... kamu harus di periksa dokter dulu. Setelah itu aku antar ke ruangan bayi," Ozan lalu pergi memanggil seorang dokter yang menangani Ameera.


Zarima yang sedang tertidur di sofabed itu langsung terbangun ketika sayup-sayup mendengar suara Ameera. Wanita itupun segera mendekati menantunya itu.


"Ameera, kamu sudah bangun, Nak..." ucapnya seraya membelai puncak kepala Ameera.


"Iya, Mah..."


"Syukurlah..." Zarima kemudian mengecup kening Ameera dengan sayang seraya menjatuhkan air matanya.


"Mama, aku mau melihat anak-anakku,"


"Iya sebentar, Nak... Biar dokter memeriksamu dulu," ujar Zarima kemudian.


Setelah memeriksa dan memastikan keadaan Ameera sudah stabil, dokter itupun mengizinkan Ameera untuk melihat bayi kembarnya yang masih menjalani perawatan.


Ozan mendorong kursi roda Ameera menuju ruang bayi. Dan, ketika Ameera melihat kedua bayinya dari balik jendela kaca ruangan itu, ia menangis haru melihat bayi-bayi mungilnya terbaring di dalam inkubator. Bayi laki-lakinya terlihat sedang menangis, sementara bayi perempuannya masih tertidur.


"Mereka sepertinya tidak sabar mau bertemu ibunya," ucap Ozan yang sedang membantu Ameera berdiri, "Bayi perempuan kita sedang berjuang sekarang. Dia masih lemah. Dia pasti akan kuat seperti kamu,"


"Aku mau masuk kesana, mas... Aku mau lihat mereka dari dekat," pinta Ameera.


"Sebentar, aku bilang sama dokter dulu, ya..."

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2