Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Tahanan Rumah


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak Ameera di izinkan pulang oleh dokter, tetapi Ozan tetap mengurungnya di rumah. Ia tidak mengizinkan Ameera pergi kemanapun termasuk pergi kuliah.


Membuat Ameera kesal bukan main. Bagaimana tidak, ia sudah mati-matian merayu Ozan dengan melakukan hal yang menurutnya paling memalukan di dunia. Menjadi agak liar di kasur.


Cara terakhir yang Ameera pikir mampu merobohkan pertahanan suaminya yang tidak memberinya izin keluar rumah.


Setiap kali selesai menjalankan aktivitas wajibnya melayani hasrat suaminya, ia akan merayu dengan bergelayut manja agar Ozan mengizinkannya pergi kuliah. Akan tetapi jawaban Ozan tetap tidak.


Seperti halnya pagi ini, mereka kembali berdebat setelah sebelumnya melakukan kegiatan mesra di atas ranjang. Ameera bahkan sudah beberapa kali merengek manja pada Ozan. Tetapi bukan Ozan namanya jika ia terpengaruh dengan rayuan maut Ameera.


"Aku mau pergi kuliah, titik!" Ameera sudah mulai kehilangan suara manja nya yang gemulai berganti dengan suara penuh penekanan .


"Sayang... coba lihat, luka mu masih ada." Ozan menunjuk beberapa bagian tubuh Ameera yang menunjukkan bekas luka.


"Ini kan sudah sembuh. Ini hanya bekas luka. Nanti juga hilang sendiri." ucapnya seraya menepuk bekas lukanya berusaha membuktikan bahwa bekas luka itu tidak sakit lagi.


"Tetap tidak!" kata Ozan tegas.


"Sudah dua minggu kamu menjadikan aku tahanan rumah, kamu jahat sama aku!" teriak Ameera.


Ozan hanya memalingkan wajahnya, "Bodo amat!"


"Kenapa aku tidak di rantai aja? Biar sekalian tidak bisa keluar kamar?" Ameera memukul Ozan dengan bantal saking kesalnya. Ozan hanya mampu menangkis serangan mendadak itu.


"Ameera, nanti kalau luka-luka itu sudah hilang, baru kamu boleh keluar rumah."


"Baiklah, kalau begitu mulai malam ini aku tidak mau tidur denganmu. Aku mau pindah ke kamar tamu," ucap Ameera memebuat Ozan pusing sendiri.


"Dosa loh, membiarkan suami kesepian karena tidur sendiri. Kamu mau kena azab seperti yang ada di film-film. Apa itu judulnya ya?" Ozan mulai berpikir sejenak memikirkan judul film dengan judul panjang yang sering di tonton Ameera.


Ameera mulai kesal mendengar perkataan Ozan yang makin lama makin tidak masuk akal itu. Tiba-tiba terbesit ide dalam pikiran Ameera . Ia mengambil ponsel dari atas meja nakas. Ozan mengerutkan alisnya memperhatikan gerak-gerik Ameera, dengan tubuh polosnya yang hanya tertutupi selimut.


"Apa lihat-lihat?" Sentak Ameera sambil membulatkan matanya. Ozan hanya mengangkat kedua tangannya seolah memberi isyarat terserah.


Ameera melakukan panggilan melalui ponselnya. Ia hendak menelepon seseorang yang jauh di sana. Sementara Ozan masih duduk selonjoran di sisi ranjang dengan menyandarkan kepalanya, menunggu hal ajaib apa yang akan di lakukan oleh Ameera selanjutnya.


"Halo... Mama...!" ucap Ameera membuat Ozan terlonjak. "Tolong aku, Mama..."

__ADS_1


"Ameera jangan lebay..., kamu pikir kita sedang shooting film telenovela apa?" Ozan menyela di tengah-tengah pembicaraan Ameera di telepon.


Sementara Ameera menjulurkan lidahnya pada Ozan. Ia mengaktifkan loudspeaker ponsel agar Ozan juga dapat mendengar suara ibunya.


"Kamu kenapa nak...? Kamu di apakan sama Ozan?" Terdengar suara Zarima di ujung telepon.


"Tolong jemput aku, mah... Mas Ozan jahat sama aku!" Suara Ameera terdengar lirih, bagaikan dirinyalah manusia paling sedih di muka bumi.


"Jahat bagaimana, Nak?" Suara Zarima sudah terdengar khawatir, sementara Ameera tersenyum puas.


" Aku di kurung di rumah, Mah... sudah dua minggu tidak boleh keluar rumah. Mama jemput ya... aku mau tinggal sama Mama saja."


Ozan terus memperhatikan Ameera dengan ekor matanya,


Kalau ini ajang piala Oscar, aku yakin kamu pemenangnya. batin Ozan.


"Ya ampun, Ozan benar-benar keterlaluan... Kamu tunggu sebentar, Nak. Mama kasih tau Papa. Kita akan jemput kamu kalau begitu," Mendengar ucapan sang ibu mertua, Ameera menunjukkan senyum kemenangan.


Tiba-tiba Ozan merebut ponsel milik Ameera yang membuat Ameera gelagapan. Lalu tanpa izin, Ozan merubah panggilan suara menjadi panggilan Video.


Raut wajah Zarima sudah kesal di sana ketika melihat wajah Ozan yang muncul di layar ponsel.


"Ozan... Kamu apakan Ameera? Kenapa Ameera minta Mama jemput?"


"Mah, jangan percaya sama mantu Mama yang drama queen ini. Dia cuma acting..." Ozan mengarahkan kamera ponsel pada Ameera yang tubuhnya tertutup selimut. Lalu kemudian mengarahkan kembali ke wajahnya.


"Kamu kurung Ameera di rumah? Kenapa?"


"Mama ingat kan dua minggu lalu apa yang terjadi pada Ameera. Aku cuma minta dia istirahat dulu beberapa hari lagi." Ozan memberikan Alibi yang paling masuk akal agar tidak mendapatkan siraman rohani dari ibunya.


"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu jangan galak-galak sama Ameera."


"Tidak , Mah... Mama lihat kan? Kami masih di tempat tidur. Ameera nya saja yang bandel, Mah." Ozan sengaja memamerkan dada telanjangnya pada ibunya, yang sudah pasti bisa menebak mereka habis melakukan apa.


Zarima pun tertawa lantang membuat wajah Ameera merona malu.


"Sudah dulu ya, Mah... Kami mau melanjutkan apa yang belum terselesaikan karena drama pura-pura ngambek pagi ini,"

__ADS_1


"Devam et, torun istiyorum" kata Zalima sambil tertawa kecil.


"Tamam anne." jawab Ozan seraya tersenyum puas. Lalu mengakhiri sambungan video call nya.


Ameera mendengus kesal, sedang menebak apa yang di bicarakan Ozan dan ibunya sebelum mengakhiri panggilan, Ameera tidak mengerti karena mereka menggunakan bahasa Turki.


"Sudah lihat kan? Betapa berbahaya nya berurusan dengan Ozan Chandra Jaya?" kata Ozan dengan menunjukkan seringai tipis.


Karena kesal bercampur malu Ameera melayangkan tinjunya ke wajah Ozan. Membuat Ozan mengaduh karena di tinju secara tiba-tiba.


"Ini akibatnya bermain-main dengan Ameera Malika Hutomo binti Rudianto Hutomo." Ameera membalas menyebutkan nama selengkap-lengkapnya.


Ia segera mengambil jubah mandi nya dan pergi ke kamar mandi. Tidak mempedulikan Ozan yang sedang meringis kesakitan karena kepalan tinju Ameera tepat mengenai hidung mancungnya. Ameera membanting pintu kamar mandi dengan keras.


"Bocah itu, jiwa barbarnya tidak hilang-hilang" gumam Ozan seraya meringis memegangi hidung nya yang memerah.


***


Ameera sudah selesai mandi dan berganti pakaian sementara Ozan masih duduk di atas kasur. Ameera tidak mempedulikan Ozan. Ia tetap pada pendiriannya, hari ini harus berangkat kuliah.


"Aku mau berangkat,"


"Kemana?"


"Kuliah"


Ozan pun menggaruk kepalanya, sudah tidak tahu cara apa yang bisa di gunakannya untuk mengurung Ameera di rumah.


"Yank... Minggu depan saja kuliahnya. Kamu di rumah saja dulu beberapa hari ini," bujuk Ozan lagi.


"Aku kan mahasiswa baru, Mas. Masa aku harus cuti terus, mentang-mentang yayasan temoat aku kuliah punya keluargamu. Kan aku juga tidak bisa seenaknya,"


Ozan pun kehilangan kata-kata di buatnya.


Memang tidak mudah menghadapi anak kecil ini...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2