
3 minggu kemudian....
Ozan dan Ameera sudah tiba di Grand Istanbul Airport. Mereka berangkat duluan, sementara Ramon akan menyusul sehari sebelum acara. Saat ini mereka berada di jalur kedatangan menunggu mobil jemputan. Rencananya Hasan dan Zarima yang akan menjemput mereka.
Perjalanan dari Indonesia-Turki yang memakan waktu kurang lebih 12 jam membuat Ameera merasa pusing. Apalagi ini pengalaman pertamanya naik pesawat. Sambil memunggu, Ozan memakaikan baju hangat dan kupluk di kepala Ameera karena suhu udara di kota Istanbul lumayan dingin.
"Mas... dingin banget ya...!" Keluh Ameera
"Nanti juga terbiasa, sayang! " sambil merangkul bahu Ameera.
"Kamu tunggu di sini bentar, aku toilet dulu ya?"
"Iya. Jangan lama-lama, mas" pinta Ameera
Ameera beberapa kali terlihat melingkarkan tangannya ke tubuhnya sendiri seperti gerakan seseorang yang kedenginan. Selang beberapa menit duduk sendiri, tiba-tiba seorang pria asing menghampiri ameera.
"Yardımcı olabileceğim her şey?" Kata pria tersebut. Ameera melongo tidak mengerti apa yang di katakan pria tersebut.
"Hayır teşekkürler" Suara Ozan terdengar dari Arah belakang Ameera. Ameera bernapas lega saat melihat Ozan ada di belakangnya.
Pria yang tadi menghampiri Ameera pun pergi meninggalkan mereka.
"Tadi dia bilang apa mas?" Tanya Ameera
"Nawarin bantuan sama kamu" jawab Ozan.
"Oh..."
Dari kejauhan muncullah Hasan dan Zarima. Ameera berlari kecil menghampiri ibu mertuanya, memyalami dengan mencium tangan dan memeluknya bergantian dengan Ozan.
"Mama aku kangen" kata Ameera yang sedang manja kepada ibunya.
"Dingin ya, nak? Tanya Zarima.
Ameera mengangguk manja.
"Ya sudah, ayo kita pulang" ajak Hasan kepada ke dua anaknya.
Mereka menuju parkiran. Disana sudah ada sopir menunggu mereka.
__ADS_1
Sepanjang jalan Ameera merasa takjub dengan indahnya kota Istanbul. Sampai akhirnya sampailah mereka pada mansion yang sangat megah tidak kalah dari rumah mewah yang di tempatinya bersama Ozan.
"Ini rumah siapa, mas?" Tanya Ameera saat memasuki halaman.
"Rumah papa" jawab Ozan singkat. "Masuk yuk, udara makin dingin loh."
****
Malam ini keluarga besar dari ibu Ozan berkumpul di rumah untuk menyambut kedatangam Ozan dan istrinya. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menikmati makanan khas turki. Ozan sedang mengobrol santai bersama beberapa saudara jauhnya. Sedangkan Ameera bersama ibu mertuanya sedang duduk bersama beberapa keluarga lainnya.
Sejak tadi Ameera hanya duduk diam, dan menunduk. Sesekali tersenyum. Pasalnya seluruh keluarga dari ibu yang notabene orang asli Turki, bicara menggunakan bahasa Turki. Yang pasti tidak di pahami oleh Ameera.
Ozan yang sejak tadi melirik ke arah Ameera seolah mengerti kebingungan yang di alami Ameera. Ia pun menghampiri Ameera.
"Capek ya? Mau istirahat di kamar?" tanya Ozan.
Ameera mengangguk. Ozan pun minta izin pada keluarganya mengajak Ameera beristirahat di kamar.
***
"Aku gak ngerti mereka bicara apa." Kata Ameera pada Ozan yang sedang duduk selonjoran di kasur.
"Nanti aku ajarin bahasa Turki. Kamu pake bahasa inggris aja. Banyak kok yang bisa bahasa inggris."
"Tidur yuk... ngantuk" ajak Ameera
Merekapun terlelap dengan Ameera yang menjadikan lengan Ozan sebagai bantalnya.
***
Pagi hari di mansion besar itu, keluarga Zarima sudah di sibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan Ozan dan Ameera yang akan di laksanakan besok. Ameera di jadwalkan akan melkukan fitting gaun pengantin untuk yang ke dua kali, setelah resepsi yang pertama gagal di adakan.
Setelah fitting pakaian selesai, Ozan mengajak Ameera jalan-jalan mengelilingi kota Istanbul. Mereka berkunjung ke berbagai tempat wisata di turki seperti blue mosque dan Sultan Ahmed square.
Ozan juga mengajak Ameera mengunjungi Topkapi palace yang dulunya merupakan tempat tinggal sultan Ottoman Turki yang kini menjadi museum. Hingga tak terasa hari hampir petang. Ozan pun mengajak Ameera pulang karena mereka harus beristirahat. Besok akan menjadi hari yang panjang bagi keduanya.
Zarima masih di sibukkan dengan bolak-balik rumah dan hotel tempat mereka mengadakan resepsi. Ia turun tangan sendiri mengurus resepsi pernikahan putranya. Ia ingin semuanya sempurna tanpa kekuraangan apapun.
***
__ADS_1
Hari yang di nanti-nantikan pun tiba. Resepsi pernikahan yang di gelar di hotel termewah di Istanbul tersebut di hadiri oleh orang-orang penting. Ameera terbalut dalam gaun putih yang sangat anggun membuatnya terlihat seperti ratu sehari.
Ozan sangat menawan dengan tuxedonya membuat mata setiap wanita yang melihatnya seperti enggan mengedipkan mata.
Resepsi pernikahan pun tak luput dari sorotan media di Turki dan Indonesia. Beberapa stasiun televisi menayangkan berita pernikahan putra tunggal di keluarga Chandra Jaya tersebut.
Di sisi lain., seseorang yang sedang menyaksikan jalannya resepsi pernikahan Ozan dan Ameera dari TV sedang mengepalkan tangannya hingga bergetar. Sambil menjatuhkan air mata, ia berteriak memaki Ozan dan Ameera. Ia bersumpah akan menghancurkan pernikahan mereka. Adalah Naura, mantan kekasih Ozan yang belum rela putus dari Ozan. Ia bahkan bersumpah akan merebut kembali Ozan dari anak kecil seoerti Ameera.
Kembali ke ballrom hotel, disana Ozan dan Ameera sedang menyalami para tamu. Tiba-tiba sepasang pria dan wanita menghampiri Ameera dan Ozan. Ameera menatap dua orang tersebut dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Ada Rangga dan Dina disana yang sengaja di Undang oleh Ozan. Ameera tidakk mengetahui bahwa Ozan mengundang Rangga dan Dina. Air mata Ameera hampir saja jatuh jika ia tidak menahannya. Bagaimana rindunya ia pada sosok sahabatnya itu.
"Selamat ya, Ameera. Semoga kamu selalu bahagia." Ucap Rangga. Ozan dapat melihat kebahagiaan di mata Ameera melihat sahabatnya ada di sana.
"Selamat ya, Bang!" Ucap Rangga pada Ozan.
"Makasih banget ya bro, lu mau datang."
Sesaat kemudian mereka saling berpelukan. Seorang fotografer mengabadikan moment kebersamaan mereka berempat.
Rangga dan Dina menikmati indahnya pesta pernikahan sahabatnya. Beberapa kali Rangga melirik ke arah Ameera. Meskipun ia telah merelakan Ameera untuk Ozan, tetapi yang namanya perasaan tidak semudah itu untuk di lupakan. Sesekali ia menatap Ameera dengan wajah sedih. Dan Dina menyadari perubahan wajah Rangga.
"Mas, kamu undang Rangga sama Dina ya?" Tanya Ameera kepada Ozan yang sedang berada di panggung.
"Iya, sayang. Aku tau, mungkin Rangga adalah orang yang paling kamu harapkan ada untuk berbagi kebahagiaan di hari penting ini. Jadi aku sengaja undang buat kamu." Ucap Ozan seraya tersenyum manis pada Ozan.
"Makasih mas" Ucap Ameera dengan mata berkaca-kaca. Rangga memang adalah orang yang paling di inginkan Ameera untuk hadir di hari bahagianya. Walau bagaimanapum, Rangga dan Ameera sudah bersama sejak kecil.
Ozan, Ameera, Ramon, Rangga dan Dina sedang ngobrol seru di meja yang sama dengan berbagai hidangan di depannya. Sesekali mereka terdengar saling melempar ejekan dan tertawa.
"Jadi kamu kesininya di jemput Rangga dulu? Tanya Ameera kepada Dina.
"Enggak. Kita janjian di sini kok. Soalnya kejauhan kalau harus jemput aku dulu." Jawab Dina.
"Kapan nyusul, Bang?" Tanya Rangga pada Ramon. Pertanyaan yang bermuatan ledekan itu sukses membuat Ramon kesal.
"Eh, anak kecil. Gak usah nyindir, lu!" Ucap Ramon kesal.
Rangga tertawa puas melihat ekspresi Ramon.
"Tau deh, yang jodohnya lagi di jagain orang" Ozan menambahkan. Yang membuat mereka semua tertawa di atas penderitaan Ramon.
__ADS_1
Pesta pun berjalan lancar sesuai rencana.
****