
Ameera sedang duduk termenung di balkon. Tatapannya mengarah pada taman di belakang rumah. Pemandangan malam sangat indah di hiasi lampu yang berkelap-kelip. Ia kembali teringat ayahnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya tertembak tepat didepan matanya sendiri. Ada rasa sakit yang tidak terlihat. Di dalam pikiran Ameera, mengapa takdir begitu tidak bersahabat dengan dirinya. Setelah sepuluh tahun lalu ia kehilangan ibunya, sekarang ayahnya. Ameera tidak punya apa-apa lagi. Lalu apa yang akan di ambil takdir darinya. Suami? Persetan dengannya. Ameera ingin membuang jauh-jauh kata suami dalam otaknya. Bahkan takdir sudah mengambilnya sebelum Ameera memilikinya.
Cih, dia bahkan punya pacar. Dan aku lihat mereka saling mencintai. Bagaimana aku sebut dia milikku. Cepat atau lambat makhluk jadi-jadian itu akan pergi meniggalkanku. Dia menikahiku hanya karena ayah. Sekarang ayah sudah pergi. Tidak ada alasan baginya untuk bertahan kan? Lagipula aku tidak peduli. Ameera membatin
Sekarang Ameera terjebak didalam sebuah istana, yang memberinya segala kemewahan, tapi sekaligus merantai tangan dan kakinya. Kemanapun ia pergi selalu di ikuti.
Rasa sedih, lelah, kesal, jenuh, semuanya menjadi satu.
Dengan langkah gontai Ameera menuju kamar dan mematikan lampu. Membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah walaupun seharian tidak melakukan apa-apa.
Dalam kegelapan, air matanya berguguran begitu saja. Setelah puas menumpahkan air matanya, barulah gadis itu tertidur.
***
"Sayang, kamu jangan berantakan makannya bajunya kotor kan?" Ibu mengambil es krim yang di makan Ameera kecil.
"Meera mau lagi, Bu!" Gadis kecil itu merengek meminta es krimnya.
"Ameera, dengarkan ibu, Nak." kata ayah yang duduk di jok depan.
"Tapi ayah, Meera mau es krim." Gadis tersebut terlihat kesal dengan mengerucutkan bibirnya. Ibunya tertawa melihat betapa menggemaskan anak kecil berusia 8 tahun tersebut.
"Ya sudah ini, tapi jangan berantakan ya."
"Iya bu." Ameera kecil meraih es krim dengan bahagia.
Tiba-tiba sebuah mobil menyerempet mobil yang di tumpangi Ameera dan kedua orang tuanya. Mobil oleng ke kiri, mengempaskan tubuh Ameera, terbentur di pintu mobil. Ia menjerit ketakutan.
"Bu, lindungi Ameera!!" teriak ayah.
Ameera kecil ketakutan dan menangis di dalam pelukan sang ibu.
Terdengar suara tembakan, tepat mengenai ban mobil yang membuat mobil oleng.
"Meera takut, Bu."
"Jangan takut sayang. Ada ibu. Ibu dan ayah akan melindungimu."
Terdengar suara tembakan yang kedua. Kali ini membuat mobil oleng ke arah sisi jalan menabrak trotoar dan terguling beberapa kali.
__ADS_1
"Ibuuu..."
***
"Ibu... ibu... Ameera takut Bu... " gumam kecil. Keringat dingin membasahi kening dan tubuhnya bergetar.
" Ameera!! Ameera! Bangun, kamu mimpi buruk ya?" Sayup-sayup Ameera mendengar suara seorang pria memanggil namanya dengan tepukan lembut di pipinya.
Ameera membuka matanya perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Gadis itu bangkit dari pembaringan mengambil posisi duduk. Masih setengah sadar ia teringat mimpinya. matanya pun mulai dipenuhi cairan bening.
"Ibu...! Hiks... hiks..." Ameera memanggil sang ibu yang telah pergi untuk selamanya dengan suara lirih dan isakan.
Ozan menatap Ameera dengan perasaan iba.
"Ameera... kamu tenang dulu, kamu mimpi buruk ya." Ozan membelai rambut Ameera, lalu menariknya ke dalam pelukannya.
"Sudah, jangan menangis, ada aku. " Ozan memeluknya erat seraya mengecup puncak kepala istrinya itu.
"Mau minum?"
Ameera hanya menjawab dengan menggeleng.
"Ya sudah, kamu tidur lagi ya."
Laki-laki itu menatap dalam wajah Ameera yang tertidur kemudian mengecup keningnya.
"Aku akan terus berusaha membuka hatiku untukmu. Sampai aku bisa mencintaimu." gumamnya pelan.
Ozan pun kembali berbaring di samping istrinya itu dan memeluknya.
***
Pagi hari Ameera terbangun dengan posisi masih dalam pelukan Ozan. Menjadikan lengan Ozan sebagai bantalnya. Ameera dapat merasakan hangatnya hembusan napas suaminya itu. Masih setengah sadar, Ameera menatap wajah pria kebulean itu dari jarak kurang dari satu jengkal. Alis yang tebal, hidung mancung, dan bulu halus di sekitar wajah menyatu dengan sempurna. Tiba-tiba...
"Aaa...... !!!" Ameera berteriak sambil mendorong tubuh Ozan agar pelukannya terlepas. Ozan terlonjak kaget dan reflek menutup kedua telinganya. Suara teriakan Ameera membuat telinganya berdengung.
"Kamu pikir kita sedang shooting film tarzan di hutan? Seenaknya berteriak, kamu mau membangunkan penduduk komplek sini?"
Ameera hanya menatapnya dengan perasaan kesal bercampur malu.
__ADS_1
"Yaa, aku tau, kamu memang mengira rumah ini hutan belantara, kamu kan berasal dari suku barbar!" lanjut Ozan dengan nada meledek.
"Itu salahmu. Memeluk orang sembarangan."
"Apa? Memeluk orang sembarangan? Heh, kamu sadar aku ini suamimu. Aku berhak melakukan apapun padamu. Bahkan lebih dari pelukan. "
Ameera reflek melemparnya dengan bantal dan tepat mengenai wajah Ozan.
"Kamu sedang menguji kesabaranku ya? Kamu harusnya berterima kasih aku tidak memakanmu di sini."
"Aku duluan yang akan memakanmu!" Suara Ameera terdengar lantang. Tanpa dia ketahui yang di maksud Ozan dengan kata memakan. Tentu saja bukan dalam artian yang sebenarnya.
Ozan terkekeh. Mendorong bahu Ameera dengan jari telunjuknya beberapa kali.
"Kamu mau memakanku duluan? Ayo coba makan aku. Aku penasaran bagaimana rasanya dimakan oleh anak kecil sepertimu. " Ozan terus mepet mendekatkan tubuhnya kepada Ameera.
Benar saja, Ameera mewujudkan kata memakan yang ada didalam pikirannya.
BUUGGHHH...
"Aauuwhhh... " Ozan meringis kesakitan mengusap pipi kirinya. Lagi-lagi Ameera menghadiahkannya kepalan tangan seperti kemarin dan tanpa rasa bersalah, Ameera mendekat.
"Enak kan dimakan sama anak kecil sepertiku? Kalau kamu ketagihan, aku akan dengan suka rela memakanmu sebanyak yang kamu mau," ucap Ameera seraya tersenyum jahat. Suaranya terdengar lembut, namun begitu menakutkan di telinga Ozan.
Gadis itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Dia lebih cocok menjadi eksekutor hukuman mati, daripada menjadi istri. Huh, Jadi ini yang dia pikirkan tentang memakan? Batinnya.
Ozan yang kesal meraba pipinya yang terasa berdenyut. Terdengar Suara gemercik air di kamar mandi. Sudah cukup lama Ameera di dalam kamar mandi, namun belum juga keluar. Ozan mendekati pintu kamar mandi lalu mengetuknya.
"Ameera kenapa lama sekali di kamar mandi. Kamu sedang apa di dalam? " Ozan berteriak sambil memegangi perutnya.
"Lagi bersemedi. Kenapa?" jawab Ameera sekenanya.
"Kamu pikir rumah ini gunung? Kalau mau bersemedi pergi sana ke gunung." Ozan kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi itu dengan lebih keras.
Tidak lama pintu itu terbuka. Ameera muncul di ambang pintu dengan jubah mandinya. Ozan kemudian menarik tangan Ameera agar segera keluar dari kamar mandi, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu.
Ameera mencebikkan bibirnya melihat tingkah suaminya itu.
__ADS_1
Dasar manusia jadi-jadian.
*****