
Setelah Dina mendapat telepon dari Ramon, ia segera memberitahukannya pada Ameera.
"Ameera..." panggil Dina.
"Hemmm... " Ameera sedang duduk selonjoran di sofa dengan laptop dipangkuannya. Ia di sibukkan dengan beberapa tugas yang tertinggal.
"Kak Ramon bilang, kak Ozan sudah kembali dari Turki. Sekarang lagi mau cari kamu." ucap Dina seraya duduk di sofa berhadapan dengan Ameera.
Ameera terlonjak mendengar kabar Ozan telah kembali dari Turki. Namun, ia seakan tidak peduli dan tetap fokus pada laptopnya.
"Biarin ajalah. Dia nggak tau kan kalau aku sembunyi disini."
"Iya, sih. Tapi bagaimana kalau dia mencarimu ke kampus?"
"Aku akan mengatasinya. Yang penting dia nggak tau aku tinggal dimana." ucap Ameera.
"Kamu masih marah ya, sama suami kamu. Kak Ramon kan udah jelasin semua, kalau Kalian cuma saling salah paham aja." ujar Dina berusaha melunakkan hati Ameera.
"Aku marah bukan karena itu, Din. Aku hampir kehilangan anak-anakku karena perbuatannya. Setiap dia marah, dia selalu melampiaskannya dengan cara yang sama. Aku sudah sudah dua di perlakukan seperti itu olehnya."
"Tapi kan Kak Ozan nggak tau kalau kamu hamil."
"Aku hanya belum bisa memafkannya." ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Dina mengerti keadaan Ameera yang mungkin trauma dengan kelakuan Ozan.
***
Sementara itu, Ozan dan Ramon sedang dalam perjalanan menuju rumah Dina. Selama perjalanan, Ozan tidak henti-hentinya memandangi foto Ameera di ponselnya.
"Gimana? Masih nggak mau ngaku cinta sama bini lu?" sindir Ramon yang sedang menyetir.
"Udah, nyetir aja yang benar." Ozan memeriksa ponsel Ameera, ia kemudian tersenyum mendapati namanya yang di sematkan Ameera di ponselnya, "Manusia jadi-jadian." Gumamnya sembari terkekeh geli.
"Napa lagi lu?" tanya Ramon begitu mendengar kekehan Ozan.
"Bini gue gemesin banget, ya. Nomor gue disimpan dengan nama manusia jadi-jadian. Dia pikir gue siluman apa." ucapnya sembari mengingat Ameera. Walaupun Ameera kadang berperilaku barbar, namun ia merasa Ameera sangat menggemaskan. Kadang ia sampai kelabakan sendiri menghadapinya. Apalagi belakangan ini sejak Ameera mendiamkannya, emosinya mudah berubah.
"Siap-siap aja lu di sembelih Ameera. Lu nggak lihat tadi di rekaman cctv bagaimana dia mukulin orang-orang itu tanpa ampun. Triple kill, lho. Ngeri gue! " ucap Ramon begidik ngeri menggunakan istilah dalam game online yang sering dimainkannya bersama Ozan.
__ADS_1
Ozan kembali teringat dengan rekaman cctv dimana Ameera yang masih menggunakan piyama menyerang membabi buta beberapa orang yang hendak mengganggunya.
"Ngomong-ngomong, dia nggak tau kan kalau gue pernah mabuk dua kali? "
"Mana gue tahu. ****** lu kalau bini lu sampai tau. Bisa di gorok lu." ancamnya kemudian.
"Biarin lah gue di gorok. Yang penting dia cepat ketemu." kata Ozan pasrah.
Mereka pun tiba di rumah Dina. Namun, hanya ada seorang asisten rumah tangga yang tidak mengetahui kemana Dina selama beberapa hari belakangan. Ozan keluar dari rumah Dina dengan raut wajah lesu. Ramon pun menemani Ozan seharian mencari Ameera ke berbagai tempat yang mungkin didatangi Ameera termasuk rumah lamanya dan rumah Rangga. Namun hasilnya nihil. Ameera tidak berada disana.
"Ram, kemana Rangga sama Dina ngumpetin bini gue, ya? Nomor telepon Dina juga nggak aktif daritadi. " tanya Ozan pada Ramon. Mereka sedang duduk di sebuah cafe, melepas rasa lelah seharian mencari namun tak membuahkan hasil.
"Mana gue tahu, Zan." jawab Ramon berbohong, padahal ia tahu dimana Ameera berada.
"Hubungi orang-orang lu. Suruh mereka melacak keberadaan Dina."
****** gue. Kenapa gue nggak kepikiran kesana. Kalau begini mereka nggak akan bisa sembunyi dari Ozan.
"Malah bengong lu!" bentak Ozan yang melihat Ramon malah terdiam saat di beri perintah.
"Eh... kagak." Sahut ramon gelagapan. "Pulang ajalah dulu. Besok aja nyari laginya. Bini lu pasti baik-baik aja kok," ucap Ramon mencoba mengalihkan perhatian Ozan.
"Kagak lah. Jangan sembarangan lu kalau ngomong." bantah Ramon.
Dengan terpaksa Ramon menghubungi orang-orangnya dan mememerintahkan untuk melacak keberadaan Dina.
Aduh. Pake nggak aktif lagi nomornya si Dina. Gimana cara gue suruh mereka ngumpet ya... bakal ketahuan deh.
Tidak lama kemudian ponsel Ameera berdering. Ozan terlonjak melihat pemanggil di layar. Tampak pemanggil dengan nama Mama tertera di layar ponsel.
"Mama... Mati gue!" Dengan berat hati ia menjawab telepon dari ibunya itu.
"Assalamu alaikum."
"Walaikum salam. Loh Ozan? Kenapa ponsel Ameera ada sama kamu? "
"Iya, Mah. Ameera nggak bawa ponselnya. "
__ADS_1
"Ameera kemana? Tadi mama telepon ke rumah, katanya Ameera nggak pernah pulang ke rumah. Kalian ada masalah apa?"
"Iya mah. Ini salah aku. Kami cuma lagi salah paham aja. Sekarang aku lagi cari Ameera."
"Jadi kamu ke Turki nggak ajak Ameera itu karena kalian lagi ada masalah?" tanya Zarima.
"Maaf, Mah..." ucap Ozan penuh sesal.
"Kamu apain mantu mama sampai pergi dari rumah?" suara Zarima sudah terdengar kesal.
"Salah paham aja, Mah. Nanti aku ceritain. Sekarang aku mau cari Ameera dulu, ya..."
"Tapi Ameera nggak apa-apa kan? Mama khawatir. Ameera mau kemana selain ke rumah ayahnya."
"Aku udah cari kesana. Tapi nggak ada. Bu Yani juga nggak tau Ameera kemana. Kayaknya Ameera ngumpet dirumah temannya. Ini aku sama Ramon lagi nyari."
"Ya sudah. Kabarin mama kalau Ameera ketemu."
"Iya, Mah."
Ozan pun mengakhiri panggilannya. Ia mengusap wajahnya kasar. Sementara Ramon terus mencari cara untuk mengelabui Ozan.
****
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Ameera sejak tadi belum dapat memejamkan matanya akibat ngidamnya yang tidak masuk akal muncul. Tiba-tiba ia ingin makan Kebab Turki seperti yang ia makan saat berada di Turki.
"Dimana aku bisa mendapatkannya." gumamnya pelan.
Ia mengambil laptop di atas meja dan mencari di internet. Berharap ada outlet kebab tersebut di ibu kota. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Ameera menemukan apa yang sejak tadi membuatnya uring-uringan.
"Cabang di jakarta hanya satu ini, ya? Jauh banget lagi dari sini." Gumamnya setelah mendapatkan alamat outlet kebab yang diinginkannya. Namun karena rasa ngidamnya yang tak tertahan, ia terpaksa keluar diam-diam.
Masih menggunakan setelan pakaian tidurnya dan hanya di tambah cardigan, Ameera mengendap-endap layaknya seorang pencuri keluar dari kamarnya. Ia tidak ingin membangunkan Dina yang sudah tidur di kamar sebelah. Ia mencari kunci mobil Rangga di laci dan segera keluar begitu menemukannya.
"Mentang-mentang kalian memiliki darah Turki, makanya kalian merepotkanku dengan keinginan makan kalian yang aneh itu." ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata seperti sedang memarahi janin dalam perutnya. Ia sudah berada di dalam mobil. Matanya berkeliling sejenak melihat keadaan sekitar.
"Aman kan? Nggak ada orang suruhan Rangga atau kak Ramon disini. " gumamnya sambil melirik sana-sini. Setelah merasa aman, Ameera segera melajukan mobil menuju tempat yang agak jauh dari apartemen Rangga tersebut.
__ADS_1
****
Bersambung