Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Bucin atau susis


__ADS_3

Ameera tiba di lantai teratas gedung di antar seorang petugas kemanan. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di gedung CJG, ia begitu takjub dengan kemegahan kantor suaminya. Mereka menghampiri meja sekretaris.


"Selamat siang, apa Pak Ozan ada di dalam?" tanya petugas keamanan itu.


"Ada, Pak. Ada yang bisa di bantu?"


"Tolong beritahu, Nona Ameera ingin bertemu."


"Nona Ameera?" ucapnya seraya memperhatikan Ameera dari ujung kaki ke ujung kepala, sama seperti yang di lakukan resepsionis tadi.


Setahuku nama istri Pak Ozan itu Ameera kan? Anaknya Pak Rudi. Apa ini orangnya. Dia masih sangat muda. Dan penampilannya juga tidak menggambarkan kalau dia istri seorang direktur.


"Ehem." Ameera berdehem mengagetkan sekertaris itu.


"Pak Ozan sedang ada rapat penting, Nona." tutur sekertaris itu.


"Baiklah, aku pulang saja." ucapnya. Ia sudah mau pergi dari sana. Namun sekertaris Ozan segera memanggilnya.


"Tunggu, Nona. Saya akan beritahu Pak Ozan dulu." Ia pun mengetuk pintu ruangan dan masuk begitu terdengar suara Ozan dari dalam.


"Permisi Pak, ada yang ingin bertemu dengan anda. "


Ozan mengerutkan alisnya, tidak biasanya sekretarisnya mengganggu rapatnya hanya karena kedatangan tamu.


Ameera muncul dari belakang sekertaris membuat Ozan membulatkan matanya. Seakan tidak percaya melihat siapa yang datang.


"Ameera? "


Apa aku tidak salah lihat. Eh... iya benar. batin Ozan.


Ameera yang berdiri di belakang sekertaris menatap Ozan dengan wajah masam.


Jadi ini rapat pentingnya. Duduk berdua dalam ruangan dengan seorang wanita cantik. Pintunya di tutup lagi. Mereka


Ozan pun segera menghampiri Ameera yang berdiri mematung di depan pintu.


"Tumben kamu kesini, yank." ucapnya seraya mengajak Ameera masuk ke ruangannya.


"Ada perlu!" jawabnya singkat.


"Kamu duduk dulu, Ya... aku masih rapat."


Ozan mendudukkan Ameera di sebelahnya sementara ia melanjutkan rapat. Ameera memainkan ponselnya sembari menunggu Ozan selesai rapat. Ia melirik Ozan dan wanita di depannya dengan ekor matanya. Membuat wanita yang sedang rapat dengan Ozan menjadi canggung mendapat tatapan tidak bersahabat dari Ameera.

__ADS_1


Ac ruangan ini menyala kan? Tapi kenapa aku kepanasan ya... batin Ameera


"Aku mau pulang saja." bisik Ameera ke telinga Ozan. Ia sudah mau berdiri namun Ozan menarik tangannya.


"Tunggu... bentar lagi kok." ucap Ozan pelan. Ameera kembali duduk dengan ajah masamnya.


Tidak lama kemudian rapat selesai. Wanita cantik itupun berpamitan pada Ozan. Melihat Ozan berjabat tangan dengan wanita lain membuat jiwa Ameera seolah terbakar.


"Jadi rapat pentingnya itu, duduk berdua dalam ruangan tertutup." ujar Ameera saat mereka sudah berdua dalam ruangan. Ucapan Ameera seperti bermuatan sindiran bagi suaminya. Ozan pun kembali duduk di sebelah Ameera.


"Aku kan kerja, yank. Bukan selingkuh."


"Mana aku tahu. Kamu kan tadi berdua dalam sini sama tante itu." sindir Ameera dengan kesalnya.


"Tante?"


"Iya tante tadi..."


"Ya, Maaf yank."


"Kenapa? Kenapa mas malah minta maaf? Habis berbuat kesalahan apa?" tanya Ameera.


"Hah?"


"Terus tadi kamu nggak panggil aku sayang, kamu nggak peluk aku pas aku datang. Kenapa?"


"Kan kamu yang nggak mau di peluk. Kalau tadi aku peluk kamu, trus kamu reflek tabok aku gimana? Aku kan malu, yank."


Ameera tidak merespon Ozan. Ia malah asyik memainkan ponselnya. Tidak mempedulikan Ozan yang sedang berusaha keras membujuknya.


"Ya udah sini aku peluk." ucap Ozan seraya merentangkan tangannya.


"Ogah. Udah nggak selera. Aku mau pulang" Ameera berdiri hendak meninggalkan Ozan keluar dari ruangan. Ia bahkan melupakan tujuan utamanya datang ke kantor CJG. Ozan gelagapan dan langsung berlari mengejarnya.


Hanyutkan saja aku ke Sungai Amazon, Yank.


"Yank.... " panggil Ozan seraya menarik tangan Ameera.


"Lepas, aku mau pulang." Ia berusaha melepaskan tangannya, namun Ozan menggenggamnya kuat.


"Yank... sini bentar. Masa langsung pulang. Tadi katanya ada perlu." Ozan kembali membujuk istrinya.


Ampun. Sejak hamil kenapa tingkahnya jadi begini.

__ADS_1


"Nggak jadi."


Ozan melirik sekertarisnya yang sejak tadi menahan tawanya melihat Ozan berusaha keras membujuk istrinya. Ia pun mengajak Ameera masuk kembali ke ruangannya.


"Ngobrolnya di dalam aja yuk." ajak Ozan seraya merangkul bahu Ameera dan memaksanya masuk kembali ke ruangannya.


Sekertaris itupun geleng-geleng kepala, tidak habis pikir ternyata bosnya merupakan suami takut istri.


Itu bucin apa susis ya? batinnya


****


Ameera duduk di sofa sementara Ozan duduk berjongkok di depannya. Pria itu bahkan sudah kehabisan akal membujuk istrinya yang sejak tadi marah-marah tidak jelas.


Gini banget ya ngadepin ibu hamil.


"Kamu cemburu yank?" Akhirnya Ozan berani menanyakan hal yang sejak tadi tertahan di hatinya.


"Siapa yang.... ehhhhmmmmm"


Ozan menarik tengkuk Ameera dan mencium bibirnya dengan mesra. Semakin lama semakin dalam. Ia sudah tidak tahan dengan tingkah menggemaskan Ameera yang tidak mau mengakui kecemburuannya. Ameera terhanyut dalam ciuman hangat suaminya. Jantungnya berdegup kencang. Ozan yang merasakan Ameera tidak menolak pun memanfaatkan kesempatan itu dan memperdalam ciumamnya.


Emang gue pikirin. Biarin deh sekalian gue di tebas pakai samurai.


Setelah merasakan napas Ameera mulai tersengal, barulah Ozan melepaskannya. Ameera mematung,ia kesulitan mengatur napasnya. Wajahnya bahkan sudah merah padam saking malunya.


"Napasnya susah, ya? Butuh napas buatan?" Ozan berbisik dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah Ameera membuat wajah polosnya semakin merona merah.


Dengan napas tersengal Ameera menepuk-nepuk wajahnya dengan telapak tangannya. Mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali dengan mulutnya yang terbuka membuat Ozan semakin gemas dengan tingkahnya.


Apa dia lakukan? Kenapa aku malah senang tiba-tiba di cium begitu. Aaa... Kenapa aku jadi berpikiran jorok begini.


Saat kesadarannya kembali, Ameera baru menyadari ada Ramon dan sekretaris Ozan di sana yang berdiri di ambang pintu dan sudah sejak tadi menjadi penonton adegan mesranya. Tidak tahu sudah semerah apa wajah Ameera sekarang. Ia beringsut menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Namun, Ozan malah terlihat sangat santai adegan mesranya kepergok Ramon dan sekretarisnya. Ia memeluk Ameera yang semakin mendorong wajahnya menempel padanya. Sementara sekretarisnya memilih keluar dari ruangan.


Sedangkan Ramon, bukannya keluar, malah meledek pasangan tersebut.


"Kalau mau mesra-mesraan itu, lihat dulu ada orang apa nggak. Jangan main nyosor aja." ucap Ramon yang langsung mendapat pelototan dari Ozan, seolah berkata jangan mengundang dunia persilatan.


Awas lu Ram. Omongan lu membawa malapetaka buat gue nanti.


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2