
Ameera membawa dua buket mawar putih kesukaan ibunya. Ia berjalan menghampiri makam dua orang kesayangannya tersebut yang berdampingan. Ia meletakkan satu buket di pusara ibunya, dan yang satunya di pusara ayahnya.
Ia kemudian mengirimkan doa untuk kedua orang tuanya.
Ozan,Ramon dan beberapa pengawal lain sedang mengawasinya dari jauh. Walaupun dalang dari berbagai penyerangan Ozan dan Ameera sudah tertangkap, Hasan tetap melakukan pengawalan yang ketat sehingga kemanapun Ozan dan Ameera pergi selalu di kawal, penjagaan itulah yang membuat Ameera merasa tidak betah. Ia suka kehidupan nya yang dulu, dimana dia pergi kemana saja tanpa di kawal. Padahal, dia tidak tau bahwa dari dulu kemanapun dirinya pergi, pengawal selalu mengikutinya tanpa dia sadari. Bahkan Rangga juga ikut ambil bagian dalam melindunginya. Tiba-tiba mata Ameera di penuhi cairan bening.
"Ayah... ibu... Aku nggak kuat... hiks... hiks... aku nggak kuat hidup sendirian. Ibu pergi, ayah juga pergi, Rangga jauh, sekarang aku tinggal sama orang yang aku nggak kenal. Aku mau pulang ke rumah kita, Ayah... aku mau tinggal sama Bu Yani saja. Aku nggak mau pulang ke rumah besar itu. Kenapa ayah suruh aku menikah dengan orang itu. Aku harus pura-pura kuat di depannya supaya dia nggak macam-macam denganku. Aku takut sama dia, Ayah..."
Ameera terus menangis menumpahkan kesedihannya. Selain di depan ayahnya dan Rangga, ia tidak pernah menunjukkan tangisnya di depan siapa pun. Ia terus berpura-pura menjadi seorang gadis yang kuat. Namun, sebenarnya ia sangat rapuh.
Setelah di rasa cukup puas, Ameera hendak keluar dari area pemakaman. Namun, saat melihat Ozan di luar sana, ia menghentikan langkahnya.
"Apa aku kabur saja, ya..." gumam Ameera. Ia mengedarkan pandangannya kesana kemari.
Ameera berencana keluar dari area pemakaman lewat gerbang belakang pemakaman. Ia pun mempercepat langkahnya menuju gerbang belakang.
Ozan mondar-mandir di depan gerbang pemakaman sesekali melirik jam tangannya.
Kenapa bocah itu lama sekali di dalam, apa yang dia lakukan di dalam sana. batin Ozan.
"Ram, gue masuk dulu, ya. Itu bocah nggak selesai-selesai." kata Ozan pada Ramon.
"Hemmm..."
Ozan pun masuk ke dalam. Namun, saat mendekati makam mertuanya itu, ia tidak melihat Ameera di sana. Ozan mengedarkan pandangannya mencari Ameera, Namun tidak ditemukannya. Lalu Dia segera keluar dari sana menemui Ramon.
"Ram, Ameera nggak ada di dalam." ucap Ozan panik. Pikirannya sudah menjalar kemana-mana. Mengira istrinya di culik.
"Cepat sisir tempat ini!" perintah Ramon pada semua pengawalnya.
"Lu ikut gue!" pinta Ozan pada Ramon.
Ozan lalu naik ke mobil dan melajukannya menuju gerbang belakang pemakaman. Jika Ameera di culik, pelakunya pasti membawa Ameera melalui pintu belakang. Begitu pikirnya.
Tibalah Ozan di gerbang belakang pemakaman. Ia berpencar dengan Ramon mencari Ameera. Namun, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia seperti melihat Ameera sedang berlari sendirian.
Mau kemana bocah itu. batinnya.
Ameera terus berlari sesekali melihat ke belakang, takut jika Ozan dan pengawalnya menemukannya. Namun, saat akan menyeberang jalan, tubuhnya menabrak sosok lelaki jangkung bertubuh tegak.
"Maaf... maaf... saya lagi buru-buru." ucap Ameera pada pria yang di tabraknya. Namun, saat mendongakkan kepalanya hendak menatap wajah pria tersebut, Ameera membulatkan matanya dan mundur beberapa langkah. Tampak Ozan berdiri tepat di hadapannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Ozan dengan sorot mata tajamnya. Ameera tercengang, tidak dapat menjawab pertanyaan Ozan. Ia terus mundur kebelakang seiring langkah kaki Ozan yang terus mendekat padanya.
"Aku... aku..."
"Ayo ikut!" ajak Ozan seraya menarik pergelangan tangan Ameera.
"Lepasin..." Ameera menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Ozan. "Aku mau pulang ke rumah ayah... aku nggak mau pulang ke rumahmu." Ameera berlutut memegangi kaki Ozan. Memohon, "Tolong, biarkan aku pulang. Kamu bisa menceraikan aku kan? Lalu kamu bisa menikah dengan wanita yang kamu cintai. Tapi tolong, biarkan aku pulang."
Ozan berjongkok di depan Ameera. Di lihatnya mata Ameera yang merah karena terlalu banyak menangis.
"Ameera, dengarkan aku... Kamu pikir pernikahan itu main-main? Sehingga kamu bisa seenaknya minta cerai. Pernikahan itu penuh tanggung jawab, nggak asal nikah cerai saja. Tahu kamu!"
Ameera terdiam, menunduk mendengarkan ucapan Ozan. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ozan lalu berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Ameera. Dan, dengan terpaksa Ameera menyambut uluran tangan suaminya itu.
Ozan lalu berjalan menuju mobil dengan menarik tangan Ameera.
"Ram, ketemu." teriak Ozan saat melihat Ramon di kejauhan.
Mereka lalu meninggalkan area pemakaman itu menuju suatu tempat.
Ozan mengajak Ameera mampir di sebuah cafe untuk melepas kebosanannya. Sejak tadi Ameera hanya diam sesekali mengaduk jusnya dengan sedotan.
"Minum jus nya, jangan cuma di aduk." ucap Ozan.
"Hmm..."
Dasar bocah, apa yang tadi dia pikirkan? Mau kabur begitu saja.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ozan.
__ADS_1
"Apa?"
"Kenapa tadi kamu mau kabur?"
Cih, dia tahu aku mau kabur darinya.
"Boleh aku jawab jujur?" tanya Ameera.
"Aku juga nggak minta jawaban bohong." sahut Ozan.
Ameera menarik napas, lalu membuangnya dengan kasar. "Aku bosan. Kemanapun aku pergi mereka selalu ikut. Aku merasa nggak bebas." ucapnya seraya menunjuk para pengawal yang berdiri di ujung sana.
"Itu papa yang minta mereka mengikuti kita. Aku akan minta papa berhenti menyuruh pengawal mengikuti kita." ucapnya kemudian. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Hmm..."
"Apa kamu masih berhubungan sama Rangga?"
Ameera tertegun mendengar pertanyaan Ozan, "memang kenapa?"
"Kamu kan sudah menikah, kamu harus jaga jarak dari laki-laki lain selain suamimu kan?" Berkata dengan suara menekan.
"Oh itu... aku tahu..." jawab Ameera sambil mengangguk pelan.
"Kalau sudah, ayo kita pulang." ujar Ozan ketika melihat jus milik Ameera sisa sedikit.
Namun, tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang memanggil nama Ozan.
"Ozan! Kamu sedang apa di sini?" Naura berdiri di samping kursi yang Ozan duduki, sesekali menatap Ameera dengan ekor matanya.
Ozan terkejut melihat Naura di sana. Dia diam membeku, tidak tahu harus bicara apa.
Kenapa harus bertemu dia disini. batin Ozan.
"Ozan!" panggi Naura, ia mengeraskan suaranya.
"Kenapa?"
Ameera hanya melihat Naura sekilas dengan ekor matanya. Seperti tidak mempedulikan keberadaan Naura sama sekali.
Lalu kembali menikmati jus nya.
"Naura, nanti kita bicara. Sekarang tolong pergi dari sini!" Nada Ozan yang terdengar seperti mengusir membuat Naura membelalakkan matanya.
"Apa?" Merasa tidak percaya Ozan memintanya pergi. Siapa dia Ozan?" tanyanya seraya menunjuk Ameera.
Ameera menatap Ozan dengan tatapan mengintimidasi. Seolah-olah menunggu jawaban apa yang akan di katakan Ozan.
"Dia..." Ozan menggantung ucapannya. Bingung harus menjawab apa.
"Apa kamu mengkhianatiku dengan dia? Apa karena dia, kamu blokir nomorku dan tidak pernah menghubungiku lagi?"
"Naura, tolong..." belum menyelesaikan kalimatnya, Naura kembali bicara dengan suara lantang.
"Apa ini balasan dari kamu untuk perjuanganku selama beberapa tahun bersamamu. Aku terus bertahan walaupun orang tuamu berusaha memisahkan kita. Sekarang dengan mudahnya kamu berpaling. Apa lebihnya dia dari aku? " Suara teriakan Naura terdengar memenuhi ruangan.
"Naura, cukup!"
Karena tidak mendapat jawaban memuaskan, Naura pun bertanya kepada Ameera.
"Aku kekasihnya Ozan, dan kamu siapanya Ozan?" tanya Naura setengah meneriaki Ameera.
Jadi ini pacarnya yang dia bilang saat makan malam itu. Cantik sekali. Pantas dia bilang tidak mau menikah denganku. Apalah aku di bandingkan wanita ini. Batin Ameera.
Dengan santainya Ameera berdiri dari duduknya. "Kenapa kamu nggak tanya sama dia aku siapanya?" seringai tipis muncul di bibir Ameera. "Ah.. lebih aman, jangan menanyakan itu. Kalau kamu tau jawabannya. Kamu bisa mati bunuh diri. " setelah mengeluarkan jawaban cueknya, Ameera berlalu meninggalkan Ozan dan Naura.
Malas banget ada di antara romeo-juliet yang sedang bertengkar. Lanjutkan saja pertengkaran kalian yang dramatis itu. Batin Ameera
Di kepala Naura ada ribuan tanda tanya tentang siapa gadis yang bersama Ozan dan apa yang akan membuatnya bunuh diri jika gadis itu menjawab pertanyaannya.
Ozan mematung menatap punggung Ameera yang pergi meninggalkannya. Ia tidak percaya seorang gadis remaja seperti Ameera bisa menjawab dengan sesantai itu tapi sangat menusuk ke hati. Ozan pun berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Nanti saja kita bicara. " kata Ozan dan langsung pergi meninggalkan Naura. Ia berlari keluar mengejar Ameera lalu menarik pergelangan tangannya.
"Ameera tunggu..." ucapnya seraya mencengkram pergelangan tangan Ameera.
"Lepaskan tanganku."
"Tunggu dulu, aku bisa jelaskan."
"Siapa yang butuh penjelasanmu. Nggak ada yang perlu di jelaskan." Karena tak kunjung melepaskan tangannya, Ameera pun melayangkan tinjunya pada wajah Ozan. Ramon yang duduk di kursi kemudi menahan tawanya melihat Ozan di pukuli istrinya tanpa melawan. Ameera pun meninggalkan Ozan yang masih memegangi pipi kanannya.
Aku bisa cepat mati kalau begini. batin Ozan
"Ameera..." panggil Ozan lagi namun Ameera tidak mempedulikannya.
Ameera sudah duduk manis di mobil sambil membaca sebuah majalah yang dia ambil dari saku di belakang kursi depan.
Ozan menyusul masuk ke mobil dan duduk di samping Ameera.
"Jalan Ram. Kita pulang. "
"Oke. " sahut Ramon seraya menghidupkan mesin mobil. Merekapun meninggalkan cafe itu dengan Naura yang masih mematung dengan tanda tanya di benaknya.
"Ameera aku bisa jelaskan yang tadi. "
"Gak perlu, gak penting. " sahut Ameera seraya membuka halaman majalah.
Dasar bocah bar-bar.
Ramon melirik dua penumpang di belakangnya dari kaca spion. Mencoba mencari tau apa yang terjadi di dalam cafe tadi sehingga membuat Ameera memukul Ozan.
***
Setelah hampir satu jam perjalanan, sampailah mereka di rumah. Saat mobil berhenti di parkiran, Ameera langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu di bukakan. Ozan hanya terdiam memperhatikan kelakuan Ameera.
"Zan, kenapa lu?" tanya Ramon.
"Nggak usah banyak tanya lu." ucap Ozan.
"Mulai lagi lu?"
"Mulai apaan?"
"Lu kenapa diem-dieman sama Ameera?"
"Itu tadi di cafe ada Naura."
"Terus?"
"Dia ngomong kemana-mana. Pake bilang dia pacar gue didepan Ameera"
"Oo jadi karena itu lu di gampar Ameera tadi..."
"Brengs*k lu." ucap Ozan.
"Tapi di mobil dia kelihatan tenang-tenang aja tuh."
"Itu dia, Ram. Kalau bocah itu diam aja, itu sebenarnya keluar aura bar-barnya. Salah dikit, gue di kasih bogem mentah."
"Hah? Lu takut sama bini lu?" tanya Ramon kemudian. Ia menahan tawanya. Ozan yang menyadari kebodohannya yang keceplosan bicara, mengumpat dalam hati.
Sial. Kenapa lagi ini mulut keceplosan terus. batin Ozan.
Karena masih kesal, Ozan berlalu meninggalkan Ramon tanpa permisi. Ramon pun tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian di depan cafe.
"Mampus lu, haha..." ucapnya seraya memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa.
***
**TOLONG JANGAN DIBACA. ALUR DAN PENULISAN BERANTAKAN. BANYAK KATA YANG KURANG TEPAT. INI BELUM DIREVISI
🙏🙏🙏🙏**
__ADS_1